Saya membaca beberapa tulisan dialektis bertemakan Sains, Agama, dan Filsafat antara Goenawan Muhamad, Ulil Absar Abdallah, A.S. Laksana, dkk. Banyak pemikir, Penulis juga tentu pendapat. Hubungan tulisan-tulisan ini sedikit memberi warna cemerlang pada platform facebook belakangan ini.
Sebuah tulisan menarik tetiba muncul dalam perdebatan.
Ialah goresan Gus Ulil.
Sedikit keluar dari tema pembahasan, Ia menyoal tentang
tentang -kemampuan menulis para akademisi kita. “Keluhan saya pada dunia
akademis sekarang, banyak
sarjana kita yang
tidak bisa menulis dengan bahasa akademis yang tetap indah dan
memikat”.
Menurutnya,
harus
ada usaha dari para
dosen untuk mengingatkan para mahasiswa soal bahasa. Tentang pentingnya menulis dengan bahasa yg tertib dan
memikat.
Satu sisi keresan Gus Ulil serupa momok bagi kita yang
ingin belajar menulis. Urusan mengemas tulisan menjadi menarik adalah beban
psikologis yang menyerang beruntun dan berbobot berat. Hantu yang mengintai dan
mengusik kekhusyuan kontemplasi.
Sisi yang lain, kita bisa memaknainya sebagai
muhasabah diri untuk berbenah.
Minat Baca vs Daya Baca
Fakta bahwa masyarakat kita memiliki minat baca yang
tergolong rendah, sedikit-banyak ikut memengaruhi cara kita dalam memaksimalkan
keindahan diksi tulisan. Lumbung kata-kata yang digunakan berasal dari luasnya ladang
bacaan.
Ibarat sebuah aktifitas ngopi dan rokok, membaca
adalah biji kopi dan tembakau itu sendiri. Ia ruh material. Menjadi pusat yang tidak bisa
dihindari oleh seorang penulis, kata Stephen King.
Meski belum ada data terbaru yang merilis tentang
tingkat minat baca masyarakat Indonesia, tetapi penelitian terakhir Central Connecticut State University
(CCSU) bertema World's Most
Literate Nations pada Maret 2016 lalu, merilis hasil yang
mengecewakan. Indonesia berada pada peringkat 62 dari 70 negara yang menjadi
sampel.
Kita boleh berbeda pendapat soal metode, sampling respondent, dan margin
error riset CCSU, tetapi kesimpulan survei tersebut sedikit membuka mata
para pemerhati literasi, bahwa ada pekerjaan rumah yang sedikit rumit untuk
segera diselesaikan.
Cerita ini menjadi penting untuk dibahas. Sebab sepiawai
apapun seseorang dalam memilih kata untuk memperindah tulisan, takkan berarti apa-apa
jika menghadapi pembaca yang memiliki minat baca rendah.
Kita bisa mendalih, bahwa minat baca masyarakat kita kian
hari kian tumbuh, sayangnya kita kembali diperhadapkan masalah lain, soal
ketahanan membaca – daya baca. Daya untuk terus membaca sebuah tulisan sampai
tuntas.
Persoalan ini lebih rumit jika dibanding dengan masalah
minat baca. Ia serupa penyakit yang mengerogoti dari dalam, lebih kompleks dan memerlukan
pengujian dan riset tingkat lanjut.
Anis Baswedan dalam sebuah orasi ilmuahnya pernah
memaparkan panjang lebar soal daya baca vs
minat baca ini. Kita punya bejibun masalah yang harus diselesaikan, dan sampai
di sini, saya sepakat dengan pendangan Gus Ulil, embrio masalah ini harus
dibedah lalu dicincang mulai dari sekolah/kampus.
Sebuah Tulisan
Saya teringat quotes Pramoedya dalam bukunya, “Orang
boleh pandai setinggi langit, tapi selama ia tak menulis, ia akan hilang di
dalam masyarakat dan dari sejarah”. Buku-bukunya adalah buah dari kalimat ini.
Tulisan-tulisan fenomenalnya bertahan dalam ingatan sebagai lembar-lembar
sejarah bagi generasi kita.
Kekuatan tulisan Pram terus relevan pada banyak
situasi bangsa hari ini. Kita merindukan kehadiran sosok sekaliber beliau untuk
mengisi dunia literasi bangsa yang kian merosot.
*
Di tengah kesibukan menyelesaikan tulisan ini,
perhatian saya tertuju pada sekelompok gamers
yang sedang me-lanskap-kan gadgetnya di pojok warung kopi.
Saya berfikir, seandainya tulisan-tulisan dalam laman qureta.com dibaca habis oleh mereka,
mungkin tak akan ada keriuhan berisi umpatan pada teman samping kiri-kanannya; bocah, tolol, newcomers.
Goenawan Muhamad, Ulil Absar Abdallah, A.S. Laksana,
mungkin selalu memiliki catatan pinggir pada web/laman pribadinya
masing-masing. Tapi sejauh apa tulisan-tulisan itu menarik minat pembaca cluster gamers di pojok warkop, atau
bahkan ibu-ibu rumah tangga yang gemar menggosip di sepanjang jalan menuju
medan arisan.
Tulisan dialektis Goenawan dkk, bisajadi hanya menarik
bagi kalangan pembaca tertentu. Yaitu mereka yang sedang haus-hausnya belajar
filsafat, dan permbahasan panjang tentang agama vs sains.
“Sekolah tinggi” yang dimaksud Pram pada quotes di
atas harusnya dimaknai luas. Serupa ulasan Gus Ulil pada tulisan berjudul “Berani
Memasak Gagasan Sendiri”.
Bagaimana para penulis handal dapat mengemas tulisan
berat bertema filsafat, sains, atau agama dalam bahasa yang sederhana tapi
tetap indah dan menarik. Seperti Pram yang mendeskripsi sejarah dalam sebuah
novel.
Bermodal sekolah tinggi lalu mengolah gagasan-gagasan
rumit untuk disajikan sesederhana mungkin agar bisa dinikmati oleh banyak
kalanganan dan kalangan manapun.
Memang, pandangan Gus Ulil tentang “memasak gagasan
sendiri” menyoal kebiasaan kita yang cenderung lebih sering mengutip pendangan filsuf
barat ketimbang filsuf timur atau pandangan-pandangan tokoh nasional. Persoalan
ini juga menjadi catatan baru yang butuh ulasan lain.
Tidak banyak penulis seperti Pram. Kita seolah tidak
pernah ragu membahas karyanya pada kalangan manapun. Hampir setiap kawan bicara
kita memberi feedback ketika menyebut
Arus Balik, di bumi manusia
Indonesia.
Atau seperti penulis Filsafat bergendre novel Jostein
Gaarder. Pada buku-bukunya, kita bebas berfilsafat dimana, kapan dan pada siapa
saja.
*
Menemukan gaya tulisan untuk mengakomodir pembaca dari
kalangan manapun, tidak hanya membutuhkan keindahan bahasa dan kata. Jauh dari
itu, ia membutuhkan ramuan “rempah dan bumbu” yang khas dan identik dengan
suasana kebatinan masyarakat pembaca. Mungkinkah?
Minat baca dan tulisan baik, seperti lingkaran yang
saling mendahului. Membaca untuk bisa menulis dengan baik atau menulis dengan
baik agar bisa menarik minat baca. Mana yang mendahului yang mana?
