Perkembangan
peradaban dunia telah menyentuh pelbagai dimensi kehidupan. Kemajuan teknologi,
kebebasan akses informasi, dan terus bertambah pesatnya kebutuhan hidup adalah
contoh konkrit dari efek perkembangan peradaban. Dengan tidak menjustifikasi,
prosesnya berunsur kontinue, merangkak, berdiri, lalu laju berlari menggilas
semua.
Peradaban
menjilat segala relasi kemanusiaan, dan terus bergerak progresif. Itu mengapa
gambaran setiap peradaban punya tokoh, punya filsuf-nya masing-masing. Mereka
memiliki atau mencipta panggungnya, merangkak, lalu lari berdiri
menyesuaikan dengan peradaban. Ini penting, untuk bertahan hidup.
***
Apa
yang pernah tiada kemudian ada, lalu kembali tiada, untuk menemui kehilangan.
Lalu kemudian kembali ada dan bertemu hilang, hilang. (Ahmad Sahide, Novel:
Hilang)
Andalusia,
Persia, Yunani, German, Belanda, Uni Soviet, Turky, Ect.
Al-Farabi,
Ibnu Sina, Al-Gazali, Taqim Misthbah, Mulla Sadra, Baqir Al-Shadr, Said Nurs, Socrates,
Plato, Aristo, Che, Martin Haidegger, Sachiko Murata, Francis Fukuyama,
Rabindranath Tagore, Kelsen, Marx, Lenin, Weber, Imanuel Kant, Ect.
Tidak
merasa bosan? Mereka (ect) adalah ada yang telah bertemu hilang, Hilang.
Kepada
siapa generasi kita harus melepas dahaga, akan dikemanakan hasrat yang begitu
menggebuh, bukankah kita sedang berhadapan dengan sang-peradaban? Kita
kehilangan pemikir ditengah gegap gempitanya jaring-jaring informasi. Kita
kewalahan menemukan peneliti yang risau, yang ada hanya penyampai informasi
yang menghafal mati Phrase “Izin Share!”. Apakah kita telah kalah?
Alhasil, dialektikanya defisit, kualitas anti-tesanya gaduh, sintesanya berantakan.
Peradaban
Entitas
terluas dari seluruh hasil budidaya manusia, melaju berangsur tetapi niscaya
dan pasti. Begitulah gambaran peradaban, setiap langkahnya melahirkan ironi
bagi kemanusiaan itu sendiri. Kita manusialah yang menciptakannya, mengajarinya
berdiri dan membimbingnya berjalan lalu lari meninggalkan kita. Ironi.
Menjadi
penting mempertanyakan tokoh, filsuf, maupun Imam. Mereka
(seharusnya) hadir sebagai padanan dari media dan perangkat digitalis yang
dibawa serta oleh peradaban. Mereka penawar ampuh, anti-tesa murni yang bisa menggulati tesanya menuju kualitas sintesa
layak cerna.
Tidak
etis mengutuk Sho Hoe Gie yang mati muda tanpa melahirkan kader. Pun Sukarno,
Hatta, Syahrir atau bahkan Tan, gagal menjaga garis ideologi pada
keturunan biologis maupun ideologisnya. Tanpa buku, semangat Sukarno tidak akan bertahan sampai
saat ini.Ideologinya terjaga dan diciptakan, berangsur dari konsumsi indra dan akal,
bukan aliran ideologi yang mengakar.
Oleh karena hadir dan terbuka luasnya
tafsir yang bisa dihasilkan dari teks, mengharuskan kita menayakan setiap
aliran “darah-ideologi” dari bacaan-bacaan kita. Ini cukup berbeda dengan
transformasi pengetahuan antara Hegel ke Marx, Marx ke Lenin. Atau tiga serangkai
yunani klasik sekelas Socrates, Plato, dan Aristoteles, yang melewati dialektikanya tak berantara.
Kita
kewalahan, tahu “sebab masalah” dalam keadaan sadar tidak bisa berbuat banyak.
Miris. Silahkan chek, berapa banyak dari teman jagat maya kita yang sudah pernah
menghabiskan satu buku karya Bang Darwis. Lalu bandingkan, seberapa sering
mereka mendengar quote romantis dari si Tere Liye. Tidak kenal Darwis? Silahkan
hubungi Tere Liye dengan caption “Izin
Share!”.
Atau
sudah berapa warung kopi yang menjadi saksi bisu akan bualan kita perkara
adigium atau quote para pemikir yang telah bertemu hilang tanpa sempat berjumpa
kita. Mengakarkah ideologi mereka pada kita? Berhasilkah kita meningkatkan
kualitas tesa menjadi sintesa yang layak pakai? Dimana posisi
kita yang katanya sedang berhadapan dengan peradaban. Ini perkara rumit yang
meresahkan. Apakah kita telah kalah?
Izin Share; Dalam Minat Baca Vs Hasrat Membaca
Beberapa saat lalu berseliweran tulisan
di beberapa media, website dan portal berita online tentang reaksi pro dan
kontra akan pernyataan salah satu tokoh nasional yang
mencemaskan bubarnya Indonesia di tahun 2030; disadur dari buku Ghost Fleet karya P. W. Singer dan August Cole.
Perkara ini terus melebar bahkan
menjadi salah satu konten Cyber War beberapa
pekan. Apa yang menarik bahwa,
sebagian penulis yang pernah saya dapatkan komentarnya tentang ini, bisa
dipastikan belum pernah membaca bukunya. Kondisi ini diperparah dengan jumlah “Izin Share” dari para pemilik minat baca
(tapi) tak berhasrat yang membuat suasana semakin gaduh tak beralasan.
Kita memiliki minat untuk membaca, tapi kita tidak
menghasratinya. Quote menarik, terbaca, terpahami dan terbagi. Begitu juga
adigium, selalu menjadi bumbu paling keren dalam setiap realitas bahasa yang
kita gunakan. Itu berlaku jika baris tulisannya tidak lebih dari 3 (tiga)
paragraf, selebihnya scroll dan
berakhir pada phrase “Izin Share”.
Perkara lain yang tidak kalah menggemaskan adalah warganet
yang hanya bermodal judul berita. Tidak jarang, perseturuan jagat maya bermula
hanya dari persoalan judul berita kontroversial yang bahkan kontennya tidak
menggambarkan perkara judul yang diangkat. Sekali lagi, bermodal Izin Share dibumbuhi dengan caption
menggelikan, dilempar ditengah gelanggang jagat maya tanpa membaca atau
menelisik lebih jauh kebenaran informasi yang ada. Kita sama sekali tidak
memiliki hasrat untuk membaca. Kita kalah!
***
Cukup literatif apa yang telah dilakukan oleh Muhammad
Heychael, salah satu kontributor website Remotivi.co dan Dahlan Dahi selaku pimpinan
redaksi tribunnews.com, perang pena antara keduanya berakhir pada meja diskusi
yang dipertemukan oleh Serikat Pekerja Media dan
Industri Kreatif untuk Demokrasi (SINDIKASI), di Studio Sang Akar Jalan Tebet, Jakarta Selatan, Selasa, 29
Mei 2018 lalu.
Saling-silang pendapat antara Remotivi dan
Tribunnews beberapa waktu lalu mencerminkan peliknya perdebatan. Pada 22 Mei
2018, Remotivi menerbitkan esai panjang dari Muhamad Heychael yang berjudul Bagaimana Tribunnews Membantu Terorisme.
Esai tersebut memaparkan bagaimana Tribunnews kebablasan menjalankan fungsinya
sebagai bisnis dengan mengutamakan artikel-artikel umpan klik yang tidak
substansial dan berdasarkan opini narasumber yang seringnya tidak relevan,
sehingga justru memberi wadah bagi para pelaku teror untuk menyebarkan pesan
dan ketakutan. Sehari kemudian, Tribunnews merespon melalui artikel Dahlan
Dahi, pemimpin redaksi, dengan judul Analisa
Muhammad Heychael Soal Tribunnews Cenderung Tendensius, Kasar, dan Tidak Fair.
Balas membalas tulisan ini berlanjut dengan tangggapan Muhammad Heychael pada branda facebooknya terkait
dengan tulisan pimpinan redaksi tersebut. Hingga akhirnya, dialektika ini
berakhir pada meja diskusi untuk menyamakan presepsi. Literatif.
Bagi
saya, ini adalah salah satu upaya kita mentaktisi kekosongan “ketokohan” kita guna melawan peradaban.
Terus meningkatkan intensitas baca, tulis dan berakhir pada meja diskusi yang
romantis. Pasca Rocky gerung, dan Yusril Ihza Mahendra, bagi saya apa yang
mereka berdua; Muhammad Heychael &
Dahlan Dahi lakukan adalah budaya yang sangat literatif untuk memicu minat dan
hasrat membaca sebelum Izin Share.
Salam.
Izin Share!