Minggu, 10 Juni 2018

Ideologi Izin Share!


Perkembangan peradaban dunia telah menyentuh pelbagai dimensi kehidupan. Kemajuan teknologi, kebebasan akses informasi, dan terus bertambah pesatnya kebutuhan hidup adalah contoh konkrit dari efek perkembangan peradaban. Dengan tidak menjustifikasi, prosesnya berunsur kontinue, merangkak, berdiri, lalu laju berlari menggilas semua.

Peradaban menjilat segala relasi kemanusiaan, dan terus bergerak progresif. Itu mengapa gambaran setiap peradaban punya tokoh, punya filsuf-nya masing-masing. Mereka memiliki atau mencipta panggungnya, merangkak, lalu lari berdiri menyesuaikan dengan peradaban. Ini penting, untuk bertahan hidup.

***
Apa yang pernah tiada kemudian ada, lalu kembali tiada, untuk menemui kehilangan. Lalu kemudian kembali ada dan bertemu hilang, hilang. (Ahmad Sahide, Novel: Hilang)

Andalusia, Persia, Yunani, German, Belanda, Uni Soviet, Turky, Ect.

Al-Farabi, Ibnu Sina, Al-Gazali, Taqim Misthbah, Mulla Sadra, Baqir Al-Shadr, Said Nurs, Socrates, Plato, Aristo, Che, Martin Haidegger, Sachiko Murata, Francis Fukuyama, Rabindranath Tagore, Kelsen, Marx, Lenin, Weber, Imanuel Kant, Ect.

Tidak merasa bosan? Mereka (ect) adalah ada yang telah bertemu hilang, Hilang.

Kepada siapa generasi kita harus melepas dahaga, akan dikemanakan hasrat yang begitu menggebuh, bukankah kita sedang berhadapan dengan sang-peradaban? Kita kehilangan pemikir ditengah gegap gempitanya jaring-jaring informasi. Kita kewalahan menemukan peneliti yang risau, yang ada hanya penyampai informasi yang menghafal mati PhraseIzin Share!”. Apakah kita telah kalah?

Alhasil, dialektikanya defisit, kualitas anti-tesanya gaduh, sintesanya berantakan. 

Peradaban
Entitas terluas dari seluruh hasil budidaya manusia, melaju berangsur tetapi niscaya dan pasti. Begitulah gambaran peradaban, setiap langkahnya melahirkan ironi bagi kemanusiaan itu sendiri. Kita manusialah yang menciptakannya, mengajarinya berdiri dan membimbingnya berjalan lalu lari meninggalkan kita. Ironi.

Menjadi penting mempertanyakan tokoh, filsuf, maupun Imam. Mereka (seharusnya) hadir sebagai padanan dari media dan perangkat digitalis yang dibawa serta oleh peradaban. Mereka penawar ampuh, anti-tesa murni yang bisa menggulati tesanya menuju kualitas sintesa layak cerna.

Tidak etis mengutuk Sho Hoe Gie yang mati muda tanpa melahirkan kader. Pun Sukarno, Hatta, Syahrir atau bahkan Tan, gagal menjaga garis ideologi pada keturunan biologis maupun ideologisnya. Tanpa buku, semangat Sukarno tidak akan bertahan sampai saat ini.Ideologinya terjaga dan diciptakan, berangsur dari konsumsi indra dan akal, bukan aliran ideologi yang mengakar.

Oleh karena hadir dan terbuka luasnya tafsir yang bisa dihasilkan dari teks, mengharuskan kita menayakan setiap aliran “darah-ideologi” dari bacaan-bacaan kita. Ini cukup berbeda dengan transformasi pengetahuan antara Hegel ke Marx, Marx ke Lenin. Atau tiga serangkai yunani klasik sekelas Socrates, Plato, dan Aristoteles, yang melewati dialektikanya tak berantara.

Kita kewalahan, tahu “sebab masalah” dalam keadaan sadar tidak bisa berbuat banyak. Miris. Silahkan chek, berapa banyak dari teman jagat maya kita yang sudah pernah menghabiskan satu buku karya Bang Darwis. Lalu bandingkan, seberapa sering mereka mendengar quote romantis dari si Tere Liye. Tidak kenal Darwis? Silahkan hubungi Tere Liye dengan caption “Izin Share!”.

Atau sudah berapa warung kopi yang menjadi saksi bisu akan bualan kita perkara adigium atau quote para pemikir yang telah bertemu hilang tanpa sempat berjumpa kita. Mengakarkah ideologi mereka pada kita? Berhasilkah kita meningkatkan kualitas tesa menjadi sintesa yang layak pakai? Dimana posisi kita yang katanya sedang berhadapan dengan peradaban. Ini perkara rumit yang meresahkan. Apakah kita telah kalah?

Izin Share; Dalam Minat Baca Vs Hasrat Membaca
Beberapa saat lalu berseliweran tulisan di beberapa media, website dan portal berita online tentang reaksi pro dan kontra akan pernyataan salah satu tokoh nasional yang mencemaskan bubarnya Indonesia di tahun 2030; disadur dari buku Ghost Fleet karya P. W. Singer dan August Cole.

Perkara ini terus melebar bahkan menjadi salah satu konten Cyber War beberapa pekan. Apa yang menarik bahwa, sebagian penulis yang pernah saya dapatkan komentarnya tentang ini, bisa dipastikan belum pernah membaca bukunya. Kondisi ini diperparah dengan jumlah “Izin Share” dari para pemilik minat baca (tapi) tak berhasrat yang membuat suasana semakin gaduh tak beralasan.

Kita memiliki minat untuk membaca, tapi kita tidak menghasratinya. Quote menarik, terbaca, terpahami dan terbagi. Begitu juga adigium, selalu menjadi bumbu paling keren dalam setiap realitas bahasa yang kita gunakan. Itu berlaku jika baris tulisannya tidak lebih dari 3 (tiga) paragraf, selebihnya scroll dan berakhir pada phrase “Izin Share”.

Perkara lain yang tidak kalah menggemaskan adalah warganet yang hanya bermodal judul berita. Tidak jarang, perseturuan jagat maya bermula hanya dari persoalan judul berita kontroversial yang bahkan kontennya tidak menggambarkan perkara judul yang diangkat. Sekali lagi, bermodal Izin Share dibumbuhi dengan caption menggelikan, dilempar ditengah gelanggang jagat maya tanpa membaca atau menelisik lebih jauh kebenaran informasi yang ada. Kita sama sekali tidak memiliki hasrat untuk membaca. Kita kalah!

***
Cukup literatif apa yang telah dilakukan oleh Muhammad Heychael, salah satu kontributor website Remotivi.co dan Dahlan Dahi selaku pimpinan redaksi tribunnews.com, perang pena antara keduanya berakhir pada meja diskusi yang dipertemukan oleh Serikat Pekerja Media dan Industri Kreatif untuk Demokrasi (SINDIKASI), di Studio Sang Akar Jalan Tebet, Jakarta Selatan, Selasa, 29 Mei 2018 lalu.

Saling-silang pendapat antara Remotivi dan Tribunnews beberapa waktu lalu mencerminkan peliknya perdebatan. Pada 22 Mei 2018, Remotivi menerbitkan esai panjang dari Muhamad Heychael yang berjudul Bagaimana Tribunnews Membantu Terorisme. Esai tersebut memaparkan bagaimana Tribunnews kebablasan menjalankan fungsinya sebagai bisnis dengan mengutamakan artikel-artikel umpan klik yang tidak substansial dan berdasarkan opini narasumber yang seringnya tidak relevan, sehingga justru memberi wadah bagi para pelaku teror untuk menyebarkan pesan dan ketakutan. Sehari kemudian, Tribunnews merespon melalui artikel Dahlan Dahi, pemimpin redaksi, dengan judul Analisa Muhammad Heychael Soal Tribunnews Cenderung Tendensius, Kasar, dan Tidak Fair.

Balas membalas tulisan ini berlanjut dengan tangggapan Muhammad Heychael pada branda facebooknya terkait dengan tulisan pimpinan redaksi tersebut. Hingga akhirnya, dialektika ini berakhir pada meja diskusi untuk menyamakan presepsi. Literatif.

Bagi saya, ini adalah salah satu upaya kita mentaktisi kekosongan “ketokohan” kita guna melawan peradaban. Terus meningkatkan intensitas baca, tulis dan berakhir pada meja diskusi yang romantis. Pasca Rocky gerung, dan Yusril Ihza Mahendra, bagi saya apa yang mereka berdua; Muhammad Heychael & Dahlan Dahi lakukan adalah budaya yang sangat literatif untuk memicu minat dan hasrat membaca sebelum Izin Share.

Salam. Izin Share!

Share:

0 komentar:

Posting Komentar