Kamis, 12 April 2018
Kamis, 05 April 2018
Cermin (?)
Senin, 02 April 2018
PKN; Riwayatmu Kini
Disaat orang-orang cerdas enggan mengulurkan tangan untuk menjabat para pencari suaka kesejahteraan dan keadilan, orang-orang dungu sibuk menebar fitnah dan kebencian. Lalu siapa yang akan bersorak kegirangan?
Kita melupa bukan karena usia, ini uniknya manusia, piawai dalam perihal pura mengingat. Pesan antisipatif tercermin menjadi ancaman, kritik dibalas dengan intimidasi. Sara, ras, agama, menjadi bahan ajar pokok dalam cyber war curriculum, kita pura lupa pada hal pokok.
"Perhatikan wilayahmu, jangan perhatikan pimpinan wilayahmu".
Terus terngiang ingatan bangga pada sebuah negeri yang digaungkan para pendidik dalam kamus matapelajaran PKN; kita adalah negara besar, negara yang bersuku, bangsa, ras, agama dan bahasa, bersatu kokoh dalam cengkraman sang garuda, Nusantara.
Santun, ramah, gotong-royong, toleran, itu makanan pokok negara besar ini. Bangkit dalam perjalanan panjang sejarah yang cukup kelam, merangkak perlahan menuju cita para pendiri bangsa, (masih) dalam nuansa jati dirinya sebagai bangsa yang asyik dibaca dalam buku PKN, Nusantara.
"Kita punya ciri khas, kita adalah kita, kita memiliki prinsip bernegara yang konsisten" kata Bung Hatta. Masih kah kita? Atau kita yang hari ini masih terlalu dini untuk menanggalkan kemafhuman kita pada seragam "Tenggangrasa, Tanggungjawab, dan Toleransi". Mari bersama belajar PKN kelas 3 SD kembali.
___________
Pendidikan Kewarganegaraan [PKN], riwayatmu kini.
Minggu, 01 April 2018
Jalan Politik Para Pendaki
Para pendaki paham sinergitas lebih intim dari yang lain, mereka memang menggunakan energi, tetapi terserap dalam sinergi yang apik, itu mengapa solidaritas mengalir seperti darah bagi mereka.
Melebur sifat ego adalah hal sederhana, terbiasa memandang sendal/sepatu (bawahan) sebagai sesuatu yang sangat berjasa, pun tidak melupakan topi (atasan) sebagai sesuatu yang harus tetap ditempatkan di atas.
Bagi mereka, ekosistem lebih hebat dari ekonomi. Logika ekologi lebih membangun dari logika-logika pembangunan lainnya. Cara berpolitik mereka lebih menjanjikan "the good way" untuk memaknai hidup. Maka tidak berlebihan jika Henry Dunant berkata "Selama sebuah negara tidak kehabisan para pecinta alam, maka negara tersebut tidak akan pernah kekurangan pemimpin".
Mereka yang bersahabat dengan alam, telah "selesai" dengan dirinya, bagiku, itu adalah sebaik baik pemimpin. Adalah benar bahwa alam hadir untuk mengakomodir kebutuhan, tetapi kita terkadang lupa dimana harus menempatkan topi/sepatu.
Mengompromikan kebutuhan boleh saja, asal tidak mencederai kebutuhan. Karena orang yang telah "selesai" dengan dirinya, paham apa yang akan dilakukannya.