Jumat, 07 Maret 2014

Tuhan dan Manusia Yang Sibuk

Tuhan, harap maklumi kami, manusia-manusia yang begitu banyak kegiatan. 
Kami benar-benar sibuk, sehingga kami amat kesulitan menyempatkan waktu untuk-Mu. 

Tuhan, kami sangat sibuk. 
Jangankan berjamaah, bahkan munfarid pun kami tunda-tunda. 
Jangankan rawatib, zikir, berdoa, tahajud, bahkan kewajiban-Mu yang lima waktu saja sudah sangat memberatkan kami. Jangankan puasa Senin-Kamis, jangankan ayyaamul baith, jangankan puasa nabi Daud, bahkan puasa Ramadhan saja kami sering mengeluh. 

Tuhan, maafkan kami, kebutuhan kami di dunia ini masih sangatlah banyak, sehingga kami sangat kesulitan menyisihkan sebagian harta untuk bekal kami di alam abadi -Mu. 
Jangankah sedekah, jangankan jariyah, bahkan mengeluarkan zakat yang wajib saja seringkali terlupa. 

Tuhan, urusan-urusan dunia kami masih amatlah banyak. 
Jadwal kami masih amatlah padat. 
Kami amat kesulitan menyempatkan waktu untuk mencari bekal menghadap-Mu. 

Kami masih belum bisa meluangkan waktu untuk khusyuk dalam rukuk, menyungkur sujud, menangis, mengiba, berdoa, dan mendekatkan jiwa sedekat mungkin dengan-Mu. 

Tuhan, tolong, jangan dulu Engkau menyuruh Izrail untuk mengambil nyawa kami. Karena kami masih terlalu sibuk.[1]










[1] Penggalan puisi diatas saya kutip dari salah satu sampul buku yang berjudul TUHAN, Maaf Kami Sedang Sibuk. Buku ini ditulis oleh Ahmad Rifa’I Rif’an. Dan diterbitkan pada tahun 2011 oleh Elex media Komputindo Di Jakarta. Diawali dengan bagian Menata Hati Membenahi Nurani, Anda akan diajak untuk bercengkerama tentang pemaknaan tauhid, takdir, sufi, serta beberapa tema yang menyentuh wilayah jiwaBuku ini tidak hanya menjadi media perenungan untuk memasuki wilayah sakral dalam lubuk sanubari kita, namun juga memberi pancaran inspirasi, ilmu, serta semangat yang menggugah dan mencerdaskan. uku ini disusun dengan klasifikasi berdasarkan wilayah kehidupan yang hendak dieksplorasi oleh penulis.

Saat saya berkunjung untuk membeli buku disalah satu tokoh buku Makassar, saya tertarik melihat judul buku dengan font yang lumayan tebal pada bagian TUHAN, dilanjutkan dengan tulisan berukuran kecil atas permohonan maaf karena sibuk. Sekilas dari cuplikan buku ini, saya melihat penulis yang ingin memberitahukan kepada pembaca dengan cara dan sudut pandang yang berbeda nan kreatif. 

Dari beberapa komentar para pembaca (https://www.goodreads.com/book/show/12070509-tuhan-maaf-kami-sedang-sibuk), secara sederhana buku ini berisi tentang “singgungan” tentang perilaku sehari-hari kita yang keliru tetapi selalu mencari alasan pemebanar terhadap Sang Khalik. Waullahualam, Karena saya tidak sempat membeli buku ini, dan masih dalam proses pembacaan buku Online.

Saya sertakan segala sumber dan hal-hal yang berpotensi menyudutkan saya sebagai plagiator. Niat saya murnih hanya untuk membantu menyebarluaskan pesan buku dan penggalan puisi menariknya, dengan harapan menguntungkan semua pihak atau tidak merugikan siapapun. Amin

Share:

0 komentar:

Posting Komentar