Tugas suci para Nabi tidak hanya berkutat pada kitab agama yang kaku dan konvensional. Mereka membawa perubahan fundamental, menyentuh pelbagai sendi kehidupan, terutama tentang Ilmu pengetahuan. Tugas mulia untuk Mencerahkan.
~~~
Di masanya, dalam upaya pelariannya, Nabi Ilyas a.s, menerima Wahyu untuk bermukim disebuah negeri bernama Akbar, negeri yang kemudian berubah menjadi salah satu kota di Lebanon yang lebih dikenal dengan sebutan kota Byblos saat ini. Sebab, dalam sejarah, konon disanalah Byblos pertama kali ditemukan dan berkembang pesat.
Byblos dikenal sebagai sebuah seni menggoreskan kuas dan tinta (menulis). Menggoreskan segala peristiwa dalam lempengan tanah liat yang dipadatkan lewat proses pembakaran (keramik). Keramik tanah liat ini menjadi pilihan untuk mengabadikan setiap Byblos (red: tulisan). Dianggap dapat bertahan lama dan juga memiliki nilai estetika yang apik ketika disusun rapi pada rak-rak ruangan yang saat itu belum disebut perpustakaan.
Sejatinya istilah perpustakaan memang identik dengan kumpulan buku, bukan kumpulan keramik bertulis. Meski arti konvensional perpustakaan adalah kumpulan referensi atau gudang literatur, tetapi muasal kata Perpustakaan adalah Library (Inggris) yang berakar dari kata Liber (yunani) yang berarti buku-buku, bukan keramik.
Tidak ada gambaran untuk membentuk perpustakaan seperti saat ini. Instrumen terbatas. Pun penulis atau yang berhak mempelajari Byblos adalah bukan sembarang orang. Hanya orang-orang tertentu yang sudah dipilih oleh para Dewan Agung atau penasehat kerajaan. Para dewan agung tahu, kekuatan Byblos mampu memusnahkan satu generasi bangsa tanpa perang. Hanya dengan sebuah gagasan, satu bangsa dapat dihancurkan tak tersisa, tanpa pertumpahan darah atau kerugian ekonomi yang banyak. Oleh karenanya para penulis harus tetap dalam kontrol para dewan agung, pengetahuan atau tentang apa-apa yang harus dituliskan hanya seputar apa yang dikatakan oleh para dewan agung.
Pada kondisi ini, otententifikasi Byblos tetap terjaga dan terpelihara dengan baik. Sebab, hanya mereka yang diizinkanlah yang dapat mengemukakan pendapat dalam Byblos. Tetapi bukan pengetahuan jika hanya stag pada satu titik. Kebenaran selalu menemukan jalan sendiri.
Otentik, terjaga. Tidak ada percetakan keramik saat itu, satu keramik hanya cukup untuk satu tulisan dengan gaya menulis yang itu-itu saja. Tidak ada plagiat atau penjiblakan, karena jika ada upaya menuliskannya kembali, dia akan menjadi keramik yang berbeda. Otentik.
Dibelahan dunia lainnya, Yunani, sistem penulisan Byblos ini kemudian dicemot dan berganti sebutan menjadi Alfabet. Dengan penambahan jenis huruf yang belakangan kita kenal dengan istilah huruf Vokal (a, i, u, e, o). Mereka, yunani, bangsa yang sangat cepat dan kuat beradaptasi perihal pengetahuan, disanalah banyak lahir para pemikir hampir setiap generasi.
Konsep: lihat, cermati, lalu modifikasi adalah tipe masyarakat Yunani yang haus pengetahuan, mawas diri, tetapi dilain sisi membuka ruang diskursus yang memadai. Padat wacana dan memiliki semangat juang yang tajam perihal pengetahuan. Belum ada di abad ini yang mampu menyamai konsep mereka, para tokoh Yunani. Mereka generasi "penggiat" literasi.
~~~
Nabi Ilyas a.s, memerhatikan budaya ini lalu ikut mempelajari. Dia setuju untuk otentifikasi keramik Byblos ini, tetapi mengkhawatirkan banyak hal. Jika buah pemikiran yang telah terukir rapi itu dimusnahkan dan para pemikirnya telah tiada, maka musnahlah sudah. Nabi Ilyas a.s memandang perlu sebuah upaya unifikasi gagasan sembari mengupayakan kodifikasi dalam bentuk lain. Alat dan bahan yang bisa; tetap otentik, tidak kehilangan estetika dan tidak gampang untuk dimusnahkan.
Oleh karena masa perang terus meletus dimana-mana, tidak menutup kemungkinan susunan keramik ikut menjadi sasaran buta para musuh atau penyerang. Sang penerima wahyu kemudian merekomendasi untuk dituliskan pada bahan yang tidak berat dibawa-bawa atau dipindah tempatkan sewaktu-waktu, jika terjadi perang atau bepergian. Tidak perlu lagi membawa beban berat seperti keramik, tetapi dapat bertahan untuk waktu lama seperti halnya keramik.
Kulit pohon yang bernama Papyrus-lah yang menjadi pilihannya.
Tumbuhan Papyrus ini biasa tumbuh disekitar sungai atau daerah yang cukup lembab. Dari beberapa referensi disebutkan bahwa, cara membuat kulit pohon Papyrus menjadi bahan yang bisa ditulisi cukup mudah. Kulit pohon terluar diiris dan dipisahkan dan kulit dalamnya. Kulit dalam inilah yang tiriskan atau di press untuk mengurangi kandungan air, lalu dikeringkan agar dapat digunakan sebagai bahan untuk membuat tulisan.
Salah satu kelebihan dari kertas Papyrus ini yaitu sifatnya yang tahan terhadap air/waterproof. Digadang-gadang kertas ini dapat bertahan hingga ribuan tahun. Beberapa naskah terkenal yang menggunakan kertas Papyrus yaitu Rhind Papyrus (papirus rhind), Turin Papyrus (papirus turin), naskah ini tersimpan di museum mesir di Turin Italia, dan Ebers Papyrus (Papirus ebers) teks ini merupakan salah satu teks medis yang terkenal di dunia, Papyrus ini berisi tentang resep obat tradisional dan menunjukan bahwa bangsa Mesir kuno telah mengetahui adanya pembuluh darah. Dari nama jenis pohon inilah kemudian muasal kata kertas digunakan. Papirus, paper, papiere, papiros yang dalam arti bahasa inggris kemudian kita mengenalnya dengan sebutan Kertas (Paper).
Seiring dengan perjalanan sejarah dan perkembangan teknologi, informasi primer (dalam segala hal) seperti halnya muasal kertas ini kemudian dikawinkan dengan perkembangan peradaban lalu dapat menghasilkan "perubahan-perubahan fundamental".
Poinnya bahwa, tidak hanya Nabi Ilyas a.s, generasi Nabi pendahulunya, pun para Nabi dan Rasul setelahnya, telah membuka tabir, menghadirkan informasi primer (lain) yang kemudian menjadi sandaran perkembangan peradaban kita saat ini.
Mereka, para Nabi tidak hanya berkutat pada kitab agama yang kaku dan konvensional. Mereka membawa perubahan fundamental, menyentuh pelbagai sendi kehidupan, terutama tentang Ilmu pengetahuan. Tugas mulia untuk Mencerahkan.