Kamis, 08 Mei 2014

Kebiasaan dan Mitos Deviant


Persetan dengan semua pandangan mereka, dengan segala penilaian mereka terhadap segalanya. Semestinya kita tidak dan bukan sebuah objek hampa yang terlihat indah karena manipulasi penilaian dan nilai-nilai yang mereka sifati terhadap esensi kita. Kita adalah kita, yang memiliki segalanya untuk membangun dan melakukan segala hal yang kita inginkan secara objektif.

Banyak diantara kita yang kemudian membiarkan dirinya terkurung dalam sugesti penilaian orang lain, terkadang mereka harus menyesuaikan tampakan diri untuk melakukan sesuatu yang tidak layak dilakukan oleh dirinya yang sebelumnya, takut dengan konsekuensi penilaian dari orang lain sehingga melakukan hal yang keluar dari nuasa diri. Disisi lain hal ini bisa dibilang potensi penyesuaian diri seorang makhluk sosial terhadap keadaan disekitarnya, mengikuti kebiasaan (yang tidak jelas salah/benar ) yang disakralkan oleh sebuah kelompok sehingga perlahan-lahan menjadi sebuah norma yang ketika tidak dilaksanakan akan mendapat konsekuensi moral.

Mari mereview kembali jelaka kita; melakukan apa yang bisa dan mencoba berbuat dengan segala keterbatasan dan semua potensi yang dimiliki, berekspresi dengan keberadaan yang tidak akan mempersoalkan semua kebiasaan dan aktifitas yang tersakralkan oleh kebiasaan yang kebenarannya terlegitimasi oleh keadaan, karena kita memiliki potensi yang sama dengan mereka-mereka pencipta keadaan. Selalunya terlihat berbeda ketika terjadi sesuatu diluar kebiasaan meskipun kebiasaan itu semestinya benar adanya, kemudian secara berbondong-bondong melalui sosial menjustifikasi hal tersebut dengan tolakan kebiasaan yang menurutnya benar. Hingga perimplikasi pada peleburan kebenaran demi menyesuaikan diri dengan kebiasaan yang ada. Kita terjebak, terjebak dalam kebiasaan yang mengarah pada pengaminan status quo.

Kebiasaan ini perlahan-lahan akan mengerogoti semua hal yang tampil berbeda dihadapan sosial dan menggeser semua perubahan yang datang dan secara tidak lansung akan menstatiskan sebuah perubahan yang seharusnya dibutuhkan oleh sosial.

*****
Semoga kondisi ini tidak mengantarkan kita pada kedangkalan berfikir yang berujung pada Mitos Deviant[1]. Mitos yang menolak segala perubahan dengan analisis fungsional structural-nya. Karena jika iya, maka kita akan terpasung dalam anti perubahan dan pro status quo. Semestinya telah menjadi rahasia umum, bahwa doktrin tentang perubahan adalah sebuah keniscayaan. Bahkan beberapa ahli mengungkapkannya dengan bahasa yang lebih ekstrim, Alfred N. Whitehead[2] mengatakan bahwa “Perubahan itu inheren dalam tabiat segala sesuatu”, tidak terkecuali kita atau kondisi sosial (masyarakat). Bahkan kata Arnold Toynbee “ Telaah mengenai persoalan manusia sebagai objek yang bergerak, lebih bermanfaat dan realistis daripada semua upaya menelaah manusia dalam kondisi imajiner dan mandeg”.

Tidak ada yang menetap, oleh karena itu segala kebiasaan yang selalu menjustifikasi perubahan adalah sebuah kekeliruan, juga nantinya akan mengalami sebuah perubahan. Tetapi jika hal tersebut dipahami lebih awal, maka perubahan yang membutuhkan waktu yang banyak semestinya dapat dimulai dari sekarang dengan meninggalkan kebiasaan meng-Objeki objek lain dengan sangat subjektif.

Fakultas Hukum UNHAS. 04/11/2012
Pukul 18 : 36 Wita




[1] Jalaluddin Rakhmat, Rekayasa Sosial Reformasi Atau Revolusi. PT. Remaja Rosdakarya, 1999. Hal 22
[2] Alfred N. Whitehead, Science And The Modern World, Machmillan, N.Y., 1925. Hlm 179
Share:

0 komentar:

Posting Komentar