Persetan dengan semua pandangan mereka, dengan segala
penilaian mereka terhadap segalanya. Semestinya kita tidak dan bukan sebuah
objek hampa yang terlihat indah karena manipulasi penilaian dan nilai-nilai
yang mereka sifati terhadap esensi kita. Kita adalah kita, yang memiliki
segalanya untuk membangun dan melakukan segala hal yang kita inginkan secara
objektif.
Banyak diantara kita yang kemudian membiarkan dirinya
terkurung dalam sugesti penilaian orang lain, terkadang mereka harus
menyesuaikan tampakan diri untuk melakukan sesuatu yang tidak layak dilakukan
oleh dirinya yang sebelumnya, takut dengan konsekuensi penilaian dari orang
lain sehingga melakukan hal yang keluar dari nuasa diri. Disisi lain hal ini
bisa dibilang potensi penyesuaian diri seorang makhluk sosial terhadap keadaan
disekitarnya, mengikuti kebiasaan (yang tidak jelas salah/benar ) yang
disakralkan oleh sebuah kelompok sehingga perlahan-lahan menjadi sebuah norma
yang ketika tidak dilaksanakan akan mendapat konsekuensi moral.
Mari mereview kembali jelaka kita; melakukan apa yang bisa
dan mencoba berbuat dengan segala keterbatasan dan semua potensi yang dimiliki,
berekspresi dengan keberadaan yang tidak akan mempersoalkan semua kebiasaan dan
aktifitas yang tersakralkan oleh kebiasaan yang kebenarannya terlegitimasi oleh
keadaan, karena kita memiliki potensi yang sama dengan mereka-mereka pencipta
keadaan. Selalunya terlihat berbeda ketika terjadi sesuatu diluar kebiasaan
meskipun kebiasaan itu semestinya benar adanya, kemudian secara berbondong-bondong
melalui sosial menjustifikasi hal tersebut dengan tolakan kebiasaan yang
menurutnya benar. Hingga perimplikasi pada peleburan kebenaran demi
menyesuaikan diri dengan kebiasaan yang ada. Kita terjebak, terjebak dalam
kebiasaan yang mengarah pada pengaminan status
quo.
Kebiasaan ini perlahan-lahan akan mengerogoti semua hal
yang tampil berbeda dihadapan sosial dan menggeser semua perubahan yang datang
dan secara tidak lansung akan menstatiskan sebuah perubahan yang seharusnya
dibutuhkan oleh sosial.
*****
Semoga kondisi ini tidak mengantarkan kita pada kedangkalan
berfikir yang berujung pada Mitos Deviant[1]. Mitos yang menolak segala
perubahan dengan analisis fungsional structural-nya. Karena jika iya, maka kita
akan terpasung dalam anti perubahan dan pro status
quo. Semestinya telah menjadi rahasia umum, bahwa doktrin tentang perubahan
adalah sebuah keniscayaan. Bahkan beberapa ahli mengungkapkannya dengan bahasa
yang lebih ekstrim, Alfred N. Whitehead[2] mengatakan bahwa
“Perubahan itu inheren dalam tabiat segala sesuatu”, tidak terkecuali kita atau
kondisi sosial (masyarakat). Bahkan kata Arnold Toynbee “ Telaah mengenai
persoalan manusia sebagai objek yang bergerak, lebih bermanfaat dan realistis
daripada semua upaya menelaah manusia dalam kondisi imajiner dan mandeg”.
Tidak ada yang menetap, oleh karena itu segala kebiasaan
yang selalu menjustifikasi perubahan adalah sebuah kekeliruan, juga nantinya
akan mengalami sebuah perubahan. Tetapi jika hal tersebut dipahami lebih awal,
maka perubahan yang membutuhkan waktu yang banyak semestinya dapat dimulai dari
sekarang dengan meninggalkan kebiasaan meng-Objeki objek lain dengan sangat
subjektif.
Fakultas Hukum UNHAS. 04/11/2012
Pukul 18 : 36 Wita

0 komentar:
Posting Komentar