Manusia dan segala atribut
yang melekat padanya menjadikannya sebagai makhluk sosial yang unik. Relasi
sosial yang terjadi membuat manusia menjadi semakin terlihat antik dengan
segala konsep yang dimilikinya dalam mengejewantahkan relasi yang ada. Konsekuensi
dari persamaan (Simbolik) dengan manusia lainnya menciptakan keragaman konsep
fisi/misi dan tujuan yang sangat menarik untuk sedikit diperbincangkan. Aku
bukan seorang yang sekaliber Max weber yang sedang berbicara tentang relasi
sosial yang begitu konprehensif dan universal, bukan pula seseorang perokok
aktif yang duduk termenung membangun konsep dan menganalisis masalah
kesenjangan relasi sosial Ala Karl Marx, atau seperti ayyatulah Mulla Sadra
yang mengakaji secara mendetail tentang Hakikat kemanusian hingga mampu
mendekati Maqam[1] yang tak
ber-Maqam (Nabi Muhammad SAW). ini hanya sedikit goresan tentang keresahan yang mungkin sedikit berlebihan dalam menanggapi
kondisi dan fenomena sosial yang ada disekitarku.
Kemajuan peradaban dan
kehidupan tentu akan berkorelasi dengan gaya hidup masyarakat, semestinya
sebagai sebuah konsekuensi dari globalisasi dan perkembangan ilmu pengetahuan
yang terus pesat akan memberikan pola paradigma berfikir yang juga semakin
modern, lantas bagaimana
dengan kondisi disekitar anda, atau bahkan dengan diri anda (tentu termasuk
penulis). Sejauhmana perkembangan peradaban memberikan efek terhadap paradigma
berfikir kita secara khusus, dan bagaimana dengan sosial pada umumnya ?? Dan sekali lagi bahwa hal ini mungkin akan sedikit
asyik untuk diperbincangkan.
Revolusi budaya tanpa
subjek adalah mustahil dan evolusi budaya subjek tanpa objek adalah Nihil (Dony
Gahral Adian – Percik Pemikiran kontemporer, 2007), Kurang lebih seperti itulah
gambaran tentang hubungan antara lingkungan/sosial dan manusia itu sendiri. Dewasa ini kita akan lebih sering dihadapkan pada
satu pemanandangan sosial yang
sedikit berbeda dari beberapa saat belakangan, halmana
sudah menjadi opini mayoritas sebagai akibat dari persamaan persepsi atas
perubahan sikap dan perilaku yang dipengaruhi oleh perkembangan peradaban. Hal
yang menjadi soal kemudian adalah apakah pemandangan itu memberikan dampak baik
bagi kehidupan sosial maupun individu atau malah sebaliknya, memberikan dampak
yang berimplikasi lansung pada pudarnya nilai-nilai kemanusiaan itu sendiri.
Perkembangan dunia yang semakin kapitalistik, membuat segalanya
ternilai hanya sebatas materi. Aspek apapun itu akan bernilai dan diakui oleh
khalayak jika memiliki nilai tukar dalam bentuk uang. Hingga akhirnya segalanya
dikonstruksi menjadi barang komoditi yang siap untuk dihempaskan ke pasar
bebas. Konsekuensi yang lain kemudian mencuak, hal apa saja yang menjadi
penghalang dalam upaya ini akan disingkirkan dengan cara apapun. Mencipta
bentuk baru yang serupa dengan kondisi sosial, membuat dunia seperti cermin
dengan kenyataan/kebudayaan yang ada, sebagai upaya untuk menyaingi eksistensi
sosial itu sendiri, yang dinilai dapat menghambat tumbuh dan berkembangnya
nilai-nilai kapitalistik tadi.
Budaya Sebagai Identitas.
Budaya merupakan identitas bagi keberadaan suatu komunitas sosial.
Secara kongkrit, beberapa daerah di Indonesia dikenal karena memiliki ciri
kebudayaan yang berbeda dengan daerah yang lainnya. Keberadaan budaya,
terjaganya nilai-nilai lokal dalam kemurniannya, secara lansung akan menjaga
nilai-nilai dalam kehidupan sosial masyarakat dan keberadaan kebudayaan itu
sendiri. Budaya sebagai unsur yang terbangun dari keberadaan masyarakat adalah
manifestasi sosial dalam bentuk yang abstrak, perilaku yang dilakukan
berulang-ulang kemudian menjadi kebiasaan, selanjutnya mendapat pengakuan
hingga akhirnya kebiasaan tersebut mengalami sakralisasi oleh norma dan kaidah
yang dibentuk dalam masyarakat itu sendiri.
Tentu selama kebudayaan tersebut tetap terjaga dalam masyarakat,
maka selama itu pula masyarakat tersebut akan dikenal dengan kebudayaan yang
dimilikinya. Secara kongkrit dalam realitas objektif, keberadaan masyarakat
akan tetap ada (jika tidak mengalami kepunahan atau pemusnahan massal) dalam
kondisi dan perubahan apapun, tetapi dalam realitas objektif konsep
keberadaan/identitas masyarakat tersebut bisa hilang/musnah ketika kita tidak
lagi menemukan hal yang dulunya mencirikan keberadaan mereka.
Budaya Sebagai Penjaga.
Perkembangan dunia dapat dianalogikan bagai “Sebuah mobil besar
melewati seluruh ruas jalan”, dimana Mobil adalah mesin perubahan dan ruas
jalan adalah dunia. Dimana segala aktifitas social terjadi dalam ruas jalan
tersebut. Melawan perubahan secara “kontradiktif” akan membuat kita berakhir
pada gilasan roda mobil tersebut, pilihan realistis adalah mengikuti
perkembangan tersebut. Konsekuensi dari perkembangan tersebut adalah masuknya
nilai-nilai baru dalam sendi kehidupan kita. Tentu kita juga tidak
menginginkan, perubahan tersebut membuat kita kehilangan identitas dan jati
diri.
Jika nilai yang ada tetap terjaga dalam murninya, maka segala “hal
baru” akan dinilai dengan sangat konprehensif dari berbagai aspek untuk
mendapatkan kesimpulan yang objektif. Tentu kita tidak menginginkan
adanya Status quo dalam realitas sosial tersebut, tetapi
menyikapi hal baru secara objektif dengan berlandas pada nilai budaya yang ada,
bisa menjadi pilihan yang sangat bijak. Bahwa faktas social yang menunjukan
masuknya berbagai nilai dari setiap belahan dunia, yang berpotensi untuk
memengaruhi setiap sendi kehidupan kultur tidak dapat dihindari. Maka hadapilah
!
Sekali lagi, Tentu kita juga tidak menginginkan, perubahan
tersebut membuat kita kehilangan identitas dan jati diri.
***
Akan tidak bernilai jika motifasi fundamental yang terbangun
diantara kita adalah menjaga nilai dengan jalan menutup diri terhadap perubahan
dan perkembangan (Status quo). Perubahan merupakan sesuatu yang niscaya,
jika hal tersebut tidak tersikapi sebagai mana mestinya, maka ketertinggalan
yang membawa kita pada kehancuran adalah muaranya.
Pondok
Irmayanti, 29 Mei 2013.
Pukul 23.43 Wita
[1] Tingkat Spritual yang paling tinggi

0 komentar:
Posting Komentar