Selasa, 24 Juni 2014

KMPW Kekinian

Koleksi Foto Pribadi. Liga KEPPMI 2008-2009

Konsekuensi dari realitas sosial dan sifat lahiriah manusia adalah mengalami ketergantungan satu sama lain. Perspektif ketergantungan dalam konteks ini dimaksudkan dalam arti luas, saling membutuhkan dan saling melengkapi demi mengifisienkan upaya dalam proses pencapaian tujuan hidup. Kesejatian manusia sebagai makhluk sosial adalah berinteraksi, berkomunikasi dan bergaul/berkumpul terhadap sesamannya dalam bentuk dan motif semangat  apapun. Fenomena sosial kemudian secara tidak lansung mengkategori manusia cenderung berkumpul berdasarkan pada beberapa aspek yang menjadi dasar dari pertimbangannya. Dimulai dengan unsur Alamiah sampai pada unsur Sosial. Pada unsur Alamiah misalnya persamaan Ras, Suku, Keturunan, wilayah dan sebagainya, sedangkan pada unsur sosial terkadang karena memiliki persamaan agama, Ideologi, persamaan sejarah, persamaan nasip atau persamaan tujuan hidup.

Kecenderungan diatas terus terjadi dalam setiap kondisi dan generasi. Kepentingan yang terus berafiliasi dalam berbagai pola, mengakibatkan bentuk-bentuk perserikatan disuaikan pula dengan segala kondisi dan kebutuhan yang diinginkan. Dalam semangat dan landasan unsur yang ± sama kemudian suatu perkumpulan pemuda terbentuk, perkumpulan yang hadir dengan semangat untuk mengakomodir kepentingan para Pelajar pada khususnya dan pemuda pada umumnya. Dalam perspektif lain, perkumpulan ini hadir dengan semangat yang lebih khusus yaitu menjadi wadah untuk mengintegrasi kepentingan para pemuda dan pelajar suatu wilayah yaitu Kecamatan Watopute[1] yang sedang menyenyam pendidikan atau berdominsili di kota Makassar, semangat yang tumbuh dari unsur sosial atas persamaan wilayah dan suku. Oleh karena Perkumpulan ini kemudian disebut dengan Kerukunan Mahasiswa dan Pemuda Watopute (KMPW) Muna-Makassar. Meski hadir atas dasar semangat persamaan wilayah dan suku, KMPW tidak sekali-kali bersifat rasis, melainkan terus menjunjung tinggi semangat pluralisme yang ada.

Refleksi Sejarah
Secara sederhana dapat diasumsikan bahwa, salah satu cerminan dari sifat lahiriah manusia untuk ber-sosial/berserikat dan sebagai upaya untuk pencapaian tujuan, kemudian KMPW terbentuk dengan konsep dan nilai-nilai yang ada. Salah satu identitas yang terbangun dalam pembentukan kerukunan ini adalah pandangan bahwa Pemuda dan mahasiswa juga harus terlibat secara lansung dalam membangun komitmen Ke-Muna-an dengan jiwa persaudaraan, membangun komunikasi interaktif yang dilandasi oleh “Dapomaa-Masigho, Dapomoo-Mologho, Dapopia-Piara Dapoadha-Adhati, Dapoangka-Angkatau” yang kemudian menjadi Dasar filosofis dari perhimpunan ini.

KMPW Muna Makassar, didirikan di Makassar pada tanggal 3 Februari 2003 silam, 13 Dzulhijah 1424 H.[2] Perhimpunan ini terbangun dalam balutan asas kekeluargaan, kebersamaan, gotong royong, wadah paguyuban untuk saling memudahkan antar para pemuda/pelajar dalam melaksanakan segala aktifitasnya di daerah Makassar. Layaknya sebuah perkumpulan yang dipelopori oleh para pemuda/pelajar, maka perkumpulan ini terlihat identik dengan nuansa intelektual yang tetap terbalut dalam asas kekeluargaan dan kebersamaan. Konsekuensinya adalah sebagai bentuk tanggungjawab keilmuan, maka nilai pelajar (Pendidikan, Penelitian, dan Pengabdian) harus terpatri dalam sanubari setiap insan KMPW.  Sejak terbentuknya, pada 3 Februari tahun 2014 mendatang KMPW akan berumur 11 tahun. Diusianya yang masih terbilang belia tersebut, perkumpulan ini telah memberikan sumbangsi yang cukup besar tidak hanya dalam hal Pendidikan, tetapi pengabdian pada masyarakat. Terbukti dengan adanya senior-senior KMPW yang kini menduduki peran penting disetiap tempat/social yang mereka tempati. Disamping itu perkumpulan ini tidak hanya dikenal dalam kawasan kec. watopute, tetapi pada wilayah kabupaten Muna yang lebih luas karena aktifitasnya dalam memberikan pengabdian kepada masyarakat.

Tentunya prestasi tersebut tidak serta merta terjadi begitu saja seperti keajaiban yang turun dari langit. Komitmen yang teguh, dan usaha ekstra yang tersimpul dalam bias kebersamaan adalah salah satu kuncinya, Semangat itu terus terjaga dalam setiap penetuan sikap oleh KMPW. Akibatnya dalam setiap melakukan sesuatu, perkumpulan ini mampu melewati setiap rintangan yang ada sebagai efek dari kebersamaan yang terhukumi dalam komitmen dan tanggungjawab yang ada. Lantas bagaimana dengan wajah KMPW saat ini ?

Perspektif Kekinian
Kini KMPW akan memasuki usianya yang ke 11 pada februari mendatang.

Setiap masa memiliki generasi, setiap generasi memiliki metodenya masing-masing dan bagaimanapun perbedaan metode dari setiap generasi, semestinya semangat dalam menjunjung setiap nila-nilai yang telah terbangun oleh sejarah tetap terjaga. Seperti yang pernah diucapkan oleh pelopor negeri ini Ir. Sukarno dengan “Jasmerah”-nya[3], tentunya generasi KMPW saat ini tidak mesti harus mendengar kalimat khusus dari pelopor KMPW.

Dengan masa dan kondisi yang berbeda, tentunya generasi saat ini memiliki metode yang berbeda pula yang ditawarkan untuk membawa KMPW kedepan, melihat sejarah tentu sebagai upaya pembelajaran dan konsep pembanding, akan sangat tidak bijaksana jika kita malah tenggelam dalam romantisme masa lalu yang memiliki pijakan pengambilang keputusan yang jauh berbeda dengan saat ini. Senior terdahulu terkenal sangat kompak, rasa kebersamaan yang terbangun betul-betul kokoh dan selalu terbalut dalam komitmen yang begitu teguh demi KMPW kedepan yang lebih baik.

Berangkat dari semangat tersebut, akan sangat sangat tidak aneh jika senior yang melihat kondisi KMPW kekinian akan menuai sedikit kekecewaan, semangat yang terbangun oleh generasi terdahulu terlihat poranda (dalam perspektif lain) pada kondisi saat ini. Orientasi awal pembentukan perkumpulan ini untuk mengakomodir kepentingan para pemuda/pelajar dan sebagai wadah untuk membangun silaturahmi tidak lagi terlihat kasat mata. Ada yang bilang bahwa ini adalah sebuah dinamika sebuah perubahan atau bisa dibilang siklus dalam setiap perkembangan fenomena social, ada pula yang mengatakan bahwa ini adalah sebuah kemunduran yang harus segera diselesaikan. Asumsi yang berkembang tentu memiliki landasan masing-masing, tetapi menurut penulis kondisi apapun itu, entah mengalami kemajuan atau sebaliknya sudah semestinya untuk disikapi sebagai bentuk kepedulian kita terhadap KMPW.

Merosotnya kuantitas kader, semakin berkurangnya intensitas silaturahmi, mandeknya beberapa kegiatan yang direncakan (meskipun tidak menjadi tolak ukur prioritas) adalah sederet kondisi yang dihadapi oleh KMPW saat ini. Tentu ini selanjutnya menjadi sebuah masalah ketika mendapat pembanding dengan wajah KMPW dimasa lalu, meski secara objektif penulis memandang sangat tidak relevan, tetapi fakta social menggambarkan tentang betapa gamblangnya sekitar kita mengambil perbandingan tersebut, sehingga tidak jarang kita akan menemukan penggalan kalimat “Kita dulu… ! bla bla bla”

Setiap generasi memiliki kondisi masing-masing yang berimplikasi pada masalah yang ditimbulkannya. Sekali lagi, akan menjadi pilihan yang sangat tidak bijaksana ketika kita membiarkan diri terpasung dalam romantisme sejarah masa lalu. Jadi, bukan pada masalahnya semestinya kita berputar, tetapi analisis solusi yang diharapkan tidak akan menimbulkan masalah baru lagi. Meski akan sedikit subjektif, tetapi ini adalah langkah awal untuk memulai menaggapi kondisi yang ada.

Analisis Masalah & Solusi Alternatif
Dari gambaran perbandingan kondisi KMPW kekinian, tentunya senior dan kawan-kawan KMPW memiliki segudang konsep solusi yang belum sempat dipaparkan pada keluarga besar KMPW Muna-Makassar. Meski akan sangat subjektif, tetapi ini adalah langkah awal yang menurut hemat penulis bisa menjadi upaya dalam menaggapi kondisi yang ada.

Intensitas pertemuan silaturahmi yang semakin berkurang. Jika KMPW dulu memiliki semangat awal sebagai wadah pembelajaran dan silaturahmi dalam pembentukannya, maka kondisi saat ini termasuk dalam kategori yang harus disikapi lebih. Silaturahmi yang tidak terbangun berimplikasi lansung pada beberapa aspek dalam kubu KMPW itu sendiri. Ketidak kompakan, terputusnya jalinan komunikasi keluarga besar, sehingga terkadang sampai pada kondisi akut yaitu tidak terjaganya nilai-nilai filosofis sebagai dasar pembentuk yang dulunya terjunjung tinggi oleh para pendiri perkumpulan ini.

Efek lain yang ditimbulkan dari masalah ini kemudian adalah merosotnya nuansa pembelajaran yang semestinya menjadi semangat lain dari pembentukan KMPW, yaitu Pendidikan, pembelajaran dan pengabdian pada masyarakat. Jika aspek pendidikan dan penelitian kemudian mampu ditaktisi dengan cara alternative dari setiap individu, bagaimana dengan aspek pengabdian ? Pengabdian yang dimaksud dalam hal ini semestinya adalah pengabdian yang melibatkan KMPW dalam bentuk lembaga, bukan aspek individu dari dalam KMPW itu sendiri. Dalam perkembangannya perkumpulan ini memiliki metode pengabdian dengan melaksanakan program kerja yang bersifat menyentuh lansung kehidupan atau kondisi social khususnya di masyarakat kecamatan Watopute. Dengan langkah tersebut KMPW dikenal oleh khalayak sejak dahulu, perkumpulan ini kemudian memiliki daya pikat tersendiri untuk menarik para pemuda dan pelajar yang akan melanjutkan pendidikan tinggi, sehingga kemerosotan kuantitas kader tidak terjadi.

Ada beberapa factor yang bisa menjadi pelaku dalam kondisi kekinian, menurut hemat penulis hal yang paling utama dalam factor tersebut yaitu :

Tidak adanya wadah untuk melansungkan aktifitas silaturahmi (Secret)
Sekuat apapun motifasi kita untuk berkumpul bersama, secara realistis jika kita tidak memiliki wada maka kita akan mengalami kesulitan, jika dikatakan bahwa ada upaya alternative yang bisa ditempuh, tetapi hal ini tentu akan memberikan bias psikologi yang berbeda. Beberapa orang akan cenderung berkumpul pada sebuah tempat yang secara psikologis sering ditempatinya. Dalam perkembangannya, KMPW sejak dulu memiliki tempat untuk membahas tentang segala konsep yang selanjutnya akan dilaksanakan oleh masyarakat KMPW, yang saat ini tempat itu sudah tidak ada.

Kesibukan masing-masing individu
Tidak dapat dipungkiri, semangat yang terbangun dalam diri setiap individu yang terbangun saat menginjakan kakinya di daerah ini adalah menyenyam pendidikan. Akan sangat tidak etis jika kita menghukumi ketidak hadirannya untuk bersilaturahmi ketika bertepatan dengan jadwa kuliah atau kesibukan lain yang lebih penting.

Nilai jual KMPW
Motifasi yang terbangun terbangun dari factor eksternal dan Intrenal, factor internal akan mendominasi ketika kita memiliki kesadaran yang mendasar. Factor eksternalnya adalah kondisi dan lingkungan, jika KMPW memiliki wadah untuk silaturahmi, selanjutnya ada nilai – nilai lain dalam KMPW yang tidak terdapat dalam organ manapun, maka secara psikologis aka nada potensi orang untuk mencari waktu luang ditengah kesibukannya. Hari ini nilai itu masih menjadi misteri.

Ditengah menjamurnya organ-organ yang memiliki maksud dan tujuan yang sama, yang justru hadir dengan daya tarik yang lebih, membuat KMPW menjadi pilihan alternative. Hingga tidak heran jika komunitas yang bersifat homogeny-lah yang memiliki kuantitas kader, karena disamping terikat secara profesi, nilai-nilai yang tumbuh dalam organ tersebut akan sangat membantu dalam proses pendidikan dan pengabdiannya. Tentunya KMPW tidak mesti harus berafiliasi menjadi perkumpulan seperti itu, tetapi bertransformasi membentuk wajah baru dengan nilai jual lebih yang tentu tetap menjaga nilai-nilai filosofis pembentukan KMPW. 

Kondisi lingkungan (perkembangan zaman)
Tidak dapat dinafihkan bahwa perkembangan zaman akan sangat memengaruhi pola-pola interaksi social. Saat ini ada banyak pilihan yang bisa mengakomodir keinginan kita untuk bersilaturahmi meski tidak bertemu secara lansung. Terlepas dari apakah implus yang ditimbulkan itu adalah nyata atau hanya semu belaka ( Urusan lain). Perkembangan zaman yang membuka akses informasi begitu gamblang, membuat kita tidak meresa ketergantungan dengan hanya beberapa orang (malah ketergantungan terjadi pada akses informasi tersebut).

Jika dahulu keluarga besar KMPW harus duduk bersama secara nyata dalam membicarakan segala konsep yang ada, maka hari ini upaya itu dapat dilakukan dengan cara lain. Meskipun ini disisi lain adalah solusi untuk efisiensi, tetapi yang dibangun dalam wacana ini adalah upaya silaturahmi. Dan jika dahulu keluarga KMPW baru masih sangat tergantung pada senior-senior ketika menginjakan kaki di kota Makassar, saat ini hal tersebut tidak akan nampak lagi sebagai akibat dari bebasnya arus dan akses informasi yang diperoleh.

***
Setiap dari kita yang merupakan keluarga besar KMPW tentu memiliki konsep masing-masing dalam menyikapi kondisi yang ada, tulisan ini hanya pendapat subjektif penulis sebagai upaya awal dalam menanggapi kondisi yang ada. Tentu penulis berharap bahwa kondisi ini tidak akan mencederai KMPW lebih jauh. Harapan bisa ditanamakan, tetapi ambisi untuk menyelesaikan semua masalah  dengan satu langkah pratis mungkin sedikit tidak realistis. Semestinya kita akan resah dengan semuanya, semestinya kita akan memliki konsep terkait dengan kondisi yang ada, sebagai wujud komitmen untuk KMPW yang lebih baik, yang akan terbalut dalam semangat filosofis perubahan. Salam ...


Makassar, 20 Desember 2013. Pondok Inlander Pukul  02 : 07 Wita
Penulis adalah Ketua KMPW Periode 2012-2014



[1] Salah satu kecamatan yang ada di Kab. Muna; Prov. Sulawesi Tenggara
[2] Pendiri KMPW Adalah Senior-senior ****
[3] Jangan Sekali-kali Melupakan Sejarah.
Share:

Garuda, Sebatik & Malaysia

Tugu Garuda, Desa Aji Kuning - Pulau Sebatik
Garuda Di Dadaku, Produk Malaysia Di Perutku. --- Semboyan Unik yang pernah kudengar disebuah pulau yang selalu disebut garda terdepan NKRI.

Hari ini adalah hari kesepuluh, tepatnya tanggal 9 juli 2013. Desa yang terletak disebuah pulau terluar Indonesia, Sebatik kabupaten Nunukan Kalimantan Timur, saya dan beberapa teman dari beberapa fakultas Se-UNHAS melaksanakan KKN. Pulau ini berbatasan lansung dengan negara Malaysia, kurang lebih 200 meter kebelakang atau menyeberang pulau 20 menit batas negara sudah dilewati. Hal yang lumrah kemudian jika banyak kebutuhan hidup warga Sebatik sebagian besar dari negeri seberang sanah.

“ Berharap dari pemerintah kita, sama dengan bunuh diri “ sepenggal celotehan yang sedikit menyayat hati ketika mendengarnya. Yah, celotehan ini akan sering anda dengar ketika berada ditempat ini. Soal ketidak pedulian pemerintah kita terhadap masyarakat adalah hal yang sudah terlalu Basi untuk aku keluhkan, pemerintah dan beberapa stakeholder penentu kebijakan lainnya tidak lagi berada dijalur kontitusi NKRI, salam kata kotor dan caki-maki adalah pilihan yang paling bijaksana untuk mereka (Panjang Umur Perjuangan).

Jangan pernah bilang jika mereka adalah garda terdepan NKRI, jika ketidak perdulian-mu menyertainya.

Jangan pernah bayangkan mereka seperti apa yang sedang anda rasakan saat ini, jangan pernah membayangkan tentang kehidupan pulau indah seperti kebanyakan. persentase pemuda putus sekolah, akses jalan lintas daerah sepulau sebatik, sarana dan prasarana pendidikan adalah secercah masalah yang perlu kita bicarakan dan pemerintah perhatikan. Pemandangan miris di malam hari yang terkias bagai langit dan bumi adalah perbandingan kota sebatik Malaysia yang terletak di Tawau dan sebatik indonesia yang terletak di sebatik Timur. Fakta kongkrit yang semakin menambah kebijaksanaan terhadap caki makian kita kepada pemerintah. Ini bukan soal garda terdepan, tapi ini tentang sebuah Kepedulian.

Jangan pernah bilang jika mereka adalah garda terdepan NKRI, jika ketidak perdulian-mu menyertainya.

Tabung gas petronas, lembaran uang ringgit Malaysia, dan produk yang bertuliskan Made in Malaysia adalah hal biasa yang akan anda jumpai di daerah ini, ini bukan persoalan pilihan produk tetapi sekali lagi hal ini semakin mempertegas tidak adanya unsur kepedulian pemerintah RI terhadap pulau yang dianggap Garda Terdepan ini. Alasan yang dikeluhkan beberapa masyarakat pulau ini adalah akses yang disediakan pemerintah untuk pelayanan dan sarana sangat sulit untuk diperoleh, sebab itu tidak heran jika produk negara sendiri hanya bisa mencapai reting Alternatif.

Jangan pernah bilang jika mereka adalah garda terdepan NKRI, jika ketidak pedulian-mu menyertainya.

Bahasa Indonesia adalah bahasa kesatuan kita, tersurat dalam sumpah pemuda yang mengkiaskan tentang kebersatuan kita dalam sebuah perbedaan suku dan bahasa nusantara, dan jangan pernah merasa heran jika dalam waktu kurang lebih seminggu ini kami hanya bisa mendengar celotehan-celotehan yang bernuansa bahasa rumpun Malaysia. Ini bukan soal bahasa, tapi pengakuan terhadap garda terdepan.

Ada banyak hal yang memotifasiku untuk menuliskan segalanya, ada banyak fakta kesedihan yang ingin aku sampaikan kepada kita semua, tentang sebuah kesatuan, tentang sebuah negara yang mengaku bersatu, tentang sebuah pemerintahan yang mengaku mengayomi dan melindungi kepentingan rakyat diseluruh pelosok negerinya, tentang sebuah celotehan stakeholder yang sedang sibuk mempersiapkan segala urusan pribadi dalam tugas kenegaraannya, dan tentang sebuah kehidupan yang terus termarjinalkan dari istilah keadilan dan kepedulian dari Imam dimassanya (Pemerintah).


Pondok Irmayanti. 26/07/2013 Pukul 16 : 24 Wita




Share:

Diskresi Atau Insting

Sumber: News-Viva.co.id
Mereka terkesan ingin me-raja kembali, setelah "sebangsanya" pernah mencoba mendominasi kondisi sosial yang ada. Dwi fungsi ABRI menjadi bumerang bagi rakyat dan mahasiswa dizamannya. Hari ini, di erah baru dalam tahun Reformasi lakon fungsi itu kembali ditampilkan dalam bentuk baru oleh organ baru dengan membuat manufer yang sedikit berbeda (Polri).

Beberapa bulan yang lalu tepatnya tanggal 02 Desember 2013, terjadi penembakan oleh polisi terhadap seorang petani Takalar[1] karena mempertanyakan aksi sebuah perusahaan yang melakukan penanaman paksa tebu dalam lahan sawah beberapa petani di daerah tersebut. Miris, tapi inilah faktanya, dimana salah satu unsur penegak hukum malah berbuat frontal dan membabi buta dalam uapaya menegakan hukum (Mungkin). Polisi semestinya menjadi pengayom masyarakat, menjadi penengah dalam polemik sebagai sebuah kewajiban untuk abdi negara, tetapi semestinya tidak dengan cara sembrono yang malah mencerminkan sikap arogan bagai Raja yang otoriter dan diktator, mungkin ini juga bisa menjadi kritik kecil untuk hak Diskresi[2] kepolisian ( Pasal 18 dalam Undang-undang Nomor 2 Tahun 2002).

Masih ada dan lebih banyak lagi kasus yang menyangkut soal tindakan polisi yang memperlakukan masyarakat tidak pada semestinya. Dari hal sederhana terkait perilaku sosial remaja dalam masyarakat sampai pada proses penanganan kasus hukum (hukum publik) banyak oknum kepolisian melakukan “gerakan tambahan” dalam setiap penanganannya. Para pembaca pasti memiliki pengalaman yang beragam terkait persoalan berurusan dengan "raja" yang satu ini, dan percaya saja kita memiliki pengalaman yang sama !

Benar bahwa mereka adalah oknum, dan benar ketika menjeneralkan semua oknum maka kita akan terjebak dalam kesalahan berpikir Fallacy of Dramatical Instance,[3] tetapi bukankah mereka bergerak atas nama institusi ? jika penjeneralan dalam kondisi ini adalah salah, lantas siapa diantara kalian yang berani membenarkan solidaritas terhadap tindakan yang disinyalir pelanggaran kode etik dan etika profesi ? Bukankah ini realita negeri yang lucu sekaligus memprihatinkan !?

Perhatikan ketika mereka para "raja kecil" ini melakukan aksi-aksi menyedihkannya hanya berdasar pada Insting seperti binatang tak berakal, lalu mengumandangkan alasan pembenar bahwa ini adalah tugas kami, ini adalah amanat konstitusi, ini adalah abdi negara, ini adalah bla bla bla ! Lalu perhatikan ketika mereka kembali berbaur dengan masyarakat tanpa merasa bersalah dan menganggap semuanya baik-baik saja dengan alasan bahwa mereka adalah satu kesatuan entitas sebagai masyarakat dan rakyat sebuah negara. Miris, tapi inilah faktanya.

Saya tidak mencoba menutup mata dengan kondisi yang lain, dimana masih ada beberapa dari mereka yang menjadi baik dan adil dalam porsi dan kondisi mereka masing-masing.

***
Ada kondisi yang kadang terlewatkan oleh pandangan kita, perhatikan mereka yang tidak terlalu perduli dengan kondisi ini, yang tidak terlalu perduli dengan konstalasi politik, yang juga tidak terlalu perduli dengan urusan polisi maupun urusan kenegaraan. Perhatikan cara mereka hidup dan menikmati kehidupan tanpa negara ( tidak tergantung pada negara secara lansung).

Kehidupan dan kondisi sosial memang tidak selamanya akan terus sesuai dengan harapan, akan sedikit mustahil jika ada kondisi dimana kepentingan semua golongan mampu terakomodir secara terintegrasi dalam tipologi masyarakat yang masih mendahulukan insting, hasrat dan naluri dibanding akal budi secara seimbang dan berkesinambungan. Dalam situasi ini, hidup adalah pilihan yang simalakama untuk dipilih, tapi apapun yang terjadi hidup harus tetap berjalan, sebagai konsekuensi dari keberlanjutan sebuah perjuangan yang terbalut dalam janji sebuah perubahan. Panjang umur perjuangan !!


Pondok Irmayanti, Kompleks Pondokan UNHAS
Makassar, 06 Januari 2014. Pukul 03.32






[1] Nama salah satu Kabupaten di daerah sulawesi selatan
[2] kebijakan dari pejabat yang intinya membolehkan pejabat publik melakukan sebuah kebijakan dimana undang-undang belum mengaturnya secara tegas, dengan tiga syarat. yakni, demi kepentingan umum, masih dalam batas wilayah kewenangannya, dan tidak melanggar Asas-Asas Umum Pemerintahan yang Baik (AUPB)
[3] Jallaludin Rahmat, Rekayasa sosial. (jakarta 2003)
Share: