Selasa, 22 April 2014

Paradigma TOA Revolusi


Menjadi sesuatu yang tidak bisa dinafihkan, bahwa perkembangan peradaban dunia dan globalisasi dewasa ini telah menyentuh seluruh dimensi kehidupan. Kemajuan teknologi, kebebasan akses informasi, dan terus bertambah pesatnya kebutuhan hidup adalah contoh kongkrit dari efek globalisasi. Dengan tidak menjustifikasi dan dalam perspektif dangkal apa yang saya ketahui, bahwa globalisasi adalah sebuah keniscayaan dan seperti itulah bunyinya. Sebagai konsekuensi dari sebuah keniscayaan, jika anda tidak mampu mengikuti perkembangannya, maka akan tergilas habis oleh zaman. Globalisasi yang dimaksud oleh penulis adalah globalisasi dalam pandangan umum yang komprehensif dan tidak terpatok pada definisi globalisasi yang telah terkonvensionalkan, secara sederhana yang dimaksud adalah segala relasi sosial yang ada dalam sebuah peradaban kemanusiaan yang bergerak progresif.

Secara gamblang globalisasi semestinya membawa dampak positif bagi perkembangan hidup dan kehidupan, lebih kongkrit terhadap mahasiswa, kaitannya dengan dunia pergerakan. Akses informasi yang mudah, perolehan kebutuhan yang simple semestinya akan lebih membantu dalam menemukan dan menentukan metode pergerakan, tetapi hal apa yang kemudian membuat dunia pergerakan hari ini terkesan surut padam bahkan berada diambang kematian, jika dibandingkan dengan generasi sebelumnya yang notabene banyak memiliki keterbatasan akses informasi seperti sekarang ini.

Terkenang sejenak romantisme masa lalu ketika para mahasiswa menjatuhkan rezim Suharto yang diktator (1998), gemuruh suara mahasiswa yang mengumandangkan slogan kulturnya dan sesekali terselip sebuah sumpah dari mahasiswa, terpadu menjadi satu garis komando, dari Sabang sampai Merauke satu suara yaitu revolusi, akhirnya berhasil membuat Suharto turun dari tahtanya.  Pemandangan yang sangat menggugah rasa para generasi aktifis kontemporer dan para pembela kepentingan kaum-kaum yang termarjinalkan. 

Seperti kata pepatah, semua generasi ada masanya dan semua masa ada generasinya. Aktifis 1998 dan tahun jauh sebelumnya, bersatu melawan satu musuh yang jelas yaitu pemerintahan yang sewenang-wenang, diktator dan korup. Dengan komando tak tercerai, serta simpul kesadaran yang mampu teridentifikasi dengan baik. Kesadaran akan masalah yang melanda membuat civitas kampus seakan mewajibkan semua generasi turun kejalan untuk memberikan kelas Privat kepada penguasa (Perlawanan). Sekali lagi suasana yang sangat dirindukan oleh para generasi aktifis pembela kepentingan kaum yang termarjinalkan. Lantas bagaimana dengan pergerakan mahasiswa kontemporer, bagaimana dengan kesatuan komando, dan hal apa yang kemudian menjadi musuh bersama para kaum yang dilabeli intelektual ini ??

Badan Hukum Pendidikan (BHP), Kenaikan Bahan Bakar Minyak (BBM), Kasus korupsi, dan sebagainya Adalah Sederetan isu nasional yang mewarnai sedikit pergerakan mahasiswa kontemporer. TOA hari ini ter-suak-kan akan hal itu, jalan macet, dan sesekali Polisi VS Mahasiswa juga terjadi karena hal ini. dalam dunia pergerakan, mungkin tidak terlalu berlebihan jika saya menyebutnya sebuah kewajaran. Dalam perspektif lain ada hal menarik yang terjadi dalam dunia kemahasiswaan saat ini, jika di tahun 1998 terkesan civitas kampus mewajibkan semua generasi untuk melantangkan suara perlawanan (Simpul Ideologi), maka saat ini suara-suara itu kini semakin parau bahkan surut tak beralasan kongkrit, para pendidik penguasa kini telah kehilangan roh kesadaran, Aktifitas perlawanan-perlawanan kini berganti menjadi komunitas-komunitas mahasiswa yang pragmatis, opurtunis dan bahkan telah sampai pada fase apatis. Fungsi mahasiswa yang selalu dikumandangkan dan terus menjadi kebanggaan tersendiri bagi para mahasiswa, kini seakan telah menjadi dongeng yang terkonstruk dari romantisme masa lalu. simpul kesadaran terhadap kaum-kaum yang termarjinalkan kini semakin memudar pada kaum yang dilabeli Intelektual ini.

Saya ingin mengajak anda turun tahta, menengok kebawah dan melihat realitas yang lebih kongkrit, ada dan dekat bahkan sangat dekat dengan kita semua. Bukan menyisihkan, tetapi tangguhkan suaramu untuk membangkitkan suara kawan-mu yang semakin hilang terkekang oleh kekerasan dan penindasan “orang tua anda sendiri” (Akademik). Sebut saja misalnya sederet kasus yang terus melanda dan mengisolasi perlawanan kawan-kawan UNHAS belakangan ini. Beberapa saat yang lalu salah seorang kawan (Fakultas Sastra) harus mengikuti proses Komite disiplin Universitas yang proses beracaranya entah berasal dari aturan “bejat” mana. Negosiasi yang dilakukan layaknya seorang anak terhadap orang tuanya sendiri, dibalas dengan sanksi skors tak beralasan. Miris ketika melihat baris aksi perlawanan mampu dihitung jari. Sekali lagi, suara yang semakin parau itu bahkan kini telah surut tak beralasan kongkit, simpul itu kini telah tercerai-berai, terus terombang-ambing dalam dongeng yang terpasung dalam romantisme masa lalu.

Bukan apatis, tapi ingin yang lebih kongkrit !!!

--- Anda Akan Memberi, Jika Anda Memiliki --- Realitas sosial yang semakin mengisolasi keadilan dan menumbuh kembangkan penindasan, pengisapan manusia oleh manusia, semakin merajalela akibat tangan-tangan nakal tak bertanggungjawab, dosa sosial jika anda mengetahui dan tidak bereaksi terhadap hal ini. Bukan apatis, tapi ingin yang lebih kongkrit. Masalah selanjutnya adalah bagaimana anda bisa memperjuangkan masyarakat sebagai agen perubah atau pengontrol sosial (atau persetan dengan apa namanya !!) jika kondisi internal anda sedang dipora-porandakan oleh tangan-tangan nakal lainnya ???

Bangkit dan melawan adalah pilihan, Bangkit dan melawan adalah pilihan & Bangkit dan melawan adalah pilihan. Setiap pilihan pasti berkorelasi dengan konsekuensinya masing-masing. Selamat datang diambang ketidak pastian, selamat menikmati nuansa jagat diri yang semakin buram. Jika anda ragu, konsep tandingan adalah solusi-nya.

Irmayanti pondok. Rabu, 22/04/2014
Dalam 00:28 Wita 



Share:

0 komentar:

Posting Komentar