Berbineka; Mitdasein, hadir bersama dalam keadaan bermakna.
—————
Pemaknaan fenomena banyak bergantung pada subjek yang meng-objek-i, nilai ini diselimuti aura subjektif yang cukup akut. Banyak faktor yang menjadi tersangka tentu, sedangkal pahaman saya, sebagian makna (kadang) tereduksi di-sesuai-kan dengan pranata, tatanan, kaidah, value lingkungan di mana sang pemberi makna tumbuh. "Locus" memiliki andil yang cukup sentral.
Disisi lain, secara filosofis pembacaan fenomena (tanpa nomena) lahiriah adanya, Manusia membangun hubungan formasi makna secara spontan, Ayyatullah M. T. Taqim Misbah kemudian memaknainya, bahwa hal itu adalah kodrati adanya.
Hubungan formasi ini familiar kita temukan dalam prinsip fenomenologi ala Husserlian,_ Itensi, Empati dan Asosiasi, atau setidak tidaknya dalam konsep Teologi Negatif Ibn 'Arabi.
Dalam konsep definisi, Asosiasi adalah bentuk asali dari sosialitas yg merupakan sifat dan hasrat manusia. dengan berasosiasi, manusia mencoba membangun hubungan intersubjektif untuk meretas fenomena. Dalam fase awal ini, hubungannya murni tak terkontaminasi oleh faktor. Ibaratnya "Dia menemukan makna dalam hubungan".
Pranata, norma, kaidah kemudian hadir membentuk partisi dalam pemaknaan, nilai fenomena kemudian tereduksi dari nilai yang sengaja dicipta dalam subjektifitas pemilik pranata. Akibatnya asosiasi murni berubah menjadi Sosialitas fiksionil yang tidak lagi asali yang kita biasa menyebutnya dengan istilah institusi.
Posisi institusi kemudian mengambail alih secarah menyeluruh, segala pranata, norma dan nilai, dikonsepsi sesuai dengan jalan falsafah Institusi, benar dan salah tidak lagi menjadi soal, yang terpenting bahwa; bagaimana segala norma dan pranata bisa menjaga kekokohan Institusi. Dalam kondisi ini, akan lahir kosekuensi bahwa "Segala tafsir fenomena yang tidak sejalan/mendukung Institusi, akan disingkirkan dalam sekejab".
Akhirnya, secara sederhana saya ingin mengatakan bahwa, makna Bhineka hari ini adalah hasil konstruksi Institusi yang tidak lagi asali. Hal ini diupayakan tidak lain adalah untuk keragaman pahaman dan pemaknaan kita terhadap Berbhineka. Lantas, apakah ini bisa kita sebut sebagai kebhinekaan?? Atau hanya "tafsir kebhinekaan".
Bahwa; cerita tentang bulan, bukanlah bulan itu sendiri, bisa jadi, tafsir tentang kebhinekaan bukanlah kebinekaan itu sendiri. Tafsir harus hadir bersama dalam pemaknaannya, tafsir mitdesain.
La Said Sabiq
Makassar, 19 Mei 2017