![]() |
| Nur Jannah Suardy |
Mungkin sekitar pukul 19.30
waktu Makassar. Workshop -tempat saya menghabiskan sebagian besar waktu selama di
Makassar- hidup dengan aktifitasnya seperti biasa.
Daerah ini bagi saya tidak terlalu menarik untuk diperbincangkan. Pinggir utara kota Makassar, yang secara administrasi masuk dalam wilayah kecamatan Tamalanrea.
Daerah ini bagi saya tidak terlalu menarik untuk diperbincangkan. Pinggir utara kota Makassar, yang secara administrasi masuk dalam wilayah kecamatan Tamalanrea.
Bangunan di wilayah
ini, padat, rapat, juga kumuh. Bau limbah rumahan, bercampur dengan genangan
rawa yang tersendat oleh hutan beton rumah sewa dan pondok mahasiswa. Sisanya, rumah makan dan sekat-sekat semi permanen yang digunakan untuk aktifitas
bisnis mikro. Jarang bisa ditemui rumah hunian penduduk asli.
Bisnis di wilayah ini
didominasi oleh jajakan kebutuhan mahasiswa. Selain warung makan tadi, ada
penjual alat kelengkapan kantor merangkap fotocopy,
toko buku, dan jasa penyedia laundry
pakaian/kendaraan, yang hadir memfasilitasi para mahasiswa sibuk atau
mahasiswa kaya yang malas.
Belakangan menjamur
usaha warung kopi. Bagaimanapun juga, di era yang semakin asyik ini aktifitas nongkrong sudah seperti bagian dari kebutuhan mahasiswa. Entah hanya untuk sekadar duduk nongkrong, ngopi santuy atau kumpul untuk mengibahi senior kampusnya.
Pelaku usaha melihat
peluang ini. Alhasil terselip beberapa warkop sederhana di sela-sela pondok dan
rumah sewa. Soal rasa kopi yang
disajikan, kita bisa cerita panjang-lebar.
Setiap kopi bisa menjadi enak untuk mereka yang tidak begitu mengerti rasa kopi. Belum lagi jika rasa ini dibahas dalam perspektif selera. Tapi apakah kopi diperlakukan dengan ‘baik dan benar’ oleh pembuatnya atau tidak, itu sedikit lebih objektif dan bisa didiskusikan.
Setiap kopi bisa menjadi enak untuk mereka yang tidak begitu mengerti rasa kopi. Belum lagi jika rasa ini dibahas dalam perspektif selera. Tapi apakah kopi diperlakukan dengan ‘baik dan benar’ oleh pembuatnya atau tidak, itu sedikit lebih objektif dan bisa didiskusikan.
Membuat kopi yang ‘benar’ pastinya membutuhkan biji
kopi yang berkualitas, barista hebat, hasil gilingan yang benar dan teknik
seduhan yang tepat.
Cerita sedikit soal
kopi. Sampai saat ini belum ada lembaga resmi yang merilis hasil
penelitian tentang pembagian ‘penikmat kopi’ dan ‘peminum kopi’ di Makassar.
Pembagian ini hanya santer dipilah oleh mereka yang sering nongkrong di warung
kopi. Hanya bahasa warkop istilahnya.
Dalam bahasa warkop, ‘penikmat
kopi’ adalah mereka yang menikmati kopi dengan menitikberatkan pada rasa khas
kopi. Kelompok penikmat kopi ini memang begitu meresapi tetes demi tetes cairan
kopi dalam gelasnya lengkap dengan penghayatan berlebihan.
Pada taraf tertentu,
tubuh para penikmat kopi secara spontan menolak kopi yang memiliki kualitas
‘buruk’ masuk ke tenggorokan mereka. Para ‘penikmat kopi’, bahkan ekstrim
memberi istilah khusus untuk kopi yang diseduh dengan cara yang kurang tepat.
Air-sayur untuk kopi
yang didominasi oleh air dengan kadar PH yang tidak terkontrol atau kopi hangus
yang dibuat oleh barista lewat teko pembuat kopi dengan takaran feel yang tidak terkontrol pula.
Air alkalinitas terbaik untuk menyeduh kopi
seharunya ada di posisi 6-7. Nilai yang masih bisa diterima menurut Specialty Coffee Association of America
adalah 6,5 – 7,5. Para penikmat kopi sampai
mempersoalkan hal demikian.
Dalam pelembagaan,
para penikmat kopi memberikan kualifikasi khusus kepada mereka yang benar-benar
menjadikan kopi tidak hanya sebagai minuman biasa. Misal dalam konsep
perlombaan skala internasional, istilah Q
Grader Licensed disematkan pada mereka yang biasa disebut sebagai manusia
kopi.
Ekstrim, seorang Q-Grader
bahkan bisa membedakan; jenis, ditumbuhkan di wilayah mana, lengkap dengan
analisis pH tanah, tingkat penyerapan sinar matahari, waktu panen, sampai cara
me-roasting biji kopinya, hanya
dengan mencium atau memakan biji kopi mentah.
Para Q-Grader sampai
menyentuh persoalan Speciality coffe. Sebutan untuk
kopi-kopi berkualitas tinggi. Dalam rentang nilai 0-100, nilainya harus di atas
80 poin, bijinya harus berkualitas, dan tidak boleh ada yang cacat.
Anda bisa bayangkan bagaimana rumitnya mengajak para penikmat kopi, hanya untuk
nongkrong santuy di sebuah warkop.
Sedang mereka para
peminum kopi, cenderung menjadikan aktifitas ngopi sebagai pelengkap saat
nongkrong. Peduli soal kadar PH air, kopi hangus atau kopi air-sayur, yang
terpenting, saat sedang nongkrong di sebuah warkop sambil menikmati
fasilitas lain, tidak lengkap rasanya tanpa ditemani segelas kopi.
Ahh, sial. Saya juga tidak
kehabisan kata jika ingin membahas kopi. Kecintaan saya pada kopi sejajar dengan rasa cinta saya pada buku. Itu alasan mengapa saya selalu punya mimpi membuat
kedai baca. Sebuah warung kopi dengan konsep yang mendekati perpustakaan, dengan
deretan rak buku, juga tumpukan buku yang berserahkan.
Saya masuk kategori
seorang pemilih jika ingin nongkrong minum kopi. Bukan juga penikmat kopi, tetapi lebih kepada kondisi badan yang
tidak bisa menerima kopi yang buat seenak jidat. Bisa dipastikan, pencernaan
akan bermasalah beberapa jam setelah meminum kopi yang dibuat dengan cara yang
tidak “benar”. Serius, saya tidak bercanda.
Itu mengapa saya tidak
kepikiran untuk nongkrong menikmati kopi di wilayah sekitar workshop ini.
Sebab sependek penjelajahan saya, belum ada warkop yang bisa menyediakan kopi
berkualitas baik di sekitar wilayah ini. Bisa jadi ini juga soal selera.
Hanya saja, malam itu
fokus saya bukan pada kopi. Sebagai penginisiasi komunitas literasi Oboku-Institute, saya mengajak beberapa
kolega untuk mendiskusikan beberapa hal terkait laman Oboku yang sedang dikembangkan.
Saya kemudian
mengajukan syarat; tempat yang cukup kondusif untuk diskusi dangan fasilitas wifi
yang cukup mendukung untuk mengutak-atik laman online. Salah satu kawan kemudian mengajukan tawaran beberapa
tempat, dan entah bagaimana kami semua berakhir nongkrong di warkop bernama Ansel.
Ansel, belakangan saya
tahu merupakan akronim dari “anak selayar”. Selain menyediakan kopi seperti
warkop pada umumnya, Ansel ternyata juga merangkap usaha sebagai Barbershop. Logika pengusaha memang
begitu; memaksimalkan setiap kesempatan.
Tempatnya tidak begitu
luas, kira-kira 5 X 12 m². Itu sudah termasuk sekat ruang yang disiapkan
untuk aktifitas barber dan petak kecil tempat menyimpan semua alat kelengkapan
barista menyeduh kopi. Desain ruangannya juga tidak begitu menarik, atau
setidak-tidaknya tidak masuk kategori instagramable bagi isntagramers.
Semua berjalan normal
sampai saat barista perempuan itu menawarkan daftar menu dengan gaya pecicilan, sambil
tetap berada dalam petak tempatnya menghabiskan waktu membuat kopi.
Namanya Nur Jannah
Suardy. Salah satu mahasiswa kampus swasta di Makassar. Ia mahasiswa perantau
seperti kami, asalnya kampung Duri, Kabupaten Enrekang. Kira-kira berjarak kurang-lebih 5
jam perjalanan dari jantung kota Makassar.
Perempuan yang akrab
disapa Jannah ini gokil juga cantik. Beberapa kali dia memaksa saya cengengesan
karena jokes recehnya. Terlepas dari
hal-hal sederhana ini, saya tipe orang yang selalu tertarik dan penasaran pada
mereka-mereka yang berusaha mandiri dalam mengurusi hidup, khususnya perempuan.
Sebenarnya ini bukan
perkara baru, beberapa kali saya bertemu dengan orang-orang seperti mereka.
Mereka yang memiliki prinsip kuat, tidak ingin membebani orangtua perihal
memfasilitasi gaya hidup sampai pada biaya kuliah yang semakin mahal.
Dasar bahwa saya juga
melakukan hal yang sama saat sedang duduk di bangku kuliah, semakin memperkuat
rasa penasaran saya pada orang-orang seperti mereka. Meski belum berselang
tahun yang begitu jauh, saya berfikir, menemukan orang-orang
seperti mereka di zaman yang semakin gokil
ini merupakan sesuatu yang menarik.
Hipotesa ini bisa saja
salah, orang-orang yang memiliki mental seperti kami mungkin banyak
berseliweran di tengah kehidupan kota yang padat ini.
Tulisan ini juga sama
sekali tidak sedang menyinggung soal perempuan. Bagi mereka yang sedang giat
dan semangat-semangatnya mengusung konsep feminisme, bisa saja menilai tulisan
ini sedang memberikan garis pembatas antara perempuan dan laki-laki.
Saya hanya sedang
menggambarkan setereotype masyarakat kita yang melihat sisi keperempuanan dalam
konsep local wisdom. Meski saya juga
sadar tidak berhak men-judge cara berfikir itu, cukup penting bagi saya untuk mencoba mengajak pembaca melihat
nilai tulisan ini dalam konsep lain. Tentang perjuangan mempertahankan prinsip
kemandirian dalam mengarungi hidup.
“Saya ini anak pertama
dari 4 bersaudara kak, baru orangtuaku hanya petani ji” celetuknya dengan lembut dalam balutan dialek khas Enrekang.
“Jangan ki pake diksi ‘hanya’ untuk sebut
kerjaan orangtua ta di kampung, petani
ji memang kerjaan banyak orang sini”
balasku disela-sela aktifitas mengutak-atik leptop sambil menikmati kopi
buatannya.
“Sejak kapan ki belajar bikin kopi?” tanyaku.
“nda ji kak, tidak ku tau kapan pastinya, selalu ka
memang kerja di warkop, jadi langsung jeka
pintar sendiri” jawabnya dengan senyum manis yang selalu diakhiri dengan tawa
kecil.
Percakapan kami
berlanjut, sampai pada pertanyaan nama kampus, tahun angkatan, serta jurusan kuliah
yang dipilihnya. Menjadi menarik karena setiap pertanyaan ditanggapi dengan
tingkah yang selalu menarik perhatian dan tentu saja lengkap dengan senyum
manisnya yang khas.
[…]
Saya teringat satu hal
ditengah percakapan kami.
“Jannah, kayak mirip ki sama temanku, tunggu ku kasi liat ki
instagramnya”
“Ihh, banyak memang
kembarku kak, pasti cantik itu temanta toh?,
follow ka juga kak” celotehnya
bersambung tanpa memberi jedah.
Perihal cantik, meski
semua orang mengatakan definisinya relatif dan rumit untuk dijelaskan, bagi
saya pribadi, cantik itu sederhana; saat ia mirip dengan seseorang
yang pernah saya kenal dekat.
Yang menarik bahwa, Jannah
ini tidak hanya cantik, tapi juga gokil dan asyik menjadi teman cerita atau
hanya sekadar bercanda. Mereka yang memiliki aura ini, bagi saya, istimewah.
Mereka memiliki banyak teman, cenderung berwawasan luas dan tahu cara menikmati
hidup.
Jannah, semoga dunia
tidak terlalu memberi beban yang bebal. Jika memang harus, berusahalah untuk
tetap menjadi Jannah. Sebab cara Tuhan campur tangan dalam urusan kita selalu
menarik. Bebannya mungkin bebal, tetapi kekuatan kita dari Dia, Tuhan yang maha
tak terbatas.
Berdoalah untuk diberi
kekuatan, bukan kemudahan, sebab doa kemudahan bukan untuk mereka yang memiliki
karakter pemenang seperti Jannah. Saya percaya, Tuhan tidak memilih para pemenang
secara acak, terus saja bertahan dalam setiap benturan, terus terbentur sampai
terbentuk.
*
Saya harus kembali ke
warkop Ansel untuk menyelesaikan tulisan ini. Tidak ada yang berubah, toh baru
dua hari yang lalu saya terakhir kali ke sini. Tepat pukul 00.00 waktu Makassar.
Tanpa Jannah, entah kenapa kopinya terasa sedikit tawar.
Saya baru ingat,
diakhir percapakan kita dua hari lalu telpon genggammu berdering, ajakan pulang
kampung sepertinya. Beristerahatlah, Enrekang cukup dingin untuk sekedar
menyejukan pikiran yang penuh beban dan penat kota Makassar. Sampai ketemu.
Salam, dari saya yang sudah lancang mengurai kalimat-kalimat ini.
Oleh: ID Official [La Said Sabiq]
Founder Oboku Institute

0 komentar:
Posting Komentar