Mahasiswa, sebuah kata yang secara etimilogi maupun terminologi saya pikir
tidak perlu terjabarkan lebih rinci. Teman-teman memiliki segudang reverensi
lebih untuk memberikan konsepsi terhadap kata tersebut.
Mahasiswa seringkali diasosiasikan dengan komunitas sosial yang
secara stratifikasi berada diposisi menengah, hal ini dikarenakan mahasiswa
dengan kondisi lingkungannya tidak serta-merta masuk dalam struktural secara
tingkatan keatas, tetapi tidak pula berada pada posisi kultural kemasyarakatan dan
mengambil tanggungjawab secara gamblang, mahasiswa lebih dekat pada nuansa
keilmuan dan tanggungjawab intelektual. Hal inlah kemudian yang menjadi dasar
mahasiswa mendapatkan status legitimasi sebagai Agen Of Change, Social Control, Moral Force Dalam suatau
perkembangan peradaban dan kebudayaan. Seorang mahasiswa semestinya mampu
menjadi pelopor sebuah perubahan dalam Struktur, Substansi, dan Kultur[1] suatau masyarakat, mengontrol
semua hal yang bisa menjadi status quo anti perubahan dan mampu memberikan
cerminan motifasi aktual untuk mewujudkan masyarakat dan sistem pemerintahan
yang semestinya.
Miris ketika melihat kondisi mahasiswa kekinian, begitu glamornya
pergerakan romantisme masa lalu yang diperlihatkan oleh mahasiswa dulu
seakan tak bermakna
dimasa ini. Aktualisasi pergerakan mahasiswa kontemporer tidak sedikitpun
mencerminkan pelaksanaan semua fungsi yang telah melekat didirinya sejak dulu,
kondisi yang mencuak malah menggamblangkan betapa tidak tersampaikannya hasrat
yang diperjuangkan dimassa lalu. komunitas intelektual ini mengalami malfungsi dan melenceng cukup
jauh dari cita dan nuansa “tanggungjawabnya” sebagai Agen Of Change, Social Control, Moral Force dan
lain sebagainya. Paragidma
TOA Revolusi[2] kini
bagai sebuah angin lalu yang bahkan tidak membekas dalam benak insan yang dicap Intelektual ini.
Kondisi ini tentu menuai tanya dari berbagai kalangan, baik dalam
internal mahasiswa maupun dari berbagai kalangan pengamat gerak kemahasiswaan
dan tidak terkecuali dari komunitas kultural masyarakat. Mahasiswa kini tidak
lebih dari komunitas sosial yang mendapat gelar glamornya dari romantisme masa
lalu, nuansa pergerakan semakin hari semakin padam surut tak beralasan,
pergerakan mahasiswa kini tidak mampu lagi memberikan warna perubahan
kondisi-kondisi yang melanda negeri, Para generasi intelek ini kini tak sehebat
para pendahulunya yang mampu mengadvokasi semau kebutuhan sosial
dalam masyarakat, para kader intelek ini kini sibuk bergelut dalam dunia
yang Ifrat Akademik, Ifrat paradigma Usaha dan segala
hal yang terkesan sangat sektoral.
Mahasiswa kini tak mampu
lagi mengadvokasi masalah sosial yang ada, entah kemudian hal ini merupakan
sirklus dalam sebuah pergerakan ataukah ada masalah yang terselubung yang tak mampu terdeteksi. Pesan yang
terpegang teguh oleh mahasiswa dimasa lalu terkesan tak mencuak dipermukaan
pada pergerakan mahasiswa kontemporer, Apakah pesan ini mengalami pelompatan
dialektika pada suatu generasi, ataukah pada internal generasi mahasiswa itu
sendiri yang mengabaikan pesan tersebut (terlena pada Sistem) ??
Oleh : La Said Sabiq
Mahasiswa Hukum UNHAS
Mahasiswa Hukum UNHAS
[1] Freudman, Penegakan
Hukum, Hal 13
[2] Shayd, www.lss-sh.blogspot.com.
‘

0 komentar:
Posting Komentar