Akhirnya beginilah adanya. Saya menyebutnya sebuah ke-Ilahian kontemplasi. Rasa itu Ilahiah asalnya, tepat jika dia kembali ke asalnya, dalam bentuk apapun.
Pada mereka yang pernah merapal
nama yang terkasih di sepertiga malam, pada mereka yang telah melangitkan
namanya dalam bait-bait ikhlasnya doa, berbahagialah.
Sejatinya, tidak semua hal yang
kita harapkan menjadi kenyataan dalam kefanahan ini.
Hanya saja, ia abadi pada langit
yang berlapis. Seketika mereka akan menghampirimu pada waktu yang tepat. Waktu
yang telah ditentukan oleh Sang Agung, waktu yang baik untuk kehidupanmu, untuk
urusanmu, untuk ibadahmu, untuk agamamu!
Pertahankan ritmenya, sambung setiap
asa, sungguh nikmat Tuhan ada untuk setiap insannya, tanpa terkecuali.
“Fabiayyi ‘aalaa’i Rabbikumaa Tukadzdzibaan”.
Presiden Janchuk Sujewo Tejo
dalam kitab "gilanya" menuturkan; "Kamu bisa memilih untuk
menikah dengan siapa, tetapi tidak dengan pilihan untuk mencintai siapa".
Temukan mereka yang membuatmu
jatuh cinta berkali-kali, netralkan obsesimu, lepaskan hasratmu, ikhlaskan
doamu, maka niscaya kamu akan menemui diri menjadi pemenang tanpa memenangkannya.
Obsesi pada diri sendiri
Apa yang membuat kita terkulai
lemah dalam lara? Hasrat yang begitu menggebuh, fantasi yang tak bertepi,
kemapanan pikiran yang menghawatirkan, kenyamanan zona yang memalaskan, dan
kepasrahan yang dianggap barang terlanjur.
Terlalu berat untuk diurai satu
per satu. Saya akan memilih yang paling mendekati relevansi. Meski sebenarnya
semua menjadi alasan.
Give me your pray, semoga saya
memiliki kesempatan untuk menjelaskannya lebih detil di pangkuanmu. Menjelaskan
tentang rencana-rencana besar kita, mengisyaratkan tentang; betapa beruntungnya
anda memilikiku, betapa berharganya hidupku bersamamu, dan betapa mulianya
ikatan ini di hadapan Tuhan. Tentu disela bunyi seruput kopi yang telah engkau
siapkan di setiap pagi buta sepulangku bersujud.
***
Mengapa qoutes yang berseliweran
di media sosial perihal cinta begitu sederhana dan terkesan utopis?
Sebenarnya, begitulah rasa yang
Ilahi, yang menghamba hanya padaNya, bukan selainNya. Kesejatian rasa ada di
dalamnya. Kerinduan yang tak butuh temu kecuali dalam doa, tak perlu memiliki
kecuali dalam ikhtiar, tak butuh bersama kecuali dalam takdir.
Sekali lagi, berbenahlah.
Tumbuhkan obsesimu hanya untuk diri sendiri, bukan untuk orang lain. Merindu,
memiliki dan bersama dengannya lewat diri sendiri.
Pada perjalanan kesempurnaan;
menyelesaikan diri sendiri, lalu bersama diri menuju Tuhan yang telah
menunggumu untuk 'turun' bersama menuju sosial, juga menuju yang terkasih tentu
saja. Kekhalifaanmu ada diposisi itu. Lalu tahu apa kita pada diri sendiri sampai
detik ini?
Tumbuhkan hasrat untuk diri
sendiri, terus bersyukur untuk segala rahmat dan nikmat, tahan sampai pada
titik dimana tidak menumbuhkan bibit kesombongan yang mematikan.
Pemantik
Tentu persoalan yang terdengar
sederhana di atas butuh waktu dan proses. Konsekuensi kita sebagai makhluk
sosial, berurusan dengan orang lain tidak bisa terelakkan.
Tentu Tuhan memiliki alasan
menciptakan kita bersosial. Berinteraksi dengan banyak umat, menemukan;
kesenangan, kegembiraan, kepedihan, kesengsaraan. Bukan untuk apa, kecuali
pelajaran, pelajaran, dan pelajaran.
Terus mengalami benturan,
terbentur, terbentur, terbentur, terus terbentur lalu terbentuk!
_____
Saya akan menggambarkannya lebih
sederhana.
Pada korek api yang setelah
menjadi pemantik lalu iklas berakhir pada tempat sampah. Tugasnya hanya
menghadirkan api awal, membantu kayu bakar menyelesaikan tugasnya.
Pun pada kayu bakar yang terus
'menghancurkan diri' dalam menjalankan kewajibannya membuat masakan siap saji
pada porsinya. Penghancuran dirinya bukan tanpa alasan, setidaknya, tugasnya
memang begitu, bentuk pelayanan, jalan pengabdiannya.
Jadilah pemantik yang dibuang
saat api mulai menyalah. Belajarlah 'menghancurkan diri' demi tegaknya jalan
takdir Ilahiah. Pasrahkan diri pada tugas-tugas kemanusianmu, kadang Tuhan
mengirim kita untuk alasan mulia itu, sampai kita menemukan kemuliaan diri
sendiri.
Jadikan cintamu yang berkali-kali
itu menuntunmu menjalankan kewajiban tanpa pamrih layaknya korek api dan kayu
bakar.
Tetapi, bukan berarti semua akan
berjalan lancar seperti yang kita rencanakan. Kita harus bersiap dengan segala
kemungkinan yang ada. Kita butuh ini untuk terbentuk.
Bersalah Lalu Lupa
Jangan membayangkan proses ini
selembut bait-bait tulisan ini. Seperti apa yang diungkapkan sebelumnya, kita
butuh terus terbentur untuk terbentuk.
Pada porsi yang wajar, kita akan
menemui berjuta kesalahan juga berjuta lupa. Dua hal itu adalah pangkal perkara, tetapi juga lahiriah adanya, hanya
dengan itu kita bisa menuju kemapanan pikiran. Atau kalau mau ekstrem, kita
butuh salah dan lupa untuk sempurna. Tidak sempurna jika hanya baik, kita butuh
buruk. Kita butuh negatif untuk melengkapi positif.
Kita butuh puncak untuk menandai
titik terendah, seperti butuh 'mulai' untuk mencapai 'akhir'. Bukankah juga
Tuhan menciptakan segalanya berpasangan?
Hanya pada titik terendah, kita
mendapat pertanda untuk kembali menanjak dan bangkit bergerak. Sedang di puncak,
tidak ada pilihan lain selain turun menukik.
Hanya saja, jangan lupa
mengabadikan moment, menyempatkan diri untuk berselfie misalnya, bukan untuk
apa, selain ingin menitip pesan kepada sesama, bahwa anda pernah berada di
puncak dulu hingga akhirnya sampai di titik sekarang, juga memotivasi sesama,
bahwa, untuk sampai di sana, kita pernah melerai lara, tiris penuh darah
kehidupan.
Sekali lagi, "Fabiayyi
‘aalaa’i Rabbikumaa Tukadzdzibaan”.
_____
Tuhan telah memilih kita,
menentukan jalan kita, jalan yang harus kita lalui dengan penuh penghayatan dan
pengalaman, lengkap dengan konsekuensi yang akan dilahirkan dari sikap-sikap
kita dalam menempuh jalannya.
Garis akhirnya sudah ditentukan,
kita diberi kebebasan dalam keterbatasan-keterbatasan yang telah ditentukanNya. Sedang Tuhan mustahil salah dalam
menentukan pemenangnya.
Melerai lara sampai cinta yang
berkali-kali itu hadir menyatukan yang harus bersatu dan memisahkan yang
harusnya berpisah. Bantu dirimu sendiri untuk; Melawan hasrat yang begitu
menggebu, fantasi yang tak bertepi, kemapanan pikiran yang menghawatirkan,
kenyamanan zona yang memalaskan, dan kepasrahan yang dianggap barang terlanjur.
Layaknya sebuah pertarungan, kita
harus melewatinya untuk menang. Jangan khawatir, Tuhan bersama kita sayang!
***
"Allah, saya yakin, seyakinnya hal baik ini datangnya dariMu, jika
niatku cacat sejak awal, jangan jadikan ini akhir, sungguh Engkau Maha
membolak-balikan hati Insan. Izinkanlah, izinkanlah niat baik ini kokoh dalam
ikhtiar bersama menujuMu, dalam ikatan yang baik, dalam ikatan yang baik, dalam
ikatan yang baik, dalam ikatan yang Engkau Ridhoi" [ID Official]

0 komentar:
Posting Komentar