Saya membaca dengan seksama secarik surat milik seorang musisi asal Pulau Dewata. Dengan kertas seadanya, ia mengakhiri goresannya tertanda dari balik jeruji. Dengan penuh kesungguhan, ia berterimakasih pada “ketersesatan”.
Tulisan itu, meski mengarah
tajam ke jantung kedua penulisnya – istrinya, maknanya berhamburan sampai pada
kita semua. Serupa percikan darah segar jantung yang berserahkan. Titisan darah
simpatik dan berlumuran cinta.
Bagi saya, carik
kertas romantis itu datang tepat waktu. Ia kembali mengingatkan saya, bahwa
setiap kita memiliki beban hidup yang cukup rumit untuk masing-masing ukuran
kita. Pembedanya adalah kualitas personal diri.
“Ketersesatan
yang direstui semesta bisa menjelma menjadi anugerah…, Langit manusia
menghujani kita dengan jarum-jarum peradaban…”
“…
Atas nama gelap dan gemerlap kita sudah hampir tiba di gerbang Bahagia” --
Jerinx
*
Saya meragukan ikhlasnya doa yang terlantun untuknya. Tetapi jauh dari
itu, saya benar-benar ikut berdoa dengan khusuh.
Dulu, dahulu, beberapa
saat lalu;
Saya menemuinya
bersimpah larah, berbalut wajah ceria. Serupa aksara yang bersemayam dalam sobekkan luka berbalut kain tipis
bertopeng riang. Luluh dari harap yang tak bertepi.
Gadis ini, benar-benar diujung harapan.
Ia punya pesona
berbeda, sesuatu yang selalu saya jawab “tanpa alasan” saat ditanya “kenapa
harus saya?”. Sesuatu yang tidak pernah terungkap sampai saat ini. Sampai detik
dimana tak ada kesempatan yang tersisa.
Ia seorang yang memiliki aura berbeda, sesuatu yang membuatnya menjadi sosok yang tidak layak untuk disia-siakan. Sesuatu yang saya sebut yunik – menggunakan huruf Y.
Ia membuat saya mampu “melihat hutan tanpa kehilangan perhatian pada pohon”. Pada beberapa bagian, membuat saya bisa memerhatikan banyak hal dalam satuwaktu, tetapi, pada waktu yang hampir bersamaan, ia memaksa saya untuk fokus padanya.
Sungguh, ada begitu banyak hal yang gagal tersampai pada waktunya.
Bukan hanya sesuatu yang tidak pernah terjawab, saya juga menyesalkan banyak hal yang tidak tersampaikan itu. Waktu terlalu banyak mengambil peran di antara kami.
Sampai pada akhirnya, saya harus menyampaikan semuanya lewat doa.
Harapan kecilnya kini menghampiri gerbang
bahagia, setelah gelap dan gemerlap.
Soal semua hal yang
akhirnya tidak tersampai itu, ku biarkan tetap tersemai sebagai tanaman kenangan. Akan kupastikan ia tumbuh bersama ingatan yang setiap saat disiram dengan air harapan. Menjaganya agar tetap tumbuh dalam berbagai wujudnya.
Saya seperti melihat
diri sendiri padanya. Bisa jadi, semua kita akan melakukan hal yang sama saat
menghadapi situasi serupa. Berharap banyak pada mereka yang terlanjur diberi hati. Seperti juga saya.
Jauh dalam talung hubungan
yang begitu lama terawat dengan air mata, berikut kemistri yang terselip di
dalamnya, kita semua akan selalu berharap kembali terajut-terikat. Seberapapun pedihnya
kisah itu. Setidaknya, secara psikologis, ilmu pengetahuan membenarkan hal itu.
Itu sebabnya, sejak awal saya merasa bisa menebak akhir dari kisah -singkat- ini. Itu mengapa pula saya tidak terlalu mau membuang banyak waktu. Semoga kalimat ini bisa menjawab banyak pertanyaan.
Kini, dan semestinya, tidak lagi ada pertanyaan tersisa. Lumpuhkan ingatan tentang kisah tak bertuan ini. Rajut kembali kisah klasik yang menggugah itu. Sudah seharusnya orang sepertinya bermula dan berakhir bahagia. Jika bisa, tanpa gelap dan gemerlap.

0 komentar:
Posting Komentar