Tulisan menarik yang dipublis salah satu
akun anonim twitter Suara Rakyat, yang berceloteh tentang tentang Euforia
kehadiran Presiden Amerika Serikat Barack Obama di Indonesia. Dibeberapa
jejaring sosial oleh beberapa orang disalah satu statusnya menghujani presiden
Amerika yang ke 43 tersebut dengan pijian dan dambaan. Mereka tentu memiliki
alasan sendiri untuk semuanya, dan akan disayangkan jika alasan tersebut hanya
berlandas emosional semata. Bukan bermaksud menyalahkan atau memandang sebelah
mata emosional, hanya saja dalam hal ini diperlukan alasan yang lebih rasional
dan berlandas Objektif (Semestinya).
Obama memang pernah tinggal dan hidup di
Indonesia, mungkin emosional itu yang menjadi pelaku utama atas euforia ini.
Hanya saja jika menelitik lebih jauh terkait dengan kisah hidup presiden
pertama Amerika yang berkulit hitam ini kita akan menemukan kerancuan yang
mungkin bisa saja membuat kita akan berfikir ulang tentang kedambaan kita
terhadapnya. Dalam pidatonya di kampus Universitas Indonesia (UI), Depok
(10/11), Obama menyampaikan kisah tentang konflik politik di Indonesia pada
tahun-tahun awal kedatangannya. Apa yang dimaksud dengan Obama tentu saja kisah
mengenai pembunuhan massal anggota dan simpatisan PKI yang mencapai tiga juta
jiwa. Obama menyebut kalau tragedi itu sebagai kisah kelam tersembunyi yang tak
pernah diceritakan di keluarganya kendati ayah tirinya, Lolo Soetoro, bekerja
untuk Angkatan Darat. Obama mungkin tidak tahu atau tahu persis bahwa Amerika
Serikat punya peran yang sangat besar dalam menyumbangkan nama-nama anggota PKI
kepada Tentara Angkatan Darat Indonesia (Bonnie Triyana). Apapun itu,
waulahuallan soal keterkaitan para Antek-antek Amerika terhadap negeri tercinta
ini. Bahwa ternyata semua Presiden Amerika harus mengambil sumpah jabatan
dibawah kitap yang berisikan aturan hidup seorang presiden AS dan harus tunduk
patuh terhadap semua aturan leluhur yang secara historis terus mengerogoti
negeri ini. Lantas apa yang diharapkan dengan itu ??
Ada kalimat menarik dari akhir tulisan
salah seorang pengamat politik yang menanggapi soal euforia kedatangan Obama
ini. Saat status dibeberapa jejaring sosial menghujani presiden Ke 43 AS itu
dengan persembahan pujian, entah mereka paham soal perjalanan sejarah kehidupan
Obama. lantas sang penulis berceloteh : Lalu, ada apa dengan diri kita yang
begitu terpana pada sosok Obama ?? Jangan-jangan kita tidak membutuhkan Amerika
tapi lebih membutuhkan seseorang seperti Obama untuk memimpin negeri ini.
Memandangnya dari sisi lain, Mencoba
melihat Obama secara terpisah dengan Negara Amerika. Mengeyampingkan
keterkaitan Obama dengan urusan AS dan Indonesia, mungkin saja bisa menjadi
alasan sederhana bagi mereka untuk mendambakan seorang OBAMA, Bukan Sebagai
Presiden Amerika. Hingga terkesan kita tidak sedang memuji Amerika, tetapi
mendambakan Sosok seperti Obama yang menghiasi kancah Politik Indonesia.
@Secret BEM FH-UH; 16:33 WITA

0 komentar:
Posting Komentar