Kamis, 08 Mei 2014

Mahasiswa Kontemporer


Mahasiswa, sebuah kata yang secara etimilogi maupun terminologi saya pikir tidak perlu terjabarkan lebih rinci. Teman-teman memiliki segudang reverensi lebih untuk memberikan konsepsi terhadap kata tersebut.

Mahasiswa seringkali diasosiasikan dengan komunitas sosial yang secara stratifikasi berada diposisi menengah, hal ini dikarenakan mahasiswa dengan kondisi lingkungannya tidak serta-merta masuk dalam struktural secara tingkatan keatas, tetapi tidak pula berada pada posisi kultural kemasyarakatan dan mengambil tanggungjawab secara gamblang, mahasiswa lebih dekat pada nuansa keilmuan dan tanggungjawab intelektual. Hal inlah kemudian yang menjadi dasar mahasiswa mendapatkan status legitimasi sebagai Agen Of Change, Social Control, Moral Force Dalam suatau perkembangan peradaban dan kebudayaan. Seorang mahasiswa semestinya mampu menjadi pelopor sebuah perubahan dalam Struktur, Substansi, dan Kultur[1] suatau masyarakat, mengontrol semua hal yang bisa menjadi status quo anti perubahan dan mampu memberikan cerminan motifasi aktual untuk mewujudkan masyarakat dan sistem pemerintahan yang semestinya.

Miris ketika melihat kondisi mahasiswa kekinian, begitu glamornya pergerakan romantisme masa lalu yang diperlihatkan oleh mahasiswa dulu seakan tak bermakna dimasa ini. Aktualisasi pergerakan mahasiswa kontemporer tidak sedikitpun mencerminkan pelaksanaan semua fungsi yang telah melekat didirinya sejak dulu, kondisi yang mencuak malah menggamblangkan betapa tidak tersampaikannya hasrat yang diperjuangkan dimassa lalu. komunitas intelektual ini mengalami malfungsi dan melenceng cukup jauh dari cita dan nuansa “tanggungjawabnya” sebagai Agen Of Change, Social Control, Moral Force dan lain sebagainya. Paragidma TOA Revolusi[2] kini bagai sebuah angin lalu yang bahkan tidak membekas dalam benak insan yang dicap Intelektual ini.

Kondisi ini tentu menuai tanya dari berbagai kalangan, baik dalam internal mahasiswa maupun dari berbagai kalangan pengamat gerak kemahasiswaan dan tidak terkecuali dari komunitas kultural masyarakat. Mahasiswa kini tidak lebih dari komunitas sosial yang mendapat gelar glamornya dari romantisme masa lalu, nuansa pergerakan semakin hari semakin padam surut tak beralasan, pergerakan mahasiswa kini tidak mampu lagi memberikan warna perubahan kondisi-kondisi yang melanda negeri, Para generasi intelek ini kini tak sehebat para pendahulunya yang  mampu mengadvokasi semau kebutuhan sosial dalam masyarakat, para kader intelek ini kini sibuk bergelut dalam dunia yang Ifrat Akademik, Ifrat paradigma Usaha dan segala hal yang terkesan sangat sektoral.

Mahasiswa kini tak mampu lagi mengadvokasi masalah sosial yang ada, entah kemudian hal ini merupakan sirklus dalam sebuah pergerakan ataukah ada masalah yang terselubung yang tak mampu terdeteksi. Pesan yang terpegang teguh oleh mahasiswa dimasa lalu terkesan tak mencuak dipermukaan pada pergerakan mahasiswa kontemporer, Apakah pesan ini mengalami pelompatan dialektika pada suatu generasi, ataukah pada internal generasi mahasiswa itu sendiri yang mengabaikan pesan tersebut (terlena pada Sistem) ??

Oleh : La Said Sabiq
Mahasiswa Hukum UNHAS 

[1] Freudman, Penegakan Hukum, Hal 13

Share:

0 komentar:

Posting Komentar