Senin, 05 November 2018

Harmoni Diri dalam Karya (Chapter II)

Saya cukup berani bertaruh, semangat belajar saya di atas rata-rata. Tidak ada cita-cita lain yang terbesit di kepala selain lajut sekolah, lanjut sekolah, sekolah lagi dan lagi. Motivasinya hanya satu; agar ilmu dan semangat belajar tetap terjaga. Jika harus berprofesi, mungkin, kalau bukan seorang penulis jatuhnya pilihan hanya pada: pengajar, dosen atau sejenisnya.

Pilihan inilah yang memacu saya untuk menyelesaikan studi kuliah cukup cepat. Bermodal Ijazah Sarjana Hukum dengan predikat cum laude, saya menjadi seorang pemburu beasiswa S2. Ini pilihan satu-satunya, tanpa beasiswa, mimpi untuk melanjutkan studi, bisa dipastikan hanya akan berakhir jadi angan.

~~~
Sebagai salah satu syarat penyelesaian studi di Universitas Hasanuddin, Mahasiswa diwajibkan untuk melakukan Kuliah lapangan yang biasa dikenal dengan akronim KKN (Kuliah Kerja Nyata). Tepatnya di tahun 2013 lalu, saya berkesempatan menjalani KKN Tematik Sebatik. Kuliah lapangan bertema Nasionalisme yang dilaksanakan serentak seluruh Indonesia dibeberapa wilayah terluar NKRI. Konsepnya, menjadikan wilayah perbatasan sebagai garda terdepan untuk memupuk kecintaan dan rasa nasionalisme terhadap Negara Kesatuan Republik Indonesia.

Pulau sebatik, Kabupaten Nunukan yang pada saat itu masih terdaftar dalam wilayah administrasi Kalimantan Utara, sebanyak 50 mahasiswa yang berasal dari beberapa fakultas se Universitas Hasanuddin diberangkatkan oleh Rektor dan Pangdam XIV Hasanuddin Makassar. Berangkat dengan semangat pengabdian yang diusung oleh tridharma perguruan tinggi, kami menghabiskan waktu kurang lebih 2 bulan bercengkrama dengan kehidupan masyarakat perbatasan. Tidak ada yang istimewa, tidak ada yang perlu diragukan terkait nasionalisme, garuda masih ada di dada masing-masing penduduk Pulau Sebatik. KKN selesai.

Satu per satu dari kami ber-50 telah menyelesaikan studi. Ternyata kebanyakan dari kami memiliki semangat yang sama, semangat untuk mengenyam pendidikan yang lebih tinggi. Saat ini, 38 dari 50 orang telah berhasil menyelesaikan studi S2, 2 orang telah menyelesaikan studi doktoral. Hal yang istimewa, 11 diantaranya berhasil memperoleh gelar dari universitas luar negeri. Hebat!

Dari merekalah bara semangat yang saya miliki, petualangan merekalah yang terus memberikan dorongan secara inplisit kepada saya untuk tetap bertahan dengan semangat yang menggebuh untuk melanjutkan sekolah. Meski dengan hanya melihat gambar atau foto universitas di mana masing-masing mereka mengenyam studi, saya kembali terpacu untuk berada pada rel semangat yang sama.

Terhitung 4 tahun lamanya saya apply situs beasiswa sana-sini, dalam dan luar negeri, hasilnya masih sama, permohonan maaf dari situs atas ketidak lulusan. Bervariasi, mulai dari berkas, tes tertulis, tes wawancara sampai pada kesempatan terakhir yang dinyatakan gugur hanya karena persoalan ketidak sanggupan menyetor uang jaminan pendidikan yang luar biasa jumlahnya: 150 juta.

Perihal yang terakhir di atas, saya diimingi dengan deretan nomor induk mahasiswa (NIM) Universitas besar di salah satu negara bagian Amerika Serikat. Columbia University namanya. Sayangnya, uang jaminan sebesar itu Irasional bagi saya.

Tidak ada yang berubah dari semangat belajar saya, gagal atau tidak berhasil adalah bahasa penghuni bumi untuk takdir terbaik yang ditetapkan Tuhan.

Tidak sampai di situ, saya masih terus berusaha mendaftar diberbagai situs beasiswa, swasta maupun negeri, dalam dan luar negeri, sampai suatu waktu saya mendapat email dinyatakan lulus di salahsatu universitas di Turki. Sayangnya, saya menghadapi kendala yang sama, Turki tidak menyediakan uang transport ke negaranya untuk para newcomer. Lumayan.

Waktu empat tahun yang cukup panjang untuk melewatkan masa-masa "gagal". Saya kemudian memutuskan untuk mengikuti kelas profesi Advokat sesuai dengan basic keilmuan saya. Pelatihan, ujian dan lulus dalam sekali tes. Alhamdulillah.

Dalam perjalan profesi advokat, saya menyadari hal baru bahwa selain melanjutkan studi, iklim yang baik untuk menjaga pengetahuan tetap hangat adalah menerapkannya, atau mempraktikannya. Profesi advokat bukan pilihan yang buruk untuk tetap menjaga keilmuan, disinilah tempat yang tepat untuk membuat ilmu itu berkembang dan bermanfaat. Bukankah Sebaik-baik ilmu pengetahuan adalah yang bermanfaat bagi sesama.

Saya kembali bertekad, lawyer hanya sebagai jalan pembuka, langkah awal untuk tetap bermimpi melanjutkan studi. Per detik ini, saat tulisan ini dimuat, semangat itu masih menggebuh, semangat untuk melanjutkan kuliah. Toh per detik ini juga, saya masih bergetar melihat gambar atau foto berlatar gedung kampus bertuliskan Pasca Sarjana, tidak kalah bergetarnya ketika melihat pemandangan Luar Negeri yang di upload oleh salah satu teman KKN yang sedang berjuang menyelesaikan studinya.

Semoga Tuhan memberkahi segala usaha kita semua. Hal yang paling saya syukuri bahwa, semangat itu masih ada, semangat itu masih tetap terjaga, Semangat itu tidak pernah padam, masih membara untuk waktu yang tidak ditetapkan; secepatnya, se-paling cepatnya, atau secepat-cepatnya.

5 November 2018

Foto : Ince Ikhsan (Paraguai, Czech Republic) salah satu teman KKN yang menyelesaikan studi di Nederland
Share:

0 komentar:

Posting Komentar