Beberapa saat lagi akan ada genangan yang merambat pelan menjalari trotoar, beton dan tembok-tembok rumah. Disusul teriakan penduduk, banjir !
Ironi pembangunan (?)
Kota ini masih muda, sayang jalannya terseok, bertumpu dua tangan sebagai penopang. Sedang kita berpangku tangan tanpa merasa berdosa.
Hujan semestinya menjadi rahmat semesta. Bahkan sering dijadikan analogi keintiman bumi dan langit dalam pembahasan kosmologi perempuan. Ia jatuh membasahi rahim bumi, lalu menumbuhkan segala.
Di beberapa kota kini ia berubah jadi kutukan. Boro-boro merapal doa tentang harapan, cinta dan cita. Kita sibuk mengeluh dalam resah ancaman banjir yang segera datang.
Kota ini masih muda, sayang jalannya terseok, bertumpu dua tangan sebagai penopang. Sedang kita berpangku tangan tanpa merasa berdosa.
Hujan semestinya menjadi rahmat semesta. Bahkan sering dijadikan analogi keintiman bumi dan langit dalam pembahasan kosmologi perempuan. Ia jatuh membasahi rahim bumi, lalu menumbuhkan segala.
Di beberapa kota kini ia berubah jadi kutukan. Boro-boro merapal doa tentang harapan, cinta dan cita. Kita sibuk mengeluh dalam resah ancaman banjir yang segera datang.
Mereka yang bermukim di kota, tentu sesekali merasakan sesak. Menaruh harap penanggulangan banjir pada mereka yang menjabat, sesak memikirkan kemungkinan untuk berkampung halaman yang bebas banjir.
Harapan hanyalah harapan. Pikiran hanyalah pikiran. Ia membutuhkan aktualisasi yang tidak segampang-mudah. Menggantung harapan itu, merawat pikiran itu, barangkali pilihan terbaik saat ini.
Jika ingin lebih jauh, introspeksi diri adalah jalur alternatif. Serupa aktualisasi harapan yang tidak mudah, jalur alternatif ini membutuhkan pula kelapangan diri untuk berserah dan berterima.
Semua akhirnya berpulang pada tiap-tiap kita. Soal harapan, cinta dalam doa. Itu saja.

0 komentar:
Posting Komentar