Kebudayaan dewasa ini telah dipengaruhi oleh demikin pesatnya perkembangan masyarakat dunia, dan masyarakat sadar akan hal tersebut. Kesadaran itulah yang semestinya menjadi sebuah simpul untuk membangun reaksi kritis terhadap semua keadaan yang mempengaruhi kebudayaan, sehingga kita dapat memberikan penilaian pada segala unsur kebudayaan yang terbangun. Sebuah keseharusan substansi kebudayaan terus terjaga kemurniannya dari kontaminasi kebudayaan lain yang tidak sejalan dengan ideologi penganut kebudayaan dan kearifan lokal, sebagai akibat dari liberalisasi dan globalisasi.
Pemikiran tentang kebudayaan selalu dihadapkan pada polemik dimensi mana yang lebih menentukan, dimensi sukjek (kesadaran) atau dimensi objek (Realitas). Hal tersebut merupakan dua hal yang terus diperbincangkan oleh para pemikir-pemikir kontemporer. -Reformasi budaya tanpa subjek adalah mustahil, karena setiap perubahan kolektif membutuhkan atau menuntut terlebih dahulu adanya ruang gerak subjek sebagai dimensi yang menjalankan dan menjaga kebudayaan.[1] Subjek dalam hal ini adalah masyarakat memang sangat mempengaruhi tentang tumbuh kembangnya sebuah kebudayaan, tanpa menafikan tentang realitas (Objek). kondisi dan aktifitas masyarakat merupakan cerminan konsep kebudayaan yang terbangun, masyarakat yang merupakan sekolompok atau komunitas yang terjalin karena sistem, dan tradisi tertentu,[2]memiliki tugas dan tanggung jawab yang diemban untuk tetap menjaga agar semua unsur yang memagari eksistensi kemasyarakatan dalam bingkai kebudayaan yang dimilikinya tetap terjaga.
Perkembangan kehidupan masyarakat yang terkontaminasi secara gamblang oleh kehidupan masyarakat dunia (Globalisasi), dapat memberi efek yang tidak baik dalam perkembangan kebudayaan yang ada. Kebebasan yang terjadi dan kurangnya daya kritis bisa menjadi pemicu terjadinya interpolasi dalam perkembangan kebudayaan. Salah satu efek dari kebebasan dan globalisasi adalah pesatnya kebutuhan hidup Sehingga memicu daya konsumen yang tinggi untuk memenuhi kebutuhan, namun terkadang kenyataanya, masyarakat mengonsumsi sesuatu bukan dari segi fungsionalnya melainkan tren yang sedang berkembang. Terpojok oleh kebutuhan hidup menjadikannya masyarakat yang konsumtif yang tidak kritis. Produk yang dikemas dalam bahasa pasar kapitalisme membutahkan kesadaran yang berefek pada lahirnya paham yang tidak sesuai dengan substansi budaya yang dimilikinya. Akhirnya, tidak jarang pada kondisi kekinian kita temukan masyarakat pribumi lebih identik dengan kebudayaan lain.
Disisi lain, konsumsi memang bersifat mutlak. Keberlangsungan hidup manusia tidak bisa terlepas dari asupan pangan yang mereka nikmati. Peningkatan intensitas kebutuhan komoditas konsumsi secara rasio memang berkorelasi positif dengan pertumbuhan jumlah manusia. Tetapi pada perkembangannya kini, manusia terjebak pada kompleksitas ragam komoditi yang hendak (secara sadar atau tidak) mereka konsumsi. Hal ini tentunya tidak terlepas dari konstruksi sosial yang dibangun massa di dalam lingkungan manusia itu sendiri. Ada implikasi yang kurang baik bagi manusia kaitannya dengan hal ini, berupa perubahan budaya dan pergeseran makna budaya yang ada dalam kultur masyarakat, salah satunya adalah budaya konsumtif terhadap benda (material culture), apalagi sampai pada tingkatan yang memunculkan paham konsumerisme.
Keterasingan gerenerasi muda kekinian terhadap budaya bangsa dan negaranya menjadi sasaran empuk bagi produsen kapitalisme modern dalam membangun paradigma budaya konsumtif yang baru. Media massa, adalah salah satu pilihan untuk menghegemoni hasrat masyarakat, budaya konsumtif direproduksi lewat ide-ide, bukan lagi pada banyaknya barang yang diproduksi. Produksi tidak lagi menciptakan materi sebagai objek eksternal, produksi menciptakan materi sebagai kode-kode yang menstimulasi kebutuhan atau hasrat sebagai objek internal konsumsi.[3] Konsumenarisme meniscayakan hiperealitas.[4] Makna objek melebihi realitas objektifnya. Produk yang sebenarnya tidak terlalu bernilai jual tinggi dalam pemenuhan kebutuhan hidup, dikemas menarik dalam bahasa pasar kapitalisme lewat media massa menjadi sesuatu yang sangat dibutuhkan.
Hal tersebut tentu akan membawa dampak negatif dalam keberlansungan perkembangan budaya dalam masyarakat untuk generasi selanjutnya, terasing dalam budaya bangsanya sendiri, bukan hanya membuat mereka tampak terlihat seperti bukan dirinya dimasyarakat (Subjek), tepai bisa berdampak pada pudar dan hilangnya eksistensi kebudayaan yang ada pada masyarakat itu sendiri (Objek).
Makalah syarat Screning LK II Unhas

0 komentar:
Posting Komentar