Selasa, 24 Juni 2014

KMPW Kekinian

Koleksi Foto Pribadi. Liga KEPPMI 2008-2009

Konsekuensi dari realitas sosial dan sifat lahiriah manusia adalah mengalami ketergantungan satu sama lain. Perspektif ketergantungan dalam konteks ini dimaksudkan dalam arti luas, saling membutuhkan dan saling melengkapi demi mengifisienkan upaya dalam proses pencapaian tujuan hidup. Kesejatian manusia sebagai makhluk sosial adalah berinteraksi, berkomunikasi dan bergaul/berkumpul terhadap sesamannya dalam bentuk dan motif semangat  apapun. Fenomena sosial kemudian secara tidak lansung mengkategori manusia cenderung berkumpul berdasarkan pada beberapa aspek yang menjadi dasar dari pertimbangannya. Dimulai dengan unsur Alamiah sampai pada unsur Sosial. Pada unsur Alamiah misalnya persamaan Ras, Suku, Keturunan, wilayah dan sebagainya, sedangkan pada unsur sosial terkadang karena memiliki persamaan agama, Ideologi, persamaan sejarah, persamaan nasip atau persamaan tujuan hidup.

Kecenderungan diatas terus terjadi dalam setiap kondisi dan generasi. Kepentingan yang terus berafiliasi dalam berbagai pola, mengakibatkan bentuk-bentuk perserikatan disuaikan pula dengan segala kondisi dan kebutuhan yang diinginkan. Dalam semangat dan landasan unsur yang ± sama kemudian suatu perkumpulan pemuda terbentuk, perkumpulan yang hadir dengan semangat untuk mengakomodir kepentingan para Pelajar pada khususnya dan pemuda pada umumnya. Dalam perspektif lain, perkumpulan ini hadir dengan semangat yang lebih khusus yaitu menjadi wadah untuk mengintegrasi kepentingan para pemuda dan pelajar suatu wilayah yaitu Kecamatan Watopute[1] yang sedang menyenyam pendidikan atau berdominsili di kota Makassar, semangat yang tumbuh dari unsur sosial atas persamaan wilayah dan suku. Oleh karena Perkumpulan ini kemudian disebut dengan Kerukunan Mahasiswa dan Pemuda Watopute (KMPW) Muna-Makassar. Meski hadir atas dasar semangat persamaan wilayah dan suku, KMPW tidak sekali-kali bersifat rasis, melainkan terus menjunjung tinggi semangat pluralisme yang ada.

Refleksi Sejarah
Secara sederhana dapat diasumsikan bahwa, salah satu cerminan dari sifat lahiriah manusia untuk ber-sosial/berserikat dan sebagai upaya untuk pencapaian tujuan, kemudian KMPW terbentuk dengan konsep dan nilai-nilai yang ada. Salah satu identitas yang terbangun dalam pembentukan kerukunan ini adalah pandangan bahwa Pemuda dan mahasiswa juga harus terlibat secara lansung dalam membangun komitmen Ke-Muna-an dengan jiwa persaudaraan, membangun komunikasi interaktif yang dilandasi oleh “Dapomaa-Masigho, Dapomoo-Mologho, Dapopia-Piara Dapoadha-Adhati, Dapoangka-Angkatau” yang kemudian menjadi Dasar filosofis dari perhimpunan ini.

KMPW Muna Makassar, didirikan di Makassar pada tanggal 3 Februari 2003 silam, 13 Dzulhijah 1424 H.[2] Perhimpunan ini terbangun dalam balutan asas kekeluargaan, kebersamaan, gotong royong, wadah paguyuban untuk saling memudahkan antar para pemuda/pelajar dalam melaksanakan segala aktifitasnya di daerah Makassar. Layaknya sebuah perkumpulan yang dipelopori oleh para pemuda/pelajar, maka perkumpulan ini terlihat identik dengan nuansa intelektual yang tetap terbalut dalam asas kekeluargaan dan kebersamaan. Konsekuensinya adalah sebagai bentuk tanggungjawab keilmuan, maka nilai pelajar (Pendidikan, Penelitian, dan Pengabdian) harus terpatri dalam sanubari setiap insan KMPW.  Sejak terbentuknya, pada 3 Februari tahun 2014 mendatang KMPW akan berumur 11 tahun. Diusianya yang masih terbilang belia tersebut, perkumpulan ini telah memberikan sumbangsi yang cukup besar tidak hanya dalam hal Pendidikan, tetapi pengabdian pada masyarakat. Terbukti dengan adanya senior-senior KMPW yang kini menduduki peran penting disetiap tempat/social yang mereka tempati. Disamping itu perkumpulan ini tidak hanya dikenal dalam kawasan kec. watopute, tetapi pada wilayah kabupaten Muna yang lebih luas karena aktifitasnya dalam memberikan pengabdian kepada masyarakat.

Tentunya prestasi tersebut tidak serta merta terjadi begitu saja seperti keajaiban yang turun dari langit. Komitmen yang teguh, dan usaha ekstra yang tersimpul dalam bias kebersamaan adalah salah satu kuncinya, Semangat itu terus terjaga dalam setiap penetuan sikap oleh KMPW. Akibatnya dalam setiap melakukan sesuatu, perkumpulan ini mampu melewati setiap rintangan yang ada sebagai efek dari kebersamaan yang terhukumi dalam komitmen dan tanggungjawab yang ada. Lantas bagaimana dengan wajah KMPW saat ini ?

Perspektif Kekinian
Kini KMPW akan memasuki usianya yang ke 11 pada februari mendatang.

Setiap masa memiliki generasi, setiap generasi memiliki metodenya masing-masing dan bagaimanapun perbedaan metode dari setiap generasi, semestinya semangat dalam menjunjung setiap nila-nilai yang telah terbangun oleh sejarah tetap terjaga. Seperti yang pernah diucapkan oleh pelopor negeri ini Ir. Sukarno dengan “Jasmerah”-nya[3], tentunya generasi KMPW saat ini tidak mesti harus mendengar kalimat khusus dari pelopor KMPW.

Dengan masa dan kondisi yang berbeda, tentunya generasi saat ini memiliki metode yang berbeda pula yang ditawarkan untuk membawa KMPW kedepan, melihat sejarah tentu sebagai upaya pembelajaran dan konsep pembanding, akan sangat tidak bijaksana jika kita malah tenggelam dalam romantisme masa lalu yang memiliki pijakan pengambilang keputusan yang jauh berbeda dengan saat ini. Senior terdahulu terkenal sangat kompak, rasa kebersamaan yang terbangun betul-betul kokoh dan selalu terbalut dalam komitmen yang begitu teguh demi KMPW kedepan yang lebih baik.

Berangkat dari semangat tersebut, akan sangat sangat tidak aneh jika senior yang melihat kondisi KMPW kekinian akan menuai sedikit kekecewaan, semangat yang terbangun oleh generasi terdahulu terlihat poranda (dalam perspektif lain) pada kondisi saat ini. Orientasi awal pembentukan perkumpulan ini untuk mengakomodir kepentingan para pemuda/pelajar dan sebagai wadah untuk membangun silaturahmi tidak lagi terlihat kasat mata. Ada yang bilang bahwa ini adalah sebuah dinamika sebuah perubahan atau bisa dibilang siklus dalam setiap perkembangan fenomena social, ada pula yang mengatakan bahwa ini adalah sebuah kemunduran yang harus segera diselesaikan. Asumsi yang berkembang tentu memiliki landasan masing-masing, tetapi menurut penulis kondisi apapun itu, entah mengalami kemajuan atau sebaliknya sudah semestinya untuk disikapi sebagai bentuk kepedulian kita terhadap KMPW.

Merosotnya kuantitas kader, semakin berkurangnya intensitas silaturahmi, mandeknya beberapa kegiatan yang direncakan (meskipun tidak menjadi tolak ukur prioritas) adalah sederet kondisi yang dihadapi oleh KMPW saat ini. Tentu ini selanjutnya menjadi sebuah masalah ketika mendapat pembanding dengan wajah KMPW dimasa lalu, meski secara objektif penulis memandang sangat tidak relevan, tetapi fakta social menggambarkan tentang betapa gamblangnya sekitar kita mengambil perbandingan tersebut, sehingga tidak jarang kita akan menemukan penggalan kalimat “Kita dulu… ! bla bla bla”

Setiap generasi memiliki kondisi masing-masing yang berimplikasi pada masalah yang ditimbulkannya. Sekali lagi, akan menjadi pilihan yang sangat tidak bijaksana ketika kita membiarkan diri terpasung dalam romantisme sejarah masa lalu. Jadi, bukan pada masalahnya semestinya kita berputar, tetapi analisis solusi yang diharapkan tidak akan menimbulkan masalah baru lagi. Meski akan sedikit subjektif, tetapi ini adalah langkah awal untuk memulai menaggapi kondisi yang ada.

Analisis Masalah & Solusi Alternatif
Dari gambaran perbandingan kondisi KMPW kekinian, tentunya senior dan kawan-kawan KMPW memiliki segudang konsep solusi yang belum sempat dipaparkan pada keluarga besar KMPW Muna-Makassar. Meski akan sangat subjektif, tetapi ini adalah langkah awal yang menurut hemat penulis bisa menjadi upaya dalam menaggapi kondisi yang ada.

Intensitas pertemuan silaturahmi yang semakin berkurang. Jika KMPW dulu memiliki semangat awal sebagai wadah pembelajaran dan silaturahmi dalam pembentukannya, maka kondisi saat ini termasuk dalam kategori yang harus disikapi lebih. Silaturahmi yang tidak terbangun berimplikasi lansung pada beberapa aspek dalam kubu KMPW itu sendiri. Ketidak kompakan, terputusnya jalinan komunikasi keluarga besar, sehingga terkadang sampai pada kondisi akut yaitu tidak terjaganya nilai-nilai filosofis sebagai dasar pembentuk yang dulunya terjunjung tinggi oleh para pendiri perkumpulan ini.

Efek lain yang ditimbulkan dari masalah ini kemudian adalah merosotnya nuansa pembelajaran yang semestinya menjadi semangat lain dari pembentukan KMPW, yaitu Pendidikan, pembelajaran dan pengabdian pada masyarakat. Jika aspek pendidikan dan penelitian kemudian mampu ditaktisi dengan cara alternative dari setiap individu, bagaimana dengan aspek pengabdian ? Pengabdian yang dimaksud dalam hal ini semestinya adalah pengabdian yang melibatkan KMPW dalam bentuk lembaga, bukan aspek individu dari dalam KMPW itu sendiri. Dalam perkembangannya perkumpulan ini memiliki metode pengabdian dengan melaksanakan program kerja yang bersifat menyentuh lansung kehidupan atau kondisi social khususnya di masyarakat kecamatan Watopute. Dengan langkah tersebut KMPW dikenal oleh khalayak sejak dahulu, perkumpulan ini kemudian memiliki daya pikat tersendiri untuk menarik para pemuda dan pelajar yang akan melanjutkan pendidikan tinggi, sehingga kemerosotan kuantitas kader tidak terjadi.

Ada beberapa factor yang bisa menjadi pelaku dalam kondisi kekinian, menurut hemat penulis hal yang paling utama dalam factor tersebut yaitu :

Tidak adanya wadah untuk melansungkan aktifitas silaturahmi (Secret)
Sekuat apapun motifasi kita untuk berkumpul bersama, secara realistis jika kita tidak memiliki wada maka kita akan mengalami kesulitan, jika dikatakan bahwa ada upaya alternative yang bisa ditempuh, tetapi hal ini tentu akan memberikan bias psikologi yang berbeda. Beberapa orang akan cenderung berkumpul pada sebuah tempat yang secara psikologis sering ditempatinya. Dalam perkembangannya, KMPW sejak dulu memiliki tempat untuk membahas tentang segala konsep yang selanjutnya akan dilaksanakan oleh masyarakat KMPW, yang saat ini tempat itu sudah tidak ada.

Kesibukan masing-masing individu
Tidak dapat dipungkiri, semangat yang terbangun dalam diri setiap individu yang terbangun saat menginjakan kakinya di daerah ini adalah menyenyam pendidikan. Akan sangat tidak etis jika kita menghukumi ketidak hadirannya untuk bersilaturahmi ketika bertepatan dengan jadwa kuliah atau kesibukan lain yang lebih penting.

Nilai jual KMPW
Motifasi yang terbangun terbangun dari factor eksternal dan Intrenal, factor internal akan mendominasi ketika kita memiliki kesadaran yang mendasar. Factor eksternalnya adalah kondisi dan lingkungan, jika KMPW memiliki wadah untuk silaturahmi, selanjutnya ada nilai – nilai lain dalam KMPW yang tidak terdapat dalam organ manapun, maka secara psikologis aka nada potensi orang untuk mencari waktu luang ditengah kesibukannya. Hari ini nilai itu masih menjadi misteri.

Ditengah menjamurnya organ-organ yang memiliki maksud dan tujuan yang sama, yang justru hadir dengan daya tarik yang lebih, membuat KMPW menjadi pilihan alternative. Hingga tidak heran jika komunitas yang bersifat homogeny-lah yang memiliki kuantitas kader, karena disamping terikat secara profesi, nilai-nilai yang tumbuh dalam organ tersebut akan sangat membantu dalam proses pendidikan dan pengabdiannya. Tentunya KMPW tidak mesti harus berafiliasi menjadi perkumpulan seperti itu, tetapi bertransformasi membentuk wajah baru dengan nilai jual lebih yang tentu tetap menjaga nilai-nilai filosofis pembentukan KMPW. 

Kondisi lingkungan (perkembangan zaman)
Tidak dapat dinafihkan bahwa perkembangan zaman akan sangat memengaruhi pola-pola interaksi social. Saat ini ada banyak pilihan yang bisa mengakomodir keinginan kita untuk bersilaturahmi meski tidak bertemu secara lansung. Terlepas dari apakah implus yang ditimbulkan itu adalah nyata atau hanya semu belaka ( Urusan lain). Perkembangan zaman yang membuka akses informasi begitu gamblang, membuat kita tidak meresa ketergantungan dengan hanya beberapa orang (malah ketergantungan terjadi pada akses informasi tersebut).

Jika dahulu keluarga besar KMPW harus duduk bersama secara nyata dalam membicarakan segala konsep yang ada, maka hari ini upaya itu dapat dilakukan dengan cara lain. Meskipun ini disisi lain adalah solusi untuk efisiensi, tetapi yang dibangun dalam wacana ini adalah upaya silaturahmi. Dan jika dahulu keluarga KMPW baru masih sangat tergantung pada senior-senior ketika menginjakan kaki di kota Makassar, saat ini hal tersebut tidak akan nampak lagi sebagai akibat dari bebasnya arus dan akses informasi yang diperoleh.

***
Setiap dari kita yang merupakan keluarga besar KMPW tentu memiliki konsep masing-masing dalam menyikapi kondisi yang ada, tulisan ini hanya pendapat subjektif penulis sebagai upaya awal dalam menanggapi kondisi yang ada. Tentu penulis berharap bahwa kondisi ini tidak akan mencederai KMPW lebih jauh. Harapan bisa ditanamakan, tetapi ambisi untuk menyelesaikan semua masalah  dengan satu langkah pratis mungkin sedikit tidak realistis. Semestinya kita akan resah dengan semuanya, semestinya kita akan memliki konsep terkait dengan kondisi yang ada, sebagai wujud komitmen untuk KMPW yang lebih baik, yang akan terbalut dalam semangat filosofis perubahan. Salam ...


Makassar, 20 Desember 2013. Pondok Inlander Pukul  02 : 07 Wita
Penulis adalah Ketua KMPW Periode 2012-2014



[1] Salah satu kecamatan yang ada di Kab. Muna; Prov. Sulawesi Tenggara
[2] Pendiri KMPW Adalah Senior-senior ****
[3] Jangan Sekali-kali Melupakan Sejarah.
Share:

0 komentar:

Posting Komentar