Rabu, 31 Juli 2019

Jalanmu, Tuhan Memilihnya Untukmu, Menangkanlah!


Akhirnya beginilah adanya. Saya menyebutnya sebuah ke-Ilahian kontemplasi. Rasa itu Ilahiah asalnya, tepat jika dia kembali ke asalnya, dalam bentuk apapun.

Pada mereka yang pernah merapal nama yang terkasih di sepertiga malam, pada mereka yang telah melangitkan namanya dalam bait-bait ikhlasnya doa, berbahagialah.

Sejatinya, tidak semua hal yang kita harapkan menjadi kenyataan dalam kefanahan ini.
Hanya saja, ia abadi pada langit yang berlapis. Seketika mereka akan menghampirimu pada waktu yang tepat. Waktu yang telah ditentukan oleh Sang Agung, waktu yang baik untuk kehidupanmu, untuk urusanmu, untuk ibadahmu, untuk agamamu!

Pertahankan ritmenya, sambung setiap asa, sungguh nikmat Tuhan ada untuk setiap insannya, tanpa terkecuali. “Fabiayyi ‘aalaa’i Rabbikumaa Tukadzdzibaan”.

Presiden Janchuk Sujewo Tejo dalam kitab "gilanya" menuturkan; "Kamu bisa memilih untuk menikah dengan siapa, tetapi tidak dengan pilihan untuk mencintai siapa".

Temukan mereka yang membuatmu jatuh cinta berkali-kali, netralkan obsesimu, lepaskan hasratmu, ikhlaskan doamu, maka niscaya kamu akan menemui diri menjadi pemenang tanpa memenangkannya.

Obsesi pada diri sendiri
Apa yang membuat kita terkulai lemah dalam lara? Hasrat yang begitu menggebuh, fantasi yang tak bertepi, kemapanan pikiran yang menghawatirkan, kenyamanan zona yang memalaskan, dan kepasrahan yang dianggap barang terlanjur.

Terlalu berat untuk diurai satu per satu. Saya akan memilih yang paling mendekati relevansi. Meski sebenarnya semua menjadi alasan.

Give me your pray, semoga saya memiliki kesempatan untuk menjelaskannya lebih detil di pangkuanmu. Menjelaskan tentang rencana-rencana besar kita, mengisyaratkan tentang; betapa beruntungnya anda memilikiku, betapa berharganya hidupku bersamamu, dan betapa mulianya ikatan ini di hadapan Tuhan. Tentu disela bunyi seruput kopi yang telah engkau siapkan di setiap pagi buta sepulangku bersujud.

***
Mengapa qoutes yang berseliweran di media sosial perihal cinta begitu sederhana dan terkesan utopis?

Sebenarnya, begitulah rasa yang Ilahi, yang menghamba hanya padaNya, bukan selainNya. Kesejatian rasa ada di dalamnya. Kerinduan yang tak butuh temu kecuali dalam doa, tak perlu memiliki kecuali dalam ikhtiar, tak butuh bersama kecuali dalam takdir.

Sekali lagi, berbenahlah.

Tumbuhkan obsesimu hanya untuk diri sendiri, bukan untuk orang lain. Merindu, memiliki dan bersama dengannya lewat diri sendiri.

Pada perjalanan kesempurnaan; menyelesaikan diri sendiri, lalu bersama diri menuju Tuhan yang telah menunggumu untuk 'turun' bersama menuju sosial, juga menuju yang terkasih tentu saja. Kekhalifaanmu ada diposisi itu. Lalu tahu apa kita pada diri sendiri sampai detik ini?

Tumbuhkan hasrat untuk diri sendiri, terus bersyukur untuk segala rahmat dan nikmat, tahan sampai pada titik dimana tidak menumbuhkan bibit kesombongan yang mematikan.

Pemantik
Tentu persoalan yang terdengar sederhana di atas butuh waktu dan proses. Konsekuensi kita sebagai makhluk sosial, berurusan dengan orang lain tidak bisa terelakkan.

Tentu Tuhan memiliki alasan menciptakan kita bersosial. Berinteraksi dengan banyak umat, menemukan; kesenangan, kegembiraan, kepedihan, kesengsaraan. Bukan untuk apa, kecuali pelajaran, pelajaran, dan pelajaran.

Terus mengalami benturan, terbentur, terbentur, terbentur, terus terbentur lalu terbentuk!
_____
Saya akan menggambarkannya lebih sederhana.

Pada korek api yang setelah menjadi pemantik lalu iklas berakhir pada tempat sampah. Tugasnya hanya menghadirkan api awal, membantu kayu bakar menyelesaikan tugasnya.

Pun pada kayu bakar yang terus 'menghancurkan diri' dalam menjalankan kewajibannya membuat masakan siap saji pada porsinya. Penghancuran dirinya bukan tanpa alasan, setidaknya, tugasnya memang begitu, bentuk pelayanan, jalan pengabdiannya.

Jadilah pemantik yang dibuang saat api mulai menyalah. Belajarlah 'menghancurkan diri' demi tegaknya jalan takdir Ilahiah. Pasrahkan diri pada tugas-tugas kemanusianmu, kadang Tuhan mengirim kita untuk alasan mulia itu, sampai kita menemukan kemuliaan diri sendiri.

Jadikan cintamu yang berkali-kali itu menuntunmu menjalankan kewajiban tanpa pamrih layaknya korek api dan kayu bakar.

Tetapi, bukan berarti semua akan berjalan lancar seperti yang kita rencanakan. Kita harus bersiap dengan segala kemungkinan yang ada. Kita butuh ini untuk terbentuk.

Bersalah Lalu Lupa
Jangan membayangkan proses ini selembut bait-bait tulisan ini. Seperti apa yang diungkapkan sebelumnya, kita butuh terus terbentur untuk terbentuk.

Pada porsi yang wajar, kita akan menemui berjuta kesalahan juga berjuta lupa. Dua hal itu adalah pangkal perkara, tetapi juga lahiriah adanya, hanya dengan itu kita bisa menuju kemapanan pikiran. Atau kalau mau ekstrem, kita butuh salah dan lupa untuk sempurna. Tidak sempurna jika hanya baik, kita butuh buruk. Kita butuh negatif untuk melengkapi positif.

Kita butuh puncak untuk menandai titik terendah, seperti butuh 'mulai' untuk mencapai 'akhir'. Bukankah juga Tuhan menciptakan segalanya berpasangan?

Hanya pada titik terendah, kita mendapat pertanda untuk kembali menanjak dan bangkit bergerak. Sedang di puncak, tidak ada pilihan lain selain turun menukik.

Hanya saja, jangan lupa mengabadikan moment, menyempatkan diri untuk berselfie misalnya, bukan untuk apa, selain ingin menitip pesan kepada sesama, bahwa anda pernah berada di puncak dulu hingga akhirnya sampai di titik sekarang, juga memotivasi sesama, bahwa, untuk sampai di sana, kita pernah melerai lara, tiris penuh darah kehidupan.

Sekali lagi, "Fabiayyi ‘aalaa’i Rabbikumaa Tukadzdzibaan”.
_____
Tuhan telah memilih kita, menentukan jalan kita, jalan yang harus kita lalui dengan penuh penghayatan dan pengalaman, lengkap dengan konsekuensi yang akan dilahirkan dari sikap-sikap kita dalam menempuh jalannya.

Garis akhirnya sudah ditentukan, kita diberi kebebasan dalam keterbatasan-keterbatasan yang telah ditentukanNya. Sedang Tuhan mustahil salah dalam menentukan pemenangnya.

Melerai lara sampai cinta yang berkali-kali itu hadir menyatukan yang harus bersatu dan memisahkan yang harusnya berpisah. Bantu dirimu sendiri untuk; Melawan hasrat yang begitu menggebu, fantasi yang tak bertepi, kemapanan pikiran yang menghawatirkan, kenyamanan zona yang memalaskan, dan kepasrahan yang dianggap barang terlanjur.

Layaknya sebuah pertarungan, kita harus melewatinya untuk menang. Jangan khawatir, Tuhan bersama kita sayang!

***
"Allah, saya yakin, seyakinnya hal baik ini datangnya dariMu, jika niatku cacat sejak awal, jangan jadikan ini akhir, sungguh Engkau Maha membolak-balikan hati Insan. Izinkanlah, izinkanlah niat baik ini kokoh dalam ikhtiar bersama menujuMu, dalam ikatan yang baik, dalam ikatan yang baik, dalam ikatan yang baik, dalam ikatan yang Engkau Ridhoi" [ID Official]
Share:

0 komentar:

Posting Komentar