Rabu, 30 April 2014

Surat Cinta Buat SBY

Surat Cinta ke 3 (terakhir) Untuk Sang Presiden[1]
Refleksi Sampang & Hukum Sejarah

Surat cinta ketiga sekaligus yang terakhir ini InsyaAllah akan dihadirkan dalam sebuah buku berjudul : Presiden SBY & Syiah Sampang : Kisah Harapan yang Terbengkalai.

Sebuah kumpulan tulisan catatan atas Lemahnya Negara /Tidak hadirnya negara membela hak pengungsi Sampang Semoga generasi mendatang melihat bagaimana kekuasaan politik telah menggerogoti rasa kemanusiaan yang sangat sensitif jika dirinya disinggung tetapi tampak biasa saja ketika martabat bangsa disadap oleh kepentingan internasional dan kelompok agama yang memaksakan kehendaknya.

Wahai Sang Presiden, tengoklah duka mereka, sebentar lagi duka itu akan membawa pesan pada kehidupan Anda setelah 2014 Semoga sejarah tidak menghukum Anda, karena kami yakin itikad baik Anda, tetapi semua aparatus negara ada dalam kendali Anda, semoga Anda tidak gagal membaca arah dari aparatus Anda yang mungkin bergerak atas arahan Anda tetapi menggunting dalam lipatan, wajahnya tampak utuh di depan Anda tetapi terbelah ketika berada di belakang Anda Karena bisa jadi mereka tahu bahwa arahan Anda TIDAK TERARAH sehingga bisa diarahkan dalam kepentingan aparatus Anda.

Aparat ini wajahnya memang menghadap kebelakang, lisan kebijaksanaan dan kecendekiawanan tidak menjadi jaminan bahwa di situ tidak ada ego dan watak intelektual yang arogan, karena tampaknya intelektual kita adalah semata kesarjanaan yang penuh gelar akademik bukan tradisi yang bercawan kebijakan

Buku ini bukan ulasan teologis, semata-mata untuk mendokumentasikan kepongahan negara lewat kepemimpinan yang lemah dan jiwa yang tersanjung oleh pujian, tersakiti oleh hinaan yang mungkin tampak hidup dengan hanya urusan menyapa pujian dan mengklarifikasi hinaan

Wahai Sang Presiden berhentilah sejenak bicara demokrasi yang Anda banggakan, karena kami tidak bisa membanggakan demokrasi Anda tanpa perhatian sepenuhnya untuk menuntaskan masalah kemanusiaan. Ini bukan sunni, bukan Syiah, ini bukan partai D, atau Partai bukan D, ini masalah MANUSIA YANG TERANIAYA, ini MANUSIA YANG TERHINAkan oleh bangsanya sendiri, masih adakah Anda bersama negara yang Anda pimpin...
  
A.m.Safwan
(Madrasah Murtadha Muthahhari RausyanFikr Institute)






[1] Tulisan ini dikopy pada postingan akun facebook anonym RousyanFikr Institute. Dengan tidak bermaksud untuk mengklaim atau semacamnya, hanya ingin berbagi tulisan yang menurut Lss baik untuk diketahui oleh banyak pihak. Semoga dengan ini Lss tidak terkategori sebagai Plagiator.
Share:

Senin, 28 April 2014

Si Manis (semakin) Misterius

Akhirnya kondisi semakin mengafirmasi keadaan. Tentang sebuah kebutuhan yang tak-kan mampu tergambar dalam bentuk teks basi. Tentang sebuah rasa yang tidak terakomodir secara pasti namun tetap tergambar bahkan sangat jelas. Semoga ini adalah hal yang biasa, seminimalnya ‘biasa’ untuk para pemilik rasa.

Akhirnya, sampailah pada kondisi yang entah mau dinamai dengan apa. Kebanyakan dari asumsi awal, kondisi ini semestinya tidak masuk dalam hitungan. Kondisi dimana sebagian orang tidak mampu mengilustrasikannya dalam sebuah istilah. Aku bahkan kehabisan kata untuk memberi nama rasa yang muncul entah dari dan oleh apa. Satu hal yang pasti bahwa, ketidak hadiran-mu menjadi tersangka dalam kasus ini.

Jika anda harus memberinya Istilah, istilah apa yang mampu mewakili ilustrasi ini ??

Apapun, semoga istilah itu memiliki makna yang sama dengan apa yang sedang saya pikirkan. Dan apapun itu, senang rasanya bisa mengajak-mu untuk berani menebak dan menguak tabir rasa orang yang sedang mengagumi-mu. Semoga kelancanganku atas segala hal dalam rasa ini mendapat maaf. Sebab rasa adalah pengetahuan apriori yang berpotensi muncul ketika terpicu. Dan jika alasan pembenar itu benar, maka semestinya anda akan mengenali rasa ini.

Semoga Misterius-nya tak terdengar seram dan Manis-nya tak terdengar berlebihan. Karena jika itu benar, maka sesungguhnya aku sedang Merindu.

Oleh : La Said Sabiq
On Fakultas Hukum Unhas
Share:

Selasa, 22 April 2014

Budaya Dalam Globalisasi


Manusia dan segala atribut yang melekat padanya menjadikannya sebagai makhluk sosial yang unik. Relasi sosial yang terjadi membuat manusia menjadi semakin terlihat antik dengan segala konsep yang dimilikinya dalam mengejewantahkan relasi yang ada. Konsekuensi dari persamaan (Simbolik) dengan manusia lainnya menciptakan keragaman konsep fisi/misi dan tujuan yang sangat menarik untuk sedikit diperbincangkan. Aku bukan seorang yang sekaliber Max weber yang sedang berbicara tentang relasi sosial yang begitu konprehensif dan universal, bukan pula seseorang perokok aktif yang duduk termenung membangun konsep dan menganalisis masalah kesenjangan relasi sosial Ala Karl Marx, atau seperti ayyatulah Mulla Sadra yang mengakaji secara mendetail tentang Hakikat kemanusian hingga mampu mendekati Maqam[1] yang tak ber-Maqam (Nabi Muhammad SAW). ini hanya sedikit goresan tentang keresahan yang mungkin sedikit berlebihan dalam menanggapi kondisi dan fenomena sosial yang ada disekitarku.

Kemajuan peradaban dan kehidupan tentu akan berkorelasi dengan gaya hidup masyarakat, semestinya sebagai sebuah konsekuensi dari globalisasi dan perkembangan ilmu pengetahuan yang terus pesat akan memberikan pola paradigma berfikir yang juga semakin modern, lantas bagaimana dengan kondisi disekitar anda, atau bahkan dengan diri anda (tentu termasuk penulis). Sejauhmana perkembangan peradaban memberikan efek terhadap paradigma berfikir kita secara khusus, dan bagaimana dengan sosial pada umumnya ?? Dan sekali lagi bahwa hal ini mungkin akan sedikit asyik untuk diperbincangkan.

Revolusi budaya tanpa subjek adalah mustahil dan evolusi budaya subjek tanpa objek adalah Nihil (Dony Gahral Adian – Percik Pemikiran kontemporer, 2007), Kurang lebih seperti itulah gambaran tentang hubungan antara lingkungan/sosial dan manusia itu sendiri. Dewasa ini kita akan lebih sering dihadapkan pada satu pemanandangan sosial yang sedikit berbeda dari beberapa saat belakangan, halmana sudah menjadi opini mayoritas sebagai akibat dari  persamaan persepsi atas perubahan sikap dan perilaku yang dipengaruhi oleh perkembangan peradaban. Hal yang menjadi soal kemudian adalah apakah pemandangan itu memberikan dampak baik bagi kehidupan sosial maupun individu atau malah sebaliknya, memberikan dampak yang berimplikasi lansung pada pudarnya nilai-nilai kemanusiaan itu sendiri.

Perkembangan dunia yang semakin kapitalistik, membuat segalanya ternilai hanya sebatas materi. Aspek apapun itu akan bernilai dan diakui oleh khalayak jika memiliki nilai tukar dalam bentuk uang. Hingga akhirnya segalanya dikonstruksi menjadi barang komoditi yang siap untuk dihempaskan ke pasar bebas. Konsekuensi yang lain kemudian mencuak, hal apa saja yang menjadi penghalang dalam upaya ini akan disingkirkan dengan cara apapun. Mencipta bentuk baru yang serupa dengan kondisi sosial, membuat dunia seperti cermin dengan kenyataan/kebudayaan yang ada, sebagai upaya untuk menyaingi eksistensi sosial itu sendiri, yang dinilai dapat menghambat tumbuh dan berkembangnya nilai-nilai kapitalistik tadi.

Budaya Sebagai Identitas.
Budaya merupakan identitas bagi keberadaan suatu komunitas sosial. Secara kongkrit, beberapa daerah di Indonesia dikenal karena memiliki ciri kebudayaan yang berbeda dengan daerah yang lainnya. Keberadaan budaya, terjaganya nilai-nilai lokal dalam kemurniannya, secara lansung akan menjaga nilai-nilai dalam kehidupan sosial masyarakat dan keberadaan kebudayaan itu sendiri. Budaya sebagai unsur yang terbangun dari keberadaan masyarakat adalah manifestasi sosial dalam bentuk yang abstrak, perilaku yang dilakukan berulang-ulang kemudian menjadi kebiasaan, selanjutnya mendapat pengakuan hingga akhirnya kebiasaan tersebut mengalami sakralisasi oleh norma dan kaidah yang dibentuk dalam masyarakat itu sendiri.

Tentu selama kebudayaan tersebut tetap terjaga dalam masyarakat, maka selama itu pula masyarakat tersebut akan dikenal dengan kebudayaan yang dimilikinya. Secara kongkrit dalam realitas objektif, keberadaan masyarakat akan tetap ada (jika tidak mengalami kepunahan atau pemusnahan massal) dalam kondisi dan perubahan apapun, tetapi dalam realitas objektif konsep keberadaan/identitas masyarakat tersebut bisa hilang/musnah ketika kita tidak lagi menemukan hal yang dulunya mencirikan keberadaan mereka.

Budaya Sebagai Penjaga.
Perkembangan dunia dapat dianalogikan bagai “Sebuah mobil besar melewati seluruh ruas jalan”, dimana Mobil adalah mesin perubahan dan ruas jalan adalah dunia. Dimana segala aktifitas social terjadi dalam ruas jalan tersebut. Melawan perubahan secara “kontradiktif” akan membuat kita berakhir pada gilasan roda mobil tersebut, pilihan realistis adalah mengikuti perkembangan tersebut. Konsekuensi dari perkembangan tersebut adalah masuknya nilai-nilai baru dalam sendi kehidupan kita. Tentu kita juga tidak menginginkan, perubahan tersebut membuat kita kehilangan identitas dan jati diri.

Jika nilai yang ada tetap terjaga dalam murninya, maka segala “hal baru” akan dinilai dengan sangat konprehensif dari berbagai aspek untuk mendapatkan kesimpulan yang objektif. Tentu kita tidak menginginkan adanya Status quo dalam realitas sosial tersebut, tetapi menyikapi hal baru secara objektif dengan berlandas pada nilai budaya yang ada, bisa menjadi pilihan yang sangat bijak. Bahwa faktas social yang menunjukan masuknya berbagai nilai dari setiap belahan dunia, yang berpotensi untuk memengaruhi setiap sendi kehidupan kultur tidak dapat dihindari. Maka hadapilah !

Sekali lagi, Tentu kita juga tidak menginginkan, perubahan tersebut membuat kita kehilangan identitas dan jati diri.

***
Akan tidak bernilai jika motifasi fundamental yang terbangun diantara kita adalah menjaga nilai dengan jalan menutup diri terhadap perubahan dan perkembangan (Status quo). Perubahan merupakan sesuatu yang niscaya, jika hal tersebut tidak tersikapi sebagai mana mestinya, maka ketertinggalan yang membawa kita pada kehancuran adalah muaranya.


Pondok Irmayanti, 29 Mei 2013.
Pukul 23.43 Wita





[1] Tingkat Spritual yang paling tinggi
Share:

Pendidikan di Indonesia (Negasi)


Sistem Pendidikan hari ini sudah tidak lagi mencerdaskan kehidupan bangsa, tidak lagi membantu memanusiakan manusia, sistem ini malah telah mengantar kita untuk mendegradasi nilai-nilai kemanuisaan kita. Ujung tombak sarana pencipta generasi telah dikotori oleh tangan-tangan nakal yang tidak berperikemanusiaan.

Buahnya adalah manusia-manusia yang bonsai, berjiwa kerdil dan mudah dibeli, tak punya rasa malu apalagi harga diri, tak menyadari ketelanjangan karena buta pikiran dan buta nurani. membunuh kreativitas dan daya cipta kaum muda, yang pada gilirannya melahirkan angkatan kerja baru yang bermental budak, yang tentu saja tidak dapat diharapkan menjadi produktif kecuali menjadi parasit, atau bahkan kanker, bagi masyarakat dilingkungan kerjanya.

Berita media massa semakin hari semakin mengaburkan makna pendidikan. Pendidikan hari ini telah kehilangan ruh, pendidikan telah kehilangan peran vital dalam melakukan transformasi sosial. Isu terkini soal pendidikan adalah terdapatnya nama seorang tokoh (yang tidak semestinya) dalam soal ujian Nasional. Pendidikan telah dirasuki oleh “iblis-iblis” yang berkerudung malaikat, lantas apa yang bisa kita harapkan dengan system yang sedang dikerumuni oleh orang-orang bermental “Binat*** -ahh sudahlaah-. Institusi pendidikan yang seharusnya memanusiakan manusia, justru malah memberi contoh yang tidak manusiawi. Institusi pendidikan yang diharapkan menjadi sarana untuk menciptakan generasi dengan moral yang berkolerasi dengan prestasi, kini dibuat semakin rumit berlandas hasrat kepentingan individualis. Belum lagi dengan persoalan a-susila yang belakangan marak terjadi dibeberapa institusi pendidikan. Semestinya dengan ini, kesimpulan kecilnya adalah pemerintah saat ini telah in-konstitusional dalam menjalankan tugasnya dibidang pendidikan.

Hal lainnya, sadar atau tidak pendidikan di Indonesia sudah menjadi barang komoditi dan barang tentu tak layak lagi untuk dijadikan sandaran utama. Komersialisasi pendidikan yang benar-benar diskriminasi untuk orang yang tidak mampuh. Memperoleh pendidikan bukan lagi hak setiap warga masyarakat di Negeri ini. Jika anda ingin saya sedikit menceritakan soal system pendidikan dalam Kampus anda (Versi Cua: Penjara Kenyamanan) maka kita akan butuh judul dan pembahasan serta postingan baru dilain waktu. Yang jelas teman diskusi saya dari Jerman Martin Heiddegger (1889-1976) namanya, dalam kumpulan kertas yang biasa dibilang buku “Menyoal Objekfitas Ilmu Pengetahuan” pernah mengatakan bahwa, Dunia pendidikan (Kampus) hari ini tidak lagi menciptakan para “Peneliti”, tetapi hanya menjadi mesin yang terus melahirkan para “Pekerja”.

Menggugah kesadaran dengan mencoba menceritakan tentang kebobrokan pemerintah dan mengirim salam kata-kata kotor untuk para penguasa bejat adalah hal yang sedikit basi buatku, pilihan alternatif adalah milik anda, aku hanya mencoba memberimu sedikit inspirasi untuk bertindak, atau seminimalnya adalah alasan pembenar semata. Salam !!

Gazebo Fakultas Hukum Unhas. 20/04/2014

Dalam 15.27 Wita (Waktu yang di Leptopta)
Share:

Paradigma TOA Revolusi


Menjadi sesuatu yang tidak bisa dinafihkan, bahwa perkembangan peradaban dunia dan globalisasi dewasa ini telah menyentuh seluruh dimensi kehidupan. Kemajuan teknologi, kebebasan akses informasi, dan terus bertambah pesatnya kebutuhan hidup adalah contoh kongkrit dari efek globalisasi. Dengan tidak menjustifikasi dan dalam perspektif dangkal apa yang saya ketahui, bahwa globalisasi adalah sebuah keniscayaan dan seperti itulah bunyinya. Sebagai konsekuensi dari sebuah keniscayaan, jika anda tidak mampu mengikuti perkembangannya, maka akan tergilas habis oleh zaman. Globalisasi yang dimaksud oleh penulis adalah globalisasi dalam pandangan umum yang komprehensif dan tidak terpatok pada definisi globalisasi yang telah terkonvensionalkan, secara sederhana yang dimaksud adalah segala relasi sosial yang ada dalam sebuah peradaban kemanusiaan yang bergerak progresif.

Secara gamblang globalisasi semestinya membawa dampak positif bagi perkembangan hidup dan kehidupan, lebih kongkrit terhadap mahasiswa, kaitannya dengan dunia pergerakan. Akses informasi yang mudah, perolehan kebutuhan yang simple semestinya akan lebih membantu dalam menemukan dan menentukan metode pergerakan, tetapi hal apa yang kemudian membuat dunia pergerakan hari ini terkesan surut padam bahkan berada diambang kematian, jika dibandingkan dengan generasi sebelumnya yang notabene banyak memiliki keterbatasan akses informasi seperti sekarang ini.

Terkenang sejenak romantisme masa lalu ketika para mahasiswa menjatuhkan rezim Suharto yang diktator (1998), gemuruh suara mahasiswa yang mengumandangkan slogan kulturnya dan sesekali terselip sebuah sumpah dari mahasiswa, terpadu menjadi satu garis komando, dari Sabang sampai Merauke satu suara yaitu revolusi, akhirnya berhasil membuat Suharto turun dari tahtanya.  Pemandangan yang sangat menggugah rasa para generasi aktifis kontemporer dan para pembela kepentingan kaum-kaum yang termarjinalkan. 

Seperti kata pepatah, semua generasi ada masanya dan semua masa ada generasinya. Aktifis 1998 dan tahun jauh sebelumnya, bersatu melawan satu musuh yang jelas yaitu pemerintahan yang sewenang-wenang, diktator dan korup. Dengan komando tak tercerai, serta simpul kesadaran yang mampu teridentifikasi dengan baik. Kesadaran akan masalah yang melanda membuat civitas kampus seakan mewajibkan semua generasi turun kejalan untuk memberikan kelas Privat kepada penguasa (Perlawanan). Sekali lagi suasana yang sangat dirindukan oleh para generasi aktifis pembela kepentingan kaum yang termarjinalkan. Lantas bagaimana dengan pergerakan mahasiswa kontemporer, bagaimana dengan kesatuan komando, dan hal apa yang kemudian menjadi musuh bersama para kaum yang dilabeli intelektual ini ??

Badan Hukum Pendidikan (BHP), Kenaikan Bahan Bakar Minyak (BBM), Kasus korupsi, dan sebagainya Adalah Sederetan isu nasional yang mewarnai sedikit pergerakan mahasiswa kontemporer. TOA hari ini ter-suak-kan akan hal itu, jalan macet, dan sesekali Polisi VS Mahasiswa juga terjadi karena hal ini. dalam dunia pergerakan, mungkin tidak terlalu berlebihan jika saya menyebutnya sebuah kewajaran. Dalam perspektif lain ada hal menarik yang terjadi dalam dunia kemahasiswaan saat ini, jika di tahun 1998 terkesan civitas kampus mewajibkan semua generasi untuk melantangkan suara perlawanan (Simpul Ideologi), maka saat ini suara-suara itu kini semakin parau bahkan surut tak beralasan kongkrit, para pendidik penguasa kini telah kehilangan roh kesadaran, Aktifitas perlawanan-perlawanan kini berganti menjadi komunitas-komunitas mahasiswa yang pragmatis, opurtunis dan bahkan telah sampai pada fase apatis. Fungsi mahasiswa yang selalu dikumandangkan dan terus menjadi kebanggaan tersendiri bagi para mahasiswa, kini seakan telah menjadi dongeng yang terkonstruk dari romantisme masa lalu. simpul kesadaran terhadap kaum-kaum yang termarjinalkan kini semakin memudar pada kaum yang dilabeli Intelektual ini.

Saya ingin mengajak anda turun tahta, menengok kebawah dan melihat realitas yang lebih kongkrit, ada dan dekat bahkan sangat dekat dengan kita semua. Bukan menyisihkan, tetapi tangguhkan suaramu untuk membangkitkan suara kawan-mu yang semakin hilang terkekang oleh kekerasan dan penindasan “orang tua anda sendiri” (Akademik). Sebut saja misalnya sederet kasus yang terus melanda dan mengisolasi perlawanan kawan-kawan UNHAS belakangan ini. Beberapa saat yang lalu salah seorang kawan (Fakultas Sastra) harus mengikuti proses Komite disiplin Universitas yang proses beracaranya entah berasal dari aturan “bejat” mana. Negosiasi yang dilakukan layaknya seorang anak terhadap orang tuanya sendiri, dibalas dengan sanksi skors tak beralasan. Miris ketika melihat baris aksi perlawanan mampu dihitung jari. Sekali lagi, suara yang semakin parau itu bahkan kini telah surut tak beralasan kongkit, simpul itu kini telah tercerai-berai, terus terombang-ambing dalam dongeng yang terpasung dalam romantisme masa lalu.

Bukan apatis, tapi ingin yang lebih kongkrit !!!

--- Anda Akan Memberi, Jika Anda Memiliki --- Realitas sosial yang semakin mengisolasi keadilan dan menumbuh kembangkan penindasan, pengisapan manusia oleh manusia, semakin merajalela akibat tangan-tangan nakal tak bertanggungjawab, dosa sosial jika anda mengetahui dan tidak bereaksi terhadap hal ini. Bukan apatis, tapi ingin yang lebih kongkrit. Masalah selanjutnya adalah bagaimana anda bisa memperjuangkan masyarakat sebagai agen perubah atau pengontrol sosial (atau persetan dengan apa namanya !!) jika kondisi internal anda sedang dipora-porandakan oleh tangan-tangan nakal lainnya ???

Bangkit dan melawan adalah pilihan, Bangkit dan melawan adalah pilihan & Bangkit dan melawan adalah pilihan. Setiap pilihan pasti berkorelasi dengan konsekuensinya masing-masing. Selamat datang diambang ketidak pastian, selamat menikmati nuansa jagat diri yang semakin buram. Jika anda ragu, konsep tandingan adalah solusi-nya.

Irmayanti pondok. Rabu, 22/04/2014
Dalam 00:28 Wita 



Share:

Selasa, 15 April 2014

Kolom Politik (Penyadapan)

 

Kolom politik kompas : Intelijen dan Korupsi (Oleh Budiarto Shambazy). Tulisan menarik untuk kesekian kalinya, dihadirkan oleh kolom Politik Kompas. Ulasan pengembangan tulisan yang singkat dan sederhana. semoga bisa dibaca.

Membahas tentang kasus penyadapan telepon presiden, kasus yg sama pernah terjadi oleh AS terhadap Negara yg gampang disadap ini. beberapa dari kita (masyarakat) mungkin tdak terlalu perduli. simple, karena tidak ada urusannya secara lansung dengan perut. Saya tidak memiliki legitimasi yg cukup kuat untuk mengomentari soal apatisme yg menggerogoti kita dalam kondisi negara yang terkesan sedang tidak berpihak pada masyarakat.

Entahtahlah, sampai kapan para birokrasi yg hebat menyadari bahwa ini bukan hal kebetulan, kecuali sebuah aktifitas tersistematis untuk menguasai apa ! (Waulahuallam). Sederhananya, Hindia Belanda saat ini terkesan bukan milik kita lagi. 1998 Reformasi (Runtuhnya Orde Baru), serentak menenggelamkan kita dalam romantisme kegemilangan para massa demonstran yang mampu menghadirkan Reformasi, yang bahkan kemurniannya masih perlu untuk dipertanyakan.

Kembali soal penyadapan, " Intelijen negara lain " sedang merajalela Pak SBY, Mereka memanfaatkan moment menggerogoti negerimu yg sedang sibuk dalam kesedihannya meratapi masyarakat yang semakin hari semakin kehilangan prinsip-prinsip kemanusiaannya. Kesibukan yg lain tentunya masih diratapinya, mencari solusi kecil buat birokasinya yang SANGAT KORUP dan Hina. Dari strata struktur nasional sampai pada struktur daerah, aktifitas yg tersistematis dan massif dengan keji terus dilakukan tanpa belaskasih. Pasca-Reformasi negara kita berubah wujud menjadi sangat kerdil dan rapuh, penerapan sistem kemudian ikut rapuh yang disusul dengan melahirkan banyak generasi yg sangat kerdil dan juga terus rapuh. Perilaku Korupsi yang massif, terkesan di Amin-kan oleh sistem, semua kalangan memulainya dengan perlahan tapi pasti, siapa yang pantas dan berhak menghakimi ini semua, apakah diantara kita generasi yang kerdil ini !? Entahlah ...

Ketika negara kita dalam kondisi lemah dan sedang dilumpuhkan oleh perilaku korupsi, Intelijen beberapa negara berbondong masuk dan mengobrak-abrik semuanya. sumber daya alam, sumber daya manusia, dan sebagainya menjadi sasaran empuk bagi mereka, Kepada siapa semestinya ini kusampaikan, kepada siapa semestinya kami bersandar ?? bukankah Para Nabi mengatakan bahwa "Imam" kami dimasa ini adalah pemerintah ?? siapa sebenarnya yang dimaksudkan oleh para Nabi yang bijak ??

Atau mungkin, Imam kami saat ini hanya memperlihatkan diri pada satu sisi. Yang mana sisi lain, yang sedang tersembunyi (Dimana kabaikan dan kabajikan tertumpu) masih mempersiapkan diri untuk memuliahkan kami. Kami menanti, dan saya percaya bahwa kebaikan itu masih ada pada Imam kami.


Hanya Sebuah Celoteh Malam
Pondok Irmayanti. 24 November 2013. Pukul 23.33 Wita


Share:

Senin, 14 April 2014

Analisis Solusi Konsumerisme


Sebagai sebuah fenomena sosial, konsumerisme menunjuk kepada gaya hidup yang mengukur kebahagiaan dari sisi kepemilikan barang tertentu, gaya hidup hedonis membentuk pola hidup yang aktivitasnya lebih cenderung untuk mencari kesenangan hidup seperti senang membeli barang mahal yang disenanginya, dan selalu ingin menjadi pusat perhatian, mental seperti ini akan membentuk paradigma konsumtif dan pragmatis. Akibatnya segala sesuatu yang serba instan menjadi sasaran yang paling digemari. Dalam ranah masyarakat konsumer, hasrat direproduksi lewat ide-ide yang terbentuk lewat proses sosial. Jean Baudrillard (1929-1990) misalnya melihat bahwa struktur nilai yang tercipta secara diskursif menentukan kehadiran hasrat. Struktur nilai dalam realitas masyarakat konsumer ini menurutnya mengejawantah dalam kode-kode. Produksi tidak lagi menciptakan materi sebagai objek eksternal, produksi menciptakan materi sebagai kode-kode yang menstimulasi kebutuhan atau hasrat sebagai objek internal konsumsi[1].

Dalam pandangan Sigmund Freud 1856-1939) hasrat untuk mengonsumsi secara mendasar adalah sesuatu yang bersifat instingtual. Ia berada dalam fase pertama perkembangan struktur psikis manusia: yaitu Oral (id). Pada fase id ini semua tindakan mengacu atau didasari oleh prinsip kesenangan-kesenangan yang bersifat spontan. Adalah jelas bahwa tindakan untuk mencapai kepuasan dan kesenangan spontan ini dalam fase id bersifat irasional. Mengkonsumsi pada awalnya terkait dengan tindakan menggapai kepuasan secara irasional, spontan dan temporal.[2]

Pandangan lainnya terkaid dengan bagaimana hegemoni media massa mempengaruhi peradigma, Menurut Thomas kuhn (1922-1996) konsep  paradigma adalah hasil konstruksi sosial. Teori atau kerangka konseptual ikut andil dalam pembentukan semesta[3]. Keadaan yang menjadi objek dan kerangka berfikir manusia yang menjadi subjek dalam perkembangan budaya dengan gampang dikonstruksi oleh media menuju bentuk yang memastikan masyarakat menjadi konsumtif. Apabila kita perhatikan bagaimana mekanisme promosi kapitalistik ini, bahwa dasarnya adalah penyempitan wawasan kita pada satu nilai, yaitu pemenuhan hasrat diri yang tak berujung. Industry mensugestikan bahwa kita berhak atas perasaan yang well, berhak atas kebahagiaan pribadi, lalu kita di manipulasi menjadi egosentrik, bahkan egois.

Dari analisis diatas dapat dikatakan bahwa, perubahan kebudayaan tidak hanya berbicara masalah subjek (Masyarakat) semata, tetapi juga objek yang menjadi ladang tumbuh dan berkembangnya subjek. Berangkat dari pemikirin ini, maka penulis menggap solusi harus hadir dalam dua dimensi tersebut. Pada dimensi subjek, dalam hal ini masyarakat yaitu :

Simpul kesadaran tentang sebuah prinsip paradigma Intelektual. Manusia (Subjek) adalah satu-satunya makhluk yang mampu mengambil jarak dengan stimulan-stimulan yang sifatnya fisik dan mengolahnya dalam susbtratum simbolik untuk kemudian mengahasilkan simbol-simbol baru.[4] Semestinya masyarakat tidak menjadi subjek yang gamblang untuk terprofokasi oleh media, masyarakat sebagai animal simbolicum (Makhluk simbolik) seharusnya memiliki konsep mandiri untuk menentang kosep lain yang mendeterminasinya lewat daya atau stimulan eksternal. Tentu simpul kesadaran intelektual adalah hal dibutuhkan, agar dapat mengolah kebutuhan hidup dan menyikapi hasrat yang tidak berlebihan.

Persoalan hasrat, manusia jelas dan pasti dapat mengetahui keberadaan dirinya, bahwa berdasarkan fitrahnya, ia menginginkan kenikmatan dan kesenangan (kelezatan), kedammaian dan kebahagiaan. Berusa menghindari kesengsaraan dan kegetiran.[5] Konsumerisme mangarahkan hasrat kenikmatan pada barang-barang mewah hasil produksi (Fisik-Materi). Hasrat yang lahir berdasarkan persepsi indrawi adalah hasrat yang tidak hakiki, persepsi yang ada pada diri manusia masih mempunyai kekurangan dan belum cukup untuk memuaskan tendensi fitri dan instingtif dalam mengenali dan menyingkap beragam hakikat.[6]

Pertama, hasrat ini hanya berkaitan dengan dari fenomena objek yang terindrai dan perkara yang hanya merupakan aksiden dan tidak dapat meliputi semua kualitas. Kedua, bidang kerja indrawi hanya terbatas pada kondisi tertentu, akibatnya tidak dapat mengahdirkan makna objek secara sempurnah.[7]

Oleh karena itu selayaknya kita memfokuskan perhatian pada hasrat-hasrat dan tendensi dengan penuh ketelitian, daya kritis yang tinggi, kesabaran dan ketabahan dengan merenungkan dan menghindarkan diri penghukuman “asal jadi”, sehingga tidak tidak memunculkan pandangan tergesah-gesah yang pada gilirannya mengarahkan kita pada kenikmatan yang manipulatif, karena pada dasarnya hasrat yang terbentuk dari materi yang terbatas hanya akan melahirkan hasrat kenikmatan partikular yang tidak akan ada habisnya serta tidak hakiki. seperti kenikmatan yang dihadirkan oleh paham Konsumerisme.



[1] Jean Baudrillard, Marxime dan Agama, hlm 5
[2] Sigmund freud, Percik Pemikiran Kotemporer, Psiko analisis. Hlm 10
[3] Thomas kuhn, Menyoal objektifisme ilmu pengetahuan, paradigma kontruktivis, hlm 143
[4] Ernst Cassirer, Percik pemikiran kontemporer, filsafat budaya hlm 186
[5] M.T. Mishbah Yazdi, jagad diri, hlm 49
[6] Ibid, hlm 34
[7] Ibid, hlm 35


Share:

Budaya Konsumerisme


Kebudayaan dewasa ini telah dipengaruhi oleh demikin pesatnya perkembangan masyarakat dunia, dan masyarakat sadar akan hal tersebut. Kesadaran itulah yang semestinya menjadi sebuah simpul untuk membangun reaksi kritis terhadap semua keadaan yang mempengaruhi kebudayaan, sehingga kita dapat memberikan penilaian pada segala unsur kebudayaan yang terbangun. Sebuah keseharusan substansi kebudayaan terus terjaga kemurniannya dari kontaminasi kebudayaan lain yang tidak sejalan dengan ideologi penganut kebudayaan dan kearifan lokal, sebagai akibat dari liberalisasi dan globalisasi. 

Pemikiran tentang kebudayaan selalu dihadapkan pada polemik dimensi mana yang lebih menentukan, dimensi sukjek (kesadaran) atau dimensi objek (Realitas).  Hal tersebut merupakan dua hal yang terus diperbincangkan oleh para pemikir-pemikir kontemporer. -Reformasi budaya tanpa subjek adalah mustahil, karena setiap perubahan kolektif membutuhkan atau menuntut terlebih dahulu adanya ruang gerak subjek sebagai dimensi yang menjalankan dan menjaga kebudayaan.
[1] Subjek dalam hal ini adalah masyarakat memang sangat mempengaruhi tentang tumbuh kembangnya sebuah kebudayaan, tanpa menafikan tentang realitas (Objek). kondisi dan aktifitas masyarakat merupakan  cerminan konsep kebudayaan yang terbangun, masyarakat yang merupakan sekolompok atau komunitas yang terjalin karena sistem, dan tradisi tertentu,[2]memiliki tugas dan tanggung jawab yang diemban untuk tetap menjaga agar semua unsur yang memagari eksistensi kemasyarakatan dalam bingkai kebudayaan yang dimilikinya tetap terjaga.
Perkembangan kehidupan masyarakat yang terkontaminasi secara gamblang oleh kehidupan masyarakat dunia (Globalisasi), dapat memberi efek yang tidak baik dalam perkembangan kebudayaan yang ada. Kebebasan yang terjadi dan kurangnya daya kritis bisa menjadi pemicu terjadinya interpolasi dalam perkembangan kebudayaan. Salah satu efek dari kebebasan dan globalisasi adalah pesatnya kebutuhan hidup Sehingga memicu daya konsumen yang tinggi untuk memenuhi kebutuhan, namun terkadang kenyataanya, masyarakat mengonsumsi sesuatu bukan dari segi fungsionalnya melainkan tren yang sedang berkembang. Terpojok oleh kebutuhan hidup menjadikannya masyarakat yang konsumtif yang tidak kritis. Produk yang dikemas dalam bahasa pasar kapitalisme membutahkan kesadaran yang berefek pada lahirnya paham yang tidak sesuai dengan substansi budaya yang dimilikinya. Akhirnya, tidak jarang pada kondisi kekinian kita temukan masyarakat pribumi lebih identik dengan kebudayaan lain.

Disisi lain, konsumsi memang bersifat mutlak. Keberlangsungan hidup manusia tidak bisa terlepas dari asupan pangan yang mereka nikmati. Peningkatan intensitas kebutuhan komoditas konsumsi secara rasio memang berkorelasi positif dengan pertumbuhan jumlah manusia. Tetapi pada perkembangannya kini, manusia terjebak pada kompleksitas ragam komoditi yang hendak (secara sadar atau tidak) mereka konsumsi. Hal ini tentunya tidak terlepas dari konstruksi sosial yang dibangun massa di dalam lingkungan manusia itu sendiri. Ada implikasi yang kurang baik bagi manusia kaitannya dengan hal ini, berupa perubahan budaya dan pergeseran makna budaya yang ada dalam kultur masyarakat, salah satunya adalah budaya konsumtif terhadap benda (material culture), apalagi sampai pada tingkatan yang memunculkan paham konsumerisme.

Keterasingan gerenerasi muda kekinian terhadap budaya bangsa dan negaranya menjadi sasaran empuk bagi produsen kapitalisme modern dalam membangun paradigma budaya konsumtif yang baru. Media massa, adalah salah satu pilihan untuk menghegemoni hasrat masyarakat, budaya konsumtif direproduksi lewat ide-ide, bukan lagi pada banyaknya barang yang diproduksi. Produksi tidak lagi menciptakan materi sebagai objek eksternal, produksi menciptakan materi sebagai kode-kode yang menstimulasi kebutuhan atau hasrat sebagai objek internal konsumsi.
[3] Konsumenarisme meniscayakan hiperealitas.[4] Makna objek melebihi realitas objektifnya. Produk yang sebenarnya tidak terlalu bernilai jual tinggi dalam pemenuhan kebutuhan hidup, dikemas menarik dalam bahasa pasar kapitalisme lewat media massa menjadi sesuatu yang sangat dibutuhkan.
Hal tersebut tentu akan membawa dampak negatif dalam keberlansungan perkembangan budaya dalam masyarakat untuk generasi selanjutnya, terasing dalam budaya bangsanya sendiri, bukan hanya membuat mereka tampak terlihat seperti bukan dirinya dimasyarakat (Subjek), tepai bisa berdampak pada pudar dan hilangnya eksistensi kebudayaan yang ada pada masyarakat itu sendiri (Objek).

Makalah syarat Screning LK II Unhas


[1] Donny Gahral Adian, Percik Pemikiran kontemporer, hlm 185
[2] Murtadha Muthahhari, Masyarakat dan sejarah, hlm 5
[3] Jean Baudrillard, Marxime dan Agama, hlm 5
[4] kecenderungan membesarkan sebagian fakta dan sekaligus menyembunyikan fakta lain


Share:

Wabah Klasik (Korupsi)


Praktek korupsi di Indonesia telah terjadi sejak dulu. sebelum dan sesudah kemerdekaan, di era orde lama, orde baru, berlanjut hingga era reformasi. Korupsi bagai ladang garap yang diolah secara turun-temurun oleh para koruptor dari berbagai kalangan dan generasi. Berbagai upaya telah dilakukan untuk memberantas wabah ini, Upaya untuk memberantas korupsi memang tidak semudah membalikkan telapak tangan, hingga saat ini masih diperlukan upaya yang lebih untuk mengurus penyakit bangsa yang satu ini. Entah ini kemudian disebabkan ketidak sepahaman oleh Substansi penegakan hukum, adanya ketimpangan atau ketidak sinergian para elite strukstur hukum atau kurangnya kesadaran dan pahaman kultur dalam penegakan hukum kaitannya dengan pemberantasan korupsi. ataukah konsep tentang sistem ketatanegaarn yang terlalu rapuh untuk diterapkan pada kondisi psikologis dan geografis negara kita. Alasan dasarnya sederhana, yaitu ketidak pastian menyelesaian satu masalah yang telah diketahui solusi umumnya.

Indonesai adalah salah satu negara berkembang dunia yang menggunakan sistem demokrasi. Meskipun tergolong usia yang masih beliah, Perkembangan demokrasi di tanah air yang mengalami kemajuan sangat mengagumkan pada Pemilu 1999, dalam usianya yang relatif masih belia, harus menanggung beban yang begitu berat, demokrasi tercoreng oleh laga para tirani yang tidak bertanggung jawab. Ekspektasi masyarakat yang tinggi terhadap demokrasi bahwa demokrasi dapat mengikis sedimen korupsi pemerintahan otoriter Soeharto pada masa lalu masih jauh dari harapan. Kini korupsi justru terus tumbuh subur di tengah kian rendahnya kepercayaan masyarakat terhadap akuntabilitas dan kinerja lembaga demokrasi, terutama parpol serta parlement (dan hukum). Ancaman kemunduran demokrasi telah diperlihatkan oleh Freedom Barometer Asia 2010 yang dikeluarkan oleh Kantor Friedrich Naumann Stiftung Regional Asia Tenggara dan Timur untuk mengukur tingkat kebebasan di bidang politik, ekonomi, dan penegakan hukum. Lemahnya penegakan hukum dan penanganan korupsi serta intervensi pengaruh diluar proses demokrasi membuat Indonesia menempati peringkat ke-6 dengan total nilai 58,52, turun dibandingkan 2009 dengan nilai 63,47.

Kondisi demikin tentu sangat mencemaskan bagi sebuah bangsa berkembang yang masih sangat beliah, ekspektasi dan animo sebuah lembaga berkembang memang sangat menggebu, segala upaya terus dilakukan untuk membangun citra eksistensi terhadap masyarakat dunia, sehingga terkadang melepas simpul kesadaran tentang situasi dan kondisi internal yang semestinya lebih diperlukan oleh sebuah negara berkembang. Mengadopsi sistem hukum, membuat dan menerapkan aturan-aturan yang sebenarnya secara umum negara belum siap untuk itu. hal semacam ini kemudian dengan jeli dimanfaatkan oleh oknum yang tidak bertanggungjawab untuk melakukan praktek korupsi, mencari celah pada ketidaksiapan negara dengan sistem dan aturan yang ada, dan terus melakukan praktek korupsi secara terus menerus. Kurangnya pengawasan, ketidak tegasan sanksi hukum dimata para elite, ketidak sepahaman para penegak hukum serta mudahnya akses komunikasi dan informasi sangat rentan dengan penyalahgunaan yang berbasis kepentingan sektoral, meningkatannya kebutuhan hidup serta kurangnya kesadaran idealisme Kultur menjadi sasaran empuk bagi para tirani, untuk itu pemberantasan korupsi memerlukan perlakuan yang khusus, sinergis serta berkesinambungan.

Berlandas pada kondisi dengan masalah yang kompleksitas ini, kemudian dianggap perlu untuk melibatkan semua elemen. Terkhusus kepada uapaya untuk membentuk paradigma kesadaran masyarakat (kultur) dalam penegakan hukum. Bergerak dengan berlandas kesadaran sangat diperlukan dalam kondisi kontemporer. Peran para generasi muda sebagai penerus bangsa adalah salah satu elemen yang sangat penting dan dibutuhkan, pemuda merupakan salah satu bagian dari masyarakat itu sendiri, hidup dan berkembang dalam kultur masyarakat, mengenal kondisi masyarakatnya dan lebih siap dan sigap dalam memodifikasi ilmu pengetahuan dan teknologi menjadikannya salah satu elemen yang diperlukan dalam membangun kesadaran kultur dalam penegakan hukum serta pengawasan yang steril terhadap para penegak hukum.

Gerakan tersebut akan dianggap lebih efektis jika tumbuh dan berkembang di masyarakat sebagai Kultur dalam hukum (Freudman, 1987). gerakan civil society harus terus diperkuat, jalur masuk pahaman tentang sebuah pengetahuan sudah tentu sangat mempengaruhi paradigma berpikir seseorang, jadi dengan ini kultur sosial para generasi muda bisa menjadi jembatan untuk menanamkan pahaman. Sebanyak-banyaknya sanksi untuk memenjarakan dan menjerahkan koruptor, keaktifan untuk menyuarakan bahaya dan anti korupsi, akan tidak akan efektif jika pahaman kultural tidak mendukung, untuk itu simpul kesadaran tentang ini semestinya dibentuk dan diberdayakan semaksimal mungkin.

Salah satu basis pergerakan generasi muda adalah Kampus dalam hal ini mahasiswa, kultur kampus merupakan wadah yang sangat strategis untuk menumbuh kembangkan Civil Society. Mahasiswa seringkali diasosiasikan dengan komunitas sosial yang secara stratifikasi berada diposisi menengah, hal ini dikarenakan mahasiswa dengan kondisi lingkungannya tidak serta-merta masuk dalam struktural secara tingkatan keatas, tetapi tidak pula berada pada posisi kultural kemasyarakatan yang mengambil tanggungjawab secara gamblang, mahasiswa lebih dekat pada nuansa keilmuan dan tanggungjawab intelektual.

Sebuah Alasan Pembenar.
Mari bersama membangun Negeri
Lembaga Kajian Anti Korupsi (LKAK) Makassar.


Presidium LKAK Makassar
Share: