Jumat, 15 November 2019

Kopi, Oboku dan Perempuan

Nur Jannah Suardy
Mungkin sekitar pukul 19.30 waktu Makassar. Workshop -tempat saya menghabiskan sebagian besar waktu selama di Makassar- hidup dengan aktifitasnya seperti biasa.

Daerah ini bagi saya tidak terlalu menarik untuk diperbincangkan. Pinggir utara kota Makassar, yang secara administrasi masuk dalam wilayah kecamatan Tamalanrea.

Bangunan di wilayah ini, padat, rapat, juga kumuh. Bau limbah rumahan, bercampur dengan genangan rawa yang tersendat oleh hutan beton rumah sewa dan pondok mahasiswa. Sisanya, rumah makan dan sekat-sekat semi permanen yang digunakan untuk aktifitas bisnis mikro. Jarang bisa ditemui rumah hunian penduduk asli.

Bisnis di wilayah ini didominasi oleh jajakan kebutuhan mahasiswa. Selain warung makan tadi, ada penjual alat kelengkapan kantor merangkap fotocopy, toko buku, dan jasa penyedia laundry pakaian/kendaraan, yang hadir memfasilitasi para mahasiswa sibuk atau mahasiswa kaya yang malas.

Belakangan menjamur usaha warung kopi. Bagaimanapun juga, di era yang semakin asyik ini aktifitas nongkrong sudah seperti bagian dari kebutuhan mahasiswa. Entah hanya untuk sekadar duduk nongkrong, ngopi santuy atau kumpul untuk mengibahi senior kampusnya.

Pelaku usaha melihat peluang ini. Alhasil terselip beberapa warkop sederhana di sela-sela pondok dan rumah sewa. Soal rasa kopi yang disajikan, kita bisa cerita panjang-lebar.

Setiap kopi bisa menjadi enak untuk mereka yang tidak begitu mengerti rasa kopi. Belum lagi jika rasa ini dibahas dalam perspektif selera. Tapi apakah kopi diperlakukan dengan ‘baik dan benar’ oleh pembuatnya atau tidak, itu sedikit lebih objektif dan bisa didiskusikan.

Membuat kopi yang ‘benar’ pastinya membutuhkan biji kopi yang berkualitas, barista hebat, hasil gilingan yang benar dan teknik seduhan yang tepat.

Cerita sedikit soal kopi. Sampai saat ini belum ada lembaga resmi yang merilis hasil penelitian tentang pembagian ‘penikmat kopi’ dan ‘peminum kopi’ di Makassar. Pembagian ini hanya santer dipilah oleh mereka yang sering nongkrong di warung kopi. Hanya bahasa warkop istilahnya.

Dalam bahasa warkop, ‘penikmat kopi’ adalah mereka yang menikmati kopi dengan menitikberatkan pada rasa khas kopi. Kelompok penikmat kopi ini memang begitu meresapi tetes demi tetes cairan kopi dalam gelasnya lengkap dengan penghayatan berlebihan.

Pada taraf tertentu, tubuh para penikmat kopi secara spontan menolak kopi yang memiliki kualitas ‘buruk’ masuk ke tenggorokan mereka. Para ‘penikmat kopi’, bahkan ekstrim memberi istilah khusus untuk kopi yang diseduh dengan cara yang kurang tepat.

Air-sayur untuk kopi yang didominasi oleh air dengan kadar PH yang tidak terkontrol atau kopi hangus yang dibuat oleh barista lewat teko pembuat kopi dengan takaran feel yang tidak terkontrol pula.

Air alkalinitas terbaik untuk menyeduh kopi seharunya ada di posisi 6-7. Nilai yang masih bisa diterima menurut Specialty Coffee Association of America adalah 6,5 – 7,5. Para penikmat kopi sampai mempersoalkan hal demikian.

Dalam pelembagaan, para penikmat kopi memberikan kualifikasi khusus kepada mereka yang benar-benar menjadikan kopi tidak hanya sebagai minuman biasa. Misal dalam konsep perlombaan skala internasional, istilah Q Grader Licensed disematkan pada mereka yang biasa disebut sebagai manusia kopi.

Ekstrim, seorang Q-Grader bahkan bisa membedakan; jenis, ditumbuhkan di wilayah mana, lengkap dengan analisis pH tanah, tingkat penyerapan sinar matahari, waktu panen, sampai cara me-roasting biji kopinya, hanya dengan mencium atau memakan biji kopi mentah.

Para Q-Grader sampai menyentuh persoalan Speciality coffe. Sebutan untuk kopi-kopi berkualitas tinggi. Dalam rentang nilai 0-100, nilainya harus di atas 80 poin, bijinya harus berkualitas, dan tidak boleh ada yang cacat. Anda bisa bayangkan bagaimana rumitnya mengajak para penikmat kopi, hanya untuk nongkrong santuy di sebuah warkop.

Sedang mereka para peminum kopi, cenderung menjadikan aktifitas ngopi sebagai pelengkap saat nongkrong. Peduli soal kadar PH air, kopi hangus atau kopi air-sayur, yang terpenting, saat sedang nongkrong di sebuah warkop sambil menikmati fasilitas lain, tidak lengkap rasanya tanpa ditemani segelas kopi.

Ahh, sial. Saya juga tidak kehabisan kata jika ingin membahas kopi. Kecintaan saya pada kopi sejajar dengan rasa cinta saya pada buku. Itu alasan mengapa saya selalu punya mimpi membuat kedai baca. Sebuah warung kopi dengan konsep yang mendekati perpustakaan, dengan deretan rak buku, juga tumpukan buku yang berserahkan.

Saya masuk kategori seorang pemilih jika ingin nongkrong minum kopi. Bukan juga penikmat kopi, tetapi lebih kepada kondisi badan yang tidak bisa menerima kopi yang buat seenak jidat. Bisa dipastikan, pencernaan akan bermasalah beberapa jam setelah meminum kopi yang dibuat dengan cara yang tidak “benar”. Serius, saya tidak bercanda.

Itu mengapa saya tidak kepikiran untuk nongkrong menikmati kopi di wilayah sekitar workshop ini. Sebab sependek penjelajahan saya, belum ada warkop yang bisa menyediakan kopi berkualitas baik di sekitar wilayah ini. Bisa jadi ini juga soal selera.

Hanya saja, malam itu fokus saya bukan pada kopi. Sebagai penginisiasi komunitas literasi Oboku-Institute, saya mengajak beberapa kolega untuk mendiskusikan beberapa hal terkait laman Oboku yang sedang dikembangkan.

Saya kemudian mengajukan syarat; tempat yang cukup kondusif untuk diskusi dangan fasilitas wifi yang cukup mendukung untuk mengutak-atik laman online. Salah satu kawan kemudian mengajukan tawaran beberapa tempat, dan entah bagaimana kami semua berakhir nongkrong di warkop bernama Ansel.

Ansel, belakangan saya tahu merupakan akronim dari “anak selayar”. Selain menyediakan kopi seperti warkop pada umumnya, Ansel ternyata juga merangkap usaha sebagai Barbershop. Logika pengusaha memang begitu; memaksimalkan setiap kesempatan.

Tempatnya tidak begitu luas, kira-kira 5 X 12 m². Itu sudah termasuk sekat ruang yang disiapkan untuk aktifitas barber dan petak kecil tempat menyimpan semua alat kelengkapan barista menyeduh kopi. Desain ruangannya juga tidak begitu menarik, atau setidak-tidaknya tidak masuk kategori instagramable bagi isntagramers.

Semua berjalan normal sampai saat barista perempuan itu menawarkan daftar menu dengan gaya pecicilan, sambil tetap berada dalam petak tempatnya menghabiskan waktu membuat kopi.

Namanya Nur Jannah Suardy. Salah satu mahasiswa kampus swasta di Makassar. Ia mahasiswa perantau seperti kami, asalnya kampung Duri, Kabupaten Enrekang. Kira-kira berjarak kurang-lebih 5 jam perjalanan dari jantung kota Makassar.

Perempuan yang akrab disapa Jannah ini gokil juga cantik. Beberapa kali dia memaksa saya cengengesan karena jokes recehnya. Terlepas dari hal-hal sederhana ini, saya tipe orang yang selalu tertarik dan penasaran pada mereka-mereka yang berusaha mandiri dalam mengurusi hidup, khususnya perempuan.

Sebenarnya ini bukan perkara baru, beberapa kali saya bertemu dengan orang-orang seperti mereka. Mereka yang memiliki prinsip kuat, tidak ingin membebani orangtua perihal memfasilitasi gaya hidup sampai pada biaya kuliah yang semakin mahal.

Dasar bahwa saya juga melakukan hal yang sama saat sedang duduk di bangku kuliah, semakin memperkuat rasa penasaran saya pada orang-orang seperti mereka. Meski belum berselang tahun yang begitu jauh, saya berfikir, menemukan orang-orang seperti mereka di zaman yang semakin gokil ini merupakan sesuatu yang menarik.

Hipotesa ini bisa saja salah, orang-orang yang memiliki mental seperti kami mungkin banyak berseliweran di tengah kehidupan kota yang padat ini.

Tulisan ini juga sama sekali tidak sedang menyinggung soal perempuan. Bagi mereka yang sedang giat dan semangat-semangatnya mengusung konsep feminisme, bisa saja menilai tulisan ini sedang memberikan garis pembatas antara perempuan dan laki-laki.

Saya hanya sedang menggambarkan setereotype masyarakat kita yang melihat sisi keperempuanan dalam konsep local wisdom. Meski saya juga sadar tidak berhak men-judge cara berfikir itu, cukup penting bagi saya untuk mencoba mengajak pembaca melihat nilai tulisan ini dalam konsep lain. Tentang perjuangan mempertahankan prinsip kemandirian dalam mengarungi hidup.

“Saya ini anak pertama dari 4 bersaudara kak, baru orangtuaku hanya petani ji” celetuknya dengan lembut dalam balutan dialek khas Enrekang.

“Jangan ki pake diksi ‘hanya’ untuk sebut kerjaan orangtua ta di kampung, petani ji memang kerjaan banyak orang sini” balasku disela-sela aktifitas mengutak-atik leptop sambil menikmati kopi buatannya.

“Sejak kapan ki belajar bikin kopi?” tanyaku.

“nda ji kak, tidak ku tau kapan pastinya, selalu ka memang kerja di warkop, jadi langsung jeka pintar sendiri” jawabnya dengan senyum manis yang selalu diakhiri dengan tawa kecil.

Percakapan kami berlanjut, sampai pada pertanyaan nama kampus, tahun angkatan, serta jurusan kuliah yang dipilihnya. Menjadi menarik karena setiap pertanyaan ditanggapi dengan tingkah yang selalu menarik perhatian dan tentu saja lengkap dengan senyum manisnya yang khas.

[…]

Saya teringat satu hal ditengah percakapan kami.

“Jannah, kayak mirip ki sama temanku, tunggu ku kasi liat ki instagramnya”

“Ihh, banyak memang kembarku kak, pasti cantik itu temanta toh?, follow ka juga kak” celotehnya bersambung tanpa memberi jedah.

Perihal cantik, meski semua orang mengatakan definisinya relatif dan rumit untuk dijelaskan, bagi saya pribadi, cantik itu sederhana; saat ia mirip dengan seseorang yang pernah saya kenal dekat.

Yang menarik bahwa, Jannah ini tidak hanya cantik, tapi juga gokil dan asyik menjadi teman cerita atau hanya sekadar bercanda. Mereka yang memiliki aura ini, bagi saya, istimewah. Mereka memiliki banyak teman, cenderung berwawasan luas dan tahu cara menikmati hidup.

Jannah, semoga dunia tidak terlalu memberi beban yang bebal. Jika memang harus, berusahalah untuk tetap menjadi Jannah. Sebab cara Tuhan campur tangan dalam urusan kita selalu menarik. Bebannya mungkin bebal, tetapi kekuatan kita dari Dia, Tuhan yang maha tak terbatas.

Berdoalah untuk diberi kekuatan, bukan kemudahan, sebab doa kemudahan bukan untuk mereka yang memiliki karakter pemenang seperti Jannah. Saya percaya, Tuhan tidak memilih para pemenang secara acak, terus saja bertahan dalam setiap benturan, terus terbentur sampai terbentuk.

*
Saya harus kembali ke warkop Ansel untuk menyelesaikan tulisan ini. Tidak ada yang berubah, toh baru dua hari yang lalu saya terakhir kali ke sini. Tepat pukul 00.00 waktu Makassar. Tanpa Jannah, entah kenapa kopinya terasa sedikit tawar.

Saya baru ingat, diakhir percapakan kita dua hari lalu telpon genggammu berdering, ajakan pulang kampung sepertinya. Beristerahatlah, Enrekang cukup dingin untuk sekedar menyejukan pikiran yang penuh beban dan penat kota Makassar. Sampai ketemu.

Salam, dari saya yang sudah lancang mengurai kalimat-kalimat ini.

Oleh: ID Official [La Said Sabiq]


Share: