Rabu, 31 Juli 2019

Jalanmu, Tuhan Memilihnya Untukmu, Menangkanlah!


Akhirnya beginilah adanya. Saya menyebutnya sebuah ke-Ilahian kontemplasi. Rasa itu Ilahiah asalnya, tepat jika dia kembali ke asalnya, dalam bentuk apapun.

Pada mereka yang pernah merapal nama yang terkasih di sepertiga malam, pada mereka yang telah melangitkan namanya dalam bait-bait ikhlasnya doa, berbahagialah.

Sejatinya, tidak semua hal yang kita harapkan menjadi kenyataan dalam kefanahan ini.
Hanya saja, ia abadi pada langit yang berlapis. Seketika mereka akan menghampirimu pada waktu yang tepat. Waktu yang telah ditentukan oleh Sang Agung, waktu yang baik untuk kehidupanmu, untuk urusanmu, untuk ibadahmu, untuk agamamu!

Pertahankan ritmenya, sambung setiap asa, sungguh nikmat Tuhan ada untuk setiap insannya, tanpa terkecuali. “Fabiayyi ‘aalaa’i Rabbikumaa Tukadzdzibaan”.

Presiden Janchuk Sujewo Tejo dalam kitab "gilanya" menuturkan; "Kamu bisa memilih untuk menikah dengan siapa, tetapi tidak dengan pilihan untuk mencintai siapa".

Temukan mereka yang membuatmu jatuh cinta berkali-kali, netralkan obsesimu, lepaskan hasratmu, ikhlaskan doamu, maka niscaya kamu akan menemui diri menjadi pemenang tanpa memenangkannya.

Obsesi pada diri sendiri
Apa yang membuat kita terkulai lemah dalam lara? Hasrat yang begitu menggebuh, fantasi yang tak bertepi, kemapanan pikiran yang menghawatirkan, kenyamanan zona yang memalaskan, dan kepasrahan yang dianggap barang terlanjur.

Terlalu berat untuk diurai satu per satu. Saya akan memilih yang paling mendekati relevansi. Meski sebenarnya semua menjadi alasan.

Give me your pray, semoga saya memiliki kesempatan untuk menjelaskannya lebih detil di pangkuanmu. Menjelaskan tentang rencana-rencana besar kita, mengisyaratkan tentang; betapa beruntungnya anda memilikiku, betapa berharganya hidupku bersamamu, dan betapa mulianya ikatan ini di hadapan Tuhan. Tentu disela bunyi seruput kopi yang telah engkau siapkan di setiap pagi buta sepulangku bersujud.

***
Mengapa qoutes yang berseliweran di media sosial perihal cinta begitu sederhana dan terkesan utopis?

Sebenarnya, begitulah rasa yang Ilahi, yang menghamba hanya padaNya, bukan selainNya. Kesejatian rasa ada di dalamnya. Kerinduan yang tak butuh temu kecuali dalam doa, tak perlu memiliki kecuali dalam ikhtiar, tak butuh bersama kecuali dalam takdir.

Sekali lagi, berbenahlah.

Tumbuhkan obsesimu hanya untuk diri sendiri, bukan untuk orang lain. Merindu, memiliki dan bersama dengannya lewat diri sendiri.

Pada perjalanan kesempurnaan; menyelesaikan diri sendiri, lalu bersama diri menuju Tuhan yang telah menunggumu untuk 'turun' bersama menuju sosial, juga menuju yang terkasih tentu saja. Kekhalifaanmu ada diposisi itu. Lalu tahu apa kita pada diri sendiri sampai detik ini?

Tumbuhkan hasrat untuk diri sendiri, terus bersyukur untuk segala rahmat dan nikmat, tahan sampai pada titik dimana tidak menumbuhkan bibit kesombongan yang mematikan.

Pemantik
Tentu persoalan yang terdengar sederhana di atas butuh waktu dan proses. Konsekuensi kita sebagai makhluk sosial, berurusan dengan orang lain tidak bisa terelakkan.

Tentu Tuhan memiliki alasan menciptakan kita bersosial. Berinteraksi dengan banyak umat, menemukan; kesenangan, kegembiraan, kepedihan, kesengsaraan. Bukan untuk apa, kecuali pelajaran, pelajaran, dan pelajaran.

Terus mengalami benturan, terbentur, terbentur, terbentur, terus terbentur lalu terbentuk!
_____
Saya akan menggambarkannya lebih sederhana.

Pada korek api yang setelah menjadi pemantik lalu iklas berakhir pada tempat sampah. Tugasnya hanya menghadirkan api awal, membantu kayu bakar menyelesaikan tugasnya.

Pun pada kayu bakar yang terus 'menghancurkan diri' dalam menjalankan kewajibannya membuat masakan siap saji pada porsinya. Penghancuran dirinya bukan tanpa alasan, setidaknya, tugasnya memang begitu, bentuk pelayanan, jalan pengabdiannya.

Jadilah pemantik yang dibuang saat api mulai menyalah. Belajarlah 'menghancurkan diri' demi tegaknya jalan takdir Ilahiah. Pasrahkan diri pada tugas-tugas kemanusianmu, kadang Tuhan mengirim kita untuk alasan mulia itu, sampai kita menemukan kemuliaan diri sendiri.

Jadikan cintamu yang berkali-kali itu menuntunmu menjalankan kewajiban tanpa pamrih layaknya korek api dan kayu bakar.

Tetapi, bukan berarti semua akan berjalan lancar seperti yang kita rencanakan. Kita harus bersiap dengan segala kemungkinan yang ada. Kita butuh ini untuk terbentuk.

Bersalah Lalu Lupa
Jangan membayangkan proses ini selembut bait-bait tulisan ini. Seperti apa yang diungkapkan sebelumnya, kita butuh terus terbentur untuk terbentuk.

Pada porsi yang wajar, kita akan menemui berjuta kesalahan juga berjuta lupa. Dua hal itu adalah pangkal perkara, tetapi juga lahiriah adanya, hanya dengan itu kita bisa menuju kemapanan pikiran. Atau kalau mau ekstrem, kita butuh salah dan lupa untuk sempurna. Tidak sempurna jika hanya baik, kita butuh buruk. Kita butuh negatif untuk melengkapi positif.

Kita butuh puncak untuk menandai titik terendah, seperti butuh 'mulai' untuk mencapai 'akhir'. Bukankah juga Tuhan menciptakan segalanya berpasangan?

Hanya pada titik terendah, kita mendapat pertanda untuk kembali menanjak dan bangkit bergerak. Sedang di puncak, tidak ada pilihan lain selain turun menukik.

Hanya saja, jangan lupa mengabadikan moment, menyempatkan diri untuk berselfie misalnya, bukan untuk apa, selain ingin menitip pesan kepada sesama, bahwa anda pernah berada di puncak dulu hingga akhirnya sampai di titik sekarang, juga memotivasi sesama, bahwa, untuk sampai di sana, kita pernah melerai lara, tiris penuh darah kehidupan.

Sekali lagi, "Fabiayyi ‘aalaa’i Rabbikumaa Tukadzdzibaan”.
_____
Tuhan telah memilih kita, menentukan jalan kita, jalan yang harus kita lalui dengan penuh penghayatan dan pengalaman, lengkap dengan konsekuensi yang akan dilahirkan dari sikap-sikap kita dalam menempuh jalannya.

Garis akhirnya sudah ditentukan, kita diberi kebebasan dalam keterbatasan-keterbatasan yang telah ditentukanNya. Sedang Tuhan mustahil salah dalam menentukan pemenangnya.

Melerai lara sampai cinta yang berkali-kali itu hadir menyatukan yang harus bersatu dan memisahkan yang harusnya berpisah. Bantu dirimu sendiri untuk; Melawan hasrat yang begitu menggebu, fantasi yang tak bertepi, kemapanan pikiran yang menghawatirkan, kenyamanan zona yang memalaskan, dan kepasrahan yang dianggap barang terlanjur.

Layaknya sebuah pertarungan, kita harus melewatinya untuk menang. Jangan khawatir, Tuhan bersama kita sayang!

***
"Allah, saya yakin, seyakinnya hal baik ini datangnya dariMu, jika niatku cacat sejak awal, jangan jadikan ini akhir, sungguh Engkau Maha membolak-balikan hati Insan. Izinkanlah, izinkanlah niat baik ini kokoh dalam ikhtiar bersama menujuMu, dalam ikatan yang baik, dalam ikatan yang baik, dalam ikatan yang baik, dalam ikatan yang Engkau Ridhoi" [ID Official]
Share:

Senin, 22 Juli 2019

Mengurai Niat yang Tak (Pernah) Sampai

Pikiranku kacau dan berkecamuk dalam benak. Takut, tertanggu, terusik, gelisah, seperti ada hal yang harus saya temukan jawabannya. Saya harus mengambil keputusan, menentukan langkah, karena itu saya harus menulisnya; itulah satu-satunya cara meluruskan pikiran. Rasanya, saya bisa melihat urutan benang merah kusutnya, tetapi tidak tahu akan mengarah kemana, tergantung Tuhan.

Dunia ini tiris, mengalirkan darah. Saya tahu suatu saat akan sampai pada giliranku. Seperti juga saya, kalian, mereka, akan mendapat giliran yang sama, setidaknya itu yang saya pahami tentang relasi kehidupan. Tergantung cara kita menyikapinya, yang nanti akan membedakan hasilnya.

_________
Benangnya benar-benar kusut, rasanya saya harus mengurainya secara perlahan.

Sepertinya menarik jika saya mulai dengan mengomentari perihal "niat". Kata ini kemarin menjadi alasan, dalilnya teratur, tetapi alurnya mengarah ke perihal "niat yang salah sejak awal" katanya.

"Niat, biarkan itu menjadi urusan seseorang dengan Tuhannya, perhatikan saja usahanya". Quote Anis Baswedan beberapa saat lalu berseliweran di media sosial. Entah perihal apa, tapi bagiku, Gubernur Ibu Kota ini ada benarnya.

Betapa rapuh manusia, segala hal selalu dipertanyakan, bukan oleh makhluk lain, kecuali makhluk sejenisnya, manusia lain. Secuil perkara bisa menjadi petaka, sederet rencana bisa menjadi bencana. Sampai disini, kita bahkan sudah kewalahan. Lalu masihkah pantas kesombongan gagah berdiri?

Allah Azza wa Jalla berfirman:

"Aku buatkan di dalam rongga anak Adam satu Mahligai, dan di dalam mahligai itu ada Dada, dan di dalam dada itu ada Hati, dan di dalam hati itu ada Fuad, dan di dalam Fuad itu ada Syarofan, dan di dalam Syarofan itu ada Lubban, dan dalam Lubban itu ada Rahasia, dalam Rahasia itu Aku" (Hadis Qudsi).

Jauh dilubuk hati, ada perkara yang (seharusnya) tidak pantas ditelisik oleh makhluk, ketetapannya menjadi urusannya, bentuknya adalah internalisasi, wujudnya adalah ikhtiar.

Biarkan niat insan tertutup rapat, terikat dalam unsur Hablum Minallah. Jika ingin bersitegang, tunggu sampai teraktual pada Hablum Minannas atau paling jauh, jika sudah menyentuh ikhtiar Fil ardh.

Hanya saja, beginilah jadinya. Rumit bagi kita untuk berjalan beriringan, jika ada sekat bagi ruang keraguan pada langkah pertama. Harusnya saya yang mengantisipasi lebih awal, daya tak berupaya, kita sama tenggelam dalam romansa. Saya bahkan tidak pernah punya kesempatan meyakinkanmu. Lebih tepatnya, saya terlalu yakin "sendiri" sejak awal.

Nasi tak pernah menjadi bubur, niat awalnya menanak nasi, bukan bubur. Tidak ada yang terlanjur, selalu ada kesempatan pada niat yang baik. Bukankah Tuhan kita maha baik? KebaikanNya selalu maju mendahului kemurkahanNya. Sayangnya, tabir kehidupan menyembunyikan itu dari kita kadang-kadang.

Sudahlah! Saya tidak punya niat lain, saya menemukan alasan baik. Akhirnya saya punya "mengapa" dalam hidup semenjak ikatan ini, yang membuat saya siap menghadapi "bagaimana" dalam bentuk apapun.

Bagiku, anda seperti "cahaya". Ini istilah yang sering kita gunakan untuk menyebut hidayah. Segala kebaikan yang hadir bersamamu adalah hidayah dariNya, bukan darimu apalagi makhluk lain. Jalanku menemuimu adalah jalan kerinduan Tuhan atas sujud yang selalu dan selama ini lata tak tertata.

Tuhan yang menempatkan hidayah dalam hidup. Caranya beragam; bisa lansung, atau lewat perantara. Saya bersyukur bertemu denganmu sebagai perantara.

Sejak awal saya bersyukur, setidaknya dentuman itu lahir darimu. Cukup patut memutuskan untuk menuju dentuman agungNya lewat cahayamu. Niatnya mengokohkan. Apa ada yang salah sampai di sini?

________
Jika tidak ada kesempatan untuk menjelaskan ini, izinkan saya mengungkapkannya dalam bait-bait lembut tulisan ini.

Sepatutnya saya mengakui, ada kekeliruan yang terjadi di pertengahan. Perkaranya mendominasi. Saya harus mengisolasi diri, menghilang bukan untuk membuatmu jera, khawatir apalagi bermain curang, saya sedang menenangkan diri. Bagiku, menyakitimu tidak ada dalam pilihan, jika harus memilih, "menenggelamkan" diri sendiri bisa jadi alternatif. Naif?

Toh saya tidak punya kemampuan mengintervensi pikiranmu, ada banyak kesalahan diantara kita, mereka, juga yang lainnya. Bagaimanapun kita semua adalah manusia, tempatnya salah bersemayam.

Pada akhirnya kembali ke diri kita masing-masing, ada orang yang belajar baik dengan kesalahannya, ada orang yang terus mengulang kesalahan; bukan karena tidak belajar, tetapi membutuhkan banyak kesempatan, berulang dan terus belajar.

Nasip tak berpihak, daya tak berupaya, saya bahkan tidak memiliki kesempatan lain. Kesalahan pertama menjelma menjadi akhir, terakhir. Hanya saja, saya bersyukur telah belajar banyak.

Ini akhirnya menjadi alasan yang tepat kenapa saya memilih mundur teratur. Bukan mau menjadi pecundang yang tak menyelesaikan perkara, tetapi jika "melanjutkan" malah membuatmu terkulai lemah, saya lebih memilih opsi naif.

Perkara yang paling rumit dari segalanya adalah melihatmu meneteskan air mata karena orang lain dihadapanku, bagiku itu sedikit "mengerikan". Jangankan merencanakan, terlintas dibenakku untuk membuatmu menangis saja tidak pernah. Pemandangan perdana yang memilukan.

Lalu saya harus menanggung beban untuk mengkhawatirkanmu setiap waktu oleh karena sedang bersama dia yang dengan enteng mengundang air mata lewat perkara receh. Adil?

Hanya saja, sekali lagi, hidup ini tiris mengalirkan darah. Tak kenal ruang dan waktu, setibanya, semua akan mendapat giliran yang sepadan. Dalam bait lembut ini, saya penuh harap kalian baik saja. Setidak-tidaknya anda.

Ingin rasanya berdiri diantara kalian, memandu celoteh, memastikan kalian baik saja, hingga tak ada tirisan darah, setidaknya tidak hadir secepat datangnya padaku. Masing-masing kalian menoleh padaku ketika ada perkara kecil sampai pelik yang terlalu rumit untuk dihadapi oleh tim yang hanya berisikan dua orang. Tenang saja, saya tidak berniat menjadi orang ketiga.

Ingin rasanya menatapnya lirih dan berkata "berhenti berbuat bodoh, dia sangat tidak pantas menangisi hal remeh yang kau hadirkan, tidak cukupkah lara yang tertancap padaku hanya untuk membentuk ikatan kalian? - "Belajarlah memaklumi orang lain, setidaknya sampai anda layak untuk terus mendapat pemakluman darinya seperti yang dilakukannya selama ini!"

Cukup!

***
"Allah, saya yakin, seyakinnya hal baik ini datangnya dariMu, jika niatku cacat sejak awal, jangan jadikan ini akhir, sungguh Engkau Maha membolak-balikan hati Insan. Izinkanlah, izinkanlah niat baik ini kokoh dalam ikhtiar bersama menujuMu, dalam ikatan yang baik, dalam ikatan yang baik, dalam ikatan yang baik, dalam ikatan yang Engkau Ridhoi" [Lss, 28 April 1992]

Share:

Jumat, 19 Juli 2019

Melerai Lara; Pada In(S)an yang Menghamba

Atas izin Tuhan saya menemukannya, dan atas izinnya jugalah dia menemukan yang lain. Hukum alamnya sesederhana itu, kadang memang alam sebercanda itu. Nikmati saja, toh semua ada pada porsinya masing-masing.

"Allah, tahanlah matahari ini untukku", Nabi Yosua a.s, berdoa.

Seketika Bumi berhenti berotasi, matahari tetap pada posisinya dan kemenangan perang direbut oleh pasukan para pembela Agama Allah. Nabi Allah Yosua a.s, memiliki mukjizat; kuat ketika terpapar sinar matahari.

_________
Tidak ada yang terlintas di benak saat semua rencana berantakan tanpa sebab, kecuali doa.

"Tanya pada Tuhan, dia maha membolak-balikan hati Insan" katanya.

Saya hanya memiliki doa untuk kunci jawaban ini. Ujiannya dimulai, kuncinya ada pada Tuhan, jawaban atas kelulusan saya nanti adalah Tuhan. Tidak ada pilihan lain. Di sisi lain saya legah, lobi pimpinan yang paling asyik adalah Tuhan, bahasa langit memiliki logikanya sendiri, selalu dapat jawaban, tidak ada yang terlewatkan, setidaknya itu janjinya. Juga semua makhluk tahu, Dia tidak pernah mengingkari janjinya, Sang Agung hanya punya cara yang apik untuk mengabulkan janji. Bagaimanapun bentuknya.

Seperti Nabi Yosua a.s, yang menerima kemenangan atas doanya.

Jika anda punya waktu menelisik lebih jauh doa para nabi, saya punya sepotong cerita tentang Nabi Elia a.s, yang berdoa dengan redaksi yang sama atas penyerangan pasukan raja Fenesia, Ahab. Informasi penyergapan siang hari membuat Nabi Elia a.s memohon untuk menahan matahari agar bisa bersiaga. Benar, Tuhan mengabulkan doanya, tidak ada penyergapan siang hari, pembantaian membabibuta justru terjadi pada malam hari yang membuat dirinya kehilangan Istri tercintanya.

Apa ini membuatnya putus asa dan mengutuk Tuhan?, tidak, dia memiliki pengetahuan tentang bahasa langit, logika doa.

"Kita semua akan tahu alasannya nanti, ini hanya masalah waktu" dia berdalil saat saya mendesak.

Waktu selalu mengambil peran sentral dalam beberapa perkara. Anekdot "jangan menyerahkan segalanya pada waktu, karena bisa jadi itu akan sangat lama" kadang menjadi celotehan tersendiri.

Apa yang membuat waktu mengambil banyak peran, bukannya lebih baik jika kita menyerahkan setiap perkara pada Tuhan semata? atau apa korelasi antara waktu dan pemilik waktu, ataukah waktu adalah salah satu cara Tuhan memberikan pertanyaan dalam ujian? Terlalu sederhana, saya tidak sepakat.

Ada pesan yang terputus pada hubungan ini. Ada yang tidak selesai, tertinggal diantara komunikasi ini. Mengejarnya hanya memberikan kesan negatif pada saya. Terlihat seperti obsesi yang menggebuh.

Tapi, jika itu tak terelakkan, dipandang sebagai seorang obsesifpun tidak menjadi soal. Meski sekali lagi ini terkesan tidak baik. Hanya saja, perlu dipahami, bahwa bungkusan obsesivitas itu mengejar makna yang tertinggal, makna yang tidak pernah selesai sejak awal. Makna yang dihadirkan bersama tetapi dilepas sepihak.

Saya tidak perlu mengajukan pertanyaan "jika anda berada pada posisi saya saat ini?" saya seperti sudah punya jawabannya, akan sia-sia.

Hingga akhirnya Tuhan turun tangan untuk melerai lara. Dia yang agung memang selalu menghadirkan hal yang menarik dalam persoalan hidup. Dia punya logika semiotika yang paripurnah. Tentu tujuannya adalah agar kita bisa memaksimalkan ciptaannya yang lain. Melihat pertanda-pertandanya, memaksimalkan akal yang telah dianugerahkannya.

Pertanyaan basi "kenapa harus saya", "kenapa harus sekarang", atau "kenapa bisa begini dll", jawabannya hanya satu: anda butuh ujian untuk naik kelas, atau hanya pohon yang berbuah yang dilempari batu.

Hingga akhirnya saya menemukan alasan, atau tepatnya, saya menemukan alasannya mengapa akhirnya harus berakhir begini. Bukan perkara yang rumit sebenarnya. Soal "orang lain". Yang membuat perkara ini naik tingkat menjadi rumit adalah "kenapa Tuhan yang harus saya tempati bertanya, hanya untuk mendapat jawaban bahwa ada "orang lain". Bukannya adil adanya jika semua diungkapkan lebih awal?

Tapi akhirnya ini membawa kelegahan, lawanku bukan lagi Tuhan. Bayangkan betapa pesimisnya saya jika harus melawan Tuhan. Kini, potensi menang dan kalah ada diposisi fifty-fifty. Tuhan kembali mengambil peran sentral. Menjadi hakim dalam pertarungan yang tidak terlalu adil bagi saya sejak awal. Semua makhluk tahu, tidak ada wasit yang melebihi keadilannya.

Hal yang harus saya pastikan, bahwa berhenti bukan pilihan para pemenang. Hanya pengecut yang tidak pernah memulai, dan pecundang yang tidak menyelesaikan apa yang telah dimulainya, sedang saya ingin jadi pemenang, seminimalnya menang melawan diri sendiri.

Tugasku hanya memastikan, agar tidak menjadi Insan yang menghamba pada selainNya. Obsesinya [jika harus disebutkan demikian] bukan lagi pada upaya untuk memaksakan kehendak, tetapi menjadi relasi kuasa yang harus menyelesaikan apa yang telah mereka mulai. Bukan lagi pada soal hasratku padanya, tapi bagaimana hasratnya pada "orang lain" itu.

Membantunya menjernihkan pikiran sebelum sampai pada keputusan akhir.

_________
Saya ingin keluar dari pertandingan, bagiku, prinsip bermain harus adil sejak dalam pikiran. Saya bukan pemain yang tepat, "orang lain" itu bukan lagi lawan saya. Terbalik, yang bermain kini antara Dia dan "orang lain" itu. Saya bukan penonton, juga tidak ingin mengambil peran Tuhan untuk menjadi wasit, takut jika saya tidak berlaku adil dan malah menjadi oportunistik.

Penghambaanku menjadi In(S)an berbalik dan menemui jalan lain. Memastikan pertandingan berjalan lancar dan menghasilkan kemenangan bagi semua. Juga kemenangan bagi sang penghamba seperti saya.

Akhirnya, saya menemukan alasan kenapa Tuhan menghadirkan sort-time match pada kita, Dia hanya ingin agar saya betul-betul menikmati pertandingan antara anda dengan "orang lain" itu, Dia yang agung ingin menunjukan padaku, bahwa pertandingan ini layak untuk di wasit-i olehNya. Hanya dengan begitu akan menjadi pertandingan yang berakhir dengan cerita semua menjadi pemenang yang hebat.

Kini peran tambahanku adalah menjadi penasihat yang apik untukmu dan "orang lain" itu, memastikan bahwa pertandingan ini tidak over-lap sehingga merugikan banyak penonton bahkan bagi saya yang tidak lagi memiliki posisi apa-apa. Setidaknya, itu cara terbaik agar penghambaan ini tidak berakhir sia-sia. Saya akan merasa malu pada Tuhan jika harus berakhir pada porsi yang salah.

Cara terbaik mengakhiri apa yang telah dimulai adalah menjalani peran kita masing-masing pada posisi yang tepat, bukan posisi yang benar. Benar bagimu mungkin baik, tetapi jika itu berurusan dengan orang lain, bijak harus menjadi pilihan, setidak-tidaknya, itu yang tepat.

Toh pada akhirnya kita akan diperhadapkan pada halaman "melawan diri sendiri", jika anda pemalas, anda akan melawan diri anda yang malas, jika anda berlaku adil anda akan menikmati hasil dari keadilan diri sendiri. Sungguh apa yang menjadi pilihan hari ini akan kembali menjadi pilihan di masa depan.

Pilihanku hari ini bukan hadir dari kebetulan, dia pernah ada di masa lalu atau mungkin akan ada di masa depan. Caraku menghadapi ini akan menjadi standar kelulusanku di mata Tuhan.

Bermainlah dengan tenang, jika lelah dan ingin melepas dahaga sesaat, air digenggamanku, bukan hanya untukmu, tetapi juga untuk "orang lain" itu. Jika "orang lain" itu bermain curang, berbenahlah, kecurangan awal tidak mengakhiri segalanya, begitupula kecurangan kedua dan seterusnya. Sungguh kecurangan yang dibalas kecurangan akan melahirkan kecurangan yang lebih gila. Ingat, kita punya wasit yang maha adil, lagian, tidak ada pertandingan yang betul-betul berjalan baik, itu gunanya penengah.

Nikmatilah pertandingannya!

Izinkan saya mengambil posisi, pada In(s)an yang menghamba. Sungguh bagiku, tak baik berseteru sebagai hamba, apalagi dihadapan pencipta, malulah pada pencipta atas status kita sebagai ciptaan.

#ID Official
Rabu, 17 Juli 2019

Share: