Kamis, 12 April 2018

Konsep Teologi dan Standar Ganda

Konsep teologi kita hari ini seperti sudah di-set up dalam kerangka teologi eksklusif, menganggap bahwa kebenaran dan keselamatan suatu agama, menjadi monopoli agama tertentu. Sementara pada agama lain, kita kadang menerapkan standar yang sama sekali berbeda. Dengan menggunakan cara pandang agamanya (eksklusif), menilai agama lain tanpa menyisahkan ruang toleransi untuk berempati, apalagi simpatik.

Jika konsep ini dibawah dalam ranah epistemologi, tafsirnya akan absurd, karena dalam logika kebenaran, masing-masing agama akan menyodorkan proposal "claim kebenaran". Bayangkan, akan betapa rancunya standar masing-masing. Klaim seperti ini sudah bersifat latent dan terkadang juga manisfest lanjut terekspresi keluar, sehingga (berpotensi) mengakibatkan pertentangan bahkan perang. Fenomena ini disebut oleh Hugh Goddard sebagai Double Standards. Kondisi ini seharusnya sudah hangus jauh dibeberapa abad silam.

Perhatikan, Cyber War yang belakangan marak terjadi, hanya berisi konten suku, ras(a) dan agama. Jika diperhatikan dengan seksama, persoalannya adalah penerapan standar ganda yang eksklusif, hingga berimbas pada Intoleran. 

Hal yang melegahkan menurut saya bahwa, situasi ini hanya terjadi momentuman, ketika ritus prosesi demokrasi. Asumsinya sederhana, ini adalah pola politisasi, bukan berangkat dari ketidakpahaman atau kerangka teologi yang cacat. Semoga setelah perhelatan, semuanya akan normal (cerdas) kembali. Karena jika tidak, Fiksi di tahun 2030 akan teraktual.
Share:

Kamis, 05 April 2018

Cermin (?)

Kesadaran bawaan terkadang manipulatif, jika tidak ingin mengatakan dimanipulasi.

Semua hal berawal dari sana, tapi kita pura tak sadar bahwa akan berakhir di sana suatu saat. Soal bagaimana tersadar, ada cara lain selain menyadari, memulai.

Memulai, memulainya dengan kondisi kepuraan bahwa suatu saat akan berakhir." Terserah, apakah itu manipulatif atau dimanipulasi. Poin dari semuanya adalah pembelajaran. Tentang bagaimana belajar mengelola kesadaran, menerima, mengikhlas, dan begaimana belajar mempelajari.  Siklus ini gambaran sederhana akan "kesadaran bawaan". Apakah itu manipulasi, bukan, itu manipulatif.

Baik dan buruk adalah presepsi, ini soal intensitas. Intensitas nampak dan berangkat dari perangkat epistem, semakin kuat; semakin nampak, semakin lemah; semakin absurd. Itu mengapa kita harus melibatkan akal dalam setiap penarikan kesimpulan, tidak melulu rasa yang manipulatif (jika tidak ingin mengatakan dimanipulasi).

Sungguh, berprinsip hanya dimiliki orang-orang sukses, sedang yang plin-plan hanya milik mereka yang "pura ingin" sukses. Lantas, dimana posisimu?

Kemarin jumat, 29 september 2017, hari ini sabtu. Bukan jumat dengan tanggal yang sama. Ini gambaran sederhana bahwa semuanya akan berakhir seperti jumat pagi kemarin. "Berakhir" apakah itu manipulatif atau dimanipulasi tidak menjadi soal. Jadi, kita tak butuh jawaban. Mari memulai, Bismillahirahmanirahim...
Share:

Senin, 02 April 2018

PKN; Riwayatmu Kini

Disaat orang-orang cerdas enggan mengulurkan tangan untuk menjabat para pencari suaka kesejahteraan dan keadilan, orang-orang dungu sibuk menebar fitnah dan kebencian. Lalu siapa yang akan bersorak kegirangan?

Kita melupa bukan karena usia, ini uniknya manusia, piawai dalam perihal pura mengingat. Pesan antisipatif tercermin menjadi ancaman, kritik dibalas dengan intimidasi. Sara, ras, agama, menjadi bahan ajar pokok dalam cyber war curriculum, kita pura lupa pada hal pokok.

"Perhatikan wilayahmu, jangan perhatikan pimpinan wilayahmu".

Terus terngiang ingatan bangga pada sebuah negeri yang digaungkan para pendidik dalam kamus matapelajaran PKN; kita adalah negara besar, negara yang bersuku, bangsa, ras, agama dan bahasa, bersatu kokoh dalam cengkraman sang garuda, Nusantara.

Santun, ramah, gotong-royong, toleran, itu makanan pokok negara besar ini. Bangkit dalam perjalanan panjang sejarah yang cukup kelam, merangkak perlahan menuju cita para pendiri bangsa, (masih) dalam nuansa jati dirinya sebagai bangsa yang asyik dibaca dalam buku PKN, Nusantara.

"Kita punya ciri khas, kita adalah kita, kita memiliki prinsip bernegara yang konsisten" kata Bung Hatta. Masih kah kita? Atau kita yang hari ini masih terlalu dini untuk menanggalkan kemafhuman kita pada seragam "Tenggangrasa, Tanggungjawab, dan Toleransi". Mari bersama belajar PKN kelas 3 SD kembali.
___________
Pendidikan Kewarganegaraan [PKN], riwayatmu kini.

Share:

Minggu, 01 April 2018

Jalan Politik Para Pendaki

Para pendaki paham sinergitas lebih intim dari yang lain, mereka memang menggunakan energi, tetapi terserap dalam sinergi yang apik, itu mengapa solidaritas mengalir seperti darah bagi mereka.

Melebur sifat ego adalah hal sederhana, terbiasa memandang sendal/sepatu (bawahan) sebagai sesuatu yang sangat berjasa, pun tidak melupakan topi (atasan) sebagai sesuatu yang harus tetap ditempatkan di atas.

Bagi mereka, ekosistem lebih hebat dari ekonomi. Logika ekologi lebih membangun dari logika-logika pembangunan lainnya. Cara berpolitik mereka lebih menjanjikan "the good way" untuk memaknai hidup. Maka tidak berlebihan jika Henry Dunant berkata "Selama sebuah negara tidak kehabisan para pecinta alam, maka negara tersebut tidak akan pernah kekurangan pemimpin".

Mereka yang bersahabat dengan alam, telah "selesai" dengan dirinya, bagiku, itu adalah sebaik baik pemimpin. Adalah benar bahwa alam hadir untuk mengakomodir kebutuhan, tetapi kita terkadang lupa dimana harus menempatkan topi/sepatu.

Mengompromikan kebutuhan boleh saja, asal tidak mencederai kebutuhan. Karena orang yang telah "selesai" dengan dirinya, paham apa yang akan dilakukannya.

Share: