Jumat, 10 Agustus 2018

Harmoni Diri dalam Karya

Menyedihkan rasanya menyaksikan diri yang kian hari kian tidak produktif. Saat sebagian orang sedang asyik bercengkrama dengan aksi mengejar mimpi, saya seakan berotasi tak beraturan. Beruntung, saya diselamatkan oleh rasa syukur; setidaknya saya berputar, meski tak tentu arah.

Baru saja selesai membaca beberapa buku karya Fiersa Besari, atau bisa dibilang semua bukunya, penulis novel asal Bandung ini baru menuliskan segala kesahnya dalam empat buku beruntun. Tercatat, Garis Waktu, Konspirasi Alam Semesta, Catatan Juang dan Arah langka. Semua bukunya dikemas dalam novel ‘manja’ yang bisa dibilang tepat untuk pembaca ‘zaman now’. Melow.

Betapa beruntungnya dia, diumurnya yang dibilang cukup muda sudah menorehkan karya yang bisa dinikmati banyak orang, paling tidak ‘sudah’ menjadi orang yang berguna bagi orang lain, atau setidak-tidaknya; betapa produktifnya dia untuk ukuran anak muda seumurannya, 28 tahun. Hanya selisih 2 tahun dengan saya.

Sebenarnya saya bukan pembaca novel, sejak gemar membolak balik “kertas bertulis”, hampir setiap kesempatan saya isi dengan buku-buku padat berisi pandangan dan aliran-aliran pemikiran tokoh-tokoh dunia. Paling jatuh, membahas perjalanan sejarah-sejarah peradaban. Jika harus membaca novel, buku John Grisham yang berkisah tentang segala keruwetan hukum dan segala konsep tetekbengeknyalah yang menjadi pilihan. Beruntung ada penulis seperti John Grisham di dunia ini. Setidaknya menyelamatkan pembaca kaku sepertiku.

Keadaan ini terbentuk bukan tanpa sebab, saya tumbuh dan berkembang pada lingkungan yang banyak mendiskusikan hal-hal  secara mendasar dan filosofis, keadaan ini memengaruhi pola belajar sampai pada pemilihan jenis buku bacaan. Filsafat, politik, sosial dan ekonomi dan lingkungan, berkutat dipusaran itu-itu saja, paling jauh melenceng ke pembahasan hukum, ini tidak aneh mengingat basic saya adalah seorang hukum.

Tanpa disadari, hal ini ternyata ikut memengaruhi gaya menulis saya. Banyak dari teman yang pernah membaca tulisan saya mengatakan bahwa, gaya menulis ini cadas tetapi tidak fokus bahkan kadang kehilangan arah. Analoginya seperti seorang mahasiswa yang sedang melakukan orasi di depan kerumunan massa, lantang, menggebu tak berarah atau bahkan tak berisi, seolah yang terpenting adalah bersuara. Sebagiannya lagi mengatakan, kerangka dasar ide dalam tulisannya tak terbaca, sehingga tidak jarang pembaca kesulitan menangkap hal yang ingin disampaikan. Jika idenya ditemukan, tulisannya tidak ‘klimaks’, dengan ekstrim, salah seorang teman pernah mengatakan; Ibarat kita melakukan onani, tetapi tidak mencapai klimaks lalu berhenti. Lumayan.

Bagi saya, seperti apapun adanya tidak ada pilihan untuk berhenti menulis. Dengan menulis saya menemukan bacaan, mendekonstruksi ide untuk menemukan bacaan lain. Seperti quote menarik tentang seorang “penulis hebat adalah pembaca yang ulung”. Itu mengapa saya memilih novel sebagai bahan evaluasi cara menulis. Dalam banyak novel, kita menemukan suguhan penjabaran terperinci dan detail tentang suatu peristiwa, tetapi dikemas dalam bahasa yang menarik. Informatif dan renyah.

***
Membaca karya pertama Fiersa Besari -Garis Waktu- saya menuai kekecewaan. Ekspektasi saya terhadap buku yang memiliki banyak “tertimoni menarik” ini berlebihan. Berlatar belakang kisah cinta dan penghianatan, buku ini dikemas dalam alur maju mundur. Gambarannya seperti seorang dalam novel sedang bercerita pada orang ketiga tentang sesuatu. Kira-kira seperti alur novel Jostein Gardeer-Dunia Shopie-, dimana tokoh Shopie dinovelkan sedang melakukan banyak hal dengan orang lain dan dirinya sendiri.

Berlanjut pada buku kedua dan ketiganya, -Konspirasi Alam Semesta & Catatan Juang- didasari dari rasa penasaran yang dihadirkan dalam closing buku pertama. Mungkin hal ini juga memegang peranan yang cukup penting dalam dunia tulis menulis, bagaimana mengemas cerita awal dan akhir semenarik mungkin untuk memikat hati para pembaca. Terlepas dari hal tersebut, rasa penasaran saya diperkuat dengan sebuah angka di Bio penulis, Tahun kelahiran. Sial, betapa produktifnya orang ini.

Dalam kurun waktu enam hari, saya menyelesaikan buku kedua dan ketiga. Kagum, gaya menulisnya berubah 120 %. Entah karena kemampuannya yang terevaluasi ataukah selera membaca saya yang sudah bergeser. Tetapi hal yang terlintas dalam pikiran saya adalah proses selalu menempa ‘bahan baku’ menuju hasil yang layak. Bisa jadi, buku kedua dan ketiga terselesaikan dengan gaya menulis yang kualitasnya semakin membaik, bukan karena selera baca saya yang sudah bergeser. Memang benar apa yang dibilang oleh kebanyakan orang, memulailah yang sulit, karena setelah itu dia akan mengalir seperti air. Hingga akhirnya saya tidak ragu untuk melanjutkan bacaan pada buku keempatnya –arah langka-. Sial, betapa produktifnya orang ini.

Syukur, banyak hal yang saya pelajari dari sosok anak muda asal Bandung ini. Dia tipe orang yang tidak ingin menjadi Folower, mencipta karya adalah gayanya. Tidak banyak orang yang mengambil jalan pikir ini, dia butuh komitmen dan keteguhan, sama sulitnya dengan menulis atau menjadi penulis. Salah satu kuktipan dalam bukunya yang menarik ‘pertanyaan kerja dimana pada seorang sarjana muda itu mainstrim, yang harusnya ada adalah mau mengerjakan atau mau membuat apa, berinovasi. Memulailah, hanya itu yang paling sulit, sisanya biar alam yang menentukan hasilnya.

***
Hal menarik dari aktifitas menulis adalah proses pengabadian ide, atau realitas dalam bentuk pusaka kata. Ini lebih baik dari pada membiarkannya tertumpuk dalam memori. Bisa jadi, esok atau lusa dia tidak akan jadi ide, hilang entah kemana. Sayangnya, aktifitas ini butuh ketekunan, dia menguras waktu dan tenaga, lebih dari upaya kita untuk mengingat-ngingat. Hanya saja, menurut beberapa penulis, kegiatan ini baik untuk kesehatan, entah dari sudut mana. Saya bukan penulis.

Satu hal yang pasti bahwa, teruslah berbuat sampai kita menemukan alasan untuk tidak menyebut diri sendiri sebagai orang yang “tidak produktif” seperti saya.

Share:

0 komentar:

Posting Komentar