Konsep teologi kita hari ini seperti sudah di-set up dalam kerangka teologi eksklusif, menganggap bahwa kebenaran dan keselamatan suatu agama, menjadi monopoli agama tertentu. Sementara pada agama lain, kita kadang menerapkan standar yang sama sekali berbeda. Dengan menggunakan cara pandang agamanya (eksklusif), menilai agama lain tanpa menyisahkan ruang toleransi untuk berempati, apalagi simpatik.
Jika konsep ini dibawah dalam ranah epistemologi, tafsirnya akan absurd, karena dalam logika kebenaran, masing-masing agama akan menyodorkan proposal "claim kebenaran". Bayangkan, akan betapa rancunya standar masing-masing. Klaim seperti ini sudah bersifat latent dan terkadang juga manisfest lanjut terekspresi keluar, sehingga (berpotensi) mengakibatkan pertentangan bahkan perang. Fenomena ini disebut oleh Hugh Goddard sebagai Double Standards. Kondisi ini seharusnya sudah hangus jauh dibeberapa abad silam.
Perhatikan, Cyber War yang belakangan marak terjadi, hanya berisi konten suku, ras(a) dan agama. Jika diperhatikan dengan seksama, persoalannya adalah penerapan standar ganda yang eksklusif, hingga berimbas pada Intoleran.
Hal yang melegahkan menurut saya bahwa, situasi ini hanya terjadi momentuman, ketika ritus prosesi demokrasi. Asumsinya sederhana, ini adalah pola politisasi, bukan berangkat dari ketidakpahaman atau kerangka teologi yang cacat. Semoga setelah perhelatan, semuanya akan normal (cerdas) kembali. Karena jika tidak, Fiksi di tahun 2030 akan teraktual.
0 komentar:
Posting Komentar