Sabtu, 29 Agustus 2020

Menyoal Gus Ulil; Sebuah Tulisan dan Minat Baca


Saya membaca beberapa tulisan dialektis bertemakan Sains, Agama, dan Filsafat antara Goenawan Muhamad, Ulil Absar Abdallah, A.S. Laksana, dkk.  Banyak pemikir, Penulis juga tentu pendapat. Hubungan tulisan-tulisan ini sedikit memberi warna cemerlang pada platform facebook belakangan ini.

Sebuah tulisan menarik tetiba muncul dalam perdebatan. Ialah goresan Gus Ulil.

Sedikit keluar dari tema pembahasan, Ia menyoal tentang tentang -kemampuan menulis para akademisi kita. Keluhan saya pada dunia akademis sekarang, banyak sarjana kita yang tidak bisa menulis dengan bahasa akademis yang tetap indah dan memikat”.

Menurutnya, harus ada usaha dari para dosen untuk mengingatkan para mahasiswa soal bahasa. Tentang pentingnya menulis dengan bahasa yg tertib dan memikat.

Satu sisi keresan Gus Ulil serupa momok bagi kita yang ingin belajar menulis. Urusan mengemas tulisan menjadi menarik adalah beban psikologis yang menyerang beruntun dan berbobot berat. Hantu yang mengintai dan mengusik kekhusyuan kontemplasi.

Sisi yang lain, kita bisa memaknainya sebagai muhasabah diri untuk berbenah.

Minat Baca vs Daya Baca

Fakta bahwa masyarakat kita memiliki minat baca yang tergolong rendah, sedikit-banyak ikut memengaruhi cara kita dalam memaksimalkan keindahan diksi tulisan. Lumbung kata-kata yang digunakan berasal dari luasnya ladang bacaan.

Ibarat sebuah aktifitas ngopi dan rokok, membaca adalah biji kopi dan tembakau itu sendiri. Ia ruh material. Menjadi pusat yang tidak bisa dihindari oleh seorang penulis, kata Stephen King.

Meski belum ada data terbaru yang merilis tentang tingkat minat baca masyarakat Indonesia, tetapi penelitian terakhir Central Connecticut State University (CCSU) bertema World's Most Literate Nations pada Maret 2016 lalu, merilis hasil yang mengecewakan. Indonesia berada pada peringkat 62 dari 70 negara yang menjadi sampel.

Kita boleh berbeda pendapat soal metode, sampling respondent, dan margin error riset CCSU, tetapi kesimpulan survei tersebut sedikit membuka mata para pemerhati literasi, bahwa ada pekerjaan rumah yang sedikit rumit untuk segera diselesaikan.

Cerita ini menjadi penting untuk dibahas. Sebab sepiawai apapun seseorang dalam memilih kata untuk memperindah tulisan, takkan berarti apa-apa jika menghadapi pembaca yang memiliki minat baca rendah.

Kita bisa mendalih, bahwa minat baca masyarakat kita kian hari kian tumbuh, sayangnya kita kembali diperhadapkan masalah lain, soal ketahanan membaca – daya baca. Daya untuk terus membaca sebuah tulisan sampai tuntas.

Persoalan ini lebih rumit jika dibanding dengan masalah minat baca. Ia serupa penyakit yang mengerogoti dari dalam, lebih kompleks dan memerlukan pengujian dan riset tingkat lanjut.

Anis Baswedan dalam sebuah orasi ilmuahnya pernah memaparkan panjang lebar soal daya baca vs minat baca ini. Kita punya bejibun masalah yang harus diselesaikan, dan sampai di sini, saya sepakat dengan pendangan Gus Ulil, embrio masalah ini harus dibedah lalu dicincang mulai dari sekolah/kampus.

Sebuah Tulisan

Saya teringat quotes Pramoedya dalam bukunya, “Orang boleh pandai setinggi langit, tapi selama ia tak menulis, ia akan hilang di dalam masyarakat dan dari sejarah”. Buku-bukunya adalah buah dari kalimat ini. Tulisan-tulisan fenomenalnya bertahan dalam ingatan sebagai lembar-lembar sejarah bagi generasi kita.

Kekuatan tulisan Pram terus relevan pada banyak situasi bangsa hari ini. Kita merindukan kehadiran sosok sekaliber beliau untuk mengisi dunia literasi bangsa yang kian merosot.

*

Di tengah kesibukan menyelesaikan tulisan ini, perhatian saya tertuju pada sekelompok gamers yang sedang me-lanskap-kan gadgetnya di pojok warung kopi.

Saya berfikir, seandainya tulisan-tulisan dalam laman qureta.com dibaca habis oleh mereka, mungkin tak akan ada keriuhan berisi umpatan pada teman samping kiri-kanannya; bocah, tolol, newcomers.

Goenawan Muhamad, Ulil Absar Abdallah, A.S. Laksana, mungkin selalu memiliki catatan pinggir pada web/laman pribadinya masing-masing. Tapi sejauh apa tulisan-tulisan itu menarik minat pembaca cluster gamers di pojok warkop, atau bahkan ibu-ibu rumah tangga yang gemar menggosip di sepanjang jalan menuju medan arisan.

Tulisan dialektis Goenawan dkk, bisajadi hanya menarik bagi kalangan pembaca tertentu. Yaitu mereka yang sedang haus-hausnya belajar filsafat, dan permbahasan panjang tentang agama vs sains.

“Sekolah tinggi” yang dimaksud Pram pada quotes di atas harusnya dimaknai luas. Serupa ulasan Gus Ulil pada tulisan berjudul “Berani Memasak Gagasan Sendiri”.

Bagaimana para penulis handal dapat mengemas tulisan berat bertema filsafat, sains, atau agama dalam bahasa yang sederhana tapi tetap indah dan menarik. Seperti Pram yang mendeskripsi sejarah dalam sebuah novel.

Bermodal sekolah tinggi lalu mengolah gagasan-gagasan rumit untuk disajikan sesederhana mungkin agar bisa dinikmati oleh banyak kalanganan dan kalangan manapun.

Memang, pandangan Gus Ulil tentang “memasak gagasan sendiri” menyoal kebiasaan kita yang cenderung lebih sering mengutip pendangan filsuf barat ketimbang filsuf timur atau pandangan-pandangan tokoh nasional. Persoalan ini juga menjadi catatan baru yang butuh ulasan lain.

Tidak banyak penulis seperti Pram. Kita seolah tidak pernah ragu membahas karyanya pada kalangan manapun. Hampir setiap kawan bicara kita memberi feedback ketika menyebut Arus Balik, di bumi manusia Indonesia.

Atau seperti penulis Filsafat bergendre novel Jostein Gaarder. Pada buku-bukunya, kita bebas berfilsafat dimana, kapan dan pada siapa saja.

*

Menemukan gaya tulisan untuk mengakomodir pembaca dari kalangan manapun, tidak hanya membutuhkan keindahan bahasa dan kata. Jauh dari itu, ia membutuhkan ramuan “rempah dan bumbu” yang khas dan identik dengan suasana kebatinan masyarakat pembaca. Mungkinkah?

Minat baca dan tulisan baik, seperti lingkaran yang saling mendahului. Membaca untuk bisa menulis dengan baik atau menulis dengan baik agar bisa menarik minat baca. Mana yang mendahului yang mana?

Share:

0 komentar:

Posting Komentar