![]() |
| Foto: Harian Bhirawa Online |
Jacque Derrida (1930-2004); dalam
filsafat Dekonstruksi-nya mengatakan, bahwa tidak ada makna yang stabil dalam
setiap teks. Teks hadir dalam modenya, terpisah, bahkan (dalam pandangan
ekstrim) dengan penulisnya sendiri.
Manusia membangun hubungan formasi makna secara
spontan, ini lahiriah adanya. Tidak heran jika banyak -secara spontan-
membangun tafsir pada fenomena. Sayangnya kadang mengeliminasi nomena, yang
berujung pada nilai subjektif. Pun pada sebuah teks, kita banyak menerapkan
konsep yang sama. Tulisan ini mengerucut pada beberapa status saya yang –secara
spontan- dimaknai oleh sahabat facebook.
***
Begini, tindakan/reaksi berlebihan kepada
terorisme itu justru merupakan ancaman yang lebih berbahaya ketimbang para
teroris itu sendiri. Sebab, itulah tujuan awal konspirasinya, membangun rasa
takut, panik, gaduh dan candu.
Membangun opini publik; bahwa kita memiliki semua
pemikiran, berdiri pada sisi yang sama dan bersama adalah konsep yang pernah
diterapkan Amerika dalam sebuah konspirasi melawan para “pandir” demokrasi Uni
Soviet. Gambaran sederhananya, setiap entitas yang mencoba mempertanyakan makna
demokrasi, dibuat seolah menjadi musuh bersama yang harus ditumpas segerah.
Konsep ini juga diterapkan dalam stategi militernya, bahwa menumpas gerakan
radikalime (terorisme) di Timur Tengah adalah upaya untuk menyelamatkan dunia,
tindakan heroik nan filantropi. Setidaknya begitulah pemikiran (bersama)
sebagian warganya. Hasilnya, tindakan itu di-aminkan oleh banyak pihak.
Kita tergiring untuk bersepakat, memiliki musuh
bersama yang harus dimusnahkan segerah. Efeknya, tidak jarang kita mendahulukan
‘naluri’ ini lalu berakhir mengenyampingkan analisis logic. Subjektiflah kita.
Tidak mencerahkan, malah semakin besarlah rasa takut, panik, gaduh dan candu
itu. Sampai disini, mode penolakan relevan untuk ada.
Menolak, bukan menolak untuk mengatakan terorisme
adalah musuh bersama, bukan. Bagaimanapun, tidak ada kalimat yang bisa
mengilustrasikan kebiadaban tidakan terorisme, tetapi menolak untuk ikut larut
dalam kepanikan dan kegaduhan yang ditimbulkannya. Ini penting bagi kita guna menentukan keputusan-keputusan yang akan diterapkan. Bagiamanapun juga, kehidupan
bernegara harus tetap berlanjut, masih banyak persoalan yang harus
diselesaikan. Bisa jadi, radikalisme lahir dari lebarnya gap atau ketimpangan kehidupan social yang gagal dievaluasi oleh
Negara. Bisa jadi, siapa tahu.
Pun dalam kebiasaan kita mengonsumsi informasi
yang dihadirkan oleh media. Barang yang satu ini memang memiliki andil yang
sangat strategis dalam kehidupan sekarang. Tak jarang saya menemukan dialektika
yang tidak sehat bermula hanya dari sebuah judul “norak” berita. Belum lagi
jika kontennya berisi bualan para tokoh-tokoh bangsa yang kontrover-sial.
Shit!! Cover both side is death brotha.
Seyogianya paradigma ini dapat diterapkan dengan baik dalam konsep
Mitdasein ala Martin Heidegger (1989-1976), hadir bersama dalam keadaan
bermakna. fenomena dihayati bersama secara mendalam untuk membuat terang
persoalan. Bukan malah larut dalam kegaduhan yang ditimbulkannya.
***
Ini kita belum bicara soal kejanggalan dan nomena dari fenomenanya
loh, karena setiap kita, berdiri pada kepentingan (terselubung) yang berbeda.
Dan -kabar buruknya- saya bisa membuat anda membantu saya mencapai kepentingan
pribadi, hanya dengan memposisikan anda pada pemikiran saya. Kita punya
pemikiran dan berdiri pada konsep yang sama, mari wujudkan (mau?; mengerikan
bukan!?).
Karena sejatinya, keberadaan tulisan bukan untuk menyembunyikan
makna, ia ada untuk menyampaikan makna yang
tersembunyi. Salam.
ID Official.
Makassar, 16 Mei 2018

0 komentar:
Posting Komentar