Senin, 17 November 2014

Keserakahan Intelektual

Guyonan basi yang sering kita dengar tentang hidup adalah bahwa hidup itu adalah pilihan. Saya menghargai setiap pilihan dan mengapresiasi mereka yang terus memilih dalam setiap pilihan. Sepertinya ini tidak terlalu penting, tapi ahh… efek kebebasan berpendapat membebani, seakan ada dorongan structural untuk melakukan ini sebagai ganti dosa sejarah yang terlewatkan.

Ketika pilihan utama (tidak emuaskan) memaksa kita melakukan pilihan alternatif, seketika kita kesusahan memposisikan diri sebagai apa. Akhirnya alasan yang ‘benar’ sekaligus ‘pembenar’ menjadi argumentasi mereka-mereka yang mampu. Yah… argumentasi mereka-mereka yang mampu merangkai retorika cantik nan menyakinkan yang kadang dilabeli dengan istilah intelek. Maniss…

Saya akan mulai mempertanyakan independensi setiap pilihan para cendikia (intelektual) yang terjebak pada dua pilihan (alternatif-utama). Anggaplah’ Ketika seorang Profesor/pengajar/ dosen masuk dalam dunia politik sambil mengajar, ditambah lagi dunia bisnis, belum lagi karier lain yang sejenis, kira-kira pilihan mana yang akan membuat keputusannya bernilai objektif? Atau setidak-tidaknya bagaimana mereka akan memposisikan diri untuk memaknai setiap kondisi yang serba mix ini? Kita akan berkicau, berceloteh bahwa ini adalah erahnya kebebasan. Tidak terlewatkan, istilah klasik yang kerap digunakan: tunjangan, gaji atau penghargaan pada gelarnya oleh Negara tidak begitu memadai atau setidak-tidaknya layak. ‘Layak’ disini memang jadi ekspresi social yang plastis. Agh sudahlaa… kita memang serakah, sifat yang dipoles dengan istilah cantik bertajub Intelektual !!

Hal lain yang tidak kalah parah, ketika orang-orang yang tidak termaksud dalam golongan mereka melakukan hal yang sama, cacian, serbuan, dengkian, sampai pada fitnah, menghujam dengan tajamnya. Anda seakan tidak punya kesempatan, jangankan membuat alasan pembenar, mengungkapkan alasan yang benar saja anda akan tetap dikecam habis-habisan, jadi soal hidup bahwa itu adalah pilihan sebenarnya hanya untuk mereka-mereka yang serakah dan berlindung dibalik gelar-gelar intelektual mereka. Kasiahan !! Konkritnya, ketika orang yang disebut Dosen tidak mengisi kewajibannya untuk mengajar dengan alasan proyek sana-sini, angin akan berhembus sepoi-sepoi seperti kegiatan mekanis yang akan me-restar semua kondisi, tetapi jika badai topan mengamuk, itu hanya sedikit pertanda ketika mahasiswanya tidak sempat masuk kuliah karena alasan yang begitu kompleks. Masih ada pertanda yang lebih DAHSYAT !!

Ketika para mahasiswa melakukan tindakan yang ‘katanya’ melanggar dan tidak sesuai dengan norma-norma hukum (yang dirangkai sedemikian rupa), jangan bermimpi untuk kesempatan menikmati angin sepoi-sepoi, anda akan dikecam, dihujat, dicaci dan dimaki dengan cara yang sedikit berbeda dari seorang yang katanya orang tua dalam institusi yang juga katanya mencerdaskan ini. Iya, karena akan tidak etis ketika kita mengomentari atau menghujat orang tua yang sedang melakukan kesalahan. Alasan pembenarnya, “Kita ambil hikmahnya, ini adalah cobaan, mari tafakur dan merenung diri, ini cara Tuhan kita menegur”. Kebebasan itu memang (hanya) milik mereka. Serakah !!

Sejarah konon memberikan pelajaran yang begitu banyak, tapi tindakan dan ekspresi kita akan kebebasan ini sama sekali tidak mencerminkan itu. Apakah kita begitu serakahnya men-justifikasi diri dalam semua hal?. Selamat pagi !!

La Said Sabiq—LSS
Makassar, 17 November 2014; 09.11 Wita
Presidium ARAK (Aliansi Rakyat Anti Korupsi) RAHA
Share:

0 komentar:

Posting Komentar