Sabtu, 15 November 2014

10 Nov 2014 -- 'Hari Pahlawan'

Sumber: Pertamax7.com

10-11-45 Dalam Sejarah

Pilihan itu harga mati !
Ketika Jepang menyerah terhadap sekutu karena jatuhnya bom atom di 2 wilayah stategis yang dimiliki jepang, sekutu kemudian mencoba menggantikan kembali Jepang untuk mencoba melakukan aktifitas penjajahannya secara licik nan pasif. Tetapi kemerdekaan Negara Indonesia yang sudah dideklarasikan menjadi salah satu hal yang sangat dan layak untuk terus dipertahankan. Perjuangan mempertahankan kemerdekaan terus terjadi, sampai pada puncak konflik disalah satu daerah di Nusantara ( Surabaya) yaitu terbunuhnya Brigadir Jenderal Mallaby, pimpinan tentara Inggris untuk wilayah Jawa Timur pada tanggal 30 Oktober. Membuat pemerintah inggris mengeluarkan ultimatum yang mengatakan: bahwa semua pimpinan dan orang Indonesia yang bersenjata harus melapor dan meletakkan senjatanya ditempat yang ditentukan dan menyerahkan diri dengan mengangkat tangan di atas. Batas ultimatum adalah jam 6 pagi tanggal 10 November 1945.

Ditolaknya ultimatum ini adalah harga mati. Kemerdekaan telah ditangan rakyat, kebebasan dari perlakuan yang tidak manusiawi dan sewenang-wenang telah menemui ajalnya, dan jelas dari berbagai kalangan rakyat Indonesia memilih reaksi yang sama. Pada tanggal 10 November pagi, tentara Inggris mulai melancarkan serangan besar-besaran yang dahsyat, dengan mengerahkan sekitar 30.000 serdadu, 50 pesawat terbang dan sejumlah besar kapal perang. Berbagai bagian kota Surabaya dihujani bom, ditembaki secara membabi-buta dengan meriam dari laut dan darat. Ribuan penduduk menjadi korban, banyak yang meninggal dan lebih banyak lagi yang luka-luka. Tetapi, perlawanan pejuang-pejuang juga berkobar di seluruh kota, dengan bantuan yang aktif dari penduduk. Perlawanan segenap penduduk Nusantara bertahan lebih lama dari dugaan pihak Inggris, perlawanan yang hanya mengunakan perlengkapan perang seadanya mampu menahan pasukan lawan (inggris) yang memiliki perlengkapan perang yang super komplit dizamannya. Meskipun pada akhirnya kota takluk pada Inggris sepenuhnya.

10-11-45 Dalam Perspektif

Peralatan seadanya membuat para pendahulu kita tidak dapat menunda kekalahan lebih lama. Perjuangan panjang yang menguras tenaga, jiwa dan materi harus ditangisi dengan reruntuhan kota yang menuai kekalahan. Gambaran yang sangat layak untuk diapresiasi menjadi sebuah peristiwa besar yang harus terus dikenang agar menjadi sebuah pelajaran berarti untuk generasi Nusantara selanjutnya.

Ada hal menarik yang dikemukakan oleh beberapa sejarahwan dan negarawan menanggapi peristiwa bersejarah ini, banyak diantara mereka berpendapat bahwa kebesaran Perang Surabaya yang kemudian dikukuhkan menjadi hari Pahlawan tersebut bukan semata karena banyaknya penduduk/pejuang kota yang meninggal saat pertempuran, atau gigihnya pejuang yang mampu menahan imbang para penjajah sampai waktu yang tak diduga oleh penjajah. Perjuangan saat itu lebih dari itu, perang itu telah menggugah kebersatuan Nusantara, perjuangan itu telah menggugah semangat patriotisme yang lintas-suku, lintas-agama, lintas-keturunan ras, dan lintas-aliran politik. Dengan semangat itu jugalah rakyat Indonesia kemudian meneruskan perjuangan antara tahun 1945 sampai 1949 melawan Belanda dalam agresi Militer setelah tentara Sekutu (Inggris) meninggalkan Indonesia. Sekali lagi titik fokus dari semuanya adalah kesadaran tentang kebersatuan dalam menghadapi penjajah.

Terawang Relevansi

Berlandas dari bebarapa pendapat para sejarahwan tentang beberapa alasan 10 November dikukuhkan sebagai Hari Pahlawan, saya ingin menelitik kondisi bangsa kekinian. Tidak terlalu radikal dan sistematis, hanya ingin menanggapi kondisi yang terjadi disekitar kita. Ketika Hari 10 Novermber berlalu begitu saja tanpa ada makna yang semestinya terjerat, ketika celotehan tentang Pluralitas menjadi kicauan semata, ketika persatuan dan kesatuan Nusantara hanya menjadi sesuatu yang tidak ubahnya potongan daun pohon kering yang tergeletak di jalan raya. bersatu dan berkumpul ketika jatuh dan terbang tercerah berai ketika dilewati oleh sesuatu. Masih segar dalam ingatan sederet kejadian yang menodai nuansa kebangsaan kita kekinian, pelanggaran HAM dan perang/bentrok Ras/Golongan, Agama (Peristiwa Monas 1 Juni 2008) yang masih saja sungkan dilakukan dalam janji pluralitas. Ada apa dengan bangsa ini, ada apa dengan generasi bangsa ini, barani berdiri dan berteriak lantang dengan suara yang secara terang tidak lagi sejalan dengan semangat perjuangan dan pengorbanan para pendahulu kita.

Ketimpangan ini semakin menjadi, entahlah faktor apa yang menjadi pelaku utamanya. Mungkin bisa dibilang krisis multi dimensi sedang melanda negeri, degradasi nilai-nilai kultural dalam masyarakat semakin masif terjadi, hingga tidak jarang dalam lingkungan sekitar, kita menemukan ketimpangan ketimpangan yang sudah dihapus dalam daftar dosa dan pelanggaran.

Ini bukan bentuk keputusasaan, anda, mereka dan semuanya memiliki cara yang lebih kreatif untuk memaknai hari-hari yang sengaja dibuat dan dihadirkan untuk menjadi seorang guruh buat kita untuk menjadi lebih baik dalam memaknai hidup dan kehidupan. Terus berkarya dalam nuansa nilai-nilai kemanusiaan akan menjaga kita terus menjadi pribadi yang setidaknya lebih baik dari kita yang sebelumnya. Sesungguhnya
"Ketika Kemarin Kita Mampu Melangkah Dua Langkah dan Hari Ini Kita Masih Tetap Mempertahankan Dua Langkah Kita Tersebut, Maka Pada Prinsipnya Kita Telah Ketinggalan Empat Langkah ".

#Secret MKM FH-UH : 03.57 WITA
Presidium ARAK (Aliansi Rakyat Anti Korupsi) RAHA


Share:

0 komentar:

Posting Komentar