Pikiranku kacau dan berkecamuk dalam benak. Takut, tertanggu, terusik, gelisah, seperti ada hal yang harus saya temukan jawabannya. Saya harus mengambil keputusan, menentukan langkah, karena itu saya harus menulisnya; itulah satu-satunya cara meluruskan pikiran. Rasanya, saya bisa melihat urutan benang merah kusutnya, tetapi tidak tahu akan mengarah kemana, tergantung Tuhan.
Dunia ini tiris, mengalirkan darah. Saya tahu suatu saat akan sampai pada giliranku. Seperti juga saya, kalian, mereka, akan mendapat giliran yang sama, setidaknya itu yang saya pahami tentang relasi kehidupan. Tergantung cara kita menyikapinya, yang nanti akan membedakan hasilnya.
_________
Benangnya benar-benar kusut, rasanya saya harus mengurainya secara perlahan.
Sepertinya menarik jika saya mulai dengan mengomentari perihal "niat". Kata ini kemarin menjadi alasan, dalilnya teratur, tetapi alurnya mengarah ke perihal "niat yang salah sejak awal" katanya.
"Niat, biarkan itu menjadi urusan seseorang dengan Tuhannya, perhatikan saja usahanya". Quote Anis Baswedan beberapa saat lalu berseliweran di media sosial. Entah perihal apa, tapi bagiku, Gubernur Ibu Kota ini ada benarnya.
Betapa rapuh manusia, segala hal selalu dipertanyakan, bukan oleh makhluk lain, kecuali makhluk sejenisnya, manusia lain. Secuil perkara bisa menjadi petaka, sederet rencana bisa menjadi bencana. Sampai disini, kita bahkan sudah kewalahan. Lalu masihkah pantas kesombongan gagah berdiri?
Allah Azza wa Jalla berfirman:
"Aku buatkan di dalam rongga anak Adam satu Mahligai, dan di dalam mahligai itu ada Dada, dan di dalam dada itu ada Hati, dan di dalam hati itu ada Fuad, dan di dalam Fuad itu ada Syarofan, dan di dalam Syarofan itu ada Lubban, dan dalam Lubban itu ada Rahasia, dalam Rahasia itu Aku" (Hadis Qudsi).
Jauh dilubuk hati, ada perkara yang (seharusnya) tidak pantas ditelisik oleh makhluk, ketetapannya menjadi urusannya, bentuknya adalah internalisasi, wujudnya adalah ikhtiar.
Biarkan niat insan tertutup rapat, terikat dalam unsur Hablum Minallah. Jika ingin bersitegang, tunggu sampai teraktual pada Hablum Minannas atau paling jauh, jika sudah menyentuh ikhtiar Fil ardh.
Hanya saja, beginilah jadinya. Rumit bagi kita untuk berjalan beriringan, jika ada sekat bagi ruang keraguan pada langkah pertama. Harusnya saya yang mengantisipasi lebih awal, daya tak berupaya, kita sama tenggelam dalam romansa. Saya bahkan tidak pernah punya kesempatan meyakinkanmu. Lebih tepatnya, saya terlalu yakin "sendiri" sejak awal.
Nasi tak pernah menjadi bubur, niat awalnya menanak nasi, bukan bubur. Tidak ada yang terlanjur, selalu ada kesempatan pada niat yang baik. Bukankah Tuhan kita maha baik? KebaikanNya selalu maju mendahului kemurkahanNya. Sayangnya, tabir kehidupan menyembunyikan itu dari kita kadang-kadang.
Sudahlah! Saya tidak punya niat lain, saya menemukan alasan baik. Akhirnya saya punya "mengapa" dalam hidup semenjak ikatan ini, yang membuat saya siap menghadapi "bagaimana" dalam bentuk apapun.
Bagiku, anda seperti "cahaya". Ini istilah yang sering kita gunakan untuk menyebut hidayah. Segala kebaikan yang hadir bersamamu adalah hidayah dariNya, bukan darimu apalagi makhluk lain. Jalanku menemuimu adalah jalan kerinduan Tuhan atas sujud yang selalu dan selama ini lata tak tertata.
Tuhan yang menempatkan hidayah dalam hidup. Caranya beragam; bisa lansung, atau lewat perantara. Saya bersyukur bertemu denganmu sebagai perantara.
Sejak awal saya bersyukur, setidaknya dentuman itu lahir darimu. Cukup patut memutuskan untuk menuju dentuman agungNya lewat cahayamu. Niatnya mengokohkan. Apa ada yang salah sampai di sini?
________
Jika tidak ada kesempatan untuk menjelaskan ini, izinkan saya mengungkapkannya dalam bait-bait lembut tulisan ini.
Sepatutnya saya mengakui, ada kekeliruan yang terjadi di pertengahan. Perkaranya mendominasi. Saya harus mengisolasi diri, menghilang bukan untuk membuatmu jera, khawatir apalagi bermain curang, saya sedang menenangkan diri. Bagiku, menyakitimu tidak ada dalam pilihan, jika harus memilih, "menenggelamkan" diri sendiri bisa jadi alternatif. Naif?
Toh saya tidak punya kemampuan mengintervensi pikiranmu, ada banyak kesalahan diantara kita, mereka, juga yang lainnya. Bagaimanapun kita semua adalah manusia, tempatnya salah bersemayam.
Pada akhirnya kembali ke diri kita masing-masing, ada orang yang belajar baik dengan kesalahannya, ada orang yang terus mengulang kesalahan; bukan karena tidak belajar, tetapi membutuhkan banyak kesempatan, berulang dan terus belajar.
Nasip tak berpihak, daya tak berupaya, saya bahkan tidak memiliki kesempatan lain. Kesalahan pertama menjelma menjadi akhir, terakhir. Hanya saja, saya bersyukur telah belajar banyak.
Ini akhirnya menjadi alasan yang tepat kenapa saya memilih mundur teratur. Bukan mau menjadi pecundang yang tak menyelesaikan perkara, tetapi jika "melanjutkan" malah membuatmu terkulai lemah, saya lebih memilih opsi naif.
Perkara yang paling rumit dari segalanya adalah melihatmu meneteskan air mata karena orang lain dihadapanku, bagiku itu sedikit "mengerikan". Jangankan merencanakan, terlintas dibenakku untuk membuatmu menangis saja tidak pernah. Pemandangan perdana yang memilukan.
Lalu saya harus menanggung beban untuk mengkhawatirkanmu setiap waktu oleh karena sedang bersama dia yang dengan enteng mengundang air mata lewat perkara receh. Adil?
Hanya saja, sekali lagi, hidup ini tiris mengalirkan darah. Tak kenal ruang dan waktu, setibanya, semua akan mendapat giliran yang sepadan. Dalam bait lembut ini, saya penuh harap kalian baik saja. Setidak-tidaknya anda.
Ingin rasanya berdiri diantara kalian, memandu celoteh, memastikan kalian baik saja, hingga tak ada tirisan darah, setidaknya tidak hadir secepat datangnya padaku. Masing-masing kalian menoleh padaku ketika ada perkara kecil sampai pelik yang terlalu rumit untuk dihadapi oleh tim yang hanya berisikan dua orang. Tenang saja, saya tidak berniat menjadi orang ketiga.
Ingin rasanya menatapnya lirih dan berkata "berhenti berbuat bodoh, dia sangat tidak pantas menangisi hal remeh yang kau hadirkan, tidak cukupkah lara yang tertancap padaku hanya untuk membentuk ikatan kalian? - "Belajarlah memaklumi orang lain, setidaknya sampai anda layak untuk terus mendapat pemakluman darinya seperti yang dilakukannya selama ini!"
Cukup!
***
"Allah, saya yakin, seyakinnya hal baik ini datangnya dariMu, jika niatku cacat sejak awal, jangan jadikan ini akhir, sungguh Engkau Maha membolak-balikan hati Insan. Izinkanlah, izinkanlah niat baik ini kokoh dalam ikhtiar bersama menujuMu, dalam ikatan yang baik, dalam ikatan yang baik, dalam ikatan yang baik, dalam ikatan yang Engkau Ridhoi" [Lss, 28 April 1992]
0 komentar:
Posting Komentar