Sabtu, 15 November 2014

Ketika Nalar Kritis Di Ujung Tanduk


Selamat pagi Keluarga mahasiswa hukum unhas. Jika anda sering kekampus, maka spanduk tripleks (seperti gambar diatas) yang berdiri tepat didepan pintu masuk fakultas tidak asing bagimu. Pataka itu berisi celotehan beberapa penolakan atas rencana pemerintah untuk menaikan BBM. Kalimatnya sederhana, penuh canda, bijak nan mengigit. Sayangnya spanduk sederhana itu tidak akan lagi mengganggu pemandangan kita ketika memasuki gerbang fakultas hukum, pasalnya pihak birokrasi fakultas telah membakarnya. iya, dibakar dengan alasan yg sangat tidak jelas. Sampai pada tulisan ini diposting, kami belum mendengar alasan yang rasional dari orang-orang yang mengaku pendidik itu!! Masalahnya apa? Aneh, salahnya spanduk yang berdiri dibawah pohon apa? Kalimat dalam patakanya juga tidak ada yang berindikasi tidak baik (Kecuali anda tidak normal). Pasalnya, menurut kabar yang tidak jelas ‘kreatifitas diberangus atas nama keindahan’. Bukankan kreatifitas bagian dari keindahan itu sendiri?

Apa yang harus dilakukan dalam dunia pendidikan seperti ini kawan? dunia pendidikan yang katanya mencerdaskan kehidupan bangsa !! Benarkah Mencerdaskan kehidupan bangsa atau malah menjadi tempat empuk untuk membunuh daya dan nalar kreatif anak didiknya? jangan heran jika yang lahir adalah genersi bongsai yg bermental kerdil. Iya, kita memang diajarkan untuk menjadi generasi seperti itu, dan tentunya diajar dengan orang-orang seperti itu (Oknum). Mereka mengaku pendidik tapi bersikap seperti budak yang kehilangan akal melawan sisa daya kritis mahasiswanya. Pendidik? atau budak yang bermental inlander? Kasihan !!

Memang spanduk itu mengganggu yah kawan? bukan hanya karakter kita yang sedang dibunuh dalam dunia yang telah menjadi komoditi ini, tapi nalar kritis kita juga sedang digerek kawan. Mari bangkit dan melawan sebelum kita semakin ditindas dengan alasan I-rasional.

Inilah wajah birokrasi dunia pendidikan kita, mempermalukan diri sendiri dengan tindakan yang sangat tidak mendidik. Kasihan, pendidik? simpan saja di tempat sampah istilah itu. Martin Heidegger (26 September 1889 – 26 May 1976) --dalam buku menyoal objektifitas ilmu pengetahuan-- pernah bilang: Universitas hari ini tidak lagi menciptakan para peneliti yang selalu resah akan kondisi sosial dan keilmuannya,  hanya akan sampai pada level melahirkan para pengajar yang terus saja menyampaikan tanpa mengolahnya –Rasio saat menjadi sumber (r2), telah mati- . Anda pasti lebih tahu, apa beda antara pengajar dan peneliti.

Pertanyaannya, apa yang bisa dilahirkan oleh kampus yang kerjanya hanya membunuh 'sisa-sisa' daya kritis mahasiswanya?? Apa kabar seluruh mahasiswa dari kampus seluruh tanah air !? Selamat pagi, semoga DO dan skorsing tidak lagi menjadi pilihan kolot, bodoh, hina para birokrasi kampus yang mengaku pendidik. Salam.

Makassar, 15 November 2014; 11:43 Wita
#Manohara (Makassar November Hari Berdarah)

Presidium ARAK (Aliansi Rakyat Anti Korupsi) RAHA
Share:

0 komentar:

Posting Komentar