Selasa, 22 April 2014

Budaya Dalam Globalisasi


Manusia dan segala atribut yang melekat padanya menjadikannya sebagai makhluk sosial yang unik. Relasi sosial yang terjadi membuat manusia menjadi semakin terlihat antik dengan segala konsep yang dimilikinya dalam mengejewantahkan relasi yang ada. Konsekuensi dari persamaan (Simbolik) dengan manusia lainnya menciptakan keragaman konsep fisi/misi dan tujuan yang sangat menarik untuk sedikit diperbincangkan. Aku bukan seorang yang sekaliber Max weber yang sedang berbicara tentang relasi sosial yang begitu konprehensif dan universal, bukan pula seseorang perokok aktif yang duduk termenung membangun konsep dan menganalisis masalah kesenjangan relasi sosial Ala Karl Marx, atau seperti ayyatulah Mulla Sadra yang mengakaji secara mendetail tentang Hakikat kemanusian hingga mampu mendekati Maqam[1] yang tak ber-Maqam (Nabi Muhammad SAW). ini hanya sedikit goresan tentang keresahan yang mungkin sedikit berlebihan dalam menanggapi kondisi dan fenomena sosial yang ada disekitarku.

Kemajuan peradaban dan kehidupan tentu akan berkorelasi dengan gaya hidup masyarakat, semestinya sebagai sebuah konsekuensi dari globalisasi dan perkembangan ilmu pengetahuan yang terus pesat akan memberikan pola paradigma berfikir yang juga semakin modern, lantas bagaimana dengan kondisi disekitar anda, atau bahkan dengan diri anda (tentu termasuk penulis). Sejauhmana perkembangan peradaban memberikan efek terhadap paradigma berfikir kita secara khusus, dan bagaimana dengan sosial pada umumnya ?? Dan sekali lagi bahwa hal ini mungkin akan sedikit asyik untuk diperbincangkan.

Revolusi budaya tanpa subjek adalah mustahil dan evolusi budaya subjek tanpa objek adalah Nihil (Dony Gahral Adian – Percik Pemikiran kontemporer, 2007), Kurang lebih seperti itulah gambaran tentang hubungan antara lingkungan/sosial dan manusia itu sendiri. Dewasa ini kita akan lebih sering dihadapkan pada satu pemanandangan sosial yang sedikit berbeda dari beberapa saat belakangan, halmana sudah menjadi opini mayoritas sebagai akibat dari  persamaan persepsi atas perubahan sikap dan perilaku yang dipengaruhi oleh perkembangan peradaban. Hal yang menjadi soal kemudian adalah apakah pemandangan itu memberikan dampak baik bagi kehidupan sosial maupun individu atau malah sebaliknya, memberikan dampak yang berimplikasi lansung pada pudarnya nilai-nilai kemanusiaan itu sendiri.

Perkembangan dunia yang semakin kapitalistik, membuat segalanya ternilai hanya sebatas materi. Aspek apapun itu akan bernilai dan diakui oleh khalayak jika memiliki nilai tukar dalam bentuk uang. Hingga akhirnya segalanya dikonstruksi menjadi barang komoditi yang siap untuk dihempaskan ke pasar bebas. Konsekuensi yang lain kemudian mencuak, hal apa saja yang menjadi penghalang dalam upaya ini akan disingkirkan dengan cara apapun. Mencipta bentuk baru yang serupa dengan kondisi sosial, membuat dunia seperti cermin dengan kenyataan/kebudayaan yang ada, sebagai upaya untuk menyaingi eksistensi sosial itu sendiri, yang dinilai dapat menghambat tumbuh dan berkembangnya nilai-nilai kapitalistik tadi.

Budaya Sebagai Identitas.
Budaya merupakan identitas bagi keberadaan suatu komunitas sosial. Secara kongkrit, beberapa daerah di Indonesia dikenal karena memiliki ciri kebudayaan yang berbeda dengan daerah yang lainnya. Keberadaan budaya, terjaganya nilai-nilai lokal dalam kemurniannya, secara lansung akan menjaga nilai-nilai dalam kehidupan sosial masyarakat dan keberadaan kebudayaan itu sendiri. Budaya sebagai unsur yang terbangun dari keberadaan masyarakat adalah manifestasi sosial dalam bentuk yang abstrak, perilaku yang dilakukan berulang-ulang kemudian menjadi kebiasaan, selanjutnya mendapat pengakuan hingga akhirnya kebiasaan tersebut mengalami sakralisasi oleh norma dan kaidah yang dibentuk dalam masyarakat itu sendiri.

Tentu selama kebudayaan tersebut tetap terjaga dalam masyarakat, maka selama itu pula masyarakat tersebut akan dikenal dengan kebudayaan yang dimilikinya. Secara kongkrit dalam realitas objektif, keberadaan masyarakat akan tetap ada (jika tidak mengalami kepunahan atau pemusnahan massal) dalam kondisi dan perubahan apapun, tetapi dalam realitas objektif konsep keberadaan/identitas masyarakat tersebut bisa hilang/musnah ketika kita tidak lagi menemukan hal yang dulunya mencirikan keberadaan mereka.

Budaya Sebagai Penjaga.
Perkembangan dunia dapat dianalogikan bagai “Sebuah mobil besar melewati seluruh ruas jalan”, dimana Mobil adalah mesin perubahan dan ruas jalan adalah dunia. Dimana segala aktifitas social terjadi dalam ruas jalan tersebut. Melawan perubahan secara “kontradiktif” akan membuat kita berakhir pada gilasan roda mobil tersebut, pilihan realistis adalah mengikuti perkembangan tersebut. Konsekuensi dari perkembangan tersebut adalah masuknya nilai-nilai baru dalam sendi kehidupan kita. Tentu kita juga tidak menginginkan, perubahan tersebut membuat kita kehilangan identitas dan jati diri.

Jika nilai yang ada tetap terjaga dalam murninya, maka segala “hal baru” akan dinilai dengan sangat konprehensif dari berbagai aspek untuk mendapatkan kesimpulan yang objektif. Tentu kita tidak menginginkan adanya Status quo dalam realitas sosial tersebut, tetapi menyikapi hal baru secara objektif dengan berlandas pada nilai budaya yang ada, bisa menjadi pilihan yang sangat bijak. Bahwa faktas social yang menunjukan masuknya berbagai nilai dari setiap belahan dunia, yang berpotensi untuk memengaruhi setiap sendi kehidupan kultur tidak dapat dihindari. Maka hadapilah !

Sekali lagi, Tentu kita juga tidak menginginkan, perubahan tersebut membuat kita kehilangan identitas dan jati diri.

***
Akan tidak bernilai jika motifasi fundamental yang terbangun diantara kita adalah menjaga nilai dengan jalan menutup diri terhadap perubahan dan perkembangan (Status quo). Perubahan merupakan sesuatu yang niscaya, jika hal tersebut tidak tersikapi sebagai mana mestinya, maka ketertinggalan yang membawa kita pada kehancuran adalah muaranya.


Pondok Irmayanti, 29 Mei 2013.
Pukul 23.43 Wita





[1] Tingkat Spritual yang paling tinggi
Share:

0 komentar:

Posting Komentar