Jumat, 21 November 2014

Lagi-- Diskresi atau Insting

Sumber: Makassar.tribunews.com
Mereka terkesan ingin me-raja kembali, setelah "sebangsanya" pernah mencoba mendominasi kondisi sosial yang ada. Dwi fungsi ABRI menjadi bumerang bagi rakyat dan mahasiswa di zamannya. Hari ini, di erah baru dalam tahun Reformasi lakon fungsi itu kembali ditampilkan dalam bentuk baru oleh organ baru dengan membuat manufer yang sedikit berbeda (Polisi). Yah, Polisi kembali berulah.

Beberapa bulan yang lalu tepatnya tanggal 02 Desember 2013, terjadi penembakan oleh polisi terhadap seorang petani Takalar[1] karena mempertanyakan aksi sebuah perusahaan yang melakukan penanaman paksa tebu dalam lahan sawah beberapa petani di daerah tersebut. Kejadian itu menuai kecaman beberapa pihak, termasuk para penegak hukum yang lain, tetapi kasusnya hilang begitu saja seperti tertelan bumi. Lenyap!! Dan beberapa hari lalu, tepatnya tanggal 13 November 2014, Polisi kembali berulah atas nama hukum dengan melakukan tindakan memalukan. Memasuki salah satu kampus dimakassar, UNM (Universitas Negeri Makassar); dengan alasan membubarkan barisan aksi mahasiswa, sayangnya -yang katanya- pembubaran ini diwarnai dengan 'gerakan tambahan' dalam bentuk penganiayaan atau pemukulan terhadap mahasiswa bahkan wartawan secara brutal dan membabi buta. Inilah wajah para penegak hukum kita, bringas nan primitif berselimut hukum yang salah tafsir atau setidak-tidaknya ditafsir secara subjektif.

Iya, langit Makassar beberapa hari ini dihiasi dengan kumpalan asap ban terbakar dijalan. Bukan kecelakaan mobil atau kecelakaan kendaraan apapun, ini hanya ekspresi anak muda yang sedang teriak menolak kebijakan pemerintah yang tidak pro rakyat. Untuk kesekian kalinya, dalam ere reformasi ini harga BBM kembali naik dengan alasan yang sama konvensionalnya dari pemerintahan sebelum-sebelumnya. Mahasiswa dengan segala kesadaran diri dan kepekaan indranya terhadap hal-hal yang berbau ketidak adilan, tergerak atas nama rakyat untuk melawan segala kebijakan yang melenceng dari semangat rakyat kecil. Sayang, Polisi sebagai perpanjangan tangan Negara sebagai aparatusnya melakukan perlawanan dengan cara yang kolot dan tidak beradap -bahkan pada masyarakatnya sendiri-, seperti binat**g yang hanya menggunakan insting atas hasil latihan yang keras.

Miris, tapi inilah faktanya, dimana salah satu unsur penegak hukum malah berbuat frontal dan membabi buta dalam uapaya menegakan hukum (Mungkin). Polisi semestinya menjadi pengayom masyarakat, menjadi penengah dalam polemik sebagai sebuah kewajiban untuk abdi negara, tetapi semestinya tidak dengan cara sembrono yang malah mencerminkan sikap arogan bagai Raja yang otoriter dan diktator, mungkin ini juga bisa menjadi kritik kecil untuk hak Diskresi[2] kepolisian ( Pasal 18 dalam Undang-undang Nomor 2 Tahun 2002). 

Masih ada dan lebih banyak lagi kasus yang menyangkut soal tindakan polisi yang memperlakukan masyarakat tidak pada semestinya. Dari hal sederhana terkait perilaku sosial remaja dalam masyarakat sampai pada proses penanganan kasus hukum (hukum publik) banyak oknum kepolisian melakukan “gerakan tambahan” dalam setiap penanganannya. Para pembaca pasti memiliki pengalaman yang beragam terkait persoalan berurusan dengan "raja" yang satu ini, dan percaya saja kita memiliki pengalaman yang sama ! 

Benar bahwa mereka adalah oknum, dan benar ketika menjeneralkan semua oknum maka kita akan terjebak dalam kesalahan berpikir Fallacy of Dramatical Instance,[3] tetapi bukankah mereka bergerak atas nama institusi ? jika penjeneralan dalam kondisi ini adalah salah, lantas siapa diantara kalian yang berani membenarkan solidaritas terhadap tindakan yang disinyalir pelanggaran kode etik dan etika profesi ? Bukankah ini realita negeri yang lucu sekaligus memprihatinkan !? 

Perhatikan ketika mereka para "raja kecil" ini melakukan aksi-aksi menyedihkannya hanya berdasar pada Insting seperti binatang tak berakal, lalu mengumandangkan alasan pembenar bahwa ini adalah tugas kami, ini adalah amanat konstitusi, ini adalah abdi negara, ini adalah bla bla bla ! Lalu perhatikan ketika mereka kembali berbaur dengan masyarakat tanpa merasa bersalah dan menganggap semuanya baik-baik saja dengan alasan bahwa mereka adalah satu kesatuan entitas sebagai masyarakat dan rakyat sebuah negara. 

Miris, tapi inilah faktanya. Saya tidak mencoba menutup mata dengan kondisi yang lain, dimana masih ada beberapa dari mereka yang menjadi baik dan adil dalam porsi dan kondisi mereka masing-masing. 

 *** 
Ada kondisi yang kadang terlewatkan oleh pandangan kita, perhatikan mereka yang tidak terlalu perduli dengan kondisi ini, yang tidak terlalu perduli dengan konstalasi politik, yang juga tidak terlalu perduli dengan urusan polisi maupun urusan kenegaraan. Perhatikan cara mereka hidup dan menikmati kehidupan tanpa negara ( tidak tergantung pada negara secara lansung). 

Kehidupan dan kondisi sosial memang tidak selamanya akan terus sesuai dengan harapan, akan sedikit mustahil jika ada kondisi dimana kepentingan semua golongan mampu terakomodir secara terintegrasi dalam tipologi masyarakat yang masih mendahulukan insting, hasrat dan naluri dibanding akal budi secara seimbang dan berkesinambungan. 

Dalam situasi ini, hidup adalah pilihan yang simalakama untuk dipilih, tapi apapun yang terjadi hidup harus tetap berjalan, sebagai konsekuensi dari keberlanjutan sebuah perjuangan yang terbalut dalam janji sebuah perubahan. Panjang umur perjuangan !! 

LSS --LA SAID SABIQ 
Pondok Irmayanti, Kompleks Pondokan UNHAS 
Makassar, 14 November 2014. Pukul 03.32 
[1] Nama salah satu Kabupaten di daerah sulawesi selatan 
[2] kebijakan dari pejabat yang intinya membolehkan pejabat publik melakukan sebuah kebijakan dimana undang-undang belum mengaturnya secara tegas, dengan tiga syarat. yakni, demi kepentingan umum, masih dalam batas wilayah kewenangannya, dan tidak melanggar Asas-Asas Umum Pemerintahan yang Baik (AUPB) 
[3] Jallaludin Rahmat, Rekayasa sosial. (jakarta 2003)
Share:

Sisa KUE (Politik) Masih Dibagi

Ada adigium hukum Prof. Taverne -- Berikan pada saya Jaksa dan Hakim yang baik, maka dengan hukum yang buruk pun saya dapat membuat putusan yang baik"--
Ini bukan efek kontestasi/apalah. Hanya sekedar celoteh kekecewaan terhadap putusan Presiden atas penunjukan Jaksa Agung. Bagaimanapun; ini diluar ekspektasi publik yang (terlalu) berharap banyak Salah satu lembaga hukum ini akan diisi oleh seorang yang tidak terkontaminasi independensinya. Mari berdalih bahwa beliau akan tetap Independen, tapi mau dibawah kemana kepentingan Partai Nasdem? Semoga ini hanya kekhawatiran yang berlebihan.

Media, yah, waktunya media yang berperan untuk membangun/menghegemoni paradigma publik. Bagaimana tidak; berbagai dugaan kepentingan dibalik keputusan pun bermunculan. Ada yang menghubungkan dengan kasus kredit macet Bank Mandiri terhadap PT Cipta Graha Nusantara (CGN) senilai Rp. 166,5 milyar yang mengusik nama Ketua Umum DPP Nasdem: Surya Paloh, yang hingga kini kasusnya masih mengambang. (Sumber: tajuk koran Sindo. Tulisan Guru Besar Hukum Univ. Bosowa 45 Prof. Marwan Mas). Ditambah lagi, beberapa saat yang lalu terjadi pertemuan manis entah berapa mata antara JKW dan SP. Sekali lagi, Semoga ini hanya kekhawatiran yang berlebihan.

Ahh, ini mungkin efek dari kerinduan kita akan sosok penegak hukum yang tegas/tangkas dan tak pandang bulu seperti Baharuddin Lopa, atau mungkin tekanan psikis akan bahaya laten korupsi yang semakin akut saja. Jika boleh meminjam beberapa istilah Budayawan ('Lss' juga sedang berpikir: Belakangan ini aspek budaya sedang laku-lakunya untuk dijadikan padanan-- Semoga tidak disusupi lagi dengan investasi Asing) Sujiwo Tejo; Negeri ini udah Eddan atau Kita sedang ber-Demokrasi berhala ala Alwi Rahman. Entahlah...

Masikah hukum akan menjadi panglima disaat kepentingan politik me-Raja ?? Apapun, hari ini kita kembali menyaksikan bagi-bagi kue kekuasaan sedang tren di Negeri yang katanya Negara hukum dengan sistem hukum/pemerintahan yang kompleks. Miris.

Akan ada banyak alasan 'Benar' kenapa anda kemudian harus berteriak (Dengan cara apapun), atau mungkin anda akan menemukan alasan 'Pembenar' untuk Diam. Bagaimana menurut Kawan ?

Lss -- Nama Pena (La Said Sabiq)
Presidium LKAK (Lembaga Kajian Anti Korupsi) Makassa
Share:

Senin, 17 November 2014

Keserakahan Intelektual

Guyonan basi yang sering kita dengar tentang hidup adalah bahwa hidup itu adalah pilihan. Saya menghargai setiap pilihan dan mengapresiasi mereka yang terus memilih dalam setiap pilihan. Sepertinya ini tidak terlalu penting, tapi ahh… efek kebebasan berpendapat membebani, seakan ada dorongan structural untuk melakukan ini sebagai ganti dosa sejarah yang terlewatkan.

Ketika pilihan utama (tidak emuaskan) memaksa kita melakukan pilihan alternatif, seketika kita kesusahan memposisikan diri sebagai apa. Akhirnya alasan yang ‘benar’ sekaligus ‘pembenar’ menjadi argumentasi mereka-mereka yang mampu. Yah… argumentasi mereka-mereka yang mampu merangkai retorika cantik nan menyakinkan yang kadang dilabeli dengan istilah intelek. Maniss…

Saya akan mulai mempertanyakan independensi setiap pilihan para cendikia (intelektual) yang terjebak pada dua pilihan (alternatif-utama). Anggaplah’ Ketika seorang Profesor/pengajar/ dosen masuk dalam dunia politik sambil mengajar, ditambah lagi dunia bisnis, belum lagi karier lain yang sejenis, kira-kira pilihan mana yang akan membuat keputusannya bernilai objektif? Atau setidak-tidaknya bagaimana mereka akan memposisikan diri untuk memaknai setiap kondisi yang serba mix ini? Kita akan berkicau, berceloteh bahwa ini adalah erahnya kebebasan. Tidak terlewatkan, istilah klasik yang kerap digunakan: tunjangan, gaji atau penghargaan pada gelarnya oleh Negara tidak begitu memadai atau setidak-tidaknya layak. ‘Layak’ disini memang jadi ekspresi social yang plastis. Agh sudahlaa… kita memang serakah, sifat yang dipoles dengan istilah cantik bertajub Intelektual !!

Hal lain yang tidak kalah parah, ketika orang-orang yang tidak termaksud dalam golongan mereka melakukan hal yang sama, cacian, serbuan, dengkian, sampai pada fitnah, menghujam dengan tajamnya. Anda seakan tidak punya kesempatan, jangankan membuat alasan pembenar, mengungkapkan alasan yang benar saja anda akan tetap dikecam habis-habisan, jadi soal hidup bahwa itu adalah pilihan sebenarnya hanya untuk mereka-mereka yang serakah dan berlindung dibalik gelar-gelar intelektual mereka. Kasiahan !! Konkritnya, ketika orang yang disebut Dosen tidak mengisi kewajibannya untuk mengajar dengan alasan proyek sana-sini, angin akan berhembus sepoi-sepoi seperti kegiatan mekanis yang akan me-restar semua kondisi, tetapi jika badai topan mengamuk, itu hanya sedikit pertanda ketika mahasiswanya tidak sempat masuk kuliah karena alasan yang begitu kompleks. Masih ada pertanda yang lebih DAHSYAT !!

Ketika para mahasiswa melakukan tindakan yang ‘katanya’ melanggar dan tidak sesuai dengan norma-norma hukum (yang dirangkai sedemikian rupa), jangan bermimpi untuk kesempatan menikmati angin sepoi-sepoi, anda akan dikecam, dihujat, dicaci dan dimaki dengan cara yang sedikit berbeda dari seorang yang katanya orang tua dalam institusi yang juga katanya mencerdaskan ini. Iya, karena akan tidak etis ketika kita mengomentari atau menghujat orang tua yang sedang melakukan kesalahan. Alasan pembenarnya, “Kita ambil hikmahnya, ini adalah cobaan, mari tafakur dan merenung diri, ini cara Tuhan kita menegur”. Kebebasan itu memang (hanya) milik mereka. Serakah !!

Sejarah konon memberikan pelajaran yang begitu banyak, tapi tindakan dan ekspresi kita akan kebebasan ini sama sekali tidak mencerminkan itu. Apakah kita begitu serakahnya men-justifikasi diri dalam semua hal?. Selamat pagi !!

La Said Sabiq—LSS
Makassar, 17 November 2014; 09.11 Wita
Presidium ARAK (Aliansi Rakyat Anti Korupsi) RAHA
Share:

Sabtu, 15 November 2014

BBM-- 'Kembali Turun Kejalan'

Salam mahasiswa Makassar dan Indonesia. Salam para pejuang jalanan yang kadang garang dan kejam. Kejam atas segala tindakan represif provokator dan aparat, garang akan segala kebijakan pemerintahan yang menginjak-injak hati nurani kaumnya. Semoga itu bukan hanya nyayian sejarah yang liriknya kini hampir terlupakan. Aminnn... 

Lagi, untuk sekali lagi semestinya kita sedang berada ditengah jalan dengan suara yang semakin parau. Pemerintah yang kolot tengah menguji kesabaran anda, wahai parlementer jalanan. Entahlah apakah ini ujian atau cacian secara tidak langsung terhadap kerterkukungan idealisme kita, faktanya bahwa pemerintah yang dipimpin oleh --yang katanya-- pilihan dan sahabat rakyat malah akan menaikan harga bahan bakar minyak (BBM) dengan alasan yang sama basinya dengan rezim pemerintahan sebelumnya, soal subsidi yang membebani APBN dan subsidi yang tidak tepat sasaran. Alternatifnya, pemerintah mengeluarkan tiga kartu sakti yang, aahh sudaahhlahh.... 

Negara kita negara hukum yang semestinya segalanya berlandas aturan yang jelas agar tidak berbuah tanya seperti pohon buah naga unhas. #eehh... Ngurus negara tidak seperti ngurus warung kopi yang tiba akal lansung di implementasikan. Meski berniat baik, tetapi harus dengan cara yang diamini oleh landasan yang jelas wahai sahabar rakyat. Baik, kembali kepersoalan BBM. Ada banyak polemik akan isu kenaikan BBM. Disaat harga minyak dunia turun dikarenakan menguatnya USD, harga minyak Indonesia malah harus naik atau subsidi harus ditarik. Ngomong-ngomong soal alternatif terkait tiga kartu sakti, apakah anda yakin semua yang membutuhkan terfasilitasi, apakah semua akan tepat sasaran seperti ketakutan pemerintah akan ketidak tepat sasarannya subsidi BBM??, faktanya bahwa bangsa kita saat ini sedang krisis muslti dimensi yang bahkan pelajaran Pendidikan Kewarganegaraan kelas tiga sekolah dasar masih belum selesai, soal: Pelaksanaan tanggungjawab dan merampas hak orang lain. jangankan tenggang rasa, ikhlas dan disiplin, iri hati dan dengki yang terus menyelimuti hati kecil ini saja masih membayangi. Hasilnya, ketika subsidi diperuntukan untuk bukan kita, kita masih saja merasa berhak, atau mungkin bias dari iri hati dan dengki atas pengurangan kekayaan kita karena harus membeli BBM tak bersubsidi. Jika anda tersinggung wahai para borjuasi, itulah tujuannya. 

Ketika negara kita masih marak menjadi eksportir atau bisa dibilang produsen minyak, maka kenaikan harga minyak dunia ditahun 2008 harusnya mendatangkan keuntungan buat kita, tetapi justru malah memaksa anda para parlementer jalanan bermandi ria watercanon dan batu dijalan melawan tindakan kolot para aparat. 

Ada komentar menarik Pak Kwik akan subsidi BBM ini, bahwa yang namanya subsidi itu tidak sama dengan mengeluarkan uang tunai. Tetapi pemerintah malah mengalokasikan uang pada APBN untuk membiayai subsidi, uang tunainya dikemanakan ?? 

Mau berapapun harga minyak dunia, kita semestinya justru akan kelebihan uang. Bukan malah kerugian seperti yang selama ini dikemukakan. Anggap Harga minyak mentah US$ 100 per barrel. Karena 1 barrel = 159 liter, maka harga minyak mentah per liter US$ 100 : 159 = US$ 0,63. Kalau kita ambil US$ 1 = Rp. 10.000, harga minyak mentah menjadi Rp. 6.300 per liter. Untuk memproses minyak mentah sampai menjadi bensin premium kita anggap dibutuhkan biaya sebesar US$ 10 per barrel atau Rp. 630 per liter. Kalau ini ditambahkan, harga pokok bensin premium per liternya sama dengan Rp. 6.300 + Rp. 630 = Rp. 6.930. Dijualnya dengan harga Rp. 4.500. Maka rugi Rp. 2.430 per liternya. Jadi perlu subsidi. Kira-kira begitulah maksud subsidi. Mengganti kerugian pertamina, jadi menurut kami tidak tepat jika harus merubah pos anggaran subsidi kedalam bentuk lain, akan dikemanakan anggarannya?? Yang aneh, kita yang notabene negara yang memiliki minyak dalam perut bumi negara sendiri harus membeli minyak mentah dengan harga yang sama dengan pasar dunia. Anehkan? benar ada yg dibilang perusahaan asing dengan kesepakatan kerja bagi hasil, tetapi buat hak indonesia semestinya kita tidak perlu beli. Ini yg selama ini yang Jokowi maksud dengan investasi asing ? menurut kawan-kawan apa kelebihan investasi asing dengan kesepakatan kerja yang justru merugikan negara kita? yang anehnya lagi kita bahkan tidak sadar atau pura-pura tidak sadar dibodohi dengan kesepakatan yang merugikan. Itu karena dalam menggolkan aturan yang diinginkan asing, banyak yang di iming-imingi, aahh sudahlahh.... 

Yah begitulah kita, bodoh, kolot dan sok tahu serta reaktif berlebihan pada hal-hal yang semestinya tidak perlu. Sabar saja, presiden anda lagi gencar-gencarnya membuka peluang untuk asing menggerogoti negeri ini, kami mulai mempertanyakan Idealisme anda jika tidak lagi merisaukan ini. Anehkan ?? Disisi lain, Memang konsumsi lebih besar dari produksi sehingga kekurangannya harus diimpor dengan harga di pasar internasional yang mahal, yang dalam tulisan ini dianggap saja US$ 100 per barrel. Berarti semestinya pengurangan konsusmsi yang harus jadi tolak, tapi aahh sudahlah, sekali lagi untuk kita yang masih belum tuntas matapelajaran PKN akankah mengihlaskan diri kita terlihat proletar atau bertahan pada kondisi sok-sok borjuasi ? 

Data yang selengkapnya dan sebenarnya sangat sulit atau bahkan tidak mungkin diperoleh. Maka sekedar untuk mempertanyakan apakah memang ada uang yang harus dikeluarkan untuk subsidi atau tidak? Bahkan jika kita mengimpor kekurangan minyak yang dimaksud, dalam hitungan-hitungan pak kwik kita masih kelebihan uang berkisar Rp. 3.870,-. Jadi lari kemana uang tunai yang digunakan untuk subsidi yah ?? mungkin tuyul ambil kali yahh. Apapun, mau harga minyak naik atau turun, negara yang menjadi produsen harusnya tidak terlalu goyang seperti yang dirasakan oleh negara kita saat ini. Justru jika memang kita betul-betul konsumtif akan minyak, harga minyak yang turun akan sangat membantu kita. Tapi kenyataannya ? ahh sudahhaallhh. 

Harga minyak cenderung tertekan pada penutupan perdagangan Senin (Selasa pagi) seiring Organization of Petroleum Exporting Countries (OPEC). Dikarenakan beberapa negara penghasil minyak sedang kelebihan produksi, Harga minyak jenis light sweet untuk pengiriman Desember turun US$ 1,25 menjadi US$ 77,4 per barel di New York Mercantile Exchange. Hal ini diikuti dengan harga minyak jenis Brent turun lebih dari US$ 1 menjadi US$ 82 per barel. Perhatikan, bahkan belum sampai perhitungan kita dengan harga US$ 100 perbarel. Harga minyak dunia cenderung tertekan seiring dolar Amerika Serikat (AS) menguat karena kekhawatiran konflik di Libya dan Ukraina. Dolar naik 0,2 persen terhadap mata uang lainnya di awal pekan ini. Penguatan dolar membuat harga minyak dan komoditas lainnya lebih mahal bagi pemegang mata uang lain. Hal itu ditambah dengan persediaan minyak melimpah, dan itu menandakan pertumbuhan ekonomi melambat sehingga menekan harga minyak. Sejak Juni 2014, harga minyak telah turun 30 persen. 

Tetapi apa efeknya bagi negara kita yang masih masuk dalam kategori pengimpor minyak mentah? Harga minyak dunia naik ataupun turun pemerintah pasti akan menaikan harga BBM dengan semua alasan yang Ehtahlahh... Ini adalah perusahaan minyak yang terus menguras minyak dalam negeri, PT. Chevron Pacific Indonesia, menghasilkan minyak mentah tersbesar, yaitu 476 ribu barrel per hari. Baru kemudian disusul oleh Pertamina (135 ribu), Conocophilips (71), CNOOC (64), Total Indonesie (60), medco EP (55), Petrochina (52), Unocal (35), Vico (24) dan BP (19 ribu) barrel per hari. menurut anda ?? ini mimpi anda tentang infestasi asing ?? jika hitungan ekonomi kami tidak salah, maka pendapatan minyak mentah indonesia semestinya +- ½ dari pengerokan perut bumi indonesia. Jadi jika harga minyak naik, maka kita masih menjual dan hasilnya kemana yah? tetapi karena konsumsi lebih besar maka memaksa kita harus impor, maka jika saat ini harga minyak turun, maka itu justru akan menguntungkan, tapi gmana yah ?? ahh sudahhlaahhh !!!! 

Terakhir bahwa. harga minyak akan terus bermain naik dan turun. Konsumsi minyak dalam negeri akan semakin meningkat dan persediaan minyak bumi mentah dalam perut bumi indonesia akan semakin berkurang. Ditambah lagi minyak bumi indonesia tidak hanya dikuras oleh perusahan dalam negeri sendiri yang efeknya pasti minyaknya juga lari kemana-mana. Kini apa yang bisa dilakuakn oleh kita, kita yang masih memilih terus berparau-parau ria di jalan ?? 

Ayo kawan, jangan pernah menyerah dalam memperjuangkan kebenaran dan melawan penindasan pemerintah terhadap rakyatnya sendiri. Jika bukan anda, maka kami ragu untuk menunjuk yang lainnya. Bukan untuk menyadarkan, tetapi memberi pelajaran. Salam kata-kata kotor untuk para pemerintah, karena hanya tersisa kata-kata itu pilihan bijaksana buat meraka. Salam !! 

Lss –La said sabiq-- 
Makassar, 16 November 2014; 13.04 Wita 
Presidium ARAK (Aliansi Rakyat Anti Korupsi) Raha

Sumber sebagian kutipan:
[1] Analisis Pak Kwik, Dalam: http://kwikkiangie.com/v1/2012/03/kontroversi-kenaikan-harga-bbm/ Diakses pada tanggal 16 Nov 2014
Share:

Ketika Nalar Kritis Di Ujung Tanduk


Selamat pagi Keluarga mahasiswa hukum unhas. Jika anda sering kekampus, maka spanduk tripleks (seperti gambar diatas) yang berdiri tepat didepan pintu masuk fakultas tidak asing bagimu. Pataka itu berisi celotehan beberapa penolakan atas rencana pemerintah untuk menaikan BBM. Kalimatnya sederhana, penuh canda, bijak nan mengigit. Sayangnya spanduk sederhana itu tidak akan lagi mengganggu pemandangan kita ketika memasuki gerbang fakultas hukum, pasalnya pihak birokrasi fakultas telah membakarnya. iya, dibakar dengan alasan yg sangat tidak jelas. Sampai pada tulisan ini diposting, kami belum mendengar alasan yang rasional dari orang-orang yang mengaku pendidik itu!! Masalahnya apa? Aneh, salahnya spanduk yang berdiri dibawah pohon apa? Kalimat dalam patakanya juga tidak ada yang berindikasi tidak baik (Kecuali anda tidak normal). Pasalnya, menurut kabar yang tidak jelas ‘kreatifitas diberangus atas nama keindahan’. Bukankan kreatifitas bagian dari keindahan itu sendiri?

Apa yang harus dilakukan dalam dunia pendidikan seperti ini kawan? dunia pendidikan yang katanya mencerdaskan kehidupan bangsa !! Benarkah Mencerdaskan kehidupan bangsa atau malah menjadi tempat empuk untuk membunuh daya dan nalar kreatif anak didiknya? jangan heran jika yang lahir adalah genersi bongsai yg bermental kerdil. Iya, kita memang diajarkan untuk menjadi generasi seperti itu, dan tentunya diajar dengan orang-orang seperti itu (Oknum). Mereka mengaku pendidik tapi bersikap seperti budak yang kehilangan akal melawan sisa daya kritis mahasiswanya. Pendidik? atau budak yang bermental inlander? Kasihan !!

Memang spanduk itu mengganggu yah kawan? bukan hanya karakter kita yang sedang dibunuh dalam dunia yang telah menjadi komoditi ini, tapi nalar kritis kita juga sedang digerek kawan. Mari bangkit dan melawan sebelum kita semakin ditindas dengan alasan I-rasional.

Inilah wajah birokrasi dunia pendidikan kita, mempermalukan diri sendiri dengan tindakan yang sangat tidak mendidik. Kasihan, pendidik? simpan saja di tempat sampah istilah itu. Martin Heidegger (26 September 1889 – 26 May 1976) --dalam buku menyoal objektifitas ilmu pengetahuan-- pernah bilang: Universitas hari ini tidak lagi menciptakan para peneliti yang selalu resah akan kondisi sosial dan keilmuannya,  hanya akan sampai pada level melahirkan para pengajar yang terus saja menyampaikan tanpa mengolahnya –Rasio saat menjadi sumber (r2), telah mati- . Anda pasti lebih tahu, apa beda antara pengajar dan peneliti.

Pertanyaannya, apa yang bisa dilahirkan oleh kampus yang kerjanya hanya membunuh 'sisa-sisa' daya kritis mahasiswanya?? Apa kabar seluruh mahasiswa dari kampus seluruh tanah air !? Selamat pagi, semoga DO dan skorsing tidak lagi menjadi pilihan kolot, bodoh, hina para birokrasi kampus yang mengaku pendidik. Salam.

Makassar, 15 November 2014; 11:43 Wita
#Manohara (Makassar November Hari Berdarah)

Presidium ARAK (Aliansi Rakyat Anti Korupsi) RAHA
Share:

10 Nov 2014 -- 'Hari Pahlawan'

Sumber: Pertamax7.com

10-11-45 Dalam Sejarah

Pilihan itu harga mati !
Ketika Jepang menyerah terhadap sekutu karena jatuhnya bom atom di 2 wilayah stategis yang dimiliki jepang, sekutu kemudian mencoba menggantikan kembali Jepang untuk mencoba melakukan aktifitas penjajahannya secara licik nan pasif. Tetapi kemerdekaan Negara Indonesia yang sudah dideklarasikan menjadi salah satu hal yang sangat dan layak untuk terus dipertahankan. Perjuangan mempertahankan kemerdekaan terus terjadi, sampai pada puncak konflik disalah satu daerah di Nusantara ( Surabaya) yaitu terbunuhnya Brigadir Jenderal Mallaby, pimpinan tentara Inggris untuk wilayah Jawa Timur pada tanggal 30 Oktober. Membuat pemerintah inggris mengeluarkan ultimatum yang mengatakan: bahwa semua pimpinan dan orang Indonesia yang bersenjata harus melapor dan meletakkan senjatanya ditempat yang ditentukan dan menyerahkan diri dengan mengangkat tangan di atas. Batas ultimatum adalah jam 6 pagi tanggal 10 November 1945.

Ditolaknya ultimatum ini adalah harga mati. Kemerdekaan telah ditangan rakyat, kebebasan dari perlakuan yang tidak manusiawi dan sewenang-wenang telah menemui ajalnya, dan jelas dari berbagai kalangan rakyat Indonesia memilih reaksi yang sama. Pada tanggal 10 November pagi, tentara Inggris mulai melancarkan serangan besar-besaran yang dahsyat, dengan mengerahkan sekitar 30.000 serdadu, 50 pesawat terbang dan sejumlah besar kapal perang. Berbagai bagian kota Surabaya dihujani bom, ditembaki secara membabi-buta dengan meriam dari laut dan darat. Ribuan penduduk menjadi korban, banyak yang meninggal dan lebih banyak lagi yang luka-luka. Tetapi, perlawanan pejuang-pejuang juga berkobar di seluruh kota, dengan bantuan yang aktif dari penduduk. Perlawanan segenap penduduk Nusantara bertahan lebih lama dari dugaan pihak Inggris, perlawanan yang hanya mengunakan perlengkapan perang seadanya mampu menahan pasukan lawan (inggris) yang memiliki perlengkapan perang yang super komplit dizamannya. Meskipun pada akhirnya kota takluk pada Inggris sepenuhnya.

10-11-45 Dalam Perspektif

Peralatan seadanya membuat para pendahulu kita tidak dapat menunda kekalahan lebih lama. Perjuangan panjang yang menguras tenaga, jiwa dan materi harus ditangisi dengan reruntuhan kota yang menuai kekalahan. Gambaran yang sangat layak untuk diapresiasi menjadi sebuah peristiwa besar yang harus terus dikenang agar menjadi sebuah pelajaran berarti untuk generasi Nusantara selanjutnya.

Ada hal menarik yang dikemukakan oleh beberapa sejarahwan dan negarawan menanggapi peristiwa bersejarah ini, banyak diantara mereka berpendapat bahwa kebesaran Perang Surabaya yang kemudian dikukuhkan menjadi hari Pahlawan tersebut bukan semata karena banyaknya penduduk/pejuang kota yang meninggal saat pertempuran, atau gigihnya pejuang yang mampu menahan imbang para penjajah sampai waktu yang tak diduga oleh penjajah. Perjuangan saat itu lebih dari itu, perang itu telah menggugah kebersatuan Nusantara, perjuangan itu telah menggugah semangat patriotisme yang lintas-suku, lintas-agama, lintas-keturunan ras, dan lintas-aliran politik. Dengan semangat itu jugalah rakyat Indonesia kemudian meneruskan perjuangan antara tahun 1945 sampai 1949 melawan Belanda dalam agresi Militer setelah tentara Sekutu (Inggris) meninggalkan Indonesia. Sekali lagi titik fokus dari semuanya adalah kesadaran tentang kebersatuan dalam menghadapi penjajah.

Terawang Relevansi

Berlandas dari bebarapa pendapat para sejarahwan tentang beberapa alasan 10 November dikukuhkan sebagai Hari Pahlawan, saya ingin menelitik kondisi bangsa kekinian. Tidak terlalu radikal dan sistematis, hanya ingin menanggapi kondisi yang terjadi disekitar kita. Ketika Hari 10 Novermber berlalu begitu saja tanpa ada makna yang semestinya terjerat, ketika celotehan tentang Pluralitas menjadi kicauan semata, ketika persatuan dan kesatuan Nusantara hanya menjadi sesuatu yang tidak ubahnya potongan daun pohon kering yang tergeletak di jalan raya. bersatu dan berkumpul ketika jatuh dan terbang tercerah berai ketika dilewati oleh sesuatu. Masih segar dalam ingatan sederet kejadian yang menodai nuansa kebangsaan kita kekinian, pelanggaran HAM dan perang/bentrok Ras/Golongan, Agama (Peristiwa Monas 1 Juni 2008) yang masih saja sungkan dilakukan dalam janji pluralitas. Ada apa dengan bangsa ini, ada apa dengan generasi bangsa ini, barani berdiri dan berteriak lantang dengan suara yang secara terang tidak lagi sejalan dengan semangat perjuangan dan pengorbanan para pendahulu kita.

Ketimpangan ini semakin menjadi, entahlah faktor apa yang menjadi pelaku utamanya. Mungkin bisa dibilang krisis multi dimensi sedang melanda negeri, degradasi nilai-nilai kultural dalam masyarakat semakin masif terjadi, hingga tidak jarang dalam lingkungan sekitar, kita menemukan ketimpangan ketimpangan yang sudah dihapus dalam daftar dosa dan pelanggaran.

Ini bukan bentuk keputusasaan, anda, mereka dan semuanya memiliki cara yang lebih kreatif untuk memaknai hari-hari yang sengaja dibuat dan dihadirkan untuk menjadi seorang guruh buat kita untuk menjadi lebih baik dalam memaknai hidup dan kehidupan. Terus berkarya dalam nuansa nilai-nilai kemanusiaan akan menjaga kita terus menjadi pribadi yang setidaknya lebih baik dari kita yang sebelumnya. Sesungguhnya
"Ketika Kemarin Kita Mampu Melangkah Dua Langkah dan Hari Ini Kita Masih Tetap Mempertahankan Dua Langkah Kita Tersebut, Maka Pada Prinsipnya Kita Telah Ketinggalan Empat Langkah ".

#Secret MKM FH-UH : 03.57 WITA
Presidium ARAK (Aliansi Rakyat Anti Korupsi) RAHA


Share: