Selasa, 22 Mei 2018

Anu-logic

Asapnya semakin tebal, apinya tidak mengintrospeksi diri. Ehh... Lupa, kalau "Api" tidak pernah berpikir, tidak pernah menggukan akal, tidak punya akal. Juga Api akan selalu mencari apa saja yg bisa dimakan (kambing hitam-gemuk) agar terus menyala (eksis) dan menghasilkan asap.

Asapnya mengepul, terus berputar dan meresahkan. Sebagian orang pura merasa muak dengan asap, sebagiannya lagi malah sibuk melihati gerakan akrobatik si Api, bukan memadamkannya. Siapa mereka?

Mereka itu ada sebagai pembanding. Konsep sederhananya mendifinisikan korban. Tanpa mereka, korban tidak pernah ada, seperti apa yang dibilang Prof Wim Poli, kita tak bernilai, sampai ada yang memberikan penilaian. "Khusuli" dalam logika pengetahuan.

Mengeksploitasi korban asap, menggoreng dan menggiring, asaplah yg menjadi dalang kegaduhan ini. Sebagian mereka tahu sumber Api, malah aktif menyuplei bahan baku, untuk apa, bersembunyi. Dalam asap mereka berhasil menyembunyikan banyak hal. Gumpalan asap kian hari kian menebal. Hadirlah mereka yang menyadari keadaan objektif, lalu berusaha menghadirkan angin guna membuat terang penglihatan. Sayang, mereka berbondong, kembali menggoreng dan menggiring.

Bahwa angin yg hadir adalah badai, badai topan yang harus dihentikan segera dengan cara apapun dalam dalil; akan sangat banyak korban berjatuhan jika tidak segera ditindak. Para korban terlampau polos, menerima, pasrah, tergiring dan tergoreng, angin berhasil dibuat terlihat membantu nyala Api semakin berkobar, bukan membuat terang dan mengibas gumpalan asap.

Sekali lagi, mereka dengan bebas bersembunyi dan menyembunyikan banyak hal. Ohh Api... Saya prihatin.
Share:

Jumat, 18 Mei 2018

Obat Tidur Itu Disebut Buku

Foto: Koleksi buku pribadi penulis [koleksi pribadi]
Sejak masuk di salah satu perguruan tinggi, saya memiliki kebiasaan mengoleksi buku, baik buku yang berkaitan dengan jurusan kuliah maupun buku-buku umum yang sama sekali tidak ada kaitannya. Sosial, politik, filsafat sampai novel, menjadi buku incaran saya untuk menambah koleksi. Tidak kurang dari 750 buah buku berserakan di ruang tempat saya merebah lelah.

Untuk seorang yang baru menemukan hobi bacanya saat menginjakkan kaki di dunia kampus, saya tergolong orang yang memiliki buku cukup banyak dibanding teman-teman lain. Kebiasaan ini bermula saat saya bergabung di salah satu unit kegiatan mahasiswa yang bergerak di bidang Pers beberapa tahun silam. Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM) Pers Universitas Hasanuddin namanya.

Sampai saat ini, kebiasaan baik ini masih saya jalani. Bagi saya, memiliki banyak buku punya feel tersendiri. Di samping dapat memicu gairah membaca, mengoleksi buku juga membuat saya merasa hidup. Meski belum terkategori sebagai pembaca yang ulung, atau banyak pembaca mengistilahkannya “pemakan buku”, saya tetap merasa “kenyang” hanya dengan melihat jejeran koleksi buku yang ¼-nya sudah kusam oleh ulah pensil, stabilo, jari dan mata saya.

Kolektor, pembaca, lalu menjadi penulis. Sejak awal, saya ingin mengoleksinya, memandangnya sampai bosan, lanjut membacanya, kemudian menuliskan inti sarinya. Ini yang mendasari adigium yang selalu saya ucapkan pada teman diskusi gazebo fakultas saat kuliah dulu. Bahwa jika membaca adalah cahaya, maka menulis adalah prismanya. Kedua aktivitas itu akan mengabadikan pelangi.

Di samping itu, bagi saya, ada hal terselubung lain di balik alasan-alasan sederhana di atas dalam mengoleksi buku. Seorang mahasiswa aktif, menikmati kopi dan diskusi di seperempat malam adalah aktivitas lumrah. Penyakit laten mahasiswa di luar maag adalah imsomnia. Tidak jarang penyakit ini terbawa sampai kita jauh tahun menyelesaikan kuliah. Bukulah yang menyelamatkan saya.

Obat Tidur Itu Disebut Buku
Beberapa tahun semenjak didaulat bergelar sarjana hukum, kebiasaan tidur setelah azan subuh berkumandang masih saja terus “terpelihara”. Ritus kehidupan seperti ini tentu sangat tidak baik, bukan hanya untuk kesehatan, tetapi juga untuk kehidupan sosial. Tidak jarang kita ketinggalan menikmati manisnya interaksi pagi saat mood kebanyakan orang sedang hangat-hangatnya.

Hingga pada suatu kesempatan saya menemukan penawar menarik yang selama ini berserakan di sekitar. Book, ya… buku yang menarik perhatian di sela-sela upaya saya memejamkan mata.
Ada kebiasaan lain yang selalu saya lakukan saat ingin membaca sebuah buku, yang ini mungkin tidak dilakukan oleh mereka para “pemakan buku”. Pola membaca saya terstruktur, ini disebabkan kemampuan terbatas saya dalam menganalisa isi bacaan dan konten tulisan yang akan saya buat.

Jika saya mulai membaca buku berlabel sosial, maka dalam seminggu sampai saya menamatkan tulisan yang berbau sosial, buku bacaannya berkutat seputaran teori sosial. Begitu pula jika saya membaca buku berlabel lain. Begitu seterusnya, dengan asumsi; ketika duduk membaca, maka niatan membaca sudah tertancap dalam. Tidak ada aktivitas lain. Ini sedikit kaku bagi mereka yang terbiasa membaca dan dapat membaca kapan dan di mana saja mereka mau.

Pada suatu waktu luang yang tidak ada agenda membaca, saya memerhatikan susunan koleksi buku sembari mengidentifikasi buku apa saja yang terpinjam dan belum dikembalikan. Maklum saja, saya lahir dan penganut garis keras konsep Prof. Achmad Ali, salah satu dosen yang selalu mengatakan, “Hanya orang bodoh yang meminjamkan buku, tetapi lebih bodoh lagi mereka yang meminjam dan mengembalikannya.”

Untuk urusan ini, saya kadang menjadi golongan “bodoh” demi upaya membumikan budaya membaca. Tetapi belum masuk dalam kelompok “lebih bodoh”. Ini bisa dipastikan bahwa buku yang saya pinjam selalu berhasil saya kembalikan, meski dengan perasaan berkecamuk dirundu dilema. 

***
Di sela hitungan dan (masih) dalam kondisi mengidap penyakit insomnia, tiba-tiba mata berat untuk berkedip. Semakin memerhatikan judul-judul buku, mata semakin sayu dengan rasa kantuk menghampiri. Benar saja, saya tertidur beberapa menit setelahnya, dan terbangun beberapa menit saat azan subuh telah dikumandangkan.

Insiden ini tidak mendapat perhatian lebih. Hanya saja, berhasil membuat saya penasaran.
Hingga malam selanjutnya saya kembali mengidentifikasi koleksi saya, meski dengan kesadaran penuh bahwa belum ada buku yang dikembalikan sejak terakhir kali saya berhitung. Dan berhasil, saya kembali terlelap. Kini Insomnia itu terobati dan koleksi buku adalah obatnya.

La Said Sabiq
*Tulisan ini telah diterbitkan di laman Online Qureta.com
Share:

Selasa, 15 Mei 2018

Mitdasein; Hadir Bersama Dalam Keadaan Bermakna

Foto: Harian Bhirawa Online

Jacque Derrida (1930-2004); dalam filsafat Dekonstruksi-nya mengatakan, bahwa tidak ada makna yang stabil dalam setiap teks. Teks hadir dalam modenya, terpisah, bahkan (dalam pandangan ekstrim) dengan penulisnya sendiri.

Manusia membangun hubungan formasi makna secara spontan, ini lahiriah adanya. Tidak heran jika banyak -secara spontan- membangun tafsir pada fenomena. Sayangnya kadang mengeliminasi nomena, yang berujung pada nilai subjektif. Pun pada sebuah teks, kita banyak menerapkan konsep yang sama. Tulisan ini mengerucut pada beberapa status saya yang –secara spontan- dimaknai oleh sahabat facebook.
***
Begini, tindakan/reaksi berlebihan kepada terorisme itu justru merupakan ancaman yang lebih berbahaya ketimbang para teroris itu sendiri. Sebab, itulah tujuan awal konspirasinya, membangun rasa takut, panik, gaduh dan candu.

Membangun opini publik; bahwa kita memiliki semua pemikiran, berdiri pada sisi yang sama dan bersama adalah konsep yang pernah diterapkan Amerika dalam sebuah konspirasi melawan para “pandir” demokrasi Uni Soviet. Gambaran sederhananya, setiap entitas yang mencoba mempertanyakan makna demokrasi, dibuat seolah menjadi musuh bersama yang harus ditumpas segerah. Konsep ini juga diterapkan dalam stategi militernya, bahwa menumpas gerakan radikalime (terorisme) di Timur Tengah adalah upaya untuk menyelamatkan dunia, tindakan heroik nan filantropi. Setidaknya begitulah pemikiran (bersama) sebagian warganya. Hasilnya, tindakan itu di-aminkan oleh banyak pihak.

Kita tergiring untuk bersepakat, memiliki musuh bersama yang harus dimusnahkan segerah. Efeknya, tidak jarang kita mendahulukan ‘naluri’ ini lalu berakhir mengenyampingkan analisis logic. Subjektiflah kita. Tidak mencerahkan, malah semakin besarlah rasa takut, panik, gaduh dan candu itu. Sampai disini, mode penolakan relevan untuk ada.

Menolak, bukan menolak untuk mengatakan terorisme adalah musuh bersama, bukan. Bagaimanapun, tidak ada kalimat yang bisa mengilustrasikan kebiadaban tidakan terorisme, tetapi menolak untuk ikut larut dalam kepanikan dan kegaduhan yang ditimbulkannya. Ini penting bagi kita guna menentukan keputusan-keputusan yang akan diterapkan. Bagiamanapun juga, kehidupan bernegara harus tetap berlanjut, masih banyak persoalan yang harus diselesaikan. Bisa jadi, radikalisme lahir dari lebarnya gap atau ketimpangan kehidupan social yang gagal dievaluasi oleh Negara. Bisa jadi, siapa tahu.

Pun dalam kebiasaan kita mengonsumsi informasi yang dihadirkan oleh media. Barang yang satu ini memang memiliki andil yang sangat strategis dalam kehidupan sekarang. Tak jarang saya menemukan dialektika yang tidak sehat bermula hanya dari sebuah judul “norak” berita. Belum lagi jika kontennya berisi bualan para tokoh-tokoh bangsa yang kontrover-sial. Shit!! Cover both side is death brotha.

Seyogianya paradigma ini dapat diterapkan dengan baik dalam konsep Mitdasein ala Martin Heidegger (1989-1976), hadir bersama dalam keadaan bermakna. fenomena dihayati bersama secara mendalam untuk membuat terang persoalan. Bukan malah larut dalam kegaduhan yang ditimbulkannya.
***
Ini kita belum bicara soal kejanggalan dan nomena dari fenomenanya loh, karena setiap kita, berdiri pada kepentingan (terselubung) yang berbeda. Dan -kabar buruknya- saya bisa membuat anda membantu saya mencapai kepentingan pribadi, hanya dengan memposisikan anda pada pemikiran saya. Kita punya pemikiran dan berdiri pada konsep yang sama, mari wujudkan (mau?; mengerikan bukan!?).

Karena sejatinya, keberadaan tulisan bukan untuk menyembunyikan makna, ia ada untuk menyampaikan makna yang tersembunyi. Salam.

ID Official.
Makassar, 16 Mei 2018
Share: