Rabu, 29 Agustus 2018

Kapalenda & Kawinto : Eufisme & Satire

Saya akan coba runut tokohnya; Moh. Hatta, seorang diplomat ulung, rapi dan bersih pada setiap kalimat dan narasi-narasi diplomasinya. Ir. Sukarno, singa podium, pesilat lidah, lincah memainkan emosi massa, tetapi dalam kontrol logika dan silogisme yang apik.

Jenderal Sudirman, awalnya adalah guru kemudian memimpin pasukan. Anda bisa bayangkan progressnya? Konsep perintah dan memerintah dalam santun dan budi seorang pendidik. Tan Malaka, sang pemilik metafor, lengkap dengan konsep materialisme, dialektika dan logikanya. Kurang apalagi coba?

Sutan Sjahrir, jangan tanya. Dialah raja diskusi, cadas dalam membentuk dan mengarahkan pikiran-pikiran lawan bicaranya.

Lohh, jadi, darimana kita belajar mengejek, mencaci, memaki, bukan debat apalagi diskusi?

~
Kita lupa, budaya kita mengenal konsep eufisme. Bukan hanya sekedar retorika atau bersilat, tetapi lebih berat pada soal harga-menghargai. Kita, orang timur, memang suka yang samar-samar. Tidak blur, juga tidak auto fokus. Bisa Full HD, tidak juga menolak jika hanya 3pg. Seadanya saja, Eufisme.

Di kampung saya, Eufisme lebih dikenal dengan istilah "kapalenda", sedikit mirip kedengarannya dengan jenis masakan di warung-warung Makassar, "Ikan-ka'palenda". Meski metode penyampaiannya sama, tetapi tingkat kepekaan "kapalenda" lebih terasa dari eufisme itu sendiri. Karena jika kapalenda tidak dimaknai lebih dalam, dia akan cenderung menuju "kawinto".

Soal "kawinto" (Satire; pujian yang berlebihan), cenderung agak sulit untuk  dijelaskan, jalurnya selalu mengarah pada debat kusir dan berujung ejekan. Untung saja "kawinto" ini hanya muncul di ruang-ruang ngopi warkop, bukan di diskusi-diskusi literatif. Itu mengapa para pejabat publik di sana, cenderung selalu menjadi korban keganasan masyarakat, "diwinto" sampai lupa daratan. Karena mereka lebih melayani debat kusir di warkop daripada diskusi literatif. Alhasil "kawintolah" yang mereka peroleh. Evaluasi!

Sekali-kali mengejek itu baik sebenarnya, hitungan motivasi, asal tidak sampai pada taraf caci dan maki, apalagi kelahi. Tidak elok kelihatannya. Itu juga tidak sopan, Bertengkar dihadapan Tuhan dengan komposisi sama-sama ciptaan. Malu sama Pencipta. Baru juga jadi ciptaan, sombongnya minta ampun!

Kita lupa, budaya kita punya segalanya, dan segala kita punya budaya, termasuk cara kita berpendapat dan bertutur. Budaya saya, kalian dan mereka, adalah budaya yang sama dengan budaya milik Moh. Hatta, Ir. Soekarno, Jend. Sudirman, Tan, Sutan Sjahrir. Budaya yang bermartabat.

"Selalu hadir BERSAMA dalam keadaan BERMAKNA", kata Heidegger dalam Tafsir Mitdasein. Sudahi saja, ternyata budaya caci dan maki bukan milik kita, entah datangnya dari mana, yang jelas bukan dari timur, bukan dari masyarakat kita, bukan dari Jojo apalagi Ginting berikut Lalu Muh. Zohri. Bukan dari Indonesia.

~~
Ohh iya, sebagian besar masyarakat kami percaya kalau Sukarno itu dari Buton, jadi jangan heran kalau banyak orang yang jago "Retorika, Kapalenda (eufimesme) dan Kawinto (Satire) " dari sana. Ditambah lagi ilmu komunikasi baru yang disebut dengan "Kapukapurika (sejenis retorika), yang hampir dikuasai oleh semua elemen masyarakat. Lengkap sudah! 😂

Tunggu dulu, Buton-Muna masih Indonesia kan?

Share:

Rabu, 22 Agustus 2018

Gadis Jeruk Gaarder (Chapter II)

GADIS JERUK Gaarder Bernama Cecilia.

Akhirnya Gaarder mendengar keluhanku, kali ini gadis kecil bernama Cecilia yang diajaknya berselancar dalam samudra pengetahuan. Tidak lagi menggunakan surat, Om Gaarder kali ini mengirim seorang malaikat mungil.

Malaikat kecil itu bernama Ariel. tak bersayap, bulu rambut, alis dan segala tetek-bengek penduduk bumi kebanyakan. dibalik tubuh halusnya, dia memiliki badan yang kokoh seperti baja, tetapi tidak memiliki massa, dia bahkan tidak menggunakan alas kaki. Dia lembut seperti sutra, wajahnya teduh dan menentramkan di balik jubah putih yang menutupinya. Terdengar seperti Hero Natalia dalam game Mobile Legend, hanya saja dia mungil seperti Harley.

Ariel hadir untuk mengurai pengetahuan surgawi, dengan syarat Cecilia bersedia menceritakan sedikit pengetahuannya tentang duniawi. Iya, sedikit, terlalu berat jika ingin menceritakan semua alam semesta, toh juga kita manusia hanya mengetahui sedikit, samar-samar, tetapi selalu teledor mengatakan mengetahui segalanya. Sering merasa pintar tetapi jarang pintar merasa.

Akhirnya perjanjian surga dan dunia tercipta, lewat kaitan jari kelingking mungil Ariel dan gadis kecil Cecilia.

~
Apa yang bisa diperbuat oleh tubuh fana dari darah dan daging ini. Kita (manusia) tak berdaya tanpa penghuni surga di dalam diri. Dia-lah yang abadi, dia yang bertahta dalam jagad diri, mengusahakan keseimbangan antara jiwa dan raga. Ruh, Dia-lah yang Ilahiah, satu-satunya hal yang menyerupakan kita dengan penduduk surgawi.

"Om Gaarder, Cecilia sedikit berbeda dengan anak-anak lainnya, mengapa?" tanyaku. Ini pertemuan ke-dua kami setelah merayakan kemerdekaan ke-73 Agustus kemarin. "perbedaan itu permainan dunia, pangkalnya adalah "rasa" sebagai pembanding, medianya adalah panca Indra. Seandainya saja Said bisa memaksimalkan Indranya, maka perbedaannya akan terberai. Dengan begitu, kita akan menjadi lebih mengenali diri, menyatui jiwa dan menyibak fenomena dan kefanahan. Begitu kira-kira".

Sabar om, pelan-pelan, saya tidak paham. "Itu berarti Indra adalah pengekang?" tanyaku. Setelah menyeruput kopi, Gaarder melanjutkan, "Simak ketika Malaikat Ariel menembus dinding dan kaca jendela, lalu Cecilia tercengang, Ariel menjawab tanpa terlihat bangga :Tutup matamu dan bayangkan engkau terbang melintasi tembok dan keca itu. Jika bisa, maka tidak ada yang tidak bisa, jika itu dalam pikiranmu". Iya, iya, saya ingat sambungku.

Mengerutkan dahi, Gaarder melanjutkan, "bagaimana caramu mengingat, dan seperti apa kamu ketika lupa?" dalam hati saya berkata, ini pertanyaan sederhana yang tidak terlintas dalam benak selama ini. "dimana posisi pengetahuan ketika lupa, lalu datang dari sebelah mana ketika kita kembali mengingat?"

"Oh iya, saya sedikit paham, indra bukan pengekang, saya memicu ingatan lewat panca Indra" kataku. "iya, ingatan ada di dalan diri, dia abadi disana, kita hanya butuh stimulus untuk kembali mengingatnya" kata Gaarder. Ini terdengar seperti penemuan besar Plato, alam Ide yang purnah, tetapi kefanahan meliputi semua, sehingga kita butuh berbuat kebajikan untuk menyibak tirai hitam kefanahan.

Saya mengingat-ingat, dalam penggalan puisi kosmologi Mahabbah Ustadz A.m Safwan mengatakan, "Tidak ada pertemuan selain di Alam..., mulailah dari alam". Bukan begitu? Tanyaku.

Gaarder melanjutkan tanpa menjawab pertanyaanku "Alam adalah sumber, semua tersedia di sana, baik yang terindrai maupun yang tidak, begitu kira-kira para Materialisme menjelasakan dengan bangga, mereka tidak lupa kalau kita menggunakan Indra sebagai media, tetapi sekali lagi dengan bangga mereka menampik  keberadaannya, pun dengan apa yang terjadi setelah semua Alam terindrai, proses pengolahan sumber, mereka menafihkannya, seolah pengetahuan itu mandiri". iya saya paham soal ini timpahku, apa yang Istimewah?

"Itulah penyakit dunia Id, samar-samar dan parsial. Bukan dunia jika purnah, itu juga penyakit manusia, apa yang kamu pahami?" Dengan bangga saya mengambil posisi untuk menjelaskan, "Disposesi Muhammad Baqir Ash-Shadr, bahwa pengetahuan itu relasi dari segalanya, ada konsepsi primer dan sekunder. Para Materialisme Feuerbach benar pada posisinya, Idealisme Plato, Rasionalisme Descartes, dan Empirisme John Locke, Hume, dan Buku-buku, kitab, benar sebagai sumber pengetahuan, tetapi relasi, hubungan dari kesemuanya-lah yang menghasilkan pengetahuan". Bukan begitu?

"saya sepakat pada sebagiannya", "lah mengapa sebagian" protesku, dengan santai Gaarder menjawab "karena jika keseluruhan, maka tidak akan ada sisa dialektika malam ini, pun jika semua, maka kita seharusnya berada di surga, bukan dunia, karena kebenaran itu abadi, sedang dunia tidak mengenal keabadian".

Tunggu dulu, saya ingat anda menyinggung soal Indra ke-enam lewat perumpamaan 2 ekor burung gagak Dewa Odin, Hugin dan Munin, yang dalam tafsir bahasa berarti "pikiran" dan "daya pikir". Ingatanmu cukup bagus kata Gaarder, hanya saja tetap lucu, dari mana pikiran itu sebelum muncul kembali. Lupakan. Begini, sembari memperbaiki posisi duduk, Gaarder menjelaskan, "Dewa Odin akan mengetahui segala sesuatu yang terjadi di bumi tanpa beranjak dari singgasanahnya, dia cukup menggunakan mata burung gagaknya".

"Dia seperti ada dimana-mana dalam waktu yang singkat, apa kamu tidak merasa kita seperti Hugin dan Munin, berlaku seperti mata-mata untuk Tuhan?" saya menjawab tegas "TIDAK, Tuhan tentu tidak butuh kita untuk mengetahui segala ciptaan-Nya, dia Maha Agung dengan segala Ciptaan-Nya". Benar, sambung Gaarder. "Tetapi Berpikir dan Daya pikir dititip pada kita untuk mengatahui ke'Tunggal'an-Nya, disitu posisi keabadian ruh, Nur Muhammad, dari sana kita diciptakan. Ini penting untuk dipahami agar kita mampu memposisikan diri pada semesta, pada sesama manusia, pada hewan, juga tumbuhan. Semua dari keabadian Nur Muhammad".

Saya tidak sepakat, hanya saja bukankah itu terdengar egois jika, Tuhan menciptakan Jagat Raya beserta isinya hanya untuk menunjukan keagungan-Nya?" tepat, gunakan Hugin dan Munin untuk memahaminya. Timpahnya disela-sela menyeruput sisa kopi sekali lagi.

~
Seingatku (lagi) Cecilia pernah bertanya pada Malaikat Ariel, mengapa dia begitu penasaran pada kehidupan Dunia yang fana, sedang dia memiliki keabadian. Ariel dengan santun menjawab, "karena kalian di dunia ini berpotensi memiliki keduanya, yang fana dan abadi". Ini terdengar familiar, seperti apa yang pernah ditanyakan oleh Emha Ainun Nadjib (Cak Nun), "kita manusia ini, apakah penduduk surga yang sedang bertamasya ke bumi, atau sebaliknya. Kita, apakah makhluk abadi yang sedang bertamasya pada kefanahan?" Bagitu hebat manusia, kataku dalam hati.

Jadi menurutku cukup lucu ketika memperdebatkan sesuatu yang abadi. Toh juga kita sedang dalam perjalanan menuju ke sana atau dengan kata lain 'mungkin' pulang ke sana. Yang jelas, kita butuh Gadis Jeruk untuk menjaga dunia ini agar tetap dalam kefanahan. "tanpamu, dunia ini akan terasa suram dan mengerikan, tidak fana, juga tidak abadi". Begitu kira-kira para melankolis mengutarakannya. 😂

Sebaliknya, bertikai untuk hal yang fana tidak kalah lucunya. Kita memiliki semua kefanahan, fanahku, fanahmu juga. Jadi sudahi semua kebodohan itu. Sedikit tidak elok jika kita berkisruh tentang pemilihan pemimpin, itu juga terlihat tidak sopan, bertikai di hadapan Tuhan. Bukan begitu Om Gaarder?

Sembari menyeruput sisa-sisa kopinya, Gaarder menjawab pertanyaanku, "Tentukan saja pilihanmu lengkap dengan alasan-alasannya, lalu ujilah alasan pilihan orang lain dengan argumentasi logik, bukan dengan sentimen [RG].

Share:

Kamis, 16 Agustus 2018

Gadis Jeruk Gaarder

Saya menyebutnya kemandirian imajinasi. Penulis yang hebat adalah pembaca ulung, pemakan buku istilahnya. Imajinasinya terkontrol dengan baik, meski melesit kemana-mana.

"Om Jostein Gaarder, mengapa anda suka sekali bermain surat, padahal peradaban kita punya banyak media?" Dia tersenyum tanpa menjawab.

Semula saya menemukan Sophie sibuk dengan surat ayahnya, lalu Nova kaget dengan segala penjelasan neneknya yang bernama Anna dari surat-surat yang dituliskannya 70 tahun lalu. Meski lebih modern, Anna tetap saja menggunakan surat.

Kali ini giliran anak tampan yang sedikit mirip dengan saya. Georg Roed namanya, dia baru berusia 15 tahun. Ditengah kesibukannya belajar biola, dia disuguhi oleh sang nenek surat-surat peninggalan almarhum ayahnya yang bercerita tentang gadis jeruk yang tidak lain ternyata ibunya sendiri.

Hal yang menarik, semua penulis surat tahu kondisi pembacanya ketika itu, seolah suratnya hadir untuk menjawab setiap keresahan pembacanya. Sophie dengan semua keresahan pengetahuannya, Nova dengan segala kondisi Bumi yang mengenaskan, Georg dengan segala kecanggihan teknologi teleskopnya. Jika dirunut, maka konsepnya Epistemologi, Eksistensial Makro dan Mikro Kosmos, Teknologi Postmodernism.

Andai saja dunia ini seperti Dunia Sophie dan Dunia Anna, (Dunia Maya; sabar, satu-satu), mungkin saja, gadis-gadisnya akan seperti jelmaan gadis jeruk. Manis.

"Tunggu, jangan-jangan anda ini seorang tukang pos Gaarder?" Dia menoleh, kali ini sembari menjawab celotehanku, "Tidak ada yang lebih romantis dari cara surat menyampaikan hasratnya, dia lebih indah dari yang Said bayangkan, coba saja!" saya mangguk kehilangan kata. Dalam hati, "saya punya WhatsApp Om".

Sembari berjalan Gaarder melanjutkan, hanya surat yang abadi, pembacanya fana. Anda bisa berkali-kali mencicipi romansanya, berkali-kali, tanpa bosan. Dia tidak bisa di-delete, apalagi di-resend. Anda bisa membacanya kembali dilain saat jika merasa telah kehilangan gairah, itu kuatnya surat, itu kekuatan tulisan. Dia juga bisa menghadirkan makna yang tersembunyi, sekaligus menyembunyikan makna. Begitu dahsyat surat, ajaibkan Id? Saya kikuk mendengar pernyataan yang diakhiri pertanyaan itu.

Dalam hati saya menggumam, "surat". Betapa beruntung generasi pendahuluku, menikmati "romansa yang hidup" dalam bait-bait teks pada secarik kertas. Apa tidak kolot jika saya menggunakannya? Ahh sulit, saya tidak punya seorang yang bisa menerima suratnya, tidak ada gadis jeruk di duniaku.

Gaarder membuyarkan lamunanku, "kita berpisah disini, ohh iya, jangan lupa datang di karnaval perayaan kemerdekaan besok, ini perayaan yang ke-73", iya yah, saya hampir lupa kalau ini Agustus, dan 2019 sebentar lagi. sembari menjabat tanganku, dia memberiku secarik surat dan berkata “Bacalah, Dengan (Menyebut) Nama Tuhanmu Yang Menciptakan” (QS: Al-Alaq).

Share:

Jumat, 10 Agustus 2018

Harmoni Diri dalam Karya

Menyedihkan rasanya menyaksikan diri yang kian hari kian tidak produktif. Saat sebagian orang sedang asyik bercengkrama dengan aksi mengejar mimpi, saya seakan berotasi tak beraturan. Beruntung, saya diselamatkan oleh rasa syukur; setidaknya saya berputar, meski tak tentu arah.

Baru saja selesai membaca beberapa buku karya Fiersa Besari, atau bisa dibilang semua bukunya, penulis novel asal Bandung ini baru menuliskan segala kesahnya dalam empat buku beruntun. Tercatat, Garis Waktu, Konspirasi Alam Semesta, Catatan Juang dan Arah langka. Semua bukunya dikemas dalam novel ‘manja’ yang bisa dibilang tepat untuk pembaca ‘zaman now’. Melow.

Betapa beruntungnya dia, diumurnya yang dibilang cukup muda sudah menorehkan karya yang bisa dinikmati banyak orang, paling tidak ‘sudah’ menjadi orang yang berguna bagi orang lain, atau setidak-tidaknya; betapa produktifnya dia untuk ukuran anak muda seumurannya, 28 tahun. Hanya selisih 2 tahun dengan saya.

Sebenarnya saya bukan pembaca novel, sejak gemar membolak balik “kertas bertulis”, hampir setiap kesempatan saya isi dengan buku-buku padat berisi pandangan dan aliran-aliran pemikiran tokoh-tokoh dunia. Paling jatuh, membahas perjalanan sejarah-sejarah peradaban. Jika harus membaca novel, buku John Grisham yang berkisah tentang segala keruwetan hukum dan segala konsep tetekbengeknyalah yang menjadi pilihan. Beruntung ada penulis seperti John Grisham di dunia ini. Setidaknya menyelamatkan pembaca kaku sepertiku.

Keadaan ini terbentuk bukan tanpa sebab, saya tumbuh dan berkembang pada lingkungan yang banyak mendiskusikan hal-hal  secara mendasar dan filosofis, keadaan ini memengaruhi pola belajar sampai pada pemilihan jenis buku bacaan. Filsafat, politik, sosial dan ekonomi dan lingkungan, berkutat dipusaran itu-itu saja, paling jauh melenceng ke pembahasan hukum, ini tidak aneh mengingat basic saya adalah seorang hukum.

Tanpa disadari, hal ini ternyata ikut memengaruhi gaya menulis saya. Banyak dari teman yang pernah membaca tulisan saya mengatakan bahwa, gaya menulis ini cadas tetapi tidak fokus bahkan kadang kehilangan arah. Analoginya seperti seorang mahasiswa yang sedang melakukan orasi di depan kerumunan massa, lantang, menggebu tak berarah atau bahkan tak berisi, seolah yang terpenting adalah bersuara. Sebagiannya lagi mengatakan, kerangka dasar ide dalam tulisannya tak terbaca, sehingga tidak jarang pembaca kesulitan menangkap hal yang ingin disampaikan. Jika idenya ditemukan, tulisannya tidak ‘klimaks’, dengan ekstrim, salah seorang teman pernah mengatakan; Ibarat kita melakukan onani, tetapi tidak mencapai klimaks lalu berhenti. Lumayan.

Bagi saya, seperti apapun adanya tidak ada pilihan untuk berhenti menulis. Dengan menulis saya menemukan bacaan, mendekonstruksi ide untuk menemukan bacaan lain. Seperti quote menarik tentang seorang “penulis hebat adalah pembaca yang ulung”. Itu mengapa saya memilih novel sebagai bahan evaluasi cara menulis. Dalam banyak novel, kita menemukan suguhan penjabaran terperinci dan detail tentang suatu peristiwa, tetapi dikemas dalam bahasa yang menarik. Informatif dan renyah.

***
Membaca karya pertama Fiersa Besari -Garis Waktu- saya menuai kekecewaan. Ekspektasi saya terhadap buku yang memiliki banyak “tertimoni menarik” ini berlebihan. Berlatar belakang kisah cinta dan penghianatan, buku ini dikemas dalam alur maju mundur. Gambarannya seperti seorang dalam novel sedang bercerita pada orang ketiga tentang sesuatu. Kira-kira seperti alur novel Jostein Gardeer-Dunia Shopie-, dimana tokoh Shopie dinovelkan sedang melakukan banyak hal dengan orang lain dan dirinya sendiri.

Berlanjut pada buku kedua dan ketiganya, -Konspirasi Alam Semesta & Catatan Juang- didasari dari rasa penasaran yang dihadirkan dalam closing buku pertama. Mungkin hal ini juga memegang peranan yang cukup penting dalam dunia tulis menulis, bagaimana mengemas cerita awal dan akhir semenarik mungkin untuk memikat hati para pembaca. Terlepas dari hal tersebut, rasa penasaran saya diperkuat dengan sebuah angka di Bio penulis, Tahun kelahiran. Sial, betapa produktifnya orang ini.

Dalam kurun waktu enam hari, saya menyelesaikan buku kedua dan ketiga. Kagum, gaya menulisnya berubah 120 %. Entah karena kemampuannya yang terevaluasi ataukah selera membaca saya yang sudah bergeser. Tetapi hal yang terlintas dalam pikiran saya adalah proses selalu menempa ‘bahan baku’ menuju hasil yang layak. Bisa jadi, buku kedua dan ketiga terselesaikan dengan gaya menulis yang kualitasnya semakin membaik, bukan karena selera baca saya yang sudah bergeser. Memang benar apa yang dibilang oleh kebanyakan orang, memulailah yang sulit, karena setelah itu dia akan mengalir seperti air. Hingga akhirnya saya tidak ragu untuk melanjutkan bacaan pada buku keempatnya –arah langka-. Sial, betapa produktifnya orang ini.

Syukur, banyak hal yang saya pelajari dari sosok anak muda asal Bandung ini. Dia tipe orang yang tidak ingin menjadi Folower, mencipta karya adalah gayanya. Tidak banyak orang yang mengambil jalan pikir ini, dia butuh komitmen dan keteguhan, sama sulitnya dengan menulis atau menjadi penulis. Salah satu kuktipan dalam bukunya yang menarik ‘pertanyaan kerja dimana pada seorang sarjana muda itu mainstrim, yang harusnya ada adalah mau mengerjakan atau mau membuat apa, berinovasi. Memulailah, hanya itu yang paling sulit, sisanya biar alam yang menentukan hasilnya.

***
Hal menarik dari aktifitas menulis adalah proses pengabadian ide, atau realitas dalam bentuk pusaka kata. Ini lebih baik dari pada membiarkannya tertumpuk dalam memori. Bisa jadi, esok atau lusa dia tidak akan jadi ide, hilang entah kemana. Sayangnya, aktifitas ini butuh ketekunan, dia menguras waktu dan tenaga, lebih dari upaya kita untuk mengingat-ngingat. Hanya saja, menurut beberapa penulis, kegiatan ini baik untuk kesehatan, entah dari sudut mana. Saya bukan penulis.

Satu hal yang pasti bahwa, teruslah berbuat sampai kita menemukan alasan untuk tidak menyebut diri sendiri sebagai orang yang “tidak produktif” seperti saya.

Share: