Selasa, 24 Juni 2014

Garuda, Sebatik & Malaysia

Tugu Garuda, Desa Aji Kuning - Pulau Sebatik
Garuda Di Dadaku, Produk Malaysia Di Perutku. --- Semboyan Unik yang pernah kudengar disebuah pulau yang selalu disebut garda terdepan NKRI.

Hari ini adalah hari kesepuluh, tepatnya tanggal 9 juli 2013. Desa yang terletak disebuah pulau terluar Indonesia, Sebatik kabupaten Nunukan Kalimantan Timur, saya dan beberapa teman dari beberapa fakultas Se-UNHAS melaksanakan KKN. Pulau ini berbatasan lansung dengan negara Malaysia, kurang lebih 200 meter kebelakang atau menyeberang pulau 20 menit batas negara sudah dilewati. Hal yang lumrah kemudian jika banyak kebutuhan hidup warga Sebatik sebagian besar dari negeri seberang sanah.

“ Berharap dari pemerintah kita, sama dengan bunuh diri “ sepenggal celotehan yang sedikit menyayat hati ketika mendengarnya. Yah, celotehan ini akan sering anda dengar ketika berada ditempat ini. Soal ketidak pedulian pemerintah kita terhadap masyarakat adalah hal yang sudah terlalu Basi untuk aku keluhkan, pemerintah dan beberapa stakeholder penentu kebijakan lainnya tidak lagi berada dijalur kontitusi NKRI, salam kata kotor dan caki-maki adalah pilihan yang paling bijaksana untuk mereka (Panjang Umur Perjuangan).

Jangan pernah bilang jika mereka adalah garda terdepan NKRI, jika ketidak perdulian-mu menyertainya.

Jangan pernah bayangkan mereka seperti apa yang sedang anda rasakan saat ini, jangan pernah membayangkan tentang kehidupan pulau indah seperti kebanyakan. persentase pemuda putus sekolah, akses jalan lintas daerah sepulau sebatik, sarana dan prasarana pendidikan adalah secercah masalah yang perlu kita bicarakan dan pemerintah perhatikan. Pemandangan miris di malam hari yang terkias bagai langit dan bumi adalah perbandingan kota sebatik Malaysia yang terletak di Tawau dan sebatik indonesia yang terletak di sebatik Timur. Fakta kongkrit yang semakin menambah kebijaksanaan terhadap caki makian kita kepada pemerintah. Ini bukan soal garda terdepan, tapi ini tentang sebuah Kepedulian.

Jangan pernah bilang jika mereka adalah garda terdepan NKRI, jika ketidak perdulian-mu menyertainya.

Tabung gas petronas, lembaran uang ringgit Malaysia, dan produk yang bertuliskan Made in Malaysia adalah hal biasa yang akan anda jumpai di daerah ini, ini bukan persoalan pilihan produk tetapi sekali lagi hal ini semakin mempertegas tidak adanya unsur kepedulian pemerintah RI terhadap pulau yang dianggap Garda Terdepan ini. Alasan yang dikeluhkan beberapa masyarakat pulau ini adalah akses yang disediakan pemerintah untuk pelayanan dan sarana sangat sulit untuk diperoleh, sebab itu tidak heran jika produk negara sendiri hanya bisa mencapai reting Alternatif.

Jangan pernah bilang jika mereka adalah garda terdepan NKRI, jika ketidak pedulian-mu menyertainya.

Bahasa Indonesia adalah bahasa kesatuan kita, tersurat dalam sumpah pemuda yang mengkiaskan tentang kebersatuan kita dalam sebuah perbedaan suku dan bahasa nusantara, dan jangan pernah merasa heran jika dalam waktu kurang lebih seminggu ini kami hanya bisa mendengar celotehan-celotehan yang bernuansa bahasa rumpun Malaysia. Ini bukan soal bahasa, tapi pengakuan terhadap garda terdepan.

Ada banyak hal yang memotifasiku untuk menuliskan segalanya, ada banyak fakta kesedihan yang ingin aku sampaikan kepada kita semua, tentang sebuah kesatuan, tentang sebuah negara yang mengaku bersatu, tentang sebuah pemerintahan yang mengaku mengayomi dan melindungi kepentingan rakyat diseluruh pelosok negerinya, tentang sebuah celotehan stakeholder yang sedang sibuk mempersiapkan segala urusan pribadi dalam tugas kenegaraannya, dan tentang sebuah kehidupan yang terus termarjinalkan dari istilah keadilan dan kepedulian dari Imam dimassanya (Pemerintah).


Pondok Irmayanti. 26/07/2013 Pukul 16 : 24 Wita




Share:

0 komentar:

Posting Komentar