Senin, 02 April 2018

PKN; Riwayatmu Kini

Disaat orang-orang cerdas enggan mengulurkan tangan untuk menjabat para pencari suaka kesejahteraan dan keadilan, orang-orang dungu sibuk menebar fitnah dan kebencian. Lalu siapa yang akan bersorak kegirangan?

Kita melupa bukan karena usia, ini uniknya manusia, piawai dalam perihal pura mengingat. Pesan antisipatif tercermin menjadi ancaman, kritik dibalas dengan intimidasi. Sara, ras, agama, menjadi bahan ajar pokok dalam cyber war curriculum, kita pura lupa pada hal pokok.

"Perhatikan wilayahmu, jangan perhatikan pimpinan wilayahmu".

Terus terngiang ingatan bangga pada sebuah negeri yang digaungkan para pendidik dalam kamus matapelajaran PKN; kita adalah negara besar, negara yang bersuku, bangsa, ras, agama dan bahasa, bersatu kokoh dalam cengkraman sang garuda, Nusantara.

Santun, ramah, gotong-royong, toleran, itu makanan pokok negara besar ini. Bangkit dalam perjalanan panjang sejarah yang cukup kelam, merangkak perlahan menuju cita para pendiri bangsa, (masih) dalam nuansa jati dirinya sebagai bangsa yang asyik dibaca dalam buku PKN, Nusantara.

"Kita punya ciri khas, kita adalah kita, kita memiliki prinsip bernegara yang konsisten" kata Bung Hatta. Masih kah kita? Atau kita yang hari ini masih terlalu dini untuk menanggalkan kemafhuman kita pada seragam "Tenggangrasa, Tanggungjawab, dan Toleransi". Mari bersama belajar PKN kelas 3 SD kembali.
___________
Pendidikan Kewarganegaraan [PKN], riwayatmu kini.

Share:

0 komentar:

Posting Komentar