Selasa, 15 Mei 2018

Mitdasein; Hadir Bersama Dalam Keadaan Bermakna

Foto: Harian Bhirawa Online

Jacque Derrida (1930-2004); dalam filsafat Dekonstruksi-nya mengatakan, bahwa tidak ada makna yang stabil dalam setiap teks. Teks hadir dalam modenya, terpisah, bahkan (dalam pandangan ekstrim) dengan penulisnya sendiri.

Manusia membangun hubungan formasi makna secara spontan, ini lahiriah adanya. Tidak heran jika banyak -secara spontan- membangun tafsir pada fenomena. Sayangnya kadang mengeliminasi nomena, yang berujung pada nilai subjektif. Pun pada sebuah teks, kita banyak menerapkan konsep yang sama. Tulisan ini mengerucut pada beberapa status saya yang –secara spontan- dimaknai oleh sahabat facebook.
***
Begini, tindakan/reaksi berlebihan kepada terorisme itu justru merupakan ancaman yang lebih berbahaya ketimbang para teroris itu sendiri. Sebab, itulah tujuan awal konspirasinya, membangun rasa takut, panik, gaduh dan candu.

Membangun opini publik; bahwa kita memiliki semua pemikiran, berdiri pada sisi yang sama dan bersama adalah konsep yang pernah diterapkan Amerika dalam sebuah konspirasi melawan para “pandir” demokrasi Uni Soviet. Gambaran sederhananya, setiap entitas yang mencoba mempertanyakan makna demokrasi, dibuat seolah menjadi musuh bersama yang harus ditumpas segerah. Konsep ini juga diterapkan dalam stategi militernya, bahwa menumpas gerakan radikalime (terorisme) di Timur Tengah adalah upaya untuk menyelamatkan dunia, tindakan heroik nan filantropi. Setidaknya begitulah pemikiran (bersama) sebagian warganya. Hasilnya, tindakan itu di-aminkan oleh banyak pihak.

Kita tergiring untuk bersepakat, memiliki musuh bersama yang harus dimusnahkan segerah. Efeknya, tidak jarang kita mendahulukan ‘naluri’ ini lalu berakhir mengenyampingkan analisis logic. Subjektiflah kita. Tidak mencerahkan, malah semakin besarlah rasa takut, panik, gaduh dan candu itu. Sampai disini, mode penolakan relevan untuk ada.

Menolak, bukan menolak untuk mengatakan terorisme adalah musuh bersama, bukan. Bagaimanapun, tidak ada kalimat yang bisa mengilustrasikan kebiadaban tidakan terorisme, tetapi menolak untuk ikut larut dalam kepanikan dan kegaduhan yang ditimbulkannya. Ini penting bagi kita guna menentukan keputusan-keputusan yang akan diterapkan. Bagiamanapun juga, kehidupan bernegara harus tetap berlanjut, masih banyak persoalan yang harus diselesaikan. Bisa jadi, radikalisme lahir dari lebarnya gap atau ketimpangan kehidupan social yang gagal dievaluasi oleh Negara. Bisa jadi, siapa tahu.

Pun dalam kebiasaan kita mengonsumsi informasi yang dihadirkan oleh media. Barang yang satu ini memang memiliki andil yang sangat strategis dalam kehidupan sekarang. Tak jarang saya menemukan dialektika yang tidak sehat bermula hanya dari sebuah judul “norak” berita. Belum lagi jika kontennya berisi bualan para tokoh-tokoh bangsa yang kontrover-sial. Shit!! Cover both side is death brotha.

Seyogianya paradigma ini dapat diterapkan dengan baik dalam konsep Mitdasein ala Martin Heidegger (1989-1976), hadir bersama dalam keadaan bermakna. fenomena dihayati bersama secara mendalam untuk membuat terang persoalan. Bukan malah larut dalam kegaduhan yang ditimbulkannya.
***
Ini kita belum bicara soal kejanggalan dan nomena dari fenomenanya loh, karena setiap kita, berdiri pada kepentingan (terselubung) yang berbeda. Dan -kabar buruknya- saya bisa membuat anda membantu saya mencapai kepentingan pribadi, hanya dengan memposisikan anda pada pemikiran saya. Kita punya pemikiran dan berdiri pada konsep yang sama, mari wujudkan (mau?; mengerikan bukan!?).

Karena sejatinya, keberadaan tulisan bukan untuk menyembunyikan makna, ia ada untuk menyampaikan makna yang tersembunyi. Salam.

ID Official.
Makassar, 16 Mei 2018
Share:

0 komentar:

Posting Komentar