Kamis, 08 Mei 2014

Efek Euforia Obama


Tulisan menarik yang dipublis salah satu akun anonim twitter Suara Rakyat, yang berceloteh tentang tentang Euforia kehadiran Presiden Amerika Serikat Barack Obama di Indonesia. Dibeberapa jejaring sosial oleh beberapa orang disalah satu statusnya menghujani presiden Amerika yang ke 43 tersebut dengan pijian dan dambaan. Mereka tentu memiliki alasan sendiri untuk semuanya, dan akan disayangkan jika alasan tersebut hanya berlandas emosional semata. Bukan bermaksud menyalahkan atau memandang sebelah mata emosional, hanya saja dalam hal ini diperlukan alasan yang lebih rasional dan berlandas Objektif (Semestinya).

Obama memang pernah tinggal dan hidup di Indonesia, mungkin emosional itu yang menjadi pelaku utama atas euforia ini. Hanya saja jika menelitik lebih jauh terkait dengan kisah hidup presiden pertama Amerika yang berkulit hitam ini kita akan menemukan kerancuan yang mungkin bisa saja membuat kita akan berfikir ulang tentang kedambaan kita terhadapnya. Dalam pidatonya di kampus Universitas Indonesia (UI), Depok (10/11), Obama menyampaikan kisah tentang konflik politik di Indonesia pada tahun-tahun awal kedatangannya. Apa yang dimaksud dengan Obama tentu saja kisah mengenai pembunuhan massal anggota dan simpatisan PKI yang mencapai tiga juta jiwa. Obama menyebut kalau tragedi itu sebagai kisah kelam tersembunyi yang tak pernah diceritakan di keluarganya kendati ayah tirinya, Lolo Soetoro, bekerja untuk Angkatan Darat. Obama mungkin tidak tahu atau tahu persis bahwa Amerika Serikat punya peran yang sangat besar dalam menyumbangkan nama-nama anggota PKI kepada Tentara Angkatan Darat Indonesia (Bonnie Triyana). Apapun itu, waulahuallan soal keterkaitan para Antek-antek Amerika terhadap negeri tercinta ini. Bahwa ternyata semua Presiden Amerika harus mengambil sumpah jabatan dibawah kitap yang berisikan aturan hidup seorang presiden AS dan harus tunduk patuh terhadap semua aturan leluhur yang secara historis terus mengerogoti negeri ini. Lantas apa yang diharapkan dengan itu ??

Ada kalimat menarik dari akhir tulisan salah seorang pengamat politik yang menanggapi soal euforia kedatangan Obama ini. Saat status dibeberapa jejaring sosial menghujani presiden Ke 43 AS itu dengan persembahan pujian, entah mereka paham soal perjalanan sejarah kehidupan Obama. lantas sang penulis berceloteh : Lalu, ada apa dengan diri kita yang begitu terpana pada sosok Obama ?? Jangan-jangan kita tidak membutuhkan Amerika tapi lebih membutuhkan seseorang seperti Obama untuk memimpin negeri ini.

Memandangnya dari sisi lain, Mencoba melihat Obama secara terpisah dengan Negara Amerika. Mengeyampingkan keterkaitan Obama dengan urusan AS dan Indonesia, mungkin saja bisa menjadi alasan sederhana bagi mereka untuk mendambakan seorang OBAMA, Bukan Sebagai Presiden Amerika. Hingga terkesan kita tidak sedang memuji Amerika, tetapi mendambakan Sosok seperti Obama yang menghiasi kancah Politik Indonesia.

@Secret BEM FH-UH; 16:33 WITA


Share:

0 komentar:

Posting Komentar