Menjadi sesuatu yang tidak
bisa dinafihkan, bahwa perkembangan peradaban dunia dan globalisasi dewasa ini
telah menyentuh seluruh dimensi kehidupan. Kemajuan teknologi, kebebasan akses
informasi, dan terus bertambah pesatnya kebutuhan hidup adalah contoh kongkrit
dari efek globalisasi. Dengan tidak menjustifikasi dan dalam perspektif dangkal
apa yang saya ketahui, bahwa globalisasi adalah sebuah keniscayaan dan seperti
itulah bunyinya. Sebagai konsekuensi dari sebuah keniscayaan, jika anda tidak mampu
mengikuti perkembangannya, maka akan tergilas habis oleh zaman. Globalisasi
yang dimaksud oleh penulis adalah globalisasi dalam pandangan umum yang komprehensif dan tidak terpatok pada definisi globalisasi
yang telah terkonvensionalkan, secara sederhana yang dimaksud adalah segala
relasi sosial yang ada dalam sebuah peradaban kemanusiaan yang bergerak
progresif.
Secara gamblang globalisasi semestinya membawa dampak positif bagi perkembangan hidup dan kehidupan, lebih
kongkrit terhadap mahasiswa, kaitannya dengan dunia pergerakan. Akses informasi
yang mudah, perolehan kebutuhan yang simple semestinya akan lebih membantu
dalam menemukan dan menentukan metode pergerakan, tetapi hal apa yang kemudian
membuat dunia pergerakan hari ini terkesan surut padam bahkan berada diambang
kematian, jika dibandingkan dengan generasi sebelumnya yang notabene banyak
memiliki keterbatasan akses informasi seperti sekarang ini.
Terkenang sejenak romantisme
masa lalu ketika para mahasiswa menjatuhkan rezim Suharto yang diktator (1998),
gemuruh suara mahasiswa yang mengumandangkan slogan kulturnya dan sesekali
terselip sebuah sumpah dari mahasiswa, terpadu menjadi satu garis komando, dari
Sabang sampai Merauke satu suara yaitu revolusi, akhirnya berhasil membuat
Suharto turun dari tahtanya. Pemandangan
yang sangat menggugah rasa para generasi aktifis kontemporer dan para pembela
kepentingan kaum-kaum yang termarjinalkan.
Seperti kata pepatah, semua
generasi ada masanya dan semua masa ada generasinya. Aktifis 1998 dan tahun
jauh sebelumnya, bersatu melawan satu musuh yang jelas yaitu pemerintahan yang
sewenang-wenang, diktator dan korup. Dengan komando tak tercerai, serta simpul
kesadaran yang mampu teridentifikasi dengan baik. Kesadaran akan masalah yang
melanda membuat civitas kampus seakan mewajibkan semua generasi turun kejalan
untuk memberikan kelas Privat kepada penguasa (Perlawanan).
Sekali lagi suasana yang sangat dirindukan oleh para generasi aktifis pembela
kepentingan kaum yang termarjinalkan. Lantas bagaimana dengan pergerakan
mahasiswa kontemporer, bagaimana dengan kesatuan komando, dan hal apa yang
kemudian menjadi musuh bersama para kaum yang dilabeli intelektual ini ??
Badan Hukum Pendidikan (BHP),
Kenaikan Bahan Bakar Minyak (BBM), Kasus korupsi, dan sebagainya Adalah
Sederetan isu nasional yang mewarnai sedikit pergerakan mahasiswa kontemporer.
TOA hari ini ter-suak-kan akan hal itu, jalan macet, dan sesekali Polisi
VS Mahasiswa juga terjadi karena hal ini. dalam dunia pergerakan, mungkin tidak
terlalu berlebihan jika saya menyebutnya sebuah kewajaran. Dalam perspektif
lain ada hal menarik yang terjadi dalam dunia kemahasiswaan saat ini, jika di
tahun 1998 terkesan civitas kampus mewajibkan semua generasi untuk melantangkan
suara perlawanan (Simpul Ideologi), maka saat ini suara-suara itu kini semakin
parau bahkan surut tak beralasan kongkrit, para pendidik penguasa kini telah
kehilangan roh kesadaran, Aktifitas perlawanan-perlawanan kini berganti menjadi
komunitas-komunitas mahasiswa yang pragmatis, opurtunis dan bahkan telah sampai
pada fase apatis. Fungsi mahasiswa yang selalu dikumandangkan dan terus menjadi
kebanggaan tersendiri bagi para mahasiswa, kini seakan telah menjadi dongeng
yang terkonstruk dari romantisme masa lalu. simpul kesadaran terhadap kaum-kaum
yang termarjinalkan kini semakin memudar pada kaum yang dilabeli Intelektual ini.
Saya ingin mengajak anda
turun tahta, menengok kebawah dan melihat realitas yang lebih kongkrit, ada dan
dekat bahkan sangat dekat dengan kita semua. Bukan menyisihkan, tetapi
tangguhkan suaramu untuk membangkitkan suara kawan-mu yang semakin hilang
terkekang oleh kekerasan dan penindasan “orang tua anda sendiri” (Akademik).
Sebut saja misalnya sederet kasus yang terus melanda dan mengisolasi perlawanan
kawan-kawan UNHAS belakangan ini. Beberapa saat yang lalu salah seorang kawan
(Fakultas Sastra) harus mengikuti proses Komite disiplin Universitas yang
proses beracaranya entah berasal dari aturan “bejat” mana. Negosiasi yang dilakukan
layaknya seorang anak terhadap orang tuanya sendiri, dibalas dengan sanksi
skors tak beralasan. Miris ketika melihat baris aksi perlawanan mampu dihitung
jari. Sekali lagi, suara yang semakin parau itu bahkan kini telah surut tak
beralasan kongkit, simpul itu kini telah tercerai-berai, terus terombang-ambing
dalam dongeng yang terpasung dalam romantisme masa lalu.
Bukan apatis, tapi ingin yang
lebih kongkrit !!!
--- Anda Akan Memberi, Jika
Anda Memiliki --- Realitas sosial yang semakin mengisolasi keadilan dan
menumbuh kembangkan penindasan, pengisapan manusia oleh manusia, semakin
merajalela akibat tangan-tangan nakal tak bertanggungjawab, dosa sosial jika
anda mengetahui dan tidak bereaksi terhadap hal ini. Bukan apatis, tapi ingin
yang lebih kongkrit. Masalah selanjutnya adalah bagaimana anda bisa
memperjuangkan masyarakat sebagai agen perubah atau pengontrol sosial (atau
persetan dengan apa namanya !!) jika kondisi internal anda sedang dipora-porandakan
oleh tangan-tangan nakal lainnya ???
Bangkit dan melawan adalah
pilihan, Bangkit dan melawan adalah pilihan & Bangkit dan melawan adalah
pilihan. Setiap pilihan pasti berkorelasi dengan konsekuensinya masing-masing.
Selamat datang diambang ketidak pastian, selamat menikmati nuansa jagat diri
yang semakin buram. Jika anda ragu, konsep tandingan adalah solusi-nya.
Irmayanti pondok. Rabu, 22/04/2014
Dalam 00:28 Wita
Dalam 00:28 Wita

0 komentar:
Posting Komentar