![]() |
| Koleksi Foto Pribadi. Liga KEPPMI 2008-2009 |
Konsekuensi dari
realitas sosial dan sifat lahiriah manusia adalah mengalami ketergantungan satu
sama lain. Perspektif ketergantungan dalam konteks ini dimaksudkan dalam arti
luas, saling membutuhkan dan saling melengkapi demi mengifisienkan upaya dalam
proses pencapaian tujuan hidup. Kesejatian manusia sebagai makhluk sosial
adalah berinteraksi, berkomunikasi dan bergaul/berkumpul terhadap sesamannya
dalam bentuk dan motif semangat apapun. Fenomena sosial kemudian secara
tidak lansung mengkategori manusia cenderung berkumpul berdasarkan pada
beberapa aspek yang menjadi dasar dari pertimbangannya. Dimulai dengan unsur
Alamiah sampai pada unsur Sosial. Pada unsur Alamiah misalnya persamaan Ras,
Suku, Keturunan, wilayah dan sebagainya, sedangkan pada unsur sosial terkadang
karena memiliki persamaan agama, Ideologi, persamaan sejarah, persamaan nasip
atau persamaan tujuan hidup.
Kecenderungan diatas terus terjadi dalam setiap kondisi dan
generasi. Kepentingan yang terus berafiliasi dalam berbagai pola, mengakibatkan
bentuk-bentuk perserikatan disuaikan pula dengan segala kondisi dan kebutuhan
yang diinginkan. Dalam semangat dan landasan unsur yang ± sama kemudian suatu
perkumpulan pemuda terbentuk, perkumpulan yang hadir dengan semangat untuk
mengakomodir kepentingan para Pelajar pada khususnya dan pemuda pada umumnya.
Dalam perspektif lain, perkumpulan ini hadir dengan semangat yang lebih khusus
yaitu menjadi wadah untuk mengintegrasi kepentingan para pemuda dan pelajar
suatu wilayah yaitu Kecamatan Watopute[1] yang sedang
menyenyam pendidikan atau berdominsili di kota Makassar, semangat yang tumbuh
dari unsur sosial atas persamaan wilayah dan suku. Oleh karena Perkumpulan ini
kemudian disebut dengan Kerukunan Mahasiswa dan Pemuda Watopute (KMPW)
Muna-Makassar. Meski hadir atas dasar semangat persamaan wilayah dan
suku, KMPW tidak sekali-kali bersifat rasis, melainkan terus menjunjung tinggi
semangat pluralisme yang ada.
Refleksi Sejarah
Secara sederhana dapat diasumsikan bahwa, salah satu cerminan dari
sifat lahiriah manusia untuk ber-sosial/berserikat dan sebagai upaya untuk
pencapaian tujuan, kemudian KMPW terbentuk dengan konsep dan nilai-nilai yang
ada. Salah satu identitas yang terbangun dalam pembentukan kerukunan ini adalah
pandangan bahwa Pemuda dan mahasiswa juga harus terlibat secara lansung dalam
membangun komitmen Ke-Muna-an dengan jiwa persaudaraan, membangun komunikasi
interaktif yang dilandasi oleh “Dapomaa-Masigho, Dapomoo-Mologho,
Dapopia-Piara Dapoadha-Adhati, Dapoangka-Angkatau” yang kemudian menjadi
Dasar filosofis dari perhimpunan ini.
KMPW Muna Makassar, didirikan di Makassar pada tanggal 3 Februari
2003 silam, 13 Dzulhijah 1424 H.[2] Perhimpunan
ini terbangun dalam balutan asas kekeluargaan, kebersamaan, gotong royong,
wadah paguyuban untuk saling memudahkan antar para pemuda/pelajar dalam
melaksanakan segala aktifitasnya di daerah Makassar. Layaknya sebuah
perkumpulan yang dipelopori oleh para pemuda/pelajar, maka perkumpulan ini
terlihat identik dengan nuansa intelektual yang tetap terbalut dalam asas
kekeluargaan dan kebersamaan. Konsekuensinya adalah sebagai bentuk
tanggungjawab keilmuan, maka nilai pelajar (Pendidikan, Penelitian, dan
Pengabdian) harus terpatri dalam sanubari setiap insan KMPW. Sejak
terbentuknya, pada 3 Februari tahun 2014 mendatang KMPW akan berumur 11 tahun.
Diusianya yang masih terbilang belia tersebut, perkumpulan ini telah memberikan
sumbangsi yang cukup besar tidak hanya dalam hal Pendidikan, tetapi pengabdian
pada masyarakat. Terbukti dengan adanya senior-senior KMPW yang kini menduduki
peran penting disetiap tempat/social yang mereka tempati. Disamping itu perkumpulan
ini tidak hanya dikenal dalam kawasan kec. watopute, tetapi pada wilayah
kabupaten Muna yang lebih luas karena aktifitasnya dalam memberikan pengabdian
kepada masyarakat.
Tentunya prestasi tersebut tidak serta merta terjadi begitu saja
seperti keajaiban yang turun dari langit. Komitmen yang teguh, dan usaha ekstra
yang tersimpul dalam bias kebersamaan adalah salah satu kuncinya, Semangat itu
terus terjaga dalam setiap penetuan sikap oleh KMPW. Akibatnya dalam setiap
melakukan sesuatu, perkumpulan ini mampu melewati setiap rintangan yang ada
sebagai efek dari kebersamaan yang terhukumi dalam komitmen dan tanggungjawab
yang ada. Lantas bagaimana dengan wajah KMPW saat ini ?
Perspektif Kekinian
Kini KMPW akan memasuki usianya yang ke 11 pada februari
mendatang.
Setiap masa memiliki generasi, setiap generasi memiliki metodenya
masing-masing dan bagaimanapun perbedaan metode dari setiap generasi,
semestinya semangat dalam menjunjung setiap nila-nilai yang telah terbangun
oleh sejarah tetap terjaga. Seperti yang pernah diucapkan oleh pelopor negeri
ini Ir. Sukarno dengan “Jasmerah”-nya[3],
tentunya generasi KMPW saat ini tidak mesti harus mendengar kalimat khusus dari
pelopor KMPW.
Dengan masa dan kondisi yang berbeda, tentunya generasi saat ini
memiliki metode yang berbeda pula yang ditawarkan untuk membawa KMPW kedepan,
melihat sejarah tentu sebagai upaya pembelajaran dan konsep pembanding, akan
sangat tidak bijaksana jika kita malah tenggelam dalam romantisme masa lalu
yang memiliki pijakan pengambilang keputusan yang jauh berbeda dengan saat ini.
Senior terdahulu terkenal sangat kompak, rasa kebersamaan yang terbangun
betul-betul kokoh dan selalu terbalut dalam komitmen yang begitu teguh demi
KMPW kedepan yang lebih baik.
Berangkat dari semangat tersebut, akan sangat sangat tidak aneh
jika senior yang melihat kondisi KMPW kekinian akan menuai sedikit kekecewaan,
semangat yang terbangun oleh generasi terdahulu terlihat poranda (dalam
perspektif lain) pada kondisi saat ini. Orientasi awal pembentukan perkumpulan
ini untuk mengakomodir kepentingan para pemuda/pelajar dan sebagai wadah untuk
membangun silaturahmi tidak lagi terlihat kasat mata. Ada yang bilang bahwa ini
adalah sebuah dinamika sebuah perubahan atau bisa dibilang siklus dalam setiap
perkembangan fenomena social, ada pula yang mengatakan bahwa ini adalah sebuah
kemunduran yang harus segera diselesaikan. Asumsi yang berkembang tentu
memiliki landasan masing-masing, tetapi menurut penulis kondisi apapun itu,
entah mengalami kemajuan atau sebaliknya sudah semestinya untuk disikapi
sebagai bentuk kepedulian kita terhadap KMPW.
Merosotnya kuantitas kader, semakin berkurangnya intensitas
silaturahmi, mandeknya beberapa kegiatan yang direncakan (meskipun tidak
menjadi tolak ukur prioritas) adalah sederet kondisi yang dihadapi oleh KMPW
saat ini. Tentu ini selanjutnya menjadi sebuah masalah ketika mendapat
pembanding dengan wajah KMPW dimasa lalu, meski secara objektif penulis
memandang sangat tidak relevan, tetapi fakta social menggambarkan tentang
betapa gamblangnya sekitar kita mengambil perbandingan tersebut, sehingga tidak
jarang kita akan menemukan penggalan kalimat “Kita dulu… ! bla bla bla”
Setiap generasi memiliki kondisi masing-masing yang berimplikasi
pada masalah yang ditimbulkannya. Sekali lagi, akan menjadi pilihan yang sangat
tidak bijaksana ketika kita membiarkan diri terpasung dalam romantisme sejarah
masa lalu. Jadi, bukan pada masalahnya semestinya kita berputar, tetapi
analisis solusi yang diharapkan tidak akan menimbulkan masalah baru lagi. Meski
akan sedikit subjektif, tetapi ini adalah langkah awal untuk memulai menaggapi
kondisi yang ada.
Analisis Masalah & Solusi Alternatif
Dari gambaran perbandingan kondisi KMPW kekinian, tentunya senior
dan kawan-kawan KMPW memiliki segudang konsep solusi yang belum sempat
dipaparkan pada keluarga besar KMPW Muna-Makassar. Meski akan sangat subjektif,
tetapi ini adalah langkah awal yang menurut hemat penulis bisa menjadi upaya
dalam menaggapi kondisi yang ada.
Intensitas pertemuan silaturahmi yang semakin berkurang. Jika KMPW
dulu memiliki semangat awal sebagai wadah pembelajaran dan silaturahmi dalam
pembentukannya, maka kondisi saat ini termasuk dalam kategori yang harus
disikapi lebih. Silaturahmi yang tidak terbangun berimplikasi lansung pada
beberapa aspek dalam kubu KMPW itu sendiri. Ketidak kompakan, terputusnya
jalinan komunikasi keluarga besar, sehingga terkadang sampai pada kondisi akut
yaitu tidak terjaganya nilai-nilai filosofis sebagai dasar pembentuk yang
dulunya terjunjung tinggi oleh para pendiri perkumpulan ini.
Efek lain yang ditimbulkan dari masalah ini kemudian adalah
merosotnya nuansa pembelajaran yang semestinya menjadi semangat lain dari
pembentukan KMPW, yaitu Pendidikan, pembelajaran dan pengabdian pada
masyarakat. Jika aspek pendidikan dan penelitian kemudian mampu ditaktisi
dengan cara alternative dari setiap individu, bagaimana dengan aspek pengabdian
? Pengabdian yang dimaksud dalam hal ini semestinya adalah pengabdian yang
melibatkan KMPW dalam bentuk lembaga, bukan aspek individu dari dalam KMPW itu
sendiri. Dalam perkembangannya perkumpulan ini memiliki metode pengabdian
dengan melaksanakan program kerja yang bersifat menyentuh lansung kehidupan
atau kondisi social khususnya di masyarakat kecamatan Watopute. Dengan langkah
tersebut KMPW dikenal oleh khalayak sejak dahulu, perkumpulan ini kemudian
memiliki daya pikat tersendiri untuk menarik para pemuda dan pelajar yang akan
melanjutkan pendidikan tinggi, sehingga kemerosotan kuantitas kader tidak
terjadi.
Ada beberapa factor yang bisa menjadi pelaku dalam kondisi
kekinian, menurut hemat penulis hal yang paling utama dalam factor tersebut
yaitu :
Tidak
adanya wadah untuk melansungkan aktifitas silaturahmi (Secret)
Sekuat apapun motifasi kita untuk berkumpul bersama, secara
realistis jika kita tidak memiliki wada maka kita akan mengalami kesulitan,
jika dikatakan bahwa ada upaya alternative yang bisa ditempuh, tetapi hal ini
tentu akan memberikan bias psikologi yang berbeda. Beberapa orang akan
cenderung berkumpul pada sebuah tempat yang secara psikologis sering
ditempatinya. Dalam perkembangannya, KMPW sejak dulu memiliki tempat untuk
membahas tentang segala konsep yang selanjutnya akan dilaksanakan oleh
masyarakat KMPW, yang saat ini tempat itu sudah tidak ada.
Kesibukan
masing-masing individu
Tidak dapat dipungkiri, semangat yang terbangun dalam diri setiap
individu yang terbangun saat menginjakan kakinya di daerah ini adalah menyenyam
pendidikan. Akan sangat tidak etis jika kita menghukumi ketidak hadirannya
untuk bersilaturahmi ketika bertepatan dengan jadwa kuliah atau kesibukan lain
yang lebih penting.
Nilai
jual KMPW
Motifasi yang terbangun terbangun dari factor eksternal dan
Intrenal, factor internal akan mendominasi ketika kita memiliki kesadaran yang
mendasar. Factor eksternalnya adalah kondisi dan lingkungan, jika KMPW memiliki
wadah untuk silaturahmi, selanjutnya ada nilai – nilai lain dalam KMPW yang
tidak terdapat dalam organ manapun, maka secara psikologis aka nada potensi
orang untuk mencari waktu luang ditengah kesibukannya. Hari ini nilai itu masih
menjadi misteri.
Ditengah menjamurnya organ-organ yang memiliki maksud dan tujuan
yang sama, yang justru hadir dengan daya tarik yang lebih, membuat KMPW menjadi
pilihan alternative. Hingga tidak heran jika komunitas yang bersifat
homogeny-lah yang memiliki kuantitas kader, karena disamping terikat secara
profesi, nilai-nilai yang tumbuh dalam organ tersebut akan sangat membantu
dalam proses pendidikan dan pengabdiannya. Tentunya KMPW tidak mesti harus
berafiliasi menjadi perkumpulan seperti itu, tetapi bertransformasi membentuk
wajah baru dengan nilai jual lebih yang tentu tetap menjaga nilai-nilai
filosofis pembentukan KMPW.
Kondisi
lingkungan (perkembangan zaman)
Tidak dapat dinafihkan
bahwa perkembangan zaman akan sangat memengaruhi pola-pola interaksi social.
Saat ini ada banyak pilihan yang bisa mengakomodir keinginan kita untuk
bersilaturahmi meski tidak bertemu secara lansung. Terlepas dari apakah implus
yang ditimbulkan itu adalah nyata atau hanya semu belaka ( Urusan lain).
Perkembangan zaman yang membuka akses informasi begitu gamblang, membuat kita
tidak meresa ketergantungan dengan hanya beberapa orang (malah ketergantungan
terjadi pada akses informasi tersebut).
Jika dahulu keluarga besar KMPW harus duduk bersama secara nyata
dalam membicarakan segala konsep yang ada, maka hari ini upaya itu dapat
dilakukan dengan cara lain. Meskipun ini disisi lain adalah solusi untuk
efisiensi, tetapi yang dibangun dalam wacana ini adalah upaya silaturahmi. Dan
jika dahulu keluarga KMPW baru masih sangat tergantung pada senior-senior
ketika menginjakan kaki di kota Makassar, saat ini hal tersebut tidak akan
nampak lagi sebagai akibat dari bebasnya arus dan akses informasi yang
diperoleh.
***
Setiap dari kita yang merupakan keluarga besar KMPW tentu memiliki
konsep masing-masing dalam menyikapi kondisi yang ada, tulisan ini hanya
pendapat subjektif penulis sebagai upaya awal dalam menanggapi kondisi yang
ada. Tentu penulis berharap bahwa kondisi ini tidak akan mencederai KMPW lebih
jauh. Harapan bisa ditanamakan, tetapi ambisi untuk menyelesaikan semua
masalah dengan satu langkah pratis mungkin sedikit tidak realistis.
Semestinya kita akan resah dengan semuanya, semestinya kita akan memliki konsep
terkait dengan kondisi yang ada, sebagai wujud komitmen untuk KMPW yang lebih
baik, yang akan terbalut dalam semangat filosofis perubahan. Salam ...
Makassar, 20 Desember 2013. Pondok Inlander Pukul
02 : 07 Wita
Penulis adalah Ketua KMPW Periode 2012-2014

0 komentar:
Posting Komentar