Kamis, 16 Agustus 2018

Gadis Jeruk Gaarder

Saya menyebutnya kemandirian imajinasi. Penulis yang hebat adalah pembaca ulung, pemakan buku istilahnya. Imajinasinya terkontrol dengan baik, meski melesit kemana-mana.

"Om Jostein Gaarder, mengapa anda suka sekali bermain surat, padahal peradaban kita punya banyak media?" Dia tersenyum tanpa menjawab.

Semula saya menemukan Sophie sibuk dengan surat ayahnya, lalu Nova kaget dengan segala penjelasan neneknya yang bernama Anna dari surat-surat yang dituliskannya 70 tahun lalu. Meski lebih modern, Anna tetap saja menggunakan surat.

Kali ini giliran anak tampan yang sedikit mirip dengan saya. Georg Roed namanya, dia baru berusia 15 tahun. Ditengah kesibukannya belajar biola, dia disuguhi oleh sang nenek surat-surat peninggalan almarhum ayahnya yang bercerita tentang gadis jeruk yang tidak lain ternyata ibunya sendiri.

Hal yang menarik, semua penulis surat tahu kondisi pembacanya ketika itu, seolah suratnya hadir untuk menjawab setiap keresahan pembacanya. Sophie dengan semua keresahan pengetahuannya, Nova dengan segala kondisi Bumi yang mengenaskan, Georg dengan segala kecanggihan teknologi teleskopnya. Jika dirunut, maka konsepnya Epistemologi, Eksistensial Makro dan Mikro Kosmos, Teknologi Postmodernism.

Andai saja dunia ini seperti Dunia Sophie dan Dunia Anna, (Dunia Maya; sabar, satu-satu), mungkin saja, gadis-gadisnya akan seperti jelmaan gadis jeruk. Manis.

"Tunggu, jangan-jangan anda ini seorang tukang pos Gaarder?" Dia menoleh, kali ini sembari menjawab celotehanku, "Tidak ada yang lebih romantis dari cara surat menyampaikan hasratnya, dia lebih indah dari yang Said bayangkan, coba saja!" saya mangguk kehilangan kata. Dalam hati, "saya punya WhatsApp Om".

Sembari berjalan Gaarder melanjutkan, hanya surat yang abadi, pembacanya fana. Anda bisa berkali-kali mencicipi romansanya, berkali-kali, tanpa bosan. Dia tidak bisa di-delete, apalagi di-resend. Anda bisa membacanya kembali dilain saat jika merasa telah kehilangan gairah, itu kuatnya surat, itu kekuatan tulisan. Dia juga bisa menghadirkan makna yang tersembunyi, sekaligus menyembunyikan makna. Begitu dahsyat surat, ajaibkan Id? Saya kikuk mendengar pernyataan yang diakhiri pertanyaan itu.

Dalam hati saya menggumam, "surat". Betapa beruntung generasi pendahuluku, menikmati "romansa yang hidup" dalam bait-bait teks pada secarik kertas. Apa tidak kolot jika saya menggunakannya? Ahh sulit, saya tidak punya seorang yang bisa menerima suratnya, tidak ada gadis jeruk di duniaku.

Gaarder membuyarkan lamunanku, "kita berpisah disini, ohh iya, jangan lupa datang di karnaval perayaan kemerdekaan besok, ini perayaan yang ke-73", iya yah, saya hampir lupa kalau ini Agustus, dan 2019 sebentar lagi. sembari menjabat tanganku, dia memberiku secarik surat dan berkata “Bacalah, Dengan (Menyebut) Nama Tuhanmu Yang Menciptakan” (QS: Al-Alaq).

Share:

0 komentar:

Posting Komentar