GADIS JERUK Gaarder Bernama Cecilia.
Akhirnya Gaarder mendengar keluhanku, kali ini gadis kecil bernama Cecilia yang diajaknya berselancar dalam samudra pengetahuan. Tidak lagi menggunakan surat, Om Gaarder kali ini mengirim seorang malaikat mungil.
Malaikat kecil itu bernama Ariel. tak bersayap, bulu rambut, alis dan segala tetek-bengek penduduk bumi kebanyakan. dibalik tubuh halusnya, dia memiliki badan yang kokoh seperti baja, tetapi tidak memiliki massa, dia bahkan tidak menggunakan alas kaki. Dia lembut seperti sutra, wajahnya teduh dan menentramkan di balik jubah putih yang menutupinya. Terdengar seperti Hero Natalia dalam game Mobile Legend, hanya saja dia mungil seperti Harley.
Ariel hadir untuk mengurai pengetahuan surgawi, dengan syarat Cecilia bersedia menceritakan sedikit pengetahuannya tentang duniawi. Iya, sedikit, terlalu berat jika ingin menceritakan semua alam semesta, toh juga kita manusia hanya mengetahui sedikit, samar-samar, tetapi selalu teledor mengatakan mengetahui segalanya. Sering merasa pintar tetapi jarang pintar merasa.
Akhirnya perjanjian surga dan dunia tercipta, lewat kaitan jari kelingking mungil Ariel dan gadis kecil Cecilia.
~
Apa yang bisa diperbuat oleh tubuh fana dari darah dan daging ini. Kita (manusia) tak berdaya tanpa penghuni surga di dalam diri. Dia-lah yang abadi, dia yang bertahta dalam jagad diri, mengusahakan keseimbangan antara jiwa dan raga. Ruh, Dia-lah yang Ilahiah, satu-satunya hal yang menyerupakan kita dengan penduduk surgawi.
"Om Gaarder, Cecilia sedikit berbeda dengan anak-anak lainnya, mengapa?" tanyaku. Ini pertemuan ke-dua kami setelah merayakan kemerdekaan ke-73 Agustus kemarin. "perbedaan itu permainan dunia, pangkalnya adalah "rasa" sebagai pembanding, medianya adalah panca Indra. Seandainya saja Said bisa memaksimalkan Indranya, maka perbedaannya akan terberai. Dengan begitu, kita akan menjadi lebih mengenali diri, menyatui jiwa dan menyibak fenomena dan kefanahan. Begitu kira-kira".
Sabar om, pelan-pelan, saya tidak paham. "Itu berarti Indra adalah pengekang?" tanyaku. Setelah menyeruput kopi, Gaarder melanjutkan, "Simak ketika Malaikat Ariel menembus dinding dan kaca jendela, lalu Cecilia tercengang, Ariel menjawab tanpa terlihat bangga :Tutup matamu dan bayangkan engkau terbang melintasi tembok dan keca itu. Jika bisa, maka tidak ada yang tidak bisa, jika itu dalam pikiranmu". Iya, iya, saya ingat sambungku.
Mengerutkan dahi, Gaarder melanjutkan, "bagaimana caramu mengingat, dan seperti apa kamu ketika lupa?" dalam hati saya berkata, ini pertanyaan sederhana yang tidak terlintas dalam benak selama ini. "dimana posisi pengetahuan ketika lupa, lalu datang dari sebelah mana ketika kita kembali mengingat?"
"Oh iya, saya sedikit paham, indra bukan pengekang, saya memicu ingatan lewat panca Indra" kataku. "iya, ingatan ada di dalan diri, dia abadi disana, kita hanya butuh stimulus untuk kembali mengingatnya" kata Gaarder. Ini terdengar seperti penemuan besar Plato, alam Ide yang purnah, tetapi kefanahan meliputi semua, sehingga kita butuh berbuat kebajikan untuk menyibak tirai hitam kefanahan.
Saya mengingat-ingat, dalam penggalan puisi kosmologi Mahabbah Ustadz A.m Safwan mengatakan, "Tidak ada pertemuan selain di Alam..., mulailah dari alam". Bukan begitu? Tanyaku.
Gaarder melanjutkan tanpa menjawab pertanyaanku "Alam adalah sumber, semua tersedia di sana, baik yang terindrai maupun yang tidak, begitu kira-kira para Materialisme menjelasakan dengan bangga, mereka tidak lupa kalau kita menggunakan Indra sebagai media, tetapi sekali lagi dengan bangga mereka menampik keberadaannya, pun dengan apa yang terjadi setelah semua Alam terindrai, proses pengolahan sumber, mereka menafihkannya, seolah pengetahuan itu mandiri". iya saya paham soal ini timpahku, apa yang Istimewah?
"Itulah penyakit dunia Id, samar-samar dan parsial. Bukan dunia jika purnah, itu juga penyakit manusia, apa yang kamu pahami?" Dengan bangga saya mengambil posisi untuk menjelaskan, "Disposesi Muhammad Baqir Ash-Shadr, bahwa pengetahuan itu relasi dari segalanya, ada konsepsi primer dan sekunder. Para Materialisme Feuerbach benar pada posisinya, Idealisme Plato, Rasionalisme Descartes, dan Empirisme John Locke, Hume, dan Buku-buku, kitab, benar sebagai sumber pengetahuan, tetapi relasi, hubungan dari kesemuanya-lah yang menghasilkan pengetahuan". Bukan begitu?
"saya sepakat pada sebagiannya", "lah mengapa sebagian" protesku, dengan santai Gaarder menjawab "karena jika keseluruhan, maka tidak akan ada sisa dialektika malam ini, pun jika semua, maka kita seharusnya berada di surga, bukan dunia, karena kebenaran itu abadi, sedang dunia tidak mengenal keabadian".
Tunggu dulu, saya ingat anda menyinggung soal Indra ke-enam lewat perumpamaan 2 ekor burung gagak Dewa Odin, Hugin dan Munin, yang dalam tafsir bahasa berarti "pikiran" dan "daya pikir". Ingatanmu cukup bagus kata Gaarder, hanya saja tetap lucu, dari mana pikiran itu sebelum muncul kembali. Lupakan. Begini, sembari memperbaiki posisi duduk, Gaarder menjelaskan, "Dewa Odin akan mengetahui segala sesuatu yang terjadi di bumi tanpa beranjak dari singgasanahnya, dia cukup menggunakan mata burung gagaknya".
"Dia seperti ada dimana-mana dalam waktu yang singkat, apa kamu tidak merasa kita seperti Hugin dan Munin, berlaku seperti mata-mata untuk Tuhan?" saya menjawab tegas "TIDAK, Tuhan tentu tidak butuh kita untuk mengetahui segala ciptaan-Nya, dia Maha Agung dengan segala Ciptaan-Nya". Benar, sambung Gaarder. "Tetapi Berpikir dan Daya pikir dititip pada kita untuk mengatahui ke'Tunggal'an-Nya, disitu posisi keabadian ruh, Nur Muhammad, dari sana kita diciptakan. Ini penting untuk dipahami agar kita mampu memposisikan diri pada semesta, pada sesama manusia, pada hewan, juga tumbuhan. Semua dari keabadian Nur Muhammad".
Saya tidak sepakat, hanya saja bukankah itu terdengar egois jika, Tuhan menciptakan Jagat Raya beserta isinya hanya untuk menunjukan keagungan-Nya?" tepat, gunakan Hugin dan Munin untuk memahaminya. Timpahnya disela-sela menyeruput sisa kopi sekali lagi.
~
Seingatku (lagi) Cecilia pernah bertanya pada Malaikat Ariel, mengapa dia begitu penasaran pada kehidupan Dunia yang fana, sedang dia memiliki keabadian. Ariel dengan santun menjawab, "karena kalian di dunia ini berpotensi memiliki keduanya, yang fana dan abadi". Ini terdengar familiar, seperti apa yang pernah ditanyakan oleh Emha Ainun Nadjib (Cak Nun), "kita manusia ini, apakah penduduk surga yang sedang bertamasya ke bumi, atau sebaliknya. Kita, apakah makhluk abadi yang sedang bertamasya pada kefanahan?" Bagitu hebat manusia, kataku dalam hati.
Jadi menurutku cukup lucu ketika memperdebatkan sesuatu yang abadi. Toh juga kita sedang dalam perjalanan menuju ke sana atau dengan kata lain 'mungkin' pulang ke sana. Yang jelas, kita butuh Gadis Jeruk untuk menjaga dunia ini agar tetap dalam kefanahan. "tanpamu, dunia ini akan terasa suram dan mengerikan, tidak fana, juga tidak abadi". Begitu kira-kira para melankolis mengutarakannya. 😂
Sebaliknya, bertikai untuk hal yang fana tidak kalah lucunya. Kita memiliki semua kefanahan, fanahku, fanahmu juga. Jadi sudahi semua kebodohan itu. Sedikit tidak elok jika kita berkisruh tentang pemilihan pemimpin, itu juga terlihat tidak sopan, bertikai di hadapan Tuhan. Bukan begitu Om Gaarder?
Sembari menyeruput sisa-sisa kopinya, Gaarder menjawab pertanyaanku, "Tentukan saja pilihanmu lengkap dengan alasan-alasannya, lalu ujilah alasan pilihan orang lain dengan argumentasi logik, bukan dengan sentimen [RG].
0 komentar:
Posting Komentar