Atas izin Tuhan saya menemukannya, dan atas izinnya jugalah dia menemukan yang lain. Hukum alamnya sesederhana itu, kadang memang alam sebercanda itu. Nikmati saja, toh semua ada pada porsinya masing-masing.
"Allah, tahanlah matahari ini untukku", Nabi Yosua a.s, berdoa.
Seketika Bumi berhenti berotasi, matahari tetap pada posisinya dan kemenangan perang direbut oleh pasukan para pembela Agama Allah. Nabi Allah Yosua a.s, memiliki mukjizat; kuat ketika terpapar sinar matahari.
_________
Tidak ada yang terlintas di benak saat semua rencana berantakan tanpa sebab, kecuali doa.
"Tanya pada Tuhan, dia maha membolak-balikan hati Insan" katanya.
Saya hanya memiliki doa untuk kunci jawaban ini. Ujiannya dimulai, kuncinya ada pada Tuhan, jawaban atas kelulusan saya nanti adalah Tuhan. Tidak ada pilihan lain. Di sisi lain saya legah, lobi pimpinan yang paling asyik adalah Tuhan, bahasa langit memiliki logikanya sendiri, selalu dapat jawaban, tidak ada yang terlewatkan, setidaknya itu janjinya. Juga semua makhluk tahu, Dia tidak pernah mengingkari janjinya, Sang Agung hanya punya cara yang apik untuk mengabulkan janji. Bagaimanapun bentuknya.
Seperti Nabi Yosua a.s, yang menerima kemenangan atas doanya.
Jika anda punya waktu menelisik lebih jauh doa para nabi, saya punya sepotong cerita tentang Nabi Elia a.s, yang berdoa dengan redaksi yang sama atas penyerangan pasukan raja Fenesia, Ahab. Informasi penyergapan siang hari membuat Nabi Elia a.s memohon untuk menahan matahari agar bisa bersiaga. Benar, Tuhan mengabulkan doanya, tidak ada penyergapan siang hari, pembantaian membabibuta justru terjadi pada malam hari yang membuat dirinya kehilangan Istri tercintanya.
Apa ini membuatnya putus asa dan mengutuk Tuhan?, tidak, dia memiliki pengetahuan tentang bahasa langit, logika doa.
"Kita semua akan tahu alasannya nanti, ini hanya masalah waktu" dia berdalil saat saya mendesak.
Waktu selalu mengambil peran sentral dalam beberapa perkara. Anekdot "jangan menyerahkan segalanya pada waktu, karena bisa jadi itu akan sangat lama" kadang menjadi celotehan tersendiri.
Apa yang membuat waktu mengambil banyak peran, bukannya lebih baik jika kita menyerahkan setiap perkara pada Tuhan semata? atau apa korelasi antara waktu dan pemilik waktu, ataukah waktu adalah salah satu cara Tuhan memberikan pertanyaan dalam ujian? Terlalu sederhana, saya tidak sepakat.
Ada pesan yang terputus pada hubungan ini. Ada yang tidak selesai, tertinggal diantara komunikasi ini. Mengejarnya hanya memberikan kesan negatif pada saya. Terlihat seperti obsesi yang menggebuh.
Tapi, jika itu tak terelakkan, dipandang sebagai seorang obsesifpun tidak menjadi soal. Meski sekali lagi ini terkesan tidak baik. Hanya saja, perlu dipahami, bahwa bungkusan obsesivitas itu mengejar makna yang tertinggal, makna yang tidak pernah selesai sejak awal. Makna yang dihadirkan bersama tetapi dilepas sepihak.
Saya tidak perlu mengajukan pertanyaan "jika anda berada pada posisi saya saat ini?" saya seperti sudah punya jawabannya, akan sia-sia.
Hingga akhirnya Tuhan turun tangan untuk melerai lara. Dia yang agung memang selalu menghadirkan hal yang menarik dalam persoalan hidup. Dia punya logika semiotika yang paripurnah. Tentu tujuannya adalah agar kita bisa memaksimalkan ciptaannya yang lain. Melihat pertanda-pertandanya, memaksimalkan akal yang telah dianugerahkannya.
Pertanyaan basi "kenapa harus saya", "kenapa harus sekarang", atau "kenapa bisa begini dll", jawabannya hanya satu: anda butuh ujian untuk naik kelas, atau hanya pohon yang berbuah yang dilempari batu.
Hingga akhirnya saya menemukan alasan, atau tepatnya, saya menemukan alasannya mengapa akhirnya harus berakhir begini. Bukan perkara yang rumit sebenarnya. Soal "orang lain". Yang membuat perkara ini naik tingkat menjadi rumit adalah "kenapa Tuhan yang harus saya tempati bertanya, hanya untuk mendapat jawaban bahwa ada "orang lain". Bukannya adil adanya jika semua diungkapkan lebih awal?
Tapi akhirnya ini membawa kelegahan, lawanku bukan lagi Tuhan. Bayangkan betapa pesimisnya saya jika harus melawan Tuhan. Kini, potensi menang dan kalah ada diposisi fifty-fifty. Tuhan kembali mengambil peran sentral. Menjadi hakim dalam pertarungan yang tidak terlalu adil bagi saya sejak awal. Semua makhluk tahu, tidak ada wasit yang melebihi keadilannya.
Hal yang harus saya pastikan, bahwa berhenti bukan pilihan para pemenang. Hanya pengecut yang tidak pernah memulai, dan pecundang yang tidak menyelesaikan apa yang telah dimulainya, sedang saya ingin jadi pemenang, seminimalnya menang melawan diri sendiri.
Tugasku hanya memastikan, agar tidak menjadi Insan yang menghamba pada selainNya. Obsesinya [jika harus disebutkan demikian] bukan lagi pada upaya untuk memaksakan kehendak, tetapi menjadi relasi kuasa yang harus menyelesaikan apa yang telah mereka mulai. Bukan lagi pada soal hasratku padanya, tapi bagaimana hasratnya pada "orang lain" itu.
Membantunya menjernihkan pikiran sebelum sampai pada keputusan akhir.
_________
Saya ingin keluar dari pertandingan, bagiku, prinsip bermain harus adil sejak dalam pikiran. Saya bukan pemain yang tepat, "orang lain" itu bukan lagi lawan saya. Terbalik, yang bermain kini antara Dia dan "orang lain" itu. Saya bukan penonton, juga tidak ingin mengambil peran Tuhan untuk menjadi wasit, takut jika saya tidak berlaku adil dan malah menjadi oportunistik.
Penghambaanku menjadi In(S)an berbalik dan menemui jalan lain. Memastikan pertandingan berjalan lancar dan menghasilkan kemenangan bagi semua. Juga kemenangan bagi sang penghamba seperti saya.
Akhirnya, saya menemukan alasan kenapa Tuhan menghadirkan sort-time match pada kita, Dia hanya ingin agar saya betul-betul menikmati pertandingan antara anda dengan "orang lain" itu, Dia yang agung ingin menunjukan padaku, bahwa pertandingan ini layak untuk di wasit-i olehNya. Hanya dengan begitu akan menjadi pertandingan yang berakhir dengan cerita semua menjadi pemenang yang hebat.
Kini peran tambahanku adalah menjadi penasihat yang apik untukmu dan "orang lain" itu, memastikan bahwa pertandingan ini tidak over-lap sehingga merugikan banyak penonton bahkan bagi saya yang tidak lagi memiliki posisi apa-apa. Setidaknya, itu cara terbaik agar penghambaan ini tidak berakhir sia-sia. Saya akan merasa malu pada Tuhan jika harus berakhir pada porsi yang salah.
Cara terbaik mengakhiri apa yang telah dimulai adalah menjalani peran kita masing-masing pada posisi yang tepat, bukan posisi yang benar. Benar bagimu mungkin baik, tetapi jika itu berurusan dengan orang lain, bijak harus menjadi pilihan, setidak-tidaknya, itu yang tepat.
Toh pada akhirnya kita akan diperhadapkan pada halaman "melawan diri sendiri", jika anda pemalas, anda akan melawan diri anda yang malas, jika anda berlaku adil anda akan menikmati hasil dari keadilan diri sendiri. Sungguh apa yang menjadi pilihan hari ini akan kembali menjadi pilihan di masa depan.
Pilihanku hari ini bukan hadir dari kebetulan, dia pernah ada di masa lalu atau mungkin akan ada di masa depan. Caraku menghadapi ini akan menjadi standar kelulusanku di mata Tuhan.
Bermainlah dengan tenang, jika lelah dan ingin melepas dahaga sesaat, air digenggamanku, bukan hanya untukmu, tetapi juga untuk "orang lain" itu. Jika "orang lain" itu bermain curang, berbenahlah, kecurangan awal tidak mengakhiri segalanya, begitupula kecurangan kedua dan seterusnya. Sungguh kecurangan yang dibalas kecurangan akan melahirkan kecurangan yang lebih gila. Ingat, kita punya wasit yang maha adil, lagian, tidak ada pertandingan yang betul-betul berjalan baik, itu gunanya penengah.
Nikmatilah pertandingannya!
Izinkan saya mengambil posisi, pada In(s)an yang menghamba. Sungguh bagiku, tak baik berseteru sebagai hamba, apalagi dihadapan pencipta, malulah pada pencipta atas status kita sebagai ciptaan.
#ID Official
Rabu, 17 Juli 2019