Asapnya semakin tebal, apinya tidak mengintrospeksi diri. Ehh... Lupa, kalau "Api" tidak pernah berpikir, tidak pernah menggukan akal, tidak punya akal. Juga Api akan selalu mencari apa saja yg bisa dimakan (kambing hitam-gemuk) agar terus menyala (eksis) dan menghasilkan asap.
Asapnya mengepul, terus berputar dan meresahkan. Sebagian orang pura merasa muak dengan asap, sebagiannya lagi malah sibuk melihati gerakan akrobatik si Api, bukan memadamkannya. Siapa mereka?
Mereka itu ada sebagai pembanding. Konsep sederhananya mendifinisikan korban. Tanpa mereka, korban tidak pernah ada, seperti apa yang dibilang Prof Wim Poli, kita tak bernilai, sampai ada yang memberikan penilaian. "Khusuli" dalam logika pengetahuan.
Mengeksploitasi korban asap, menggoreng dan menggiring, asaplah yg menjadi dalang kegaduhan ini. Sebagian mereka tahu sumber Api, malah aktif menyuplei bahan baku, untuk apa, bersembunyi. Dalam asap mereka berhasil menyembunyikan banyak hal. Gumpalan asap kian hari kian menebal. Hadirlah mereka yang menyadari keadaan objektif, lalu berusaha menghadirkan angin guna membuat terang penglihatan. Sayang, mereka berbondong, kembali menggoreng dan menggiring.
Bahwa angin yg hadir adalah badai, badai topan yang harus dihentikan segera dengan cara apapun dalam dalil; akan sangat banyak korban berjatuhan jika tidak segera ditindak. Para korban terlampau polos, menerima, pasrah, tergiring dan tergoreng, angin berhasil dibuat terlihat membantu nyala Api semakin berkobar, bukan membuat terang dan mengibas gumpalan asap.
Sekali lagi, mereka dengan bebas bersembunyi dan menyembunyikan banyak hal. Ohh Api... Saya prihatin.
0 komentar:
Posting Komentar